Perang Cinta Dengan Manusia Kucing

Perang Cinta Dengan Manusia Kucing
Ch 8. Pesta Malam


__ADS_3

๐‡๐š๐ฉ๐ฉ๐ฒ ๐‘๐ž๐š๐๐ข๐ง๐ ~


๐Œ๐จ๐ก๐จ๐ง ๐›๐ข๐ฃ๐š๐ค ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐š๐œ๐š, ๐ฒ๐š!


๐€๐ฎ๐ญ๐ก๐จ๐ซ ๐ง๐š๐ง๐ญ๐ข ๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐š๐ง ๐๐š๐ซ๐ข ๐ค๐š๐ฅ๐ข๐š๐ง ๐ฃ๐ฎ๐ ๐š, ๐ก๐ž๐ก๐ž. (*หŠแ—œห‹*)แต—แ‘‹แตƒแขแต แตžแต’แต˜


ใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽ


Angin berhembus kencang di kawasan kota, ramai orang-orang tengah berkendara dengan kecepatan kecil, berjaga-jaga di keadaan yang cukup sulit untuk mengendarai kendaraan mereka.


Usai kelar dengan pekerjaan di kantor, Hayan langsung pulang. Namun di tengah perjalanan pulangnya, Hayan sempat melihat sebuah toko pakaian di seberang jalan, hal itu mengingatkan nya pada Gabriel yang menginginkan baju baru.


Kebetulan, hari itu adalah hari dimana beberapa karyawan sempurna mendapat gaji, termasuk Hayan dan Qui.


Saat masuk ke dalam toko pakaian, Hayan merasa suasana di tempat itu cukup sejuk, mungkin karena alat pendingin ruangan yang di pasang pada tembok.


Baru beberapa langkah berkeliling, Hayan langsung menemukan sebuah pakaian yang dirasa cocok jika dikenakan oleh pria imut itu.


Hayan mengambil empat buah kemeja langsung dengan celananya, bahkan gaji hasil ia bekerja selama satu bulan habis setengah hanya untuk membeli pakaian Gabriel.


Wanita itu mulai berjalan meninggalkan toko pakaian, tangannya penuh dengan plastik kresek berwarna hitam. Tentu saja, Hayan juga tidak lupa dengan sepatu serta pakaian dalamnya.


Waktu menunjukkan pukul 15.22. Hayan masuk ke dalam rumah kediaman Casta. Di lantai dasar, dirinya sudah dikejutkan dengan sebuah rangkaian hiasan berderet sepanjang kereta api.


Ia menggelengkan kepalanya, lalu berdecak kesal dalam hati. Tidak heran jika dirinya membenci Qui, sifat angkuh serta sifat centil yang dimilikinya benar-benar membuat Hayan merasa jijik.


"Selamat sore," sapa Hayan begitu masuk ke dalam ruang kamar.


Sesaat menoleh ke arah jendela, dia melihat sosok Gabriel tengah menatap pemandangan di luar sana. Warna jingga dengan dominan merah muda di langit benar-benar membuatnya terpana, sampai tidak sadar kalau Hayan sudah pulang.


"Lihat apa yang aku bawa?" ucap Hayan seraya berjalan mendekati pria itu.


"Eh, apakah itu baju?" tebak Gabriel, tangannya tampak mengusap cairan bening yang keluar dari kedua bola matanya.


"Apa kau โ€ฆ menangis?"


"Tiโ€“ tidak kok!" Gabriel reflek menunduk, bibirnya terlihat mengukir senyum tipis.


"Dia bohong, jelas-jelas tadi aku melihatnya menangis," gumam Hayan.


"Apa kau mau mencobanya?"


Wanita itu mengeluarkan seluruh pakaian beserta sepatu dan pakaian dalamnya. Ia melemparkan semua itu pada Gabriel.

__ADS_1


"Seโ€“ sebentar, ada yang ingin aku katakan padamu," tutur nya pelan, membuat wanita berambut pendek itu langsung penasaran.


"Tadi pagi saat kau berangkat ke kantor, aku mengikutimu dari belakang."


"Apa?!!! Ternyata kau?!!!" kesal Hayan, reflek tangannya menarik helai rambut Gabriel dengan keras.


"Sebentar, bukan aku."


"Eh? Lalu?"


"Sebenarnya, aku melihat Qui yang mengikutimu. Lalu aku mengikuti Qui dari belakang."


~Flashback on~


Usai pulang dari bandara, Qui yang sempat menyelinap masuk ke kamar Hayan secara diam-diam sempat diketahui oleh Gabriel, pria dengan bulu kucing di seluruh tubuhnya itu tengah bersembunyi di bawah kolong kasur.


Qui berjalan ke sana kemarin, mencari benda pipih milik Hayan. Benar, wanita itu akan mengecek ponsel Hayan untuk menemukan kontak pria yang semalam sempat jalan berdua dengannya.


Namun begitu mendengar suara alarm yang tiba-tiba berbunyi, Qui langsung terkejut. Dia melihat ke arah jarum jam yang terpampang di dinding kamar telah menunjukkan waktu pukul 07.22.


Merasa waktunya untuk ke perusahaan akan terlambat, wanita berambut pirang itu lantas mengurungkan niat untuk mencari ponsel saudara tirinya.


Ia berjalan menuruni tangga, dan melihat Hayan tengah membuka pintu rumah.


"Ah, ternyata dia sudah mau berangkat? Pasti ponselnya juga dibawa. Percuma saja aku mencarinya di kamar tadi," gumam Qui sedikit jengkel.


Tanpa Qui ketahui, Gabriel ternyata membuntuti nya dari belakang. Dia yakin kalau Qui memiliki rencana jahat yang akan dilakukan pada Hayan.


Selama berjalan menuju perusahaan, Hayan yang sebelumnya santai perlahan mulai merasa kalau ada seseorang di belakang.


Begitu menoleh, Hayan tidak melihat siapapu, itu karena Qui langsung bersembunyi di balik bangunan gedung besar.


"Dia โ€ฆ tidak bersama pria itu? Aku penasaran pria yang kemarin bersamanya, siapa dia?" tanya Qui pada dirinya sendiri.


Meow โ€ฆ meow โ€ฆ


Seekor kucing mendekat ke arah nya, kontan membuat Qui terkejut hebat. Yah, parasnya yang cantik benar-benar tidak menunjukkan kalau wanita itu takut dengan seekor kucing.


"Pergi kau kucing!!! Dasar menyebalkan," teriaknya.


Kucing itu akhirnya pergi setelah Qui menendangnya dengan keras, kucing dengan buku halus dan wajah imut adalah Gabriel, ia sengaja merubah wujudnya untuk bisa membuntuti Qui dari dekat.


Qui kembali menatap ke arah dimana Hayan sebelumnya berjalan, namun ia sudah kehilangan jejak Hayan karena ulah Gabriel.

__ADS_1


"Gara-gara kucing tadi, aku jadi kehilangan jejaknya!"


~Flashback off~


"Ah, pantas saja aku merasa ada seseorang yang membuntuti ku. Terima kasih, ini semua berkatmu, aku jadi tau kalau ternyata dia orang yang diam-diam membuntuti ku," ucap Hayan, ia meraih pergelangan tangan Gabriel lalu mendekap ke dalam pelukannya.


"Kau โ€ฆ mau menggodaku ya? Ah, tenang saja. Aku peka, kok."


Seketika kedua bola matanya terbelalak lebar, terkejut dengan ucapan pria di hadapannya barusan.


"Hei! Aku tidak memintamu untukโ€“ "


Gabriel mendaratkan bibir manisnya pada Hayan, membuat wanita itu merasakan sentuhan lembut dari bibirnya.


Jujur, baru kali ini Hayan mendapat sebuah ciuman bibir oleh seorang pria. Ternyata, ciuman bibir memang tidak terlalu buruk seperti yang ia bayangkan.


*****


Matahari telah terbenam dan tergantikan dengan terangnya cahaya rembulan. Waktu yang baru menunjukkan pukul tujuh malam telah mengisi seluruh tempat di lantai dasar kediaman Casta.


Sebuah bola lampu berwarna warni terus menyala berputar, dengan diiringi musik yang berdentum hebat hingga terdengar ke lantai atas.


Semuanya bersorak ria menikmati setiap dentuman musik, dengan menggenggam segelas wine yang tampak segar. Tak terlewatkan oleh mereka untuk saling bersulang menikmati minuman wine tersebut.


Gabriel keluar dari kamar sesuai permintaan Hayan, matanya memandang kesal pada orang-orang yang tengah berpesta di lantai dasar. Termasuk Qui, rambu pirang nya terlihat bersinar sesaat lampu menyorotnya.


"Mereka?"


Gabriel mengubah tubuhnya menjadi seekor kucing, pria itu melangkah pelan menuruni anak tangga dan bersembunyi di balik keramaian orang-orang.


"Hei, kenapa Hayan tidak keluar? Bukannya kalian saudara tiri?" tanya Hellen, tubuhnya bergoyang dengan bebas sampai membuat mata Gabriel merasa sakit.


"Tidak perlu dipikirkan, lagipula dia menolak saat ku ajak ikut pesta," sahut nya.


"Eh? Kenapa seperti itu?" timpal Girda.


"Entahlah โ€ฆ anak itu memang sulit diajak berpesta."


Di saat semuanya menikmati pesta malam, seorang pria tiba-tiba membuka pintu kediaman Casta. Sukses membuat seluruh orang di dalamnya menoleh secara bersamaan.


Qui langsung berlari menghampiri pria di depan sana, tubuhnya ia lekatkan pada pria itu.


"Theo, akhirnya kau tiba. Aku sudah lama menantimu."

__ADS_1


Bersambung ...


Mohon dukungannya untuk karya ini~ (เน‘`โœชฬคโ—กโœชฬค)โ—žแƒฆิตีฐษ‘ีฒฦ˜ีแƒฆ


__ADS_2