
"Pelan-pelan, sakit," ringis Airin saat pusaka milik suaminya mulai menerobos masuk ke dalam sana.
"Sakit? Ko bisa?" Edward mengerutkan kening, semakin dia menggerakkan pinggulnya, semakin istrinya itu meringis kesakitan. Apa iya bagian inti istrinya kembali menjadi perawan? Hal itu sangat mustahil terjadi.
"Arghh! Sakit, Mas," decak Airin kembali meringis, buliran air mata bahkan mulai berjatuhan dari kelopak matanya.
"Tunggu, sayang. Susah banget sih masukinnya."
"Miliknya Mas kebesaran. Gak masuk."
"Masa sih? Seberapa pun besarnya, pasti masuk, sayang. Tunggu saya coba lagi."
Airin menganggukkan kepalanya. Dia pun memejamkan kedua mata seraya mengigit bibir bawahnya kerasa. Dirinya tidak menyangka bahwa rasanya akan sesakit ini, padahal ini bukan pertama kalinya dia melakukan hubungan suami-istri.
Edward, harus berusaha lebih keras lagi. Milik Airin benar-benar masih terasa sempit mengigit. Antara linu dan nikmat datang secara bersamaan saat pusaka miliknya masih mencoba masuk dengan tenang.
"Sedikit lagi, sayang. Akhhh!"
Bles!
Akhirnya, gawang sang istri berhasil dia jebol. Kedua mata Airin nampak membulat sempurna. Merasakan berbagai rasa yang sulit dia ungkapkan dengan kata-kata. Sudah lama sekali dirinya tidak merasakan rasa nikmat seperti ini.
Pusaka milik suaminya memenuhi bagian intinya bahkan terasa menyentuh dinding rahimnya di dalam sana. Rasanya? Nikmat luar biasa, rasa sakit yang semula dia terima tergantikan dengan rasa nikmat yang tiada terkira. Apalagi saat sang suami mulai bergerak perlahan dengan ritme yang beraturan. Suara ******* itu lolos begitu saja dari bibirnya kini.
"Sayang! Hmmm!" Airin kembali mengigit bibir bawahnya keras, mencoba untuk menahan suara-suara aneh yang keluar dari bibirnya itu, tapi dirinya tetap saja tidak bisa menahannya ******* itu kembali lolos tanpa di sensor.
"Kenapa, sayang? Apa masih sakit?" tanya Ed, menatap wajah Airin yang kini nampak berkilat akibat peluh dan keringat, berada di bawah kungkungannya.
"Tidak, Mas. Enak! Teruskan," jawab Airin meremas sprei yang kini sudah tidak lagi beraturan.
* * *
Bruk!
__ADS_1
Tubuh Airin terkulai lemas tepat di atas raga suaminya. Entah bagaimana ceritanya kenapa dia bisa berakhir di atas sana. Kenikmatan surga dunia yang suguhkan secara bertubi-tubi membuatnya tanpa sadar telah bermain liar dan agresif berakhir dengan berada di atas raga sang suami dengan tujuan mengapai puncaknya dari puncak kenikmatan.
"I love you, kamu benar-benar luar biasa," bisik Edward melingkarkan kedua tangannya di punggung Airin kini.
"I love you too," jawab Airin, mengangkat kepala menatap wajah suaminya lalu mengecup bibirnya singkat.
Keduanya pun saling melemparkan senyuman. Jiwa mereka benar-benar menyatu begitupun dengan sesuatu di bawah sana yang masih bersatu kini.
"Lepasin, aku mau turun," pinta Airin, kedua tangan suaminya kian erat melingkar di punggungnya.
"Kenapa harus turun?"
"Kenapa? Aku ngantuk mau tidur."
"Tidur di sini juga gak apa-apa. Kalau mau tidur ya tidur aja."
"Dih! Dasar ngaco. Lepasin, Mas."
Airin seketika mendengus kesal. Dia pun pasrah dan tetap berada di atas raga suaminya mencoba untuk memejamkan kedua matanya.
Cup!
Satu kecupan pun mendarat di kening Airin mesra. Laki-laki itu mendekap erat tubuh polos istrinya. Dia tidak menyangka bahwa dirinya sudah tidak sendiri lagi kini.
"Terima kasih karena telah menerima perjodohan ini. Saya benar-benar bahagia, Rin," lirihnya, membuat Airin seketika membuka kedua matanya.
"Aku terpaksa menerima perjodohan ini karena di desak sama kakek," canda Airin tersenyum juga kembali memejamkan kedua matanya.
"Apa? Jadi itu alasan kamu menerima perjodohan ini? Karena di desak kakek, bukan karena kamu mencintai saya?" Edward membulatkan bola matanya merasa kecewa, tapi dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh istrinya itum
"Maaf suamiku, walau terdengar menyakitkan, tapi seperti itulah kenyataannya."
"Gak, saya tidak percaya dengan apa yang kamu katakan ini, jelas-jelas kamu bilang bahwa kamu cinta sama saya tadi." Edward balas menggoda dengan menggoyangkan pinggulnya sedemikian rupa membuat bagian inti Airin seketika terasa linu.
__ADS_1
"Kamu apaan sih, Mas. Diam gak?" pinta Airin seketika memejamkan kedua matanya kembali merasakan sensasi di dalam tubuhnya.
"Saya tidak akan berhenti sebelum kamu mencabut ucapan kamu yang tadi." Edward memacu tubuhnya kian cepat hingga pusaka miliknya kembali menegang juga terasa menusuk kian memabukkan.
"Iya-iya, aku tarik ucapan aku yang tadi."
"Terus?"
"Terus apa?"
"Katakan kalau kamu cinta sama saya."
"Iya, aku cinta sama kamu, suamiku. Kalau masalah perjodohan yang terpaksa aku terima karena desakan kakek, itu kenyataan, tapi--"
"Tapi apa?"
"Tapi akhirnya aku sadar bahwa kamu adalah laki-laki yang tepat untukku. Jodoh yang dikirimkan Tuhan untuk aku. Salahku karena tidak menerima perjodohan ini dari dulu, Edward. I love you ... I love you, suamiku," jawab Airin panjang lebar membuat Edward seketika tersenyum lebar.
"Nah, gitu dong. Walaupun saya tidak setampan mantan suami kamu, tapi saya memiliki cinta yang tulus. Saya juga tidak akan pernah mengkhianati cinta yang telah kamu berikan kepada saya, karena apa? Karena saya sudah memiliki istri yang sempurna, wanita yang sangat luar biasa. Saya akan menjaga hati dan pandangan mata saya dari perempuan di luar sana, karena bagi saya, tidak ada wanita yang secantik kamu, Airin Saraswati. I love you ... I love you some much," ucap Edward tulus.
"Bagaimana kalau kita bermain sekali lagi?"
"Hah? Hahahaha! Dengan senang hati, sayang!"
Edward segera membalikkan tubuh istrinya dan membawanya melayang menuju surganya dunia.
* * *
"Jangan menilai seseorang dari penampilannya saja. Kecantikan dan ketampanan hanyalah cangkang. Carilah pasangan yang akan terus mencintai kamu meskipun kecantikan mu termakan usia. Carilah pasangan yang akan menjaga pandangan matanya juga hatinya dari wanita-wanita di luaran sana."
Airin Saraswati
...--------TAMAT--------...
__ADS_1