Perang Cinta Dengan Manusia Kucing

Perang Cinta Dengan Manusia Kucing
Ch 3. Semuanya Gara-gara Gabriel


__ADS_3

๐‡๐š๐ฉ๐ฉ๐ฒ ๐‘๐ž๐š๐๐ข๐ง๐ ~


๐Œ๐จ๐ก๐จ๐ง ๐›๐ข๐ฃ๐š๐ค ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐š๐œ๐š, ๐ฒ๐š!


๐€๐ฎ๐ญ๐ก๐จ๐ซ ๐ง๐š๐ง๐ญ๐ข ๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐š๐ง ๐๐š๐ซ๐ข ๐ค๐š๐ฅ๐ข๐š๐ง ๐ฃ๐ฎ๐ ๐š, ๐ก๐ž๐ก๐ž. (*หŠแ—œห‹*)แต—แ‘‹แตƒแขแต แตžแต’แต˜


ใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽ


Air hangat ber gemercik keluar dari shower dan memenuhi seisi bak mandi, menciptakan uap panas di dalam ruangan.


Hayan mengusap kulit pria di dalam bak mandi tersebut menggunakan sabun beraroma vanilla. Lalu membasuh nya dengan air hangat yang mengalir keluar dari shower di atasnya.


Meskipun sudah menggunakan air hangat, tapi nampaknya Gabriel masih merasa kedinginan. Kucing memang tidak terbiasa mandi, sekalipun sudah berubah menjadi seorang manusia.


Usai keluar dari dalam kamar mandi, Hayan langsung memberinya setelan pakaian yang sempat ia beli dari toko, ketika pulang dari kantornya tadi.


"Pakailah itu, aku akan menutup mataku," ucap Hayan seraya menutup kedua bola matanya dengan menggunakan dua jari.


Helai kain mulai menempel pada kulitnya, merasakan aura hangat begitu mengenakan setelan itu.


"Bagaimana?"


Hayan menatap Gabriel, wajah tampan nan imutnya benar-benar tidak bisa ditolak dengan kata-kata. Seketika kedua pipinya mulai memerah, bahkan jantungnya berdetak kencang tak karuan.


"Jika kau merapihkan rambutmu menggunakan sisir ini, muโ€“ mungkin lebih baik?" usulnya memberi sisir.


"Aku tidak bisa menggunakan benda itu," sahut Gabriel menunjukkan raut wajah iba.


Tidak bisa mengelak, Hayan pun menyisiri rambut pria di depannya. Tiap helai rambut yang mengembang sempurna sungguh membuatnya terkesima. Aroma wangi juga dihirup nya ketika dekat dengan pria itu.


Gabriel menatap wajahnya pada cermin, mirip seperti seorang pangeran kucing yang datang dari dimensi lain.


"Kau sudah bersih dan wangi, sekarang ayo tidur!" tegas Hayan, menunjuk jarum jam yang terpampang di dinding kamar.


Kruyuk โ€ฆ kruyuk โ€ฆ


Namun sayangnya, Gabriel tidak bisa tidur dengan perut kosong. Mau tidak mau, Hayan pun harus keluar dari dalam kamarnya untuk mengambil beberapa makanan yang masih tersisa di dalam lemari kulkas.


Kriet โ€ฆ


Hayan melihat setumpuk makanan enak di dalam lemari kulkas tersebut. Tidak ingin menolak makanan enak, wanita itu akhirnya mengambil seluruh makanan di dalamnya, tanpa menyisakan satu gigit makanan pun.


"Baru kali ini aku mencuri makanan. Terima kasih, karena semua ini berkatmu," ucap Hayan setelah dirinya tiba kembali di dalam kamar.


Gabriel tersenyum lebar, langsung meraih semua makanan yang diletakkan di atas meja rias milik Hayan barusan.

__ADS_1


"Apwa kwau twidwak ingwin mwakan?" tanya Gabriel, mulut yang penuh dengan kue tentu membuatnya sedikit sulit untuk berbicara dengan jelas.


"Kau bilang apa, sih?!!" kesal Hayan.


Lantas Gabriel pun menodongkan sepotong kue di genggamannya, memberikan kue dengan rasa coklat itu pada Hayan.


"Untukku?" tanya nya, lalu dibalas anggukan oleh Gabriel.


Keduanya melahap makanan bersama-sama, namun tak ada diantara mereka yang saling berbicara. Yang jelas, mereka saling berebut agar tidak kehabisan makanan itu.


Sementara itu, Qui yang berada di dalam ruang kerja miliknya merasa lelah lantaran terlalu lama menatap layar laptop. Tak sedikitpun ia menoleh ke arah jarum jam yang telah menunjukkan pukul 22.11.


"Huh, kenapa aku begitu membenci Hayan? Karena dia, aku jadi diasingkan oleh ayah!" gerutunya.


Wanita berambut pirang itu kemudian meraih secangkir kopi yang baru saja dibuatnya, meneguk sedikit demi sedikit agar bisa menghilangkan rasa kantuk yang telah menguasai matanya.


*****


Burung-burung terbang mengelilingi atap rumah, sembari berkicau menciptakan bunyi merdu bagai alunan musik. Berkat alarm yang diatur semalam, Hayan pun bisa bangun tepat waktu.


Dia langsung bangkit dari ranjang dan berjalan pelan menuju kamar mandi. Tak sadar kalau ternyata Gabriel sudah terbangun sebelum dirinya.


"Dia โ€ฆ cantik sekali," ucap pria berparas imut yang masih berbaring di atas kasur.


Beberapa menit telah berlalu, kini terlihat ruang makan yang sudah penuh dengan keluarga kecil saling menyantap sarapan pagi. Yah, seperti biasa mereka hanya sarapan dengan roti panggang dengan selai kacang serta susu vanilla.


"Suamiku, aku curiga kalau semalam ada pencuri yang masuk ke dalam rumah kita," ujar Lea di tengah kesunyian.


Kontan tiga orang di sebelahnya terkejut hebat, matanya terbelalak lebar dengan mulut termangap.


"Jangan asal bicara, kalau ada pencuri sekalipun kan ada penjaga di luar," sahut Guinan.


"Beโ€“ benar sekali!" timpal Qui panik.


"Memangnya, kenapa Ibu berpikir seperti itu?" tanya Hayan berusaha mencairkan situasi yang sudah terlanjur mencekam.


"Semua makanan di dalam kulkas hilang entah kemana."


"Ahahah!! Seโ€“ sebenarnya, semalam aku lapar. Bukankah kalian tau sendiri kalau semalam aku tidak ikut makan malam dengan kalian?" ungkap Hayan gugup.


"Bisa-bisa badanmu gemuk," ledek Qui menyeringai lebar.


Melihat raut wajahnya yang menyebalkan itu membuat Hayan menjadi geram. Kedua tangannya ia kepal dengan erat, benar-benar ingin menghabisi wanita yang duduk bersebrangan dengannya di ruang makan.


"Tidak apa, tapi lain kali kau harus bisa menjaga nafsumu. Semua makanan di dalam kulkas sangat banyak, jangan lagi-lagi menghabiskannya sendirian," tutur Guinan memberi nasihat.

__ADS_1


"Baiklah."


"Haha, sial. Lagi-lagi karena Gabriel!"


Hayan berjalan menuju kamarnya. Perut yang sebelumnya terasa perih lantaran rasa lapar yang berlebihan kini sudah mulai reda, setelah terisi penuh dengan makanan.


Ia membuka pintu kamarnya dengan keras, melihat Gabriel yang sudah bersih dengan aroma vanilla lagi. Sepertinya pria itu bisa mandi berkat Hayan.


"Hei! Aku terpaksa berbohong. Itu semua karenamu tau," kesalnya, seraya meraih tas kecil yang biasa ia bawa ketika pergi bekerja.


"Aku? Kenapa harus aku?" tanya Gabriel heran.


"Karena semalam kaโ€“ !!" Hayan berhenti mengomel, saat melihat wajah pria itu teramat imut.


"Ehmm, tidak apa-apa. Aku bisa sabar."


"Kau mau pergi lagi dan meninggalkan ku?" tanya Gabriel lagi.


"Benar, aku harus bekerja."


"Boleh aku ikut bersamamu?"


Gabriel meraih lengan Hayan, membuatnya terpana dengan sosok pria tampan yang berhasil meluluhkan seluruh pikirannya.


"Kau bisa mengantarku sampai ke halaman perusahaan saja. Setelahnya kau harus langsung pulang, tapi jangan sampai ketahuan siapapun!" tegas Hayan, langsung di angguki oleh pria di sebelahnya.


Diperjalanan menuju perusahaan, Gabriel terus merengek kelaparan. Benar, pagi ini dirinya bahkan belum melahap sepotong makanan pun.


"Makan lah begitu kau tiba di rumah!" kesal Hayan.


"Aku benar-benar lapar โ€ฆ kau sangat jahat karena tidak memberiku makan! Kau menganggap aku apa, sih? Benda mati?"


Seketika wajahnya yang kesal itu berubah kaget. Melihat sepasang kekasih tengah bersenda gurau di seberang jalan. Bagaimana tidak cemburu, melihat Qui bermesraan dengan mantan kekasih yang sebenarnya masih dicintai.


"Hayan melihat apa?" pikir Gabriel.


"Ayo cepat!" Hayan langsung menarik lengannya dengan keras, kini langkah mereka semakin cepat dan mungkin akan tiba di perusahaan lebih awal.


"Pria tadi โ€ฆ siapa?" tanya nya menunjuk pria di seberang jalan itu.


"Ah, dia โ€ฆ."


Bersambung ...


Mohon dukungannya untuk karya ini~ (เน‘`โœชฬคโ—กโœชฬค)โ—žแƒฆิตีฐษ‘ีฒฦ˜ีแƒฆ

__ADS_1


__ADS_2