
๐๐๐ฉ๐ฉ๐ฒ ๐๐๐๐๐ข๐ง๐ ~
๐๐จ๐ก๐จ๐ง ๐๐ข๐ฃ๐๐ค ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐ฆ๐๐ฆ๐๐๐๐, ๐ฒ๐!
๐๐ฎ๐ญ๐ก๐จ๐ซ ๐ง๐๐ง๐ญ๐ข ๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐๐ง ๐๐๐ซ๐ข ๐ค๐๐ฅ๐ข๐๐ง ๐ฃ๐ฎ๐ ๐, ๐ก๐๐ก๐. (*หแห*)แตแแตแขแต แตแตแต
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Di malam yang begitu larut, terlihat jalanan kota telah kosong dari orang-orang, suasananya begitu hening bagai tak ada satupun makhluk hidup di bumi. Namun tidak bagi para pengunjung karaoke yang justru menikmati tiap dentuman musik. Mereka saling bersorak ria dengan segelas wine di genggamannya.
"Berikan kami minuman enak lagi!" Qui ingin menghabiskan waktu malam ini untuk bersenang-senang dengan teman rekan kerjanya di perusahaan.
Pelayan karaoke itu masih bergeming, merasa ragu jika harus menuruti perkataan wanita di hadapannya.
"Tapi, siapa yang akan membayar? Kalian sudah menghabiskan banyak minuman," pelayan itu berkata remeh.
"Tenang saja, Qui yang akan membayarnya!" lontar salah seorang teman Qui, Jeny.
"Aโ aku? Sejak kapan aku bilang akan membayarnya?" Qui menunjuk dirinya seraya menaikkan sebelah alis dengan heran.
"Ayolah, traktir kami dong โฆ kau kan anak konglomerat," timpal Herry, tangan besarnya itu tampak menggenggam sebotol wine kosong.
"Oโ okey, tapi aku ijin keluar sebentar. Rasanya di sini sangat mual," ucap Qui sembari berjalan meninggalkan ruang karaoke.
Namun tampak teman-temannya yang menatap kepergian wanita itu dengan kesal. Mereka yakin kalau Qui akan kabur karena tidak mau membayar tagihan wine.
"Awas saja jika kau kabur! Kami tidak akan menganggapmu teman lagi, haha!!"
"Iya iya, aku tidak kabur kok. Tolong beri mereka sepuluh botol wine, nanti biar aku yang membayarnya."
"Sepuluh botol lagi?" tanya si pelayan karaoke itu dengan heran.
Bagaimana tidak, sepuluh botol wine sudah di pesannya sembilan kali hanya untuk enam orang di dalam sana, termasuk Qui.
"Iya, berikan saja!!"
*****
Di luar gedung karaoke terlihat Qui yang tengah membuka dompetnya, namun yang didapat hanyalah selembar uang bernilai $3 di dalam dompet tersebut. Yah, mau bagaimanapun wanita itu selalu membeli barang kebutuhannya sendiri menggunakan uang hasil kerjanya di perusahaan.
Sebagai anak dari keluarga konglomerat, Qui selalu dipaksa agar bisa hidup mandiri, yang tidak hanya membebani kedua orang tuanya saja.
Begitu menoleh ke arah kanannya, Qui dikejutkan dengan sepasang pria dan wanita tengah berjalan melewati gedung karaoke tersebut.
__ADS_1
Tak ingin ketahuan, ia pun mengumpat di balik bangunan besar itu. Melihat dua orang di depan sana berjalan semakin menjauh, sampai tak terlihat batang hidungnya.
"Hayan โฆ jalan bersama pria tampan mana tadi? Yang aku tau, dia itu tidak bisa akrab dengan pria mana pun. Astaga, tapi sepertinya pria itu sangat imut, bola matanya juga terlihat unik," gumam Qui. Wajah cantiknya terlihat menyimpan dendam yang besar pada saudara tirinya.
Sementara itu, Hayan yang baru saja melewati gedung karaoke bahkan tak sadar dengan keberadaan Qui yang sempat mengumpat.
"Ada yang ingin ku beritahu padamu, Hayan." Gabriel menghentikan langkahnya, reflek mebuat wanita di sebelahnya juga ikut berhenti.
"Tentang apa?" tanya Hayan penasaran.
"Tadi pagi aku sempat mendengar orang tuamu mengobrol. Katanya โฆ mereka akan pergi ke luar negeri untuk besok pagi," tuturnya pelan.
"Beโ begitukah?"
Gabriel menaikkan sebelah alisnya, merasa heran dengan respon wanita itu. Biasanya, seorang anak yang ditinggal pergi oleh orang tuanya pasti akan merasa sedih, namun tidak dengan wanita berambut pendek di hadapannya, yang justru malah terlihat semakin bersemangat.
"Sepertinya dia ada kelainan," gumam Gabriel.
*****
Cukup lama berjalan menerobos malam sepi, kini mereka akhirnya tiba di kediaman Casta. Gabriel merubah dirinya menjadi seekor kucing sebelum masuk ke dalam rumah besar tersebut. Ia juga terpaksa harus melompat dari atas pohon agar bisa tiba di kamar Hayan yang terletak di lantai dua.
"Aku pulang," ucap Hayan setelah menginjakkan kakinya di lantai rumah.
"Dia โฆ."
Belum sempat menjawab, sosok Qui tiba-tiba membuka pintu rumah keluarga Casta. Dirinya menampakkan raut wajah tak suka pada Hayan yang tengah menatapnya.
"Apa kalian habis pergi makan malam bersama?" tanya Lea penasaran.
"Benar, kami baru saja makan malam bersama, jadi kami sudah kenyang," sosor Qui, wanita itu menyenggol lengan Hayan sebagai kode.
"Ah, iโ iya! Benar sekali, kami baru saja makan malam di luar."
"Sayang sekali, padahal Ibu sudah menyiapkan makan malam enak untuk kalian. Tapi ya โฆ tidak masalah."
"Kasihan ibu, padahal aku juga lapar sih. Bisa-bisanya Qui berbohong!" geram Hayan.
"Sebelum tidur, Ibu ingin memberitahu kalian soal โฆ sesuatu yang cukup penting," ucap Lea, kontan mengejutkan Qui.
Yah, jika bukan karena Gabriel mungkin Hayan juga akan sama terkejutnya dengan wanita berambut pirang itu.
"Soโ soal apa?"
__ADS_1
"Sebaiknya kita bicarakan di ruang tengah saja, ada ayah si sana."
Lea menarik pergelangan tangan kedua anaknya, mereka berjalan menaiki tangga dan akhirnya tiba di ruang tengah yang di maksud olehnya tadi.
Terlihat seorang pria bersurai putih tengah duduk di atas karpet. Tubuhnya yang dibalut dengan mantel tentu menyita perhatian Qui.
"Apa Ayah sakit?!!!" Qui berlari mendekati sang ayah, lalu memeluk tubuh pria itu dengan erat.
"Haha!! Tidak, Ayah hanya mencoba mantel ini saja," sahut Guinan.
"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa aku jadi sangat penasaran?" Ia menatap dua orang yang saling duduk berhadapan.
"Kami akan pergi ke luar negeri besok. Ayah ada perjalanan bisnis," ungkapnya.
"Ayah โฆ jangan bercanda! Ayah adalah seorang Seniman, bagaimana mungkin pergi ke luar negeri untuk perjalanan bisnis," sanggah Qui, wajahnya terlihat khawatir akan ditinggal pergi oleh sang ayah.
"Jangan bertingkah seperti anak kecil, aku bahkan sama sekali tidak masalah," lontar Hayan ketus.
"Eh, kaโ kau โฆ." Qui menunjuk Hayan dengan jari telunjuknya.
Merasa bosan dengan drama wanita menyebalkan itu, Hayan pun memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Ia benar-benar tidak perduli jika akan dibicarakan dari belakang oleh keluarganya.
Brak!!!
Hayan menutup pintu kamarnya dengan keras, hingga menciptakan bunyi mengerikan seperti bangunan yang hampir roboh. Wanita itu tampak murung dengan mata yang tertuju pada pemandangan malam di luar jendela.
"Darimana saja kau, masuk kamar langsung marah-marah," cibir Gabriel, tangannya sibuk dengan pakaian kasual yang akan dipakainya untuk tidur.
"Qui, dia sangat menyebalkan sekali!!! Sifatnya masih saja seperti anak kecil yang merengek."
"Qui โฆ saudara tiri mu? Aku masih penasaran, sepertinya keluargamu ini menyimpan rahasia yang sulit sekali untuk ditebak."
"Kau, penasaran?"
Gabriel mengangguk.
"Kalau begitu, akan aku ceritakan. Tapi setelah kau menbuang hewan itu dari kamar ku!!!" teriak Hayan, menunjuk sebuah ikan yang tergeletak mati di atas kasur miliknya.
Siapa lagi kalau bukan Gabriel seekor kucing imut yang membawa pulang ikan besar itu untuk disantap makan malam.
Bersambung ...
Mohon dukungannya untuk karya ini~ (เน`โชฬคโกโชฬค)โแฆิตีฐษีฒฦีแฆ
__ADS_1