Perang Cinta Dengan Manusia Kucing

Perang Cinta Dengan Manusia Kucing
Ch 15. Apa Salahku?


__ADS_3

๐‡๐š๐ฉ๐ฉ๐ฒ ๐‘๐ž๐š๐๐ข๐ง๐ ~


๐Œ๐จ๐ก๐จ๐ง ๐›๐ข๐ฃ๐š๐ค ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐š๐œ๐š, ๐ฒ๐š!


๐€๐ฎ๐ญ๐ก๐จ๐ซ ๐ง๐š๐ง๐ญ๐ข ๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐š๐ง ๐๐š๐ซ๐ข ๐ค๐š๐ฅ๐ข๐š๐ง ๐ฃ๐ฎ๐ ๐š, ๐ก๐ž๐ก๐ž. (*หŠแ—œห‹*)แต—แ‘‹แตƒแขแต แตžแต’แต˜


ใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽ


Dedaunan terbang terbawa oleh hembusan angin kencang, dengan panasnya cahaya matahari yang menyengat di waktu pagi. Beberapa orang tampak kewalahan menjalankan aktivitas mereka lantaran suasana kota yang tak seperti biasanya.


Hayan menuangkan air dari dalam termos ke dalam gelas yang telah berisi bubuk kopi. Mungkin karena semalam hanya tidur dalam waktu yang singkat membuatnya masih terasa mengantuk.


Setelah beberapa langkah berjalan keluar dari dapur perusahaan, Hayan tak sengaja melihat sosok Gabriel tengah bicara empat mata dengan seorang wanita. Yang pasti dia adalah rekan kerjanya, Belle.


"Hai, sedang apa di sini?" tanya Hayan tiba-tiba usai menghampiri dua orang itu.


Namun tampaknya Gabriel benar-benar cuek dan tak mau menoleh sedikitpun ke arahnya. Tentu sikap pria itu membuat Hayan menjadi keheranan.


"Aku masih ada pekerjaan, jumpa nanti," ucap Belle berjalan pergi meninggalkan mereka.


Merasa ada yang aneh dengan Gabriel yang hanya diam sejak tadi, Hayan lantas merangkul pundaknya. Tapi siapa sangka jika Gabriel langsung menangkis tangan wanita berambut pendek itu.


"Eh? Kau kenaโ€“ "


Gabriel pergi meninggalkan Hayan yang hendak berbicara dengannya. Kini Hayan bahkan hanya bisa melihat punggung pria itu dari belakang. Sesaat sosoknya menghilang begitu masuk ke dalam sebuah lift.


Drrtt โ€ฆ


Di tengah-tengah melamun, Hayan tiba-tiba saja mendapat sebuah panggilan dari seseorang yang cukup penting. Tanpa harus berpikir, ia pun langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, selamat pagi Tuan โ€ฆ ada apa?" tanya Hayan sekaligus membuka pembicaraan pada seorang pria dari balik teleponnya.


"Ada acara rapat perusahaan mendadak. Bisakah kau hadir? Dan tolong beritahu juga pada Qui, aku tidak bisa menghubungi nya sejak tadi," tutur Domini, pria yang tengah mengobrol dengan wanita itu.


"Ah, aku lupa. Qui sedang tidak enak badan, dia memutuskan untuk cuti hari ini."


"Baiklah, kau saja yang kemari. Sudah banyak orang menunggu."


Hayan mengakhiri panggilannya dan langsung berlari menuju lift yang terletak tak jauh dari tempat ia berdiri.


Di dalam lift tersebut tampak beberapa orang yang juga akan menuju lantai yang sama dengan Hayan. Sepertinya sebagian dari mereka akan mengikuti rapat perusahaan.

__ADS_1


Tiba di lantai tujuan, Hayan bersama orang yang satu lift dengannya tadi memasuki sebuah ruangan. Di dalam sana sudah tampak penuh dengan para karyawan yang siap mengikuti rapat perusahaan dadakan.


Hayan duduk di kursi yang tersisa, tepatnya bersebelahan langsung dengan Theo sang mantan kekasih.


Selama menjalani rapat, Hayan merasa canggung ketika berbicara dengan pria di sebelahnya. Jika bukan karena acara perusahaan, dia mungkin tidak akan berbicara dengan sang mantan kekasih yang sudah berani menyakiti hatinya dengan berselingkuh bersama Qui di belakang.


Dua jam berselang, Hayan pun bisa menghirup udara segar usai menjalani rapat dalam waktu yang cukup lama.


Wanita itu berjalan menuruni tangga dikarenakan lift yang tiba-tiba mengalami kerusakan.


Saat tengah berjalan menuruni anak tangga, Hayan dipertemukan lagi dengan sosok Theo. Wajahnya terlihat angkuh dengan sebuah jas yang ia kenakan.


Selama ini, Hayan bahkan jarang melihat pria itu mengenakan sebuah jas. Namun jika diingat kembali, jas yang dikenakan nya saat ini mirip dengan sebuah jas yang pernah ia temui di suatu tempat.


"Jangan halangi jalanku!" ucap Theo ketus, kontan membuat Hayan merasa jengkel terhadapnya.


Bagaimana tidak, jalan yang masih terlihat cukup lebar bisa membuat pria itu merasa sempit.


"Kau taruh dimana matamu? Tidak lihat ya kalau jalannya masih lebar?" balas Hayan lalu berjalan cepat meninggalkan Theo di belakang.


"Cih! Sombong sekali kau!!" lontar nya, namun sayang tidak terdengar oleh Hayan yang bahkan sudah menghilang dari pandangan mata.


*****


Padahal sebelumnya pria itu selalu menunggu Hayan meskipun dalam keadaan genting sekalipun. Tidak dengan hari ini, sikap manis yang biasa ditunjukkan sama sekali belum terlihat.


"Apa kau melihat Gabriel?" tanya Hayan pada rekan kerjanya, Yin.


"Loh, dia sudah pergi ke kantin bersama Belle," balas Yin sukses mengejutkan wanita itu.


Merasa ada yang tidak beres, Hayan langsung berjalan cepat menuju kantin perusahaan yang terletak di lantai dua.


Sementara dengan Gabriel, dirinya justru tengah menikmati makan siang bersama Belle si rekan kerja. Dia adalah wanita yang sebelumnya sempat mengidolakan sosok pria tampan, yaitu Gabriel.


"Gila!! Kenapa jantungku berdetak kencang seperti ini?" ucap Belle dalam hati.


Perasaan senang benar-benar menghantui isi benaknya ketika dekat dengan Gabriel. Entah karena suka, atau terpesona.


"Gabriel!!!" teriak seseorang yang baru saja tiba di kantin tersebut.


Kontan dua orang yang sebelumnya saling terdiam menikmati makan siang langsung menoleh ke arah wanita itu secara bersamaan.

__ADS_1


Benar, dia adalah Hayan. Matanya terlihat sipit saat mendapati dua orang di sana saling terdiam tanpa obrolan umumnya seperti seorang teman.


Hayan berjalan menghampiri Gabriel bersama Belle yang masih duduk di atas kursi. Begitu Hayan berhadapan langsung dengan keduanya, Gabriel seketika pergi tanpa berbicara sepatah katapun pada wanita itu.


Sikapnya yang berubah tiba-tiba sejak tadi pagi tentu membuatnya bingung setengah mati.


"Belle, apa kau tau apa yang terjadi pada Gabriel?" tanya Hayan seraya mendekatkan wajahnya pada Belle.


"Maaf, aku tidak tau apa-apa." Belle langsung pergi mengikuti langkah kaki Gabriel dari belakang.


Mereka terlihat menuju sebuah ruangan yang tak jauh dari kantin perusahaan. Tanpa berpikir panjang, Hayan lantas mengikuti mereka. Hingga akhirnya ia tiba di sebuah ruangan yang sudah lama dikosongkan karena masalah yang terjadi dua tahun lalu.


Hayan bersembunyi di balik pintu yang tertutup, matanya sesekali melirik pada dua orang yang berdiri saling berhadapan.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Benar-benar aneh!" gumam Hayan merasa kesal.


*****


Di kediaman Casta, terlihat seorang wanita berambut pirang yang tak lain adalah Qui. Dirinya tengah menatap layar ponsel dan saling mengobrol bersama dua orang di dalam ponsel tersebut.


"Kau baik-baik saja, kan?" tanya Lea, ibu tiri dari Qui atau lebih tepatnya adalah ibu kandung Hayan.


"Tidak, kepalaku benar-benar pusing sejak kemarin!" balas nya seraya memijat kening yang terasa pusing.


"Apa Hayan tidak merawatmu?" timpal Guinan.


"Dia lebih memilih pergi ke kantor. Sayang sekali, kan? Padahal aku sudah meminta tolong padanya agar menemaniku di rumah," balas Qui berbohong.


Lantas Guinan menghembuskan nafas pasrah begitu mengetahui bahwa anak tirinya tidak memperdulikan Qui sang anak kandung.


"Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Lea penasaran, langsung dibalas anggukan oleh wanita itu.


"Kalau begitu ya wajar," papar Guinan.


Karena seseorang yang memanggilnya secara tiba-tiba, membuat anggota keluarga itu terpaksa harus mengakhiri obrolan mereka.


"Semoga cepat sembuh, sayang."


"Oke."


Bersambung ...

__ADS_1


Mohon dukungannya untuk karya ini~ (เน‘`โœชฬคโ—กโœชฬค)โ—žแƒฆิตีฐษ‘ีฒฦ˜ีแƒฆ


__ADS_2