
๐๐๐ฉ๐ฉ๐ฒ ๐๐๐๐๐ข๐ง๐ ~
๐๐จ๐ก๐จ๐ง ๐๐ข๐ฃ๐๐ค ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐ฆ๐๐ฆ๐๐๐๐, ๐ฒ๐!
๐๐ฎ๐ญ๐ก๐จ๐ซ ๐ง๐๐ง๐ญ๐ข ๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐๐ง ๐๐๐ซ๐ข ๐ค๐๐ฅ๐ข๐๐ง ๐ฃ๐ฎ๐ ๐, ๐ก๐๐ก๐. (*หแห*)แตแแตแขแต แตแตแต
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Langkah kaki seseorang terdengar semakin mendekat, membuat Hayan dan Gabriel langsung merubah posisi mereka. Di tengah-tengah kekhawatiran, Qui masuk ke dalam toilet dan mendapati keduanya tengah menatap ke arah dimana ia berjalan.
Hanya mengeluarkan ekspresi, Qui berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya yang kotor, lalu membasuh wajah menggunakan air yang keluar dari dalam benda tersebut.
"Maaf, aku tidak berniat mengganggu kalian. Aku hanya ingin mencuci wajah dan tanganku," papar Qui tanpa menoleh sedikitpun.
Usai membersihkan wajah dan tangannya, dia pun berjalan meninggalkan toilet masih dengan ekspresi yang sama seperti ketika masuk ke dalam sana.
"Awas saja jika membuat masalah di sini," lontar Hayan seraya berjalan pergi mengikuti langkah kaki Qui dari belakang.
Hari semakin siang dengan terik panas matahari yang tak seperti biasanya. Siang itu suasana tampak mendung dengan awan berwarna abu-abu membendung air hujan. Bahkan suata guntur sudah menyambar menakuti banyak orang.
Hayan berjalan menuju kantin perusahaan bersama Sheliia sahabatnya dan Gabriel. Ini adalah kali pertama bagi Hayan pergi ke kantin bersama dua orang, atau lebih tepat berjumlah tiga orang jika di hitung bersama dirinya.
Tiba di kantin, ia langsung memesan menu makanan seperti biasa. Makanan serba pedas dengan minuman soda yang menyegarkan. Melihat hal itu, Gabriel lantas menghentikannya. Dia meminta si wanita pegawai kantin untuk membawakan tiga porsi makanan sehat serta minuman hangat.
"Kenapa seperti itu, sih? Terserah aku dong ingin memesan apa!" ucap Hayan kesal lantaran selama ini tidak ada siapapun yang berani menghentikan keinginannya.
"Hei, kau adalah pacarku. Harus menuruti apa kata ku, mengerti?" tutur Gabriel pelan, namun masih bisa di dengar oleh Sheliia yang duduk berseberangan.
"Iya Hayan, lagipula pacarmu benar kok."
Hayan hanya bisa menghembuskan nafas pasrah melihat sang sahabat lebih membela pria itu. Tampaknya Gabriel juga merasa senang karena bisa menang dalam adu makanan.
Tak lama berselang, makanan akhirnya di hidangkan oleh seorang pria yang biasa mengantarkan makanan. Ia meletakkan seluruh makanan yang telah di pesan ke atas meja mereka.
Kini Hayan bersama dua orang lainnya langsung melahap makanan dengan cepat, tidak ingin kalah dalam menghabiskan satu porsi mangkuk kuah selada hijau.
"Yang habis terakhir harus mentraktir!" lontar Gabriel, kemudian langsung disetujui oleh dua wanita itu.
__ADS_1
Di saat mereka tengah sibuk melahap makanan, Gabriel justru malah santai mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana.
Ponsel yang ia keluarkan sukses menyita perhatian dua wanita di sebelahnya. Mereka termangap kagum dengan ponsel keluaran terbaru yang bahkan harganya memiliki harga tinggi, serta kualitas yang begitu mewah.
"Aku ingin berpose dulu," ucap nya seraya mengarahkan kamera pada tiga orang sekaligus
Di saat yang bersamaan, Qui bersama Theo tiba-tiba berjalan melewati meja mereka. Lantas membuat hasil gambar dalam foto yang diambil sempat terciduk wajah pasangan itu.
"Bukannya itu ponsel mahal? Jangan-jangan Gabriel adalah pria tajir. Uh, jangan sampai!" gumam Qui.
"Kau membeli ponsel itu?" tanya Sheliia penasaran, tangannya hendak menyentuh ponsel namun langsung ditangkis oleh Gabriel.
"Tentu saja. Tapi, ini untuk Hayan."
Gabriel menyodorkan ponsel miliknya pada wanita itu. Meskipun tidak tau apa-apa, Hayan asal menerima saja. Bahkan membuat Sheliia menjadi iri lantaran ia diberi hadiah ponsel oleh sang kekasih.
"Kenapa Hayan tidak beli yang baru saja? Kau kan anak konglomerat. Lalu, ponsel milik Gabriel biar untukku," gurau Sheliia.
"Bagaimanapun juga, aku selalu membeli apa-apa menggunakan uang hasil kerja keras ku tau!" lontar nya sedikit jengkel.
Flashback on~
Gabriel jujur kalau ia sempat menghipnotis dua pria selaku pegawai di toko ponsel yang di kunjungi. Tidak banyak berpikir, Gabriel langsung meminta sebuah ponsel keluaran terbaru bahkan terbatas. Sampai harganya saja tidak banyak orang mampu membeli.
Gabriel yang bisa menghipnotis orang membuat Hayan terkejut hebat, sosoknya benar-benar memiliki kemampuan langka.
Flashback off~
Sore itu, Gabriel akhirnya selesai dengan tugas perusahaan. Karyawan magang memang tidak perlu banyak mengerjakan tugas di hari pertama bekerja.
Melihat kalau Hayan masih fokus dengan layar komputer, pria itu pun menunggu nya di luar gedung perusahaan.
Ketika langit mulai malam dan air hujan mengguyur kota tersebut, tampak Hayan tengah jalan beriringan bersama Qui saudara tirinya. Mereka sempat menaiki mobil taxi yang lewat.
Tanpa harus menunggu Gabriel lantas mengikuti keduanya dengan berubah menjadi seekor kucing. Waktu yang tidak begitu lama membawa mereka pada sebuah cafe mewah.
Hayan masuk ke dalam bangunan tersebut bersama Qui. Dua wanita itu memesan menu minuman yang sama sebagai pendamping obrolan.
__ADS_1
"Ada apa mengajakku kemari?" tanya Hayan ketus, matanya tidak mau melirik pada wanita itu.
"Sebenarnya aku hanya ingin jujur, kalau hubunganku dengan Theo hanya pura-pura saja," tutur Qui berhasil membuat Hayan menatap wajahnya.
"Haha, apa maksudmu? Sudah jelas kau merebut dia dari ku, sekarang mau merebut Gabriel juga?"
Qui menggeleng, ia meraih sebelah tangan Hayan lalu mengelus nya dengan lembut. Cairan bening seketika keluar dari kedua bola matanya hingga membasahi wajah mulus cantik itu.
"Aku tidak benar-benar mencintai Theo. Dia yang memintaku menjadi pacar selingkuhan. Jujur aku merasa berat jika harus mengatakan ini, tapi memang kenyataannya dia mengaku kalau sudah bosan denganmu. Itu alasan kenapa kami berpacaran."
"Aku tidak perduli."
Di tengah perbincangan mereka, seorang pelayan cafe datang menghidangkan minuman yang di pesan. Di waktu yang sama, seekor kucing muncul dan kontan membuat Qui berteriak ketakutan.
Namun tidak dengan Hayan yang mengetahui kalau kucing itu adalah Gabriel, manusia aneh yang bisa berubah wujud menjadi seekor hewan kapan saja.
Lantaran membuat gaduh salah seorang pengunjung cafe, wanita selaku pengantar makanan langsung memukul kucing tersebut menggunakan nampan yang ia bawa.
Sontak kucing itu mengeluarkan cairan berwarna merah dibagian wajah, tepat di sebelah mulutnya.
"Tuโ tunggu!" teriak Hayan berusaha menghentikan wanita tersebut.
"Aku bisa mengurus kucing ini, mungkin dia kelaparan."
Ia berlari keluar membawa kucing di tangannya. Qui yang sempat syok kini masih duduk di sebuah kursi, jantungnya berdetak kencang tak bisa menahan rasa panik hanya karena seekor kucing.
Di sebelah bangunan cafe, si kucing tiba-tiba merubah wujudnya menjadi sosok pria tampan yang tak diragukan lagi. Pria itu reflek memeluk tubuh Hayan hingga membuatnya tidak bisa bernafas.
"Hei! Lepas!"
Gabriel melepas pelukan dari tubuh wanita di hadapannya, lalu ia tersenyum dengan sebuah luka yang terlihat memar di sebelah bibir.
"Maaf, karena pelayan tadi โฆ kau jadi begini," tutur Hayan seraya mengelap darah itu menggunakan kain kemejanya.
"Memangnya aku anak kecil? Toh, ini sama sekali tidak sakit," sahut Gabriel cengengesan.
"Oh, mau tambah dengan pukulan dariku ya?!!"
__ADS_1
Bersambung ...
Mohon dukungannya untuk karya ini~ (เน`โชฬคโกโชฬค)โแฆิตีฐษีฒฦีแฆ