
๐๐๐ฉ๐ฉ๐ฒ ๐๐๐๐๐ข๐ง๐ ~
๐๐จ๐ก๐จ๐ง ๐๐ข๐ฃ๐๐ค ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐ฆ๐๐ฆ๐๐๐๐, ๐ฒ๐!
๐๐ฎ๐ญ๐ก๐จ๐ซ ๐ง๐๐ง๐ญ๐ข ๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐๐ง ๐๐๐ซ๐ข ๐ค๐๐ฅ๐ข๐๐ง ๐ฃ๐ฎ๐ ๐, ๐ก๐๐ก๐. (*หแห*)แตแแตแขแต แตแตแต
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
"Itu karena kau seperti menghiraukan ku, aku jadi kesal," ungkap Gabriel, pria itu lagi-lagi menampakkan wajah tak sedapnya.
"Utututu โฆ baiklah. Mulai sekarang aku tidak akan menghiraukan mu lagi!"
***
Burung hantu berbunyi menakuti orang-orang di sekitarnya. Awan gelap yang dihiasi padangnya rembulan mampu memancarkan sinar terang dengan dibarengi lampu yang berjajar di sepanjang jalan.
Hayan mendengar ponsel miliknya berbunyi ketika tengah sibuk berada di dapur. Dia menyempatkan untuk mengangkat panggilan dari seseorang yang sedang berusaha menghubungi nomornya.
Sesaat dilihat, Hayan terkejut Guinan sang ayah tiri tiba-tiba menelepon. Padahal sejak beberapa hari lalu mereka pergi, sama sekali belum memberi kabar.
"Halo, malam Ayah," sapa Hayan setelah mengangkat panggilannya.
Dia melihat wajah ayah bersama sang ibu kandung di dalam telepon itu. Jujur dia benar-benar rindu dengan sosok mereka.
"Malam sayang, kenapa kau belum tidur?" sapa Guinan sekaligus bertanya.
"Ini, aku sedang membuat kue untuk menonton acara televisi kesukaan ku," balas Hayan seraya menunjukkan barang adonan yang berserakan di sepanjang keramik dapur.
"Eh? Kenapa tidak meminta pelayan untuk membuatkan saja?" tanya Lea.
"Aku ingin membuatnya sendiri. Ngomong-ngomong โฆ sudah dulu ya! Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan masakan ini."
Hayan langsung mengakhiri panggilannya dan melanjutkan memasak di dapur. Bahan-bahan yang telah berserakan membuat dirinya sendiri menjadi kewalahan saat ingin mengambil sesuatu.
Karena terlalu fokus dengan adonan kedua, Hayan jadi lupa kalau ia tengah mengukus kue di mesin oven. Lantaran terlalu lama, kue itupun terbakat habis di dalam mesin tersebut.
Hayan mengeluarkan kuenya dalam keadaan gosong, bahkan rasanya tak kalah mengerikan dari penampilannya.
"Huh, sudah lama-lama membuat adonan, kenapa harus jadi begini?" hembus wanita itu merasa kesal.
__ADS_1
Suara langkah kaki yang terdengar semakin mendekat ke arah dapur reflek membuatnya menoleh. Dia melihat sosok pria tampan yang bukan lain adalah Gabriel si pria kucing.
Ia tampak berjalan mendekati Hayan, lalu merebut seluruh adonan digenggaman wanita itu. Entah apa yang akan dilakukan membuat Hayan terdiam bengong dan hanya mampu menatapnya.
"Kalau kau memasak dengan cara seperti ini tidak akan sempurna. Mengerti?" papar Gabriel, dia mengajarkan cara membuat adonan yang benar.
Ternyata tidak selalu wanita bisa memasak, dan tidak selalu pria tidak bisa memasak. Mereka bisa melakukan apa saja sesuai keahlian, tidak memandang jenis kelamin maupun usia.
Waktu berselang cepat, dan kini tampak dua orang sedang asyik menikmati kue sambil menonton acara televisi. Lampu ruangan yang sengaja dimatikan membuat suasana menjadi lebih seru dan mencekam.
Cocok dengan acara yang sedang ditonton, yaitu film horor kesukaan Hayan. Sejak dulu wanita itu selalu menyukai film berjenis horor, namun mesti takut jika penampakan hantu muncul di layar televisi nya.
"Hayan!! Hayan!!" teriak Qui dari arah tangga menuju ruang tengah.
Gabriel yang terkejut lantas merubah dirinya menjadi seekor kucing dan langsung bersembunyi di bawah kolong kursi. Tepat setelah Qui tiba, hanya terlihat Hayan seorang yang berada di sana.
Rasa curiga seketika terlintas di benak Qui, melihat saudara tirinya tengah menonton film horor sendirian.
"Sedang apa kau?" tanya Qui sinis, tangannya langsung meraih kue yang tergeletak di atas meja.
Bahkan suapan pertama diambil oleh Qui. Kue buatan Gabriel yang sudah dinanti Hayan malah bukan dia yang mendapat suapan pertamanya.
"Qui! Itu milikku! Kenapa kau selalu merebut semuanya, sih?!!" tanya Hayan jengkel, lantas Qui tersenyum menanggapi pertanyaannya barusan.
Qui langsung berjalan pergi meninggalkan ruang tengah. Dia meninggalkan kata-kata yang begitu membekas di hati Hayan. Sebenarnya wanita itu tidak sedih, melainkan dendam dengan sosok Qui yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Usai kepergian Qui, Gabriel pun kembali menjadi seorang manusia. Dia duduk bersebelahan dengan Hayan yang tampak diam menunduk.
"Apa kau sedih?" tanya Gabriel sedikit meledek, dia menyentuh wajah Hayan dengan asal hingga membuatnya semakin geram.
"Diam! Aku tidak sedih, tau!" tukasnya menunjukkan raut wajah kesal.
"Mulutnya bisa berbohong, tapi wajahnya tidak. Hahaha! Kau pikir aku tidak tau itu?"
*****
Suara bising terdengar jelas di telinga Hayan, membuat wanita itu terbangun dari tidur lelapnya setelah semalaman. Hayan membuka kedua bola mata yang masih terasa berat akibat mengantuk.
Ia menatap angka jam yang terpampang di dinding kamar, dan ternyata waktu masih menunjukkan pukul lima pagi.
__ADS_1
Namun wanita itu terpaksa harus bangun di pagi buta lantaran suara bising terus terdengar menembus telinganya.
"Kau mau kemana?" tanya Gabriel ikut terbangun melihat sosok Hayan hendak keluar dari kamar.
"Eh? Apa kau tidak dengar suara? Di bawah sana berisik sekali! Masa tidak dengar?" celetuk nya.
Ketika tangannya hampir memegang kenop pintu, seseorang tiba-tiba membuka pintu kamarnya terlebih dahulu dari arah luar.
Kontan Gabriel langsung melompat dari ranjang untuk bersembunyi di bawah kolong, tapi saat itu dirinya masih berwujud manusia.
"Qui? Aโ ada apa?" tanya Hayan gugup, dia khawatir Qui akan melihat Gabriel di dalam kamarnya.
"Bicara dengan siapa, sih!" lontar nya heran mendengar keributan yang berasal dari dalam kamar saudara tirinya.
"Buโ bukan apa-apa. Bisakah kau keluar?"
Hayan mendorong tubuh Qui hingga menjauh dari area kamar miliknya. Wanita itu dengan cepat menutup pintu kamar. Lalu berjalan pergi menuju lantai bawah untuk melihat situasi yang tengah terjadi hingga menimbulkan suara bising.
Tiba di lantai dasar, keduanya terkejut secara bersamaan melihat sosok Guinan bersama sang istri berada di sofa ruang tamu. Dan dalang suara berisiknya adalah orang-orang yang menata barang hasil bawaan mereka.
Hayan lantas berlari kencang menghampiri kedua orang tuanya. Ia memeluk erat tubuh mereka hingga membuat keduanya sulit bernafas.
"Sudah, lepaskan." Lea melepas tangan Hayan dari tubuhnya.
Ia meraih sebuah benda dari dalam tas besar. Terlihat beberapa pakaian brand ternama yang memiliki harga tinggi. Pakaian itu sukses menyita perhatian Hayan sekaligus Qui, mereka sama-sama menginginkan pakaian tersebut.
"Apa ini untukku?" tanya Hayan berharap, lalu dibalas anggukan oleh sang ibu.
"Wah!!! Terima kasih!!"
Ponsel yang tiba-tiba berdering membuat Hayan terpaksa harus mengangkat panggilan itu terlebih dahulu. Saat melihat layar ponsel, ternyata Gabriel adalah orang yang sedang berusaha untuk menghubunginya.
Hayan bergegas naik ke lantai dua dimana kamarnya berada. Kini ia bersama pria kucing saling berhadapan di lorong ruangan.
"Dimana Hayan?" tanya Guinan begitu sadar bahwa sang putri sudah tidak ada di sana.
"Entahlah, mungkin dia ingin memamerkan pakaiannya pada teman rekan kerja lewat ponsel," sahut Qui.
"Mana mungkin? Pakaiannya saja di sini," kata Guinan.
__ADS_1
Bersambung ...
Mohon dukungannya untuk karya ini~ (เน`โชฬคโกโชฬค)โแฆิตีฐษีฒฦีแฆ