
๐๐๐ฉ๐ฉ๐ฒ ๐๐๐๐๐ข๐ง๐ ~
๐๐จ๐ก๐จ๐ง ๐๐ข๐ฃ๐๐ค ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐ฆ๐๐ฆ๐๐๐๐, ๐ฒ๐!
๐๐ฎ๐ญ๐ก๐จ๐ซ ๐ง๐๐ง๐ญ๐ข ๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐๐ง ๐๐๐ซ๐ข ๐ค๐๐ฅ๐ข๐๐ง ๐ฃ๐ฎ๐ ๐, ๐ก๐๐ก๐. (*หแห*)แตแแตแขแต แตแตแต
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Hayan menarik lengan pria itu hingga membawanya masuk ke dalam kamar. Keduanya saling menatap dalam jarak yang begitu dekat, sampai Hayan sendiri bisa mendengar suara nafas lawan jenis di hadapannya.
"Padahal kemarin kau baru berjanji tidak akan menghiraukan ku lagi. Tapi โฆ kau langsung pergi ke bawah dan menghiraukan ku?" tutur Gabriel seraya tersenyum tipis.
"Yayaya, aku minta maaf. Tapi bukankan sangat berbahaya jika Qui melihatmu tadi?" balasnya.
"Oh, begitu? Apa boleh jika aku melakukan โฆ."
Gabriel mendorong tubuh wanita itu hingga membuatnya terkapar di atas ranjang. Ia lantas naik ke atas ranjang, lalu perlahan meraih dagu Hayan hingga keduanya saling ber tempel bibir.
"Ini balasannya jika kau menghiraukan aku, okey?" ucap Gabriel dengan menunjukkan wajah menyeringai.
Selama ini, Hayan baru melihat sisi gelap dari pria yang kini tengah di depan matanya. Dibalik wajah imut nan tampan, Gabriel ternyata adalah pria licik yang bisa memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
Karena ponsel Hayan tiba-tiba berdering membuat sepasang lawan jenis itu langsung bangkit dari ranjang. Hayan meraih ponsel dari dalam saku celana yang ia kenakan. Dan kini Hayan bisa melihat siapa orang yang tengah berusaha menghubunginya.
"Halo, ada apa Domini?" sapa Hayan sekaligus bertanya.
Yah, pria dari balik telepon itu adalah Domini si manager perusahaan.
"Perusahaan sudah mulai beroperasi kembali. Jika kau sudah baikan, berangkatlah kemari. Tuan Harley ingin membahas sesuatu yang penting. Oh ya, Qui juga," jawabnya memberitahu.
"Siap laksanakan, Bos!"
Karena tidak ada lagi hal yang akan dibicarakan, Domini pun mengakhiri panggilan tersebut.
Hayan berjalan menuruni tangga hingga akhirnya tiba di lantai dasar. Di sana ia bisa melihat orang tua serta saudara tirinya sibuk menatap barang.
"Qui! Kita harus berangkat ke perusahaan!" lontar Hayan yang masih berdiri di tengah-tengah tangga.
__ADS_1
"Eh? Apa sudah dibuka?" tanya Qui lembut, dia harus menjaga image di depan orang tuanya saat berbicara dengan Hayan.
"Yah โฆ kata Domini ada yang ingin dikatakan oleh tuan Harley."
"Apakah kemarin perusahaan libur?" tanya Lea penasaran.
"Iya, karena ada sedikit masalah," balas Hayan seraya menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.
Qui meletakkan pakaian baru miliknya di atas sofa, lalu berjalan menghampiri Hayan. Keduanya kini saling jalan beriringan menuju lantai dua untuk pergi ke kamar masing-masing.
Tiba di kamarnya, Hayan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara dengan Gabriel dirinya justru masih santai duduk di atas ranjang menunggu wanita itu keluar dari kamar mandi.
Seperti biasa, Hayan menggunakan sabun beraroma vanilla untuk di usap ke sekujur tubuh. Dan pagi itu Hayan yang merasa sedikit kedinginan lantas menggunakan air shower hangat agar suhu tubuhnya lebih baik.
Tak lama berselang, wanita itu pun keluar dari dalam kamar mandi. Aroma vanilla terhirup wangi masuk ke dalam hidung Gabriel. Dia tersenyum sembari melangkah mendekati Hayan.
Wanita itu hanya mengenakan handuk kecil yang menutup setengah tubuhnya. Bagaimanapun seorang pria juga pasti akan terangsang jika melihat pemandangan seperti saat ini.
"Jangan main-main!" lontar nya sukses mengagetkan Gabriel yang hendak meraih lengan wanita itu.
"Baiklah โฆ " hembus nya merasa sedikit kecewa.
Langit yang semakin siang menunjukkan arah jarum jam sembilan tepat. Hayan jalan bersama Gabriel menuju perusahaan. Sudah lama sejak keduanya jalan bersama, kini mereka melakukan hal seperti kala itu.
Di tengah perjalanan, mereka tak sengaja dipertemukan dengan Theo, mantan kekasih Hayan. Pria itu nampak berdecih kesal ketika melihat keduanya terlihat serasi.
"Hai! Bukankah kau pria yang satu lantai dengan kami? Bagaimana jika jalan bersama?" ajak Gabriel langsung mendekati pria bersurai coklat di sebelah kanannya.
"Tidak perlu, terima kasih."
Theo berjalan cepat meninggalkan mereka berdua di belakang. Merasa sedikit kesal, Gabriel lantas berlari menghampiri Theo.
"Ayolah, aku ingin sekali akrab denganmu. Kita bisa menjadi teman, kan?" ajaknya lagi.
"Teman? Teman apanya? Kan sudah jelas kalau sekarang kau kekasih Hayan," papar Theo, kontan membuat kedua orang itu terkejut secara bersamaan.
"Dia membawa-bawa namaku? Apakah ini artinya โฆ Theo cemburu?" gumam Hayan berharap.
__ADS_1
"Eh? Memangnya kenapa? Dia kan cantik, imut, dan pandai menggoda. Tentu saja dia cocok untuk pria tampan sepertiku," ujar Gabriel mengagumi dirinya sendiri.
Meskipun dalam hati Hayan geram dengan perangai Gabriel yang tak biasa, namun ini juga demi menjaga rahasia di antara mereka yang menjalani hubungan palsu.
"Sudah cukup! Aku tidak ingin terlambat hanya karena kalian!"
Theo menghentikan sebuah mobil taxi yang sempat lewat, lalu masuk ke dalam mobil tersebut. Berarti ajakan Gabriel sia-sia saja lantaran Theo lebih memilih kabur menggunakan sebuah kendaraan umum.
"Hei! Kita tidak pacaran tau!" lontar Hayan langsung memukul sebelah lengan pria itu dengan keras hingga terdengar bunyi menyakitkan.
"Padahal aku sedang membantumu agar Theo bisa cemburu. Tapi โฆ kau terlihat sangat tidak senang. Bagaimanapun juga kita pasti akan menjadi kekasih."
Kontan kedua bola mata Hayan terbelalak lebar usai mendengar perkataan yang tidak masuk akal dari pria itu. Dia main mata ke arah Gabriel, namun sial karena pria itu juga ternyata tengah main mata dengannya.
Cukup lama di perjalanan, Hayan bersama Gabriel akhirnya tiba di tempat tujuan. Mereka langsung duduk di meja kerja masing-masing. Kedatangan Hayan dan Gabriel sempat menghebohkan beberapa karyawan, banyak orang-orang menatap keduanya dengan tatapan cemburu.
"Kalian kenapa?" tanya Hayan mencoba untuk mencairkan suasana yang hampir canggung.
"Tiโ tidak kok. Kau sudah sembuh, ya?" balas Hellen sekaligus bertanya.
"Begitulah โฆ."
Beberapa saat berlalu, namun Hayan masih belum melihat sosok Theo. Padahal sebelumnya pria itu menuju perusahaan menggunakan mobil taxi. Sosoknya yang belum juga tiba di perusahaan tentu patut dicurigai.
Selang beberapa waktu kemudian, Qui tiba-tiba datang dari arah pintu masuk ruangan. Kedatangannya itu bersama seorang pria yang tak lagi dipertanyakan.
Ternyata alasan mengapa Theo datang terlambat karena dia ingin menghabiskan waktu bersama sang kekasih sebelum memulai pekerjaannya di perusahaan.
Belum lama setelah kedatangan mereka, seseorang juga tiba-tiba datang. Dia adalah Domini si manager perusahaan.
"Selamat pagi, aku kemari ingin memberitahu sedikit mengenai informasi gaji pada kalian," ucap Domini yang baru saja tiba.
Mendengar kata gaji, seluruh orang reflek menatap ke arahnya dengan wajah yang sangat serius. Mereka yakin kalau gaji hasil kerja pasti akan dipotong untuk membiayai kerusakan perusahaan akibat kebakaran yang sempat terjadi kemarin dulu.
"Apakah gaji kami akan dipotong?" sosor Belle. Nampak kepalanya yang dipasang sebuah perban. Wanita itu sempat mengalami luka pada kepala karena tertindas benda saat kebakaran terjadi kemarin.
"Sebenarnya โฆ."
__ADS_1
Bersambung ...
Mohon dukungannya untuk karya ini~ (เน`โชฬคโกโชฬค)โแฆิตีฐษีฒฦีแฆ