
Arjuna seketika merasa terkejut tentu saja. Pacar? Calon suami? Tidak pernah sedikit pun terlintas di dalam pikirannya bahwa dia akan menjadi suami dari wanita bernama Airin Saraswati. Dia pun hendak menyanggah ucapan wanita itu, tapi Airin seketika menggelengkan kepalanya, seolah memberi isyarat untuknya tidak mengatakan apa pun.
"Pacar? Calon suami?" tanya sang kakek, menatap Arjuna dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Betul, Kek. Aku udah pernah bilang sama kakek bahwa aku bisa mencari jodohku sendiri, jadi jangan pernah berpikir untuk menjodohkan aku dengan siapapun," pinta Airin melingkarkan kedua tangannya di pergelangan tangan Arjuna mesra.
Kakek Arga semakin lekat dalam menatap wajah Arjuna kini. Dari penampilannya saja, jelas terlihat bahwa laki-laki ini memiliki usia yang jauh lebih muda dari putrinya.
"Siapa nama kamu?" tanya sang Kakek.
"Ar--"
"Arjuna, Kek. Nama pacar aku ini Arjuna," sela Airin dengan begitu semangatnya.
"Pekerjaan kamu apa? Siapa nama orang tua kamu?"
"Kakek apaan sih? Ko nanyanya sampai kayak gitu?" Lagi-lagi Airin tidak memberi kesempatan kepada Arjuna untuk berbicara.
"Ish kamu ini. Kakek nanya dia, kenapa kamu yang jawab? Gimana sih?" decak Kakek merasa kesal.
"O ya? Hahahaha! Sepertinya Arjuna gugup, makannya aku mewakili dia untuk menjawab pertanyaan dari kakek," jawab Airin tersenyum cengengesan.
__ADS_1
"Izinkan saya untuk memperkenalkan diri secara resmi, kek," ucap Arjuna secara tiba-tiba membuat Airin merasa terkejut tentu saja.
'Aku mohon, Juna. Kali ini saja tolong jangan bicara jujur tentang siapa kamu sebenarnya,' batin Airin merasa ketakutan.
"Sekarang kamu minggir, Airin. Biarkan pacar kamu ini memperkenalkan dirinya," pinta sang kakek.
Wajah Airin seketika memucat. Dia pun memundurkan langkah kakinya dengan perasaan ragu-ragu. Apakah ini adalah akhir dari hidupnya? Sang kakek pasti benar-benar merasa murka jika dia sampai tahu bahwa dirinya telah membohongi kakeknya itu. Salahnya sendiri kenapa tidak berbicara jujur saja bahwa pemuda ini bukanlah siapa-siapa dirinya.
"Perkenalkan, kek. Nama saya Arjuna Syailendra. Saya seorang mahasiswa jurusan hukum semester akhir. Usia saya 25 tahun, kek. Saya seorang yatim piatu." Arjuna benar-benar memperkenalkan diri dengan penuh percaya diri.
Airin merasa tercengang tentu saja. Dia pikir pemuda itu akan berbicara jujur tentang siapa dirinya sebenarnya. Namun, ternyata dia hanya memperkenalkan diri secara resmi. Wanita itu pun tersenyum lega. Dia menatap wajah Arjuna dengan tatapan mata berbinar merasa senang.
"Apa kamu benar-benar pacar putri saya? Apa kamu tahu siapa dia?" pertanyaan yang sukses membuat jantung Airin seketika berdetak tidak karuan.
"Iya, kek. Saya mencintai Ibu Airin, eu maksud saya ... Airin cucu kakek. Saya juga tahu siapa dia. Cucu kakek ini adalah wanita yang sangat luar biasa, dia adalah wanita hebat, wanita istimewa, membuat saya langsung jatuh cinta kepadanya saat pertama kali bertemu dengan dia."
Jiwa Airin seolah melayang ke awang-awang. Dia memang sering mendengar gombalan dari banyak laki-laki diluaran sana. Pujian seperti itu pun sering dia dapatkan dari banyak orang yang dia temui, tapi entah mengapa rasanya berbeda saat dia mendengarnya dari bibir seorang Arjuna.
"Hmm! Kamu pandai bicara juga ternyata," ucap sang kakek.
"Sudah cukup, kek. Sekarang lebih baik kakek pulang. Aku masih banyak pekerjaan," pinta Airin dengan nada suara manja.
__ADS_1
"Istirahatlah dahulu dan pergilah berkencan. Pekerjaan biar di selesaikan sama sekertaris kamu."
"Kakek ... Hmm ... Kakek memang the best. Aku sayang kakek."
Airin seketika memeluk tubuh sang kakek erat. Arjuna yang menyaksikan hal itu hanya tersenyum kecil. Wajah Airin terlihat begitu menggemaskan ketika wanita itu sedang bersikap manja kepada orang tuanya itu.
"Kakek pulang dulu."
Airin menganggukkan kepalanya seraya mengurai pelukan. Dia pun mengantarkan kepergian sang kakek sampai laki-laki paruh baya itu keluar dari dalam ruangannya. Setelah memastikan sang kakek benar-benar memasuki lift untuk turun ke lantai dasar, barulah dia masuk kembali ke dalam ruangan.
"Saya pulang dulu, Ibu Airin," pamit Arjuna hendak pergi.
"Tunggu, Juna. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."
Pemuda itu sontak mengurungkan niatnya.
"Apa yang ingin Anda bicarakan, bu?"
"Menikahlah dengan aku, Arjuna. Kamu tidak perlu bekerja karena aku sudah punya banyak harta. Kamu cukup menjadi suami yang baik untukku, Arjuna."
BERSAMBUNG
__ADS_1
...****************...