Perang Cinta Dengan Manusia Kucing

Perang Cinta Dengan Manusia Kucing
Ch 9. Gagal Tidur


__ADS_3

๐‡๐š๐ฉ๐ฉ๐ฒ ๐‘๐ž๐š๐๐ข๐ง๐ ~


๐Œ๐จ๐ก๐จ๐ง ๐›๐ข๐ฃ๐š๐ค ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐š๐œ๐š, ๐ฒ๐š!


๐€๐ฎ๐ญ๐ก๐จ๐ซ ๐ง๐š๐ง๐ญ๐ข ๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐š๐ง ๐๐š๐ซ๐ข ๐ค๐š๐ฅ๐ข๐š๐ง ๐ฃ๐ฎ๐ ๐š, ๐ก๐ž๐ก๐ž. (*หŠแ—œห‹*)แต—แ‘‹แตƒแขแต แตžแต’แต˜


ใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽ


Gabriel berjalan menuju lantai atas untuk kembali ke kamar Hayan, setelah berhasil mendapat sesuatu yang dibutuhkan.


Ia memberikan kue brownies serta susu coklat pada wanita yang tengah duduk di atas ranjang. Penyamarannya menjadi seekor kucing ternyata membuahkan hasil, mencuri makanan itu dari acara pesta Qui.


"Hanya ini saja?" tanya Hayan sedikit kesal, melihat sebuah kotak brownies dua potong dan satu botol susu coklat, sedangkan yang lapar ada dua orang.


"Ya โ€ฆ aku tidak bisa membawa banyak dengan tubuh kucing ku," balas Gabriel meyakinkan wanita di sebelahnya.


"Baiklah, kita bagi dua saja."


Hayan memberikan sepotong kue brownies pada Gabriel, sedangkan susu nya ia berikan satu botol pada pria itu lantaran tidak suka jika harus minum bekas bibir orang lain.


Beberapa waktu kemudian, semua orang di lantai dasar yang tengah merayakan pesta malam masih terdengar bising. Mereka saling berjoget dan menyanyikan lagu pop secara bergantian.


Namun tidak dengan Qui yang justru masih asyik duduk bersama Theo, kekasihnya. Mereka saling bersulang dan meneguk segelas wine. Merasa belum puas hanya dengan segelas saja, Qui pun menambahkannya untuk Theo, sampai membuat pria itu terlihat mabuk.


"Kau akan mabuk jika terus minum," ujar Qui memberi nasihat, namun masih tidak diperdulikan oleh pria itu.


"Dua gelas lagi," sahut nya tanpa memandang ke arah Qui.


Minuman yang dibeli oleh Qui memiliki harga mahal yang jarang orang lain bisa membelinya. Itulah alasan mengapa Theo malah sibuk dengan minuman dan bukan acara pesta.


Sementara itu, beberapa rekan kerja Qui merasa kalau Theo berlebihan. Dia sama sekali tidak mau ikut berjoget ataupun bernyanyi menikmati acara pesta bersama yang lain.


"Tiโ€“ tidak papa. Dia sangat menyukai wine ini โ€ฆ " tutur Qui pelan.


Meskipun terlihat membela, namun nampaknya wajah Qui menunjukkan rasa tidak suka pada sang kekasih.


*****

__ADS_1


Di dalam kamar, Hayan terlihat sudah mengantuk namun tak bisa tidur lantaran musik yang dinyalakan di lantai dasar terlalu keras. Sudah beberapa kali ia berusaha menutup telinganya menggunakan bantal, namun dentuman musik itu masih bisa menembus bantalnya.


Merasa kesal, ia pun bangkit dari ranjang dan membangunkan Gabriel yang sudah tertidur pulas di tempatnya. Hayan menggoyang goyangkan tubuh pria itu sampai membuatnya terbangun.


"Ah, ada apa?" tanya Gabriel sedikit jengkel. Padahal ia baru saja terbawa ke alam mimpi.


"Aku tidak bisa tidur, bagaimana jika besok aku mengantuk saat bekerja?" tanya Hayan cemas.


"Pftttt, ada apa dengan mata mu?" Gabriel terkikik tawa begitu melihat kedua bola mata Hayan terlihat hitam seperti panda.


"Eh? Kau malah tertawa!!" jengkel Hayan.


Lantas Gabriel berjalan mendekati pintu, ia merubah wujudnya menjadi seekor kucing dan menyelinap masuk ke ruang makan yang letaknya berada di lantai yang sama.


Pria itu membuka lemari kulkas, menemukan segelas susu segar yang mungkin bisa membuat seseorang tertidur.


Usai mendapat segelas susu segar, Gabriel langsung memberikannya pada Hayan. Lalu diminum hingga habis tanpa menyisakan setetes air pun.


"Sekarang coba kau tidur."


Saat hampir nyenyak Gabriel tak sengaja menempel kulit Hayan, mampu dirasakannya sensasi dingin seperti es.


"Dia kedinginan?" gumamnya.


Meskipun belum mendapat izin, Gabriel langsung memeluk tubuh Hayan. Ini adalah kali pertama bagi Gabriel memeluk tubuh seorang wanita, begitu juga dengan Hayan yang baru pertama kali mendapat pelukan dari seorang pria. Apalagi pria itu memiliki wajah tampan nan imut, sama seperti saat menjadi seekor kucing.


****


Tok โ€ฆ tok โ€ฆ tok โ€ฆ


Seseorang mengetuk pintu kamar, membuat Hayan yang masih terlelap langsung terbangun kaget. Ia menatap ke arah kanannya, dan melihat sosok pria tengah berbaring di sana.


Tok โ€ฆ tok โ€ฆ tok โ€ฆ


Pintu kamar kembali berbunyi, dan kini membangunkan Gabriel yang sebelumnya masih terlelap. Pria itu langsung bangkit lalu berubah menjadi seekor kucing, langsung bersembunyi di kolong kasur seperti biasa.


Hayan membuka pintu kamar dan mendapati sosok saudara tirinya tengah berdiri di sana, penampilannya rapih menggunakan pakaian kantor. Kontan terkejut, Hayan langsung menatap ke arah jarum jam yang telah menunjukkan pukul tujuh tepat. Pagi itu dia bangun terlambat karena lupa mengatur alarm.

__ADS_1


"Kau โ€ฆ kenapa belum mandi?" tanya Qui merasa jijik dengan penampilan Hayan sekarang. Wajahnya terlihat kotor dengan sisa makanan yang semalam ia makan.


"Ah, itu salahmu. Kenapa juga harus membuat pesta?" balasnya kesal.


"Hmmm. Apa kau bisa membereskan lantai bawah? Aku harus bekerja sekarang," ucap Qui berlagak sombong, ia menatap sebuah jam di tangannya.


"Apa-apaan? Memangnya siapa kau berani menyuruh ku?" Hayan mendorong tubuh wanita itu hingga membuatnya jatuh terkapar ke lantai.


"Apa kau lupa? Ibumu adalah seorang mantan pembantu di rumah ini, seharusnya kau juga pantas menjadi seorang pembantu!!" lontar Qui seraya bangkit dari lantai.


Wajahnya terlihat begitu kesal dengan cairan bening yang keluar dari kedua bola matanya. Entah mengapa, situasi saat itu benar-benar membuat Hayan merasa bersalah. Bahkan dia sendiri tidak tau alasan mengapa bisa merasa bersalah.


Tidak ingin menambah keributan, Hayan langsung menutup pintu kamarnya dengan keras. Wanita di luar sana juga nampaknya sudah pergi meninggalkan tempat itu.


Hayan duduk di sebelah ranjang, ia menatap setiap sudut kamar yang begitu mewah. Jika bukan karena ibunya menikah dengan pria tajir, hidupnya saat ini pasti masih sama seperti dulu ketika ayah kandungnya meninggal.


"Jangan sedih, mungkin dia hanya bercanda?" ucap Gabriel, langkah kecilnya berjalan mendekati Hayan.


"Sudahlah, ini semua memang salahku. Aku pantas menjadi seorang pembantu, benar kan?"


Hayan masuk ke dalam kamar mandi. Lima belas menit berlalu, dan kini tampak sosoknya yang sudah rapih mengenakan pakaian kantor. Ia beranjak keluar dari kamar dengan diikuti Gabriel dari belakang.


Begitu menginjak kaki di lantai dasar, mereka masih melihat ruangan yang berantakan akibat pesta semalam. Hayan hanya bisa menghembuskan nafas pasrah, lalu memungut sampah yang berserakan di lantai itu.


"Berangkat saja, aku yang akan membereskan semua ini. Percaya saja, oke?" papar Gabriel.


Hayan mengangguk pelan sebagai respon. Langkahnya kembali berjalan menuju pintu, hanya dalam sesaat sosoknya langsung menghilang dari pandangan mata.


Gabriel meraih sebuah kantung plastik yang tergeletak di bawah tangga, ia menutup sebelah matanya lalu tersenyum lebar. Entah apa yang akan dilakukan, Author bahkan tidak tau.


Cukup lama berada di perjalanan, Hayan pun tiba di halaman perusahaan tempat bekerjanya. Di sana ia sempat melihat sosok Qui yang masih berdiri di balik tembok bersama seorang pria.


Rasa penasaran dalam benak membuat Hayan nekat untuk mendekat ke arah mereka. Jika dilihat dari balik tubuh pria itu, nampaknya dia bukanlah Theo, melainkan pria asing yang tidak dikenali.


Bersambung ...


Mohon dukungannya untuk karya ini~ (เน‘`โœชฬคโ—กโœชฬค)โ—žแƒฆิตีฐษ‘ีฒฦ˜ีแƒฆ

__ADS_1


__ADS_2