
"Kamu mau kemana, Rosa?" tanya Dave suami Rosa, seketika membuka kedua matanya.
"Airin mabuk berat di bar. Aku harus menjemput dia sekarang," jawab Rosa hendak keluar dari dalam kamar.
"Ini sudah malam. Emangnya dia gak bisa apa pulang sendiri?"
"Dia gak sadarkan diri. Airin mabuk berat, mana bisa dia pulang sendiri. Maaf karena aku harus keluar malam-malam begini, Mas. Aku akan segera kembali setelah mengantarkan dia pulang." Rosa benar-benar keluar dari dalam kamar.
"Astaga, wanita itu selalu saja nyusahin istriku. Kenapa kamu gak resign saja sih, Rosa?" gumam Dave merasa kesal. Dia pun menatap jam dinding yang menempel di tembok kamarnya. Jarum jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
* * *
Di bar.
Airin nampak menyandarkan kepalanya di atas meja. Beberapa botol minuman beralkohol terlihat sudah kosong. Wanita itu benar-benar dalam keadaan mabuk berat. Sepertinya Airin merasa sangat patah hati hingga membuatnya harus mencari pelampiasan untuk mengobati rasa sakit hatinya itu.
"Ya Tuhan, Airin," gumam Rosa yang baru saja tiba di depan meja.
Airin seketika membuka kedua matanya kini. Dia pun mencoba untuk mengangkat kepalanya yang terasa berat sebenarnya. Airin Saraswati menatap wajah sang sahabat dengan tatapan mata sayu.
"Rosa? Se-dang a-pa kamu di-si-ni?" tanya Airin dengan nada suara meliuk-liuk layaknya orang yang sedang mabuk.
"Aku yang seharusnya bertanya sama kamu? Sedang apa kamu di sini? Sejak kapan kamu minum-minum kayak gini? Ada apa sebenarnya? Bukannya kamu lagi happy karena baru saja jadian sama si berondong itu?"
"Dia mengajakku melakukan hubungan badan."
"Hah? Terus, kamu mau?"
__ADS_1
"Hahahaha! Ten-tu sa-ja ti-dak. Gi-la ka-mu."
Bruk!
Kepala Airin kembali terkulai lemas di atas meja, dia benar-benar tidak sadarkan diri. Rosa hanya bisa mendengus kesal. Dirinya sempat merasa senang karena akhirnya sahabatnya itu telah menemukan tambatan hati, tapi rasa senangnya itu tidak bertahan lama karena harus melihat sang sahabat terluka sebelum mulai mengarungi mahligai asmara.
"Malang sekali nasibmu, Rin. Si Arjuna itu laki-laki brengsek juga ternyata. Baru juga pacaran udah ngajakin hubungan badan. Laki-laki macam apa itu? untung iman kamu masih kuat, Rin. Semoga kamu dijauhkan dari laki-laki macam begitu," gumam Rosa menatap wajah Airin dengan tatapan penuh rasa iba. Dia pun mencoba untuk memapah tubuh Airin untuk keluar dari dalam bar.
* * *
2 bulan kemudian.
Airin menjalani hari-harinya seperti biasa. Semenjak kejadian waktu itu dirinya tidak pernah lagi bertemu dengan Arjuna. Laki-laki itu seperti hilang di telan bumi. Meskipun sempat merasa kecewa pada awalnya, tapi dia berusaha untuk menerima keadaan dan mencoba untuk melupakan laki-laki itu meskipun sulit sekali untuknya melakukan hal itu.
Yang dia lakukan setiap harinya hanya bekerja dan bekerja tanpa mengenal rasa lelah juga tidak mengenal waktu. Wanita itu kembali memegang prinsip di dalam hidupnya bahwa dirinya tidak membutuhkan laki-laki. Ya ... Meskipun rasa kesepian itu kadang datang mendera. Jiwanya kadang haus akan kasih sayang dan juga perhatian, tapi dia selalu bisa melawan perasaan itu karena dirinya memang sudah terbiasa menahan diri dan menekan rasa hausnya akan kasih sayang dari seorang pasangan.
Suara ponselnya seketika berdering. Dia yang sedang menikmati hari liburnya dengan bersantai di rumah pun seketika menatap layar ponsel lalu mengangkat telpon.
📞 "Iya halo, kek. Ada apa?" tanya Airin dengan nada suara malas.
📞 "Datang ke rumah kakek sekarang."
📞 "Ada apa memangnya, aku lagi malas kemana-mana, kek?"
📞 "Sudah, datang saja dulu. Kakek mau memberi kamu kejutan untuk kamu."
📞 "Kejutan apa?"
__ADS_1
📞 "Ya namanya bukan kejutan dong kalau di kasih tahu dulu. Kakek tunggu kamu di rumah dalam waktu 30 menit, oke?"
Tut! Tut! Tut!
Sambungan telpon pun seketika di tutup.
"Dih, kakek apaan sih? Tumben mau kasih aku kejutan segala," gumam Airin, berdiri dan bersiap untuk pergi ke rumah sang kakek.
* * *
Sesampainya di kediaman sang kakek. Airin masuk ke dalam rumah mewah milik Tuan Arga, salah satu orang terpandang di negara itu. Salah satu orang terkaya, Presiden Direktur perusahaan yang saat ini di pimpin oleh Airin Saraswati.
"Akhirnya kamu datang juga, Airin. Sini, Nak," pinta sang kakek saat melihat cucunya memasuki rumah.
Airin yang semula berjalan menghampiri sontak menghentikan langkah kakinya. Dia menatap seorang laki-laki yang saat ini duduk bersama sang kakek dalam posisi memunggungi dirinya. Wanita itu seketika mengerutkan kening, sepertinya laki-laki ini sudah tidak asing lagi baginya.
"Dia siapa, kek?" tanya Airin ingin segera mengobati rasa penasarannya.
"Masa kamu tidak mengenali pacar kamu sendiri? Dia datang kemari untuk membicarakan soal pernikahan kalian. Minggu depan pacar kamu ini akan melamar kamu, sayang."
"Hah? Pacar?"
BERSAMBUNG
...****************...
PROMOSI NOVEL
__ADS_1