
๐๐๐ฉ๐ฉ๐ฒ ๐๐๐๐๐ข๐ง๐ ~
๐๐จ๐ก๐จ๐ง ๐๐ข๐ฃ๐๐ค ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐ฆ๐๐ฆ๐๐๐๐, ๐ฒ๐!
๐๐ฎ๐ญ๐ก๐จ๐ซ ๐ง๐๐ง๐ญ๐ข ๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐๐ง ๐๐๐ซ๐ข ๐ค๐๐ฅ๐ข๐๐ง ๐ฃ๐ฎ๐ ๐, ๐ก๐๐ก๐. (*หแห*)แตแแตแขแต แตแตแต
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Di dalam cafe terlihat ramai orang sibuk dengan makanan mereka masing-masing, saling mengobrol dan bercanda gurau. Alunan musik yang dinyanyikan oleh seorang penyanyi cafe mampu memukau para pengunjung di tempat tersebut. Mereka juga ikut bernyanyi pada beberapa lirik saja.
Hayan berjalan memasuki bangunan itu, kemudian duduk di tempatnya semula. Namun tampak Qui yang celingak celinguk seakan mencari sesuatu miliknya yang hilang.
"Kau mencari apa?" tanya Hayan curiga, melihat perangai wanita di depannya terlihat aneh.
"Kucing โฆ dimana kucing itu?" balas Qui sekaligus bertanya.
"Oh, dia sudah pergi."
"Huh, syukurlah." Qui menghembuskan nafas lega mengetahui bahwa seekor kucing tadi telah pergi.
"Aku ingin pulang," ucap Hayan seraya bangkit dari kursi, tangannya meraih sebuah tas kecil yang biasa dibawa.
Dengan cepat Qui langsung menghentikan langkah kaki Hayan, menarik lengannya dan membuat wanita itu terduduk kembali di atas kursi.
"Aku masih belum selesai," ujar nya dengan wajah kesal.
"Tapi aku tidak ingin mendengar alasan konyol lagi. Sudahlah, lagipula aku sudak tidak menyukai Theo," ungkap Hayan kontan mengejutkan wanita itu.
Qui menaikkan sebelah alisnya sambil berdecih. Ia melangkah mendekati Hayan, lalu menepuk bahu wanita itu dengan pelan hingga menciptakan bunyi tepukan yang amat menjijikkan.
Tanpa berbicara sepatah katapun, Qui langsung pergi dengan langkah kakinya yang berjalan semakin mendekat ke arah pintu. Hanya dalama waktu singkat, sosok wanita itu seketika menghilang dari pandangan Hayan.
...โฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆ...
Di perjalanan menuju kediaman Casta, Hayan masih terbayang dengan perkataan Gabriel. Entah apa alasannya, namun pria itu tiba-tiba meminta agar Hayan tidak lagi mempercayai saudara tirinya.
Yah, meskipun terkadang Hayan juga sulit mempercayai perkataan Qui. Tapi juga terkadang dia bisa saja terperangkap ke dalam jebakannya.
__ADS_1
Flashback on~
"Ada apa kau datang kemari? Bodoh!" tanya Hayan sedikit jengkel, kedua bola matanya berkeliaran menatap sekeliling untuk berjaga-jaga agar tidak ada siapapun yang melihat mereka.
"Aku hanya ingin mengatakan, kalau sebaiknya kau jangan lagi pecaya dengan ucapan Qui. Itu hanya saran saja, sih. Jika tidak mau ya sudah, tapi jangan pernah salahkan aku kalau dia menjebak mu," tutur Gabriel pelan, namun wajahnya terlihat begitu santai dengan senyum yang terukir manis.
"Eh? Kau bicara apa sih! Sudahlah, aku harus kembali ke dalam. Qui akan curiga jika aku terlalu lama mengusir kucing nakal ini."
Hayan menarik helai rambut pria di hadapannya, membuat pria itu merasa kesakitan akibat ulah Hayan.
Flashback off~
Beberapa waktu kemudian, Hayan akhirnya tiba di kediaman Casta. Seorang pria selaku penjaga gerbang di kediaman tersebut lantas membukakan pintu gerbang untuk Hayan.
"Nona Qui tidak pulang?" tanya nya khawatir.
"Ah, aku tidak tau," balas Hayan cuek.
Langkah kakinya terseret masuk menuju lantai dasar. Di sana ia melihat ruangan yang tampak sepi tak seperti biasanya. Sudah sejak kepergian orang tua mereka, Hayan selalu menanti kepulangan ayah dan ibunya.
Tiba di lantai dua, Hayan langsung membuka pintu kamar dan berlari melompat ke atas ranjang. Tubuhnya ia baringkan pada ranjang yang terasa begitu empuk.
"Hei! Kau mengagetkan ku!" lontar nya kesal seraya bangkit dari ranjang.
Pria itu langsung menarik tubuh Hayan hingga membuatnya terbaring kembali. Gabriel memasang raut manis pada wajahnya, seketika membuat Hayan terpana dengan ketampanan yang ia miliki.
Di saat Hayan tengah sibuk memandang wajahnya, Gabriel reflek mencium bibir Hayan hingga membuat wanita itu tidak bisa bergerak melepas ciuman maut.
Rasanya seperti berada di surga dunia, menikmati rasa yang bahkan selama ini belum ia rasakan. Yah, mungkin ini adalah kedua kalinya bagi Hayan mendapat ciuman dari pria kucing.
Semalaman menikmati tidur yang nyenyak, Hayan akhirnya terbangun usai mendengar suara deringan alarm yang mampu memekakkan telinganya.
Dia bangkit dari ranjang dengan langkah pelan menuju kamar mandi. Di sana, Hayan tidak melihat sebatang hidung pun sosok Gabriel. Namun Hayan tak ambil pusing, tujuan utama di pagi yang masih buta ini adalah mandi untuk bisa tiba di perusahaan lebih awal.
Setelah beberapa saat, Hayan pun telah siap mengenakan kemeja perusahaan seperti yang biasa dipakai sesuai jadwal hari.
Dirinya duduk di sebuah kursi ruang makan dengan santapan daging yang telah disiapkan oleh Gabriel. Ternyata pria itu bangun lebih awal demi bisa menyiapkan sarapan untuknya.
__ADS_1
"Wah wah โฆ koki tampan sudah ada di sini ternyata?" celetuk Hayan.
"Bisa katakan sekali lagi?" pinta Gabriel, tangannya dibuat seperti sedang memohon pada wanita yang tengah duduk di kursi.
"Koki tampan? Kau ingin aku mengulanginya?"
"Tuan putri pintar." Gabriel mengelus lembut kepala Hayan, seketika membuat pipinya menjadi merah merona.
Tak lama berselang, terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke ruang makan. Begitu sosok wanita muncul di balik pintu, Gabriel langsung merubah wujudnya menjadi seekor kucing.
Lagi-lagi Qui datang secara tiba-tiba dan sukses membuat keduanya panik secara bersamaan. Namun kedatangannya pagi itu terlihat sedikit berbeda.
Qui masih tampak mengenakan sebuah kemeja perusahaan kemarin, rambutnya acak-acakan serta wajah yang terpampang lesu.
"Eh? Apa itu? Apakah itu adalah โฆ kucing!!!" Qui melompat ke atas kursi, melihat seekor kucing tengah berdiri di sebelah lemari dapur.
"Maaf. Kucing itu sepertinya kelaparan, jadi aku bawa masuk saja. Oh ya, kau makan dulu. Aku akan mengusir kucing jelek ini."
Hayan meraih kucing tersebut dan membawa membawanya ke dalam pelukan hangat. Sensasi empuk lantas dirasakan oleh Gabriel ketika dirinya menempel pada dua gunung kembar milik wanita itu.
Di dalam kamar, Hayan melempar kucing tersebut ke atas ranjang lalu beranjak pergi menuju ruang makan.
"Oh, dia membiarkanku ya?" gumam Gabriel merasa jengkel.
Begitu kembali ke ruang makan, Hayan melihat Qui yang tampak cepat melahap makanan itu ke dalam mulutnya. Bahkan hanya tersisa beberapa menu makanan saja di atas meja.
"Kau menghabiskan semua ini?" tanya Hayan sedikit heran.
"Aku lapar. Oh ya, hari ini aku tidak akan ke perusahaan. Tolong izinkan, ya. Aku lelah โฆ " ucap Qui langsung beralih meninggalkan tempat tersebut.
"Hei! Kau sakit?" tanya Hayan sambil berteriak.
"Kau tidak perlu tau."
"Apa semalam dia tidak pulang? Tapi kemana Qui pergi semalam? Dan dimana dia tidur? Apa jangan-jangan โฆ."
Tidak ingin berurusan dengan masalah yang dialami saudara tirinya, Hayan pun bergegas menuju pintu di lantai dasar. Di waktu yang masih menunjukkan pukul 07.12 ini dia akan berangkat ke perusahaan dengan berjalan kaki seperti biasanya.
__ADS_1
Bersambung ...
Mohon dukungannya untuk karya ini~ (เน`โชฬคโกโชฬค)โแฆิตีฐษีฒฦีแฆ