
๐๐๐ฉ๐ฉ๐ฒ ๐๐๐๐๐ข๐ง๐ ~
๐๐จ๐ก๐จ๐ง ๐๐ข๐ฃ๐๐ค ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐ฆ๐๐ฆ๐๐๐๐, ๐ฒ๐!
๐๐ฎ๐ญ๐ก๐จ๐ซ ๐ง๐๐ง๐ญ๐ข ๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐๐ง ๐๐๐ซ๐ข ๐ค๐๐ฅ๐ข๐๐ง ๐ฃ๐ฎ๐ ๐, ๐ก๐๐ก๐. (*หแห*)แตแแตแขแตย แตแตแต
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Suasana di ruang makan terdengar sunyi, hanya ada satu keluarga kecil yang tengah sibuk dengan sendok serta garpu mereka masing-masing, hingga tak ada celah untuk saling mengobrol dan bersenda gurau.
Hayan meneguk segelas air susu usai memakan seluruh roti panggang yang sudah disiapkan oleh Lea, ibu kandungnya.
Kini satu persatu dari keluarga kecil itu mulai bangkit dari kursi, mereka akan melakukan aktivitas seperti yang biasanya dilakukan.
"Kenapa tidak mengajak Hayan?" tanya Lea pada Qui yang lebih dulu pergi meninggalkan ruang makan.
"Maaf, aku sedang terburu-buru. Hayan, kau berangkat sendiri saja, ya!" lontar nya, lalu berjalan menuruni tangga untuk menuju lantai dasar.
Wanita itu hanya menghembuskan nafas pasrah. Memang hubungan kedua saudara itu tidak begitu akrab. Namun dimata keluarganya, Hayan dan Qui adalah saudara tiri yang sangat akrab, berbeda dengan saudara lain pada umumnya.
Waktu telah menunjukkan pukul delapan tepat, Hayan dengan tas kecilnya mulai melangkah memasuki gedung perusahaan Couse Grup. Perusahaan yang terkenal dengan si pemilik yang baik, membayar para karyawannya dengan gaji tinggi. Tapi sayang, tidak semua orang bisa dengan mudah bekerja di perusahaan itu.
"Apa yang sedang dilakukan Gabriel sekarang ini? Apa dia akan baik-baik saja?" gumam Hayan penuh kekhawatiran.
Ia benar-benar takut jika keberadaan pria itu diketahui oleh ibu dan ayah tirinya.
"Hayan! Kemari!" teriak seorang pria dengan rambut hitam yang cukup panjang. Tangannya diangkat ke atas dengan tujuan memberitahu pada Hayan kalau dirinya sedang berada di sana.
Lantas Hayan pun mendekati pria berambut panjang itu dengan menampakkan raut wajah heran.
"Kenapa tidak ke ruang rapat? tuan Harley sudah lama menunggumu sejak pagi!" beber Cullen, pria yang kini tengah berhadapan langsung dengan Hayan.
"Astaga, aku benar-benar lupa. Apa dia marah?" Hayan bertanya sembari berlari kencang menuju lift, untuk mengantarnya tiba di lantai atas.
"Hei!! Jangan tinggalkan aku, dong!"
Cullen mengejar wanita itu, namun sayangnya gagal karena pintu lift yang terlalu cepat tertutup.
__ADS_1
Tiba di lantai tujuan, Hayan kembali berlari. Kemudian masuk ke dalam ruangan yang di depannya terdapat papan bertuliskan ruang rapat.
Kehadirannya yang terlalu tiba-tiba sukses membuat sebagian orang di dalamnya merasa terkejut. Termasuk Harley, tuan si pemilik perusahaan.
"Aku tidak tau kenapa kau bisa terlambat hari ini. Tapi, kita mulai saja untuk rapatnya," papar Harley sedikit kesal.
Saat Harley hendak membuka layar laptop miliknya, beberapa orang dibuat terkejut lagi. Namun kali ini bukan karena Hayan, melainkan karena Cullen yang tiba-tiba masuk seperti Hayan sebelumnya.
"Bisa-bisanya sepagi ini aku sudah dibuat kesal oleh dua orang," gumamnya.
Rapat pagi itupun dimulai, beberapa diantaranya mencatat pendapat yang dibeberkan oleh sebagian dari mereka.
...โฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆ...
Gabriel membuka lemari pakaian milik Hayan. Di dalamnya terlihat rapih dengan seluruh pakaian yang digantung. Bahkan tak ada satupun pakaian yang dibiarkan berjajar di dalam lemari tersebut.
Merasa bosan karena tidak ada yang bisa ia lakukan, pria itupun iseng mengacak beberapa perlengkapan make up di atas lemari kecil. Merias nya pada wajah yang sudah terlihat tampan.
Kriet ...
Ruang kamar yang terlihat berantakan dengan peralatan make up, membuat Lea yang baru saja masuk menjadi terkejut sekaligus heran.
Selama ini, dia sama sekali tidak pernah melihat kamar sang anak yang berantakan. Apalagi Hayan adalah sosok yang mewarisi kepribadian ibunya, menyukai tempat yang rapih dan rajin bersih-bersih.
"Pantas saja tadi pagi anak itu terlambat sarapan. Apa dia sibuk merias wajahnya?" geram Lea.
Wanita itu meraih liptint dan beberapa perlengkapan make up lainnya. Memasukkannya ke dalam wadah dan ia letakkan ke atas lemari kecil.
Usai tidak ada lagi yang akan dilakukan, Lea pun keluar dari kamar sang anak. Ia akan melanjutkan untuk membereskan rumah yang begitu besar, sampai tak sanggup jika hanya dibersihkan oleh dua atau tiga orang saja.
"Apa sudah tidak ada orang?"
Setelah dirasa cukup aman, Gabriel pun keluar dari bawah kasur, menatap ke arah pintu yang sudah tertutup rapat. Pria itu kembali mengubah dirinya menjadi seorang manusia yang tampan.
...โฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆ...
"Acara rapat pagi ini selesai. Kalian bisa kembali bekerja," seru Harley, membuat para karyawannya berjalan keluar dari dalam ruangan.
__ADS_1
Hayan yang sudah lama merasakan hawa panas di sana, membuatnya berniat untuk pergi ke dapur perusahaan. Mungkin ia akan menyeduh kopi dingin untuk menemani pekerjaannya.
Begitu tiba di dapur, Hayan sempat dikagetkan dengan sosok saudara tirinya tengah berciuman bibir dengan seorang pria.
Pria di sebelahnya adalah Matheo, atau yang sering disebut-sebut Theo. Beberapa bulan lalu, pria itu adalah kekasih Hayan. Namun setelah mengetahui bahwa Theo berpacaran dengan Qui saudara tirinya, Hayan pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.
"Sudahlah, lagipula di dunia ini memang mustahil kalau cinta akan datang kepadaku," gumam Hayan seraya berbalik badan.
Ketika matahari telah berada di ujung barat, langit terlihat semakin gelap. Menunjukkan warna oranye dengan samar-samar rembulan yang hampir muncul.
Hayan masuk ke dalam rumah, setelah cukup lama menghabiskan waktu diperjalanan. Karena letak perusahaan yang tidak terlalu jauh dengan rumahnya, wanita itu jadi tidak perlu repot menaiki kendaraan. Hanya dengan berjalan kaki, ia bisa tiba dalam kurun waktu dua puluh menit saja.
"Ah, Gabriel!" Hayan langsung menaiki tangga begitu teringat dengan sosok kucing imut itu.
Saat membuka pintu kamar, rasa lega langsung masuk ke dalam pikirannya begitu saja, ketika melihat Gabriel yang tengah duduk di atas kasur dengan santai.
"Syukurlah kau masih aman," hembus nya.
"Eh? Kenapa wajahmu begitu? Kau habis memainkan make up ku ya?!!" tanya Hayan mulai panik, ia mengacak beberapa perlengkapan make up.
Dan benar saja, bb cushion yang baru dibelinya kemarin lalu sudah tampak berantakan.
"Astaga! Gabriel, kau benar-benar membuatku pusing, ya. Tapi, kau sudah mandi kan?"
Hayan mendekati pria itu, dan tercium aroma yang dirasa tidak sedap. Seperti para kucing yang tidak pernah mandi pada umumnya.
"Ka-- kau, belum mandi?!!"
Gabriel menggeleng menanggapi pertanyaannya. Seketika Hayan langsung terduduk lemas, melihat wajah pria itu yang sungguh imut. Sayang, baunya tidak sedap.
"Sekarang cepat mandi!!" perintahnya.
"Bagaimana aku bisa mandi? Sedangkan aku kan seekor kucing."
Bersambung ...
Mohon dukungannya untuk karya ini~ (เน`โชฬคโกโชฬค)โแฆิตีฐษีฒฦีแฆ
__ADS_1