
Uang sejumlah Rp. 500.000.000,00 benar-benar di transfer saat itu juga. Nominal uang segitu bukanlah jumlah yang besar bagi seorang Airin. Sebagai pengusaha yang telah menghabiskan separuh hidupnya untuk bekerja, uang sebanyak itu sama sekali tidak ada artinya.
"Coba di cek, apakah sudah masuk uangnya?" tanya Airin kemudian.
"Sudah, sayang. Makasih ya," jawab Arjuna tersenyum sumringah.
"Sama-sama, uang itu gak usah di ganti segala."
"Serius, sayang?"
Airin menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.
"Abang ..."
Tiba-tiba terdengar suara Karmila membuat Arjuna dan juga Airin merasa terkejut tentu saja. Keduanya sontak menoleh dan menatap wajah Karmila yang saat telah membuka kedua matanya secara sempurna.
"Karmila?" gumam Arjuna berjalan menghampiri.
Gadis kecil itu mengedipkan pelupuk matanya lemah. Dia pun menatap langit-langit kamar sebelum akhirnya menoleh dan menatap wajah sang kaka.
"Aku panggilkan Dokter dulu," ucap Airin, segera berlari keluar dari dalam ruangan dan kembali beberapa saat kemudian.
"Adik saya siuman, Dok. Apa itu artinya dia sudah baik-baik saja?" tanya Arjuna, sesaat setelah Dokter masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Sebentar saya periksa keadaan pasien terlebih dahulu," jawab sang Dokter.
Baik Arjuna maupun Airin segera memundurkan langkah kakinya, memberi waktu kepada Dokter tersebut untuk memeriksa keadaan pasien. Sekitar 15 menit Dokter memeriksa keadaan Karmila. Gadis itu terlihat sudah baik-baik saja. Alat medis pun perlahan mulai dilepaskan dari tubuhnya, menyisakan jarum infus yang masih tertanam di pergelangan tangan mungilnya itu.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan adik saya, Dok?" tanya Arjuna.
"Organ vital pasien sudah normal, luka dalam akibat kecelakaan itu juga sudah benar-benar sembuh. Ini sebuah keajaiban, kita patut bersyukur karena kondisi seperti ini jarang terjadi kepada pasien yang sudah koma lebih dari satu bulan," jawab Dokter.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu, saya benar-benar senang sekali. Terima kasih, Dokter."
"Baik, saya permisi."
Arjuna menganggukkan kepalanya seraya tersenyum sumringah.
Sepeninggal sang Dokter, Arjuna berjalan menghampiri dan berdiri tepat di tepi ranjang, begitu pun dengan Airin sang istri. Dia mengusap kepala sang adik lembut dan penuh kasih sayang. Senyuman manis pun dia layangkan, betapa dirinya merasa senang karena adik kesayangannya itu telah sadar dari tidur panjangnya.
"Akhirnya kamu bangun juga, Mila. Abang benar-benar merasa khawatir, kamu tidur lama sekali. Abang pikir kamu gak akan bangun lagi," lirih Arjuna menatap wajah Karmila dengan tatapan mata sayu.
"Wanita ini siapa? Apa dia pacar baru Abang lagi?" tanya Mila, mengabaikan ucapan sang kaka dan menatap wajah Airin dengan tatapan mata heran.
"Kaka ipar? Apa itu artinya Abang sudah menikah?"
Arjuna menganggukkan kepalanya.
"Perkenalkan nama Mbak Airin. Mbak senang akhirnya kamu sudah bangun, sayang. Mbak juga senang bisa punya adik ipar secantik kamu," ujar Airin memperkenalkan diri.
"Mbak Airin cantik sekali, aku juga senang karena akhirnya Abang Juna sudah menikah sekarang. Itu artinya dia tidak akan menjadi seorang petualang lagi," lirih Karmila dengan nada suara lemah.
"Hus, kamu apaan sih? Abang itu bukan berpetualangan, tapi mencari yang terbaik di antara yang baik, dan istri Abang ini adalah wanita yang terbaik itu, hehehehe!" sanggah Arjuna tersenyum cengengesan.
"Sama saja, Abang."
__ADS_1
Airin tersenyum kecil, menyaksikan interaksi hangat antara kaka beradik itu membuatnya merasa senang. Dia yang dilahirkan sebagai anak tunggal dan tinggal sendirian selama ini, tentu saja merasa bahagia karena hidupnya tidak akan merasa kesepian lagi mulai sekarang. Dirinya juga akan memboyong Karmila untuk tinggal bersamanya.
"Juna, aku keluar dulu sebentar. Aku mau beli makanan dulu, lapar juga ternyata," ujar Airin.
"Kamu gak apa-apa keluar sendirian?"
"Gak apa-apa ko. Aku pergi dulu. Mila sayang, Mbak keluar dulu sebentar ya."
Arjuna dan juga sang adik menganggukkan kepalanya, menatap kepergiaan Airin.
* * *
Airin berjalan di koridor Rumah Sakit. Dia membawa membawa beberapa bungkusan berisi makanan ringan juga makan siang untuk suaminya. Wajahnya terlihat begitu ceria. Hatinya benar-benar merasa bahagia.
"Airin!"
Terdengar suara seorang wanita memanggil namanya, membuat Airin sontak menghentikan langkah kakinya lalu mencari sumber suara. Wanita bernama Nanda terlihat berjalan menghampiri dirinya. Airin hanya bisa memutar bola mata merasa kesal. Ada apa wanita itu memanggil namanya? Apakah ada yang ingin dia sampaikan kepada dirinya? Batin Airin.
"Aku mau bicara sama kamu, Airin," ujar Nanda dengan nada suara datar.
"Bicara apa? Aku buru-buru," jawab Airin malas.
"Aku cuma mau mengingatkan sama kamu, Airin. Hati-hati dengan suami kamu itu, dia tidak sebaik yang kamu bayangkan. Wajahnya saja yang tampan tapi hatinya busuk. Asal kamu tau aja, dia itu buaya darat."
BERSAMBUNG
...****************...
__ADS_1