Perang Cinta Dengan Manusia Kucing

Perang Cinta Dengan Manusia Kucing
Ch 10. Qui dan Pria Asing


__ADS_3

๐‡๐š๐ฉ๐ฉ๐ฒ ๐‘๐ž๐š๐๐ข๐ง๐ ~


๐Œ๐จ๐ก๐จ๐ง ๐›๐ข๐ฃ๐š๐ค ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐š๐œ๐š, ๐ฒ๐š!


๐€๐ฎ๐ญ๐ก๐จ๐ซ ๐ง๐š๐ง๐ญ๐ข ๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐š๐ง ๐๐š๐ซ๐ข ๐ค๐š๐ฅ๐ข๐š๐ง ๐ฃ๐ฎ๐ ๐š, ๐ก๐ž๐ก๐ž. (*หŠแ—œห‹*)แต—แ‘‹แตƒแขแต แตžแต’แต˜


ใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽ


Drrttt โ€ฆ


Ponsel wanita itu berdering keras, secepat mungkin ia langsung menolak panggilan yang entah dari siapa. Merasa ada seseorang Qui lantas menoleh, namun tak ada siapapun selain mereka di sana.


Jika Hayan tidak segera mengumpat di balik pohon, mungkin saudara tirinya akan melihat dia yang sedang berusaha menguping tadi.


Tidak ingin mengambil resiko, Hayan akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam gedung perusahaan. Ketika masuk ke dalam lift, Hayan sempat membuka layar ponsel untuk melihat siapa orang yang tadi menghubunginya.


Begitu dicek, ternyata orang itu adalah Hellen. Bagaimanapun juga, Hayan sudah akan tiba di lantai tempat kerjanya. Wanita itu jadi tidak perlu menghubungi Hellen.


Selang beberapa waktu kemudian, Hayan tiba di lantai tujuan. Dia melihat lantai itu penuh dengan beberapa orang yang tentu adalah karyawan perusahaan.


Merasa penasaran, Hayan lantas mendekati keramaian di sana. Nampaknya Harley adalah orang yang menjadi pusat perhatian. Mulutnya terus mengoceh namun tak sampai didengar oleh Hayan.


"Ada apa ini?" tanya nya dengan suara lirih pada seorang pria bernama Yin. Dia juga salah sorang rekan kerja Hayan.


"Dokumen penting yang ada di ruangan tuan Harley hilang. Beliau memeriksa beberapa lantai untuk mengetahui siapa yang telah mencuri dokumen itu," sahut Yin.


"Eh? Kenapa harus sulit sulit mengecek di beberapa lantai? Kan dia bisa melihat CCTV saja," cetus Hayan sedikit heran.


"Haish, kalau CCTV nya tidak rusak pun sudah dicek. Tapi sekarang ini masalahnya semua CCTV sudah dipadamkan oleh si pencuri."


Tak jauh dari tempat itu tampak Qui sedang berjalan menuju tangga, lantaran lift yang baru saja dipakai Hayan tiba-tiba mengalami kerusakan.


Sampai akhirnya wanita itu tiba di lantai tepat dimana banyak orang tengah ramai berkerumun, termasuk Hayan. Ia menoleh ke arah kanan dan kirinya, mencari keberadaan sang kekasih.


Saat berjalan memasuki kerumunan, Hayan sempat kaget melihat kedatangan Qui. Wajah cantiknya terlihat panik dengan mata yang berburu ke segala arah.


"Ngomong-ngomong โ€ฆ kapan dokumen itu hilang?" tanya Hayan masih berbicara pada pria di sebelahnya.


"Mungkin tadi pagi?" balas Yin menebak.


Seketika pikirannya tertuju pada satu orang. Tepat sekali, orang itu bahkan ada di lantai yang sama dengannya.


"Tuan Harley."


Hayan berjalan cepat mendekati sang bos, perangainya itu sukses menyita perhatian semua orang.

__ADS_1


"Ada apa? Kau tidak lihat aku sedang sibuk?" ujar nya merasa jengkel.


Wanita itu menoleh ke setiap meja, nampak beberapa pria ber jas tengah mengacak-acak meja para karyawan. Sudah jelas jika Harley hanya berdiri di tempatnya saja.


"Maaf, tapi aku ingin memberitahu sesuatu padamu," tuturnya pelan, tepat berada disebelah telinga bos.


Reflek tangannya langsung menarik lengan Harley, membawanya masuk ke dalam lift. Kepergian dua orang itu sempat dipandang kaget oleh para karyawan, tidak heran jika Hayan selalu dimarahi oleh si pemilik perusahaan.


***


Tiba di sebuah ruangan, Hayan langsung meminta sang tuan untuk duduk. Lebih tepatnya mereka berada di ruang kerja milik Harley.


Hayan menempelkan jari telunjuk pada pria itu, lalu melirik ke arah pintu masuk untuk memastikan tidak ada siapapun yang mengikuti mereka.


"Cukup! Apa yang sebenarnya kau inginkan? Ingin ku pecat?" tanya Harley ketus.


"Bukan begitu. Sebenarnya tadi pagi โ€ฆ aku tak sengaja melihat Qui sedang berdiri di balik tembok gedung perusahaan. Anehnya, dia berdiri bersama pria asing, sepertinya bukan karyawan di sini," ungkap Hayan.


Kontan kedua bola matanya terbelalak lebar, langsung membuka layar komputer dan mengecek CCTV di bagian halaman perusahaan.


"Dia โ€ฆ."


Beberapa menit telah berlalu. Hayan kembali ke lantai dimana ia akan mulai bekerja. Terlihat suasana yang terasa damai jauh berbeda dengan sebelumnya.


Orang-orang di sana tampak fokus memandang layar komputer masing-masing, bahkan tak ada satupun diantara mereka yang saling mengobrol.


Karena panik, Hayan pun reflek berteriak dan membuat semua orang terkejut langsung menatap ke arahnya.


"Hei, kau tidak bisa tenang?" tanya Lui kesal, lalu di angguki oleh yang lain.


"Maaf, tapi kenapa tiba-tiba ada virus masuk?" tanya Hayan seraya menatap para rekan kerjanya.


"Virus? Apa maksudmu?"


Girda berjalan mendekati wanita itu, matanya sempat menangkap layar komputer Hellen dimana ia tengah menyebarkan virus pada perangkat komputer.


Merasa kalau Hellen adalah pelakunya, Girda lantas mendorong kursi wanita itu hingga menjauh dari meja.


"Hei!!!" teriak Hellen.


"Kau yang menyebar virus, ya?" tanya Girda disertai senyum menyeringai.


Beberapa orang di sana langsung menatap Hellen, mereka berjalan mendekati meja kerjanya untuk memastikan bahwa perkataan Girda memang benar.


Dan jelas, bahwa Hellen telah menyebarkan virus di berbagai perangkat komputer. Salah satunya adalah komputer Hayan.

__ADS_1


"Tanggung jawab!" lontar Hayan.


Di tengah keributan, Harley si pemilik perusahaan tiba-tiba datang ke lantai itu. Mereka yang sebelumnya ribut seketika terdiam lalu memandang kaget ke arah sang bos.


"Aku ingin memanggil Qui," ucapnya secara langsung.


Qui yang tengah duduk reflek menoleh ke arahnya. Dia melangkah pelan hingga tiba di hadapan Harley.


"Ayo ikut ke ruangan ku."


Wanita itu mengangguk, keduanya langsung menghilang begitu masuk ke dalam lift yang tak ada satupun orang di dalamnya.


*****


Siang itu Hayan telah usai mengerjakan seluruh tugas perusahaan. Entah siapa yang menghubungi nomornya, membuat ponsel Hayan berdering keras seperti saat ia hampir mendekati Qui bersama pria asing tadi pagi.


Begitu menatap ke layar ponsel, Hayan melihat nomor baru tak dikenal. Ia langsung menolak panggilan tersebut dan mengembalikan ponsel ke dalam saku kemeja.


Merasa kesal dengan panggilan yang terus menerus, membuatnya terpaksa harus mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, siapa ini? Bisakah tidak menganggu?" tanya Hayan pada seseorang di balik telepon.


"Halo, selamat siang tuan putri."


Hayan terdiam kaget, telinganya digaruk berusaha memperjelas suara orang itu.


"Hai, kau tidak dengar?" tanya pria di dalamnya.


"Kau โ€ฆ darimana mendapat ponsel dan tau dari siapa nomorku?"


"Hahaha!!! Tidak perlu dipikirkan. Yang penting, aku sedang mengobrol bersamamu, kan?"


"Gabriel!!!"


Pria yang ada di dalam ponsel itu adalah Gabriel. Entah darimana ia mendapatkan ponsel bahkan membuat Hayan menjadi bertanya-tanya. Apalagi selama ini pria itu tidak pernah memegang benda pipih.


Selama beberapa saat Hayan masih terdiam, membuat Gabriel heran karena perangainya. Dia pikir mulut wanita berambut pendek itu telah membisu.


"Kau ini tidak suka aku menelepon?" ucapnya jengkel.


"Hei hei kucing imut, apa kau bisa menjawab pertanyaanku? Aku bertanya tadi, darimana kau mendapat ponsel itu? Dan dari siapa mendapat nomor ku?"


"Jika aku memberitahu, mungkin kau bisa marah?"


"Ish, janji aku tidak akan marah."

__ADS_1


Bersambung ...


Mohon dukungannya untuk karya ini~ (เน‘`โœชฬคโ—กโœชฬค)โ—žแƒฆิตีฐษ‘ีฒฦ˜ีแƒฆ


__ADS_2