
๐๐๐ฉ๐ฉ๐ฒ ๐๐๐๐๐ข๐ง๐ ~
๐๐จ๐ก๐จ๐ง ๐๐ข๐ฃ๐๐ค ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐ฆ๐๐ฆ๐๐๐๐, ๐ฒ๐!
๐๐ฎ๐ญ๐ก๐จ๐ซ ๐ง๐๐ง๐ญ๐ข ๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐๐ง ๐๐๐ซ๐ข ๐ค๐๐ฅ๐ข๐๐ง ๐ฃ๐ฎ๐ ๐, ๐ก๐๐ก๐. (*หแห*)แตแแตแขแต แตแตแต
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Kring!!! Hayan terbangun setelah mendengar suara alarm yang berbunyi nyaring tepat di sebelah telinganya. Ia membuka kedua bola matanya secara perlahan, dan melihat beberapa pakaian berserakan di mana-mana.
Begitu menatap ke arah lemari, wanita itu kontan terkejut mendapati sosok pria yang tak lain adalah Gabriel tengah mengacak-acak lemari pakaiannya.
Hayan langsung bangkit dari ranjang dan menarik telinga pria itu, mampu dirasakan nya perih yang mencekik.
"Ahh!!! Lepaskan!!!" teriak Gabriel berusaha melepas tangan Hayan dari telinganya.
"Bereskan kembali pakaian ku!" tegas Hayan. Ia melepaskan tangannya dari telinga pria itu.
"Tega sekali," ucap Gabriel, wajah imutnya ia tunjukkan pada Hayan yang seketika membuatnya langsung meleleh.
"Ah, mau bagaimana lagi."
Kriet โฆ
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, menampakkan sosok wanita tengah menatap seisi ruang kamar Hayan dengan kaget.
"Ada apa dengan kamarmu?" tanya Lea, wanita yang masih berdiri di tengah pintu masuk kamar.
Hayan tersenyum, perlahan tangannya mulai mengambil beberapa pakaian yang sudah berserakan di lantai. Jika bukan karena Gabriel, mungkin pagi ini dia tidak akan dimarahi oleh sang ibu.
"Ibu heran kenapa belakangan ini kamarmu suka berantakan. Memangnya kau suka tempat kotor?" papar nya sedikit jengkel.
Benar, beberapa hari lalu Lea juga sempat melihat kamar Hayan berantakan dengan beberapa make up di atas ranjang.
"Maaf, aโ aku โฆ."
"Sudahlah, cepat mandi dan turun ke lantai bawah. Semuanya sudah menunggumu di sana untuk ke bandara."
"Ah, kenapa sepagi ini? Bahkan Ibu tidak memberitahu padaku kapan berangkat ke bandara," protes Hayan, wajahnya terlihat kesal menatap wanita itu.
"Itu karena semalam kau langsung pergi, kau sendiri yang tidak mau mendengar penjelasan ayah."
__ADS_1
"Ah, benar. Semalam aku memang pergi sih, tapi itu kan karena Qui yang menyebalkan!"
Lea pergi meninggalkan Hayan setelah dirinya menutup pintu kamar. Untung saja, tadi Gabriel sempat merubah wujudnya menjadi seekor kucing dan mengumpat di bawah ranjang, jika tidak mungkin rahasia mereka akan terbongkar hari ini.
"Gabriel! Keluar kau!!" teriak Hayan, berusaha mencari seekor kucing di dalam sana.
Gabriel menampakkan dirinya, berubah kembali menjadi seorang manusia. Hayan yang hampir marah-marah pun tidak bisa meluapkan emosinya, begitu melihat wajah seorang pria yang amat menawan.
"Bereskan kembali pakaian ku," tutur Hayan pelan, langkahnya berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
"Tapi, aku juga ingin baju. Kau tidak membelikan ku baju baru, kan?" tanya Gabriel murung.
"Iya iya, nanti aku belikan."
*****
Beberapa waktu kemudian, tampak seluruh keluarga Casta tengah berada di halaman kediaman Casta. Dua orang terlihat memasukkan beberapa barang termasuk koper ke dalam bagasi mobil, dan hanya ditonton oleh dua anaknya.
Usai memasukkan seluruh barangnya, mobil pun mulai melaju dengan dikendarai oleh sopir pribadi Guinan.
Hampir satu jam berlalu, mereka akhirnya tiba di sebuah bandara setelah menghabiskan waktu yang cukup lama di perjalanan.
Hayan menghirup udara segar pagi saat keluar dari mobil tersebut. Ini adalah kali pertama bagi nya pergi ke bandara setelah sembilan belas tahun hidup.
Guinan menyodorkan dua jari kelingkingnya sebagai tanda perjanjian, seperti yang biasa orang lakukan.
"Baiklah! Kami akan baik-baik saja," sahut Hayan bersemangat.
Kini Guinan bersama Lea mulai berjalan menuju sebuah pesawat yang tampaknya begitu besar. Mereka melambaikan tangan dan seketika hilang hanya dalam sekejap.
Begitu pesawat melandas, si sopir mengajak dua buah hati tuannya untuk masuk ke dalam mobil. Mereka akan kembali ke kediaman Casta di pagi yang masih sejuk ini.
*****
Waktu menunjukkan pukul 08.00 tepat, terlihat seorang wanita tengah berjalan melewati gedung-gedung besar di tepi jalan kota untuk menuju perusahaan tempat bekerjanya.
Di tengah-tengah perjalanan, Hayan merasa ada seseorang yang sedari tadi membuntuti nya dari belakang. Untuk memastikan bahwa memang ada seseorang, wanita itu pun menoleh, namun yang di dapat hanya sebuah daun yang terbang terbawa arus angin.
Masih merasa ada seseorang di belakangnya, Hayan langsung berlari terbirit-birit. Dia takut jika harus bertemu preman yang suka merampok uang hasil kerja orang lain.
"Pagi ini, dia tidak jalan bersama pria tampan itu?" ucap seseorang dari balik tembok bangunan besar, matanya ia sipit kan melihat Hayan yang sudah menghilang dalam sekejap.
__ADS_1
Hayan tiba di halaman perusahaan setelah cukup lama berlari, kini nafasnya terdengar berantakan.
Salah seorang rekan kerja yang melihatnya tengah duduk di kursi lantas menjadi keheranan. Padahal, waktu bekerja sebentar lagi akan dimulai.
"Hayan, kenapa masih duduk di sana?" tanya Lui, rekan kerjanya itu.
"Iโ iya, aโ aku โฆ aku lelah," sahut nya seraya tersenyum tipis.
"Kau sepertinya habis berlari?" tanya Lui lagi, membuat wanita berambut pendek itu menjadi geram terhadapnya.
"Sudahlah! Kau tidak tau aku lelah begini apa?" lontar Hayan ketus.
Seketika Lui pun berjalan masuk ke dalam gedung perusahaan, namun sesekali matanya masih melirik pada Hayan yang duduk di sebuah kursi kayu di depan perusahaan.
Jam waktu makan siang akhirnya tiba, beberapa orang dengan rekan kerja mereka mulai berjalan menuju kantin perusahaan yang terletak di lantai dua.
Namun tidak dengan lantai dimana Hayan bersama yang lain masih mengerjakan proyek yang diberikan oleh sang bos. Di sana terlihat banyak orang tengah menggenggam segelas minuman dingin sebagai obat di cuaca panas siang itu.
"Hei, semuanya โฆ apa aku cocok dengan pria tampan?" tanya Qui tiba-tiba, membuat beberapa orang menatap ke arahnya secara bersamaan.
"Eh? Tentu saja! Kau itu cantik, seperti malaikat," sahut Lui, wanita yang sebelumnya bertemu dengan Hayan.
"Tumben bertanya seperti itu," lontar Hellen, wajahnya terlihat heran menatap ke arah wanita berambut pirang di sebelah jendela.
"Emmm, sebenarnya aku ingin mengundang kalian ke acara pesta besar nanti malam di rumahku," ungkap Qui.
Ia berjalan mengelilingi tiap meja untuk memberikan sebuah undangan pada rekan kerjanya, yang juga rekan kerja Hayan.
"Benarkah? Bukankah selama ini kau tidak berani mengadakan pesta besar ya?" tanya Girda, pria berbadan tinggi bagai tiang.
"Ini karena orang tuaku sedang pergi ke luar negeri. Ayahku akan membuat lukisan yang akan dipamerkan saat acara pelelangan."
Hayan yang sebelumnya berpura-pura tidak mendengar, kontan terkejut mendengar ucapan saudara tirinya barusan. Dia sendiri bahkan tidak tau kalau Guinan ayahnya akan menciptakan lukisan mewah yang dipamerkan saat acara pelelangan.
"Pestanya besar, kan? Kau kan anak konglomerat!" ledek Hellen.
"Tenang saja, semuanya sudah siap kok."
Meskipun acaranya dibuat mendadak, namun seluruh perlengkapan pesta sudah pasti sempurna. Dia membayar beberapa pelayan di kediamannya untuk mengurus tempat yang akan dijadikan tempat pesta nanti malam.
"Berani sekali Qui membuat acara pesta saat ayah dan ibu tidak ada. Lihat saja nanti!"
__ADS_1
Bersambung ...
Mohon dukungannya untuk karya ini~ (เน`โชฬคโกโชฬค)โแฆิตีฐษีฒฦีแฆ