PERAWAN TUA MENIKAHI BERONDONG

PERAWAN TUA MENIKAHI BERONDONG
Pesan Terakhir


__ADS_3

Edward meraih telapak tangan Airin seraya menatap lekat wajahnya. Airin yang semula menunduk pun sontak mengangkat wajahnya menatap wajah laki-laki itu lekat. Jujur, dirinya memang bisa melihat ketulusan dari kedua mata Edward, tapi dia tidak ingin terlalu larut dalam perasaan sesaat. Rasa tulus yang diperlihatkan oleh Edward pernah dia lihat hari mata Arjuna mantan suaminya.


"Saya akan memberikan waktu sebanyak yang kamu butuhkan, Airin. Saya akan sabar menunggu sampai kamu benar-benar membuka hati untuk saya," ucap Edward dengan nada suara lembut.


"Terima kasih, eu ... Tapi gimana sama kakek?"


"Gimana apanya?" Suara sang kakek tiba-tiba saja terdengar, laki-laki paruh baya itu berjalan menghampiri seraya tersenyum cengengesan.


"Kakek? Sejak kapan kakek berdiri di sana? Astaga, apa kakek menguping pembicaraan kami?" Decak Airin seketika merasa kesal.


"Apa? Menguping? Hahahaha! Kakek cuma gak sengaja mendengar pembicaraan kalian, apa salahnya?" Sang kakek mencoba membela diri, padahal beliau jelas-jelas sengaja berdiri di sana hanya untuk mendengarkan apa yang di bicarakan oleh sang cucu juga calon menantunya.


"Ikh ... Kakek apaan sih? Itu sama aja kali, dasar! Udah tua juga, masih aja mau tau urusan anak muda," celetuk Airin mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa.


"Kata siapa kalian anak muda? Apa kamu lupa kalau kamu itu perawan tua? Dia juga, si Edward ini juga perjaka tua, enak aja ngatain kakek tua."


Baik Airin maupun Edward sontak tertawa nyaring. Keduanya menatap lekat wajah sang kakek, lalu membantu laki-laki itu untuk duduk di tengah-tengah mereka berdua.


"Kakek, cucu Kakek ini bukan perawan tua lagi, tapi dia seorang janda," ujar Edward tersenyum cengengesan.


"O iya, Kakek lupa, tapi apa bedanya janda sama perawan tua? Toh cucu kakek ini menikah cuma 1 bulan saja ko."

__ADS_1


"Sudah cukup, Kek. Jangan bahas masa lalu lagi," pinta Airin menggenggam telapak tangan sang Kakek lalu mengusap punggung tangannya lembut dan penuh kasih sayang.


"Sayang, Airin cucunya Kakek. Kamu adalah cucu satu-satunya yang kakek miliki. Usia kakek semakin senja, kakek bahkan tidak tahu sampai kapan kakek akan hidup. Sebenarnya kakek lelah menjalani hari-hari kakek. Jenuh, kesepian, kadang kakek ingin segera berpulang ke pangkuan ilahi, tapi kakek tidak ingin mati penasaran sebelum melihat kamu menikah dan menjalani rumah tangga yang bahagia. Yang terpenting adalah, kakek ingin menimang cicit," lirih sang kakek panjang lebar.


"Kakek, jangan mulai deh. Kakek selalu saja mengunakan kematian untuk menekan dan memaksa aku menikah. Aku gak suka. Aku juga gak mau di tinggal sama kakek, maafkan aku karena selalu mengecewakan kakek. Aku benar-benar cucu yang tidak tahu diri."


"Maka dari itu, menikahlah Nak. Kakek mohon, ini adalah permintaan terakhir kakek. Jujur, hati kakek sakit sekali saat melihat perceraian kamu, Rin."


Airin seketika memeluk tubuh sang kakek dari arah samping. Satu-satunya keluarga yang masih dia miliki saat ini. Ya ... Kakeknya ini memang sudah sangat renta. Usianya saja sudah hampir menginjak 70 tahun. Jadi, wajar kalau dia berkata seperti itu. Wajar juga kalau beliau ingin melihat cucunya menikah dan hidup bahagia.


Apalagi hanya dia cucu satu-satunya yang kakek miliki. Hati seorang Airin bagai teriris pisau tajam. Melihat wajah kakek murung sungguh membuat hatinya merasa terluka. Apa dia terima saja perjodohan ini? Anggap saja ini sebagai bentuk baktinya kepada orang yang telah membesarkannya dengan sepenuh hati.


"Maafkan aku kek, sekalipun aku gak pernah membuat kakek bahagia. Aku--" Airin tidak meneruskan ucapannya. Air mata itu seketika tumpah membasahi wajah cantik seorang Airin Saraswati.


Suara isakan Airin semakin lirih terdengar. Kedua tangannya semakin erat mendekap tubuh renta sang kakek. Dadanya pun terlihat naik turun. Walaupun penuh keraguan, dia pun memutuskan untuk menganggukkan kepalanya lemah, dia akan menerima perjodohan ini. Dia pun akan mencoba untuk meyakinkan diri bahwa, kakeknya itu tidak akan salah dalam memilih jodoh untuknya seperti yang pernah dia lakukan dahulu.


"Kamu serius? Kamu mau menerima perjodohan ini?" tanya kakek dengan kedua mata berkaca-kaca.


Sementara Edward yang juga berada di sana tersenyum merasa bahagia sekaligus merasa terharu. Dia menatap wajah Airin yang kini membanjir. Edward berjanji dengan segenap jiwa dan raganya, bahwa dia tidak akan pernah mengecewakan wanita ini, tidak akan menyakiti hati dan perasaannya. Satu hal yang paling penting, Edward tidak akan pernah menduakan cinta wanita ini jika kelak dia menjadi istrinya.


Kakek tiba-tiba saja meraih telapak tangan Edward kini, dia pun meletakkannya tepat di atas telapak tangan Airin yang kini telah mengurai pelukannya, mempersatukan mereka berdua, air mata seorang Airin semakin membanjir saja tatkala telapak tangan Edward terasa hangat menyentuh jemarinya itu.

__ADS_1


"Kakek serahkan cucu kakek kepada kamu, Ed. Kakek percaya sama kamu, kakek tahu laki-laki seperti apa kamu. Jadi, jangan pernah mengecewakan kakek, jaga dia, sayangi dia dan jangan pernah lukai hatinya. Dia tidak pandai dalam memilih laki-laki, itu sebabnya kakek menjodohkan kamu sama dia," pesan kakek penuh harap.


"Pasti, kek. Kakek tidak usah khawatir, saya akan mencintai Airin cucu kakek dengan sepenuh hati, tidak akan pernah menyakiti apalagi melukai perasaannya. Saya juga akan setia dan tidak akan pernah menduakan cintanya untuk saya. Saya berjanji demi hidup dan mati saya, kek," jawab Edward penuh penekanan.


Airin menatap lekat wajah Edward begitu pun sebaliknya. Sekali lagi dia akan menaruh harapan kepada seorang laki-laki, meruntuhkan prinsip yang selama ini dia genggam kuat di dalam hidupnya. Semoga saja dia tidak di kecewakan seperti yang telah di lakukan oleh Arjuna mantan suaminya.


'Aku harap semua ucapan kamu ini tidak hanya sebuah kebohongan, Ed. Aku akan mencoba mencintai kamu, meskipun tidak sebesar rasa cinta yang pernah aku berikan kepada Arjuna,' batin Airin, menatap kian intens wajah Edward calon suaminya.


* * *


1 bulan kemudian.


Pernikahan pun diadakan. Pesta pun di gelar besar-besaran. Edward mengucap ijab qobul dengan begitu lancar di depan kakek juga di samping Airin Saraswati wanita yang kini telah menyandang status sebagai istrinya.


Setelah berbagai prosesi selesai diadakan. Tamu undangan pun perlahan mulai meninggalkan tempat berlangsungnya pesta pernikahan.


Edward dan juga Airin hendak meninggalkan panggung pelaminan. Namun, keduanya sontak mengurungkan niatnya ketika melihat masih ada tamu yang masih tersisa, dia berjalan menghampiri mereka berdua bersama seorang wanita.


"Arjuna? Sedang apa dia di sini?" gumam Airin merasa tidak mengundang mantan suaminya itu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


...****************...


__ADS_2