
Airin seketika memundurkan langkah kakinya. Dada wanita itu seketika merasa sesak. Buliran air mata berjatuhan tanpa terasa. Tubuhnya gemetar, dia sama sekali tidak menyangka bawah dirinya akan mendengar sesuatu yang begitu menyakitkan di saat mereka sedang berbulan madu, bahkan setelah dia melayani suaminya semalaman.
"Arjuna," gumamnya pelan.
Rasa takut itu seketika memenuhi relung hatinya kini. Apakah ini adalah sifat asli Arjuna yang sebenarnya? Dia jelas mendengar dengan kedua telinganya sendiri bahwa, Arjuna meminta wanita bernama Nanda untuk menggugurkan kandungannya, bahkan tidak segan untuk menyakiti wanita itu jika dia tidak melakukan apa yang suaminya katakan.
Airin menutup mulutnya dengan telapak tangan, agar suara tangisnya tidak terdengar oleh laki-laki itu yang saat ini berada di luar sana. Pintu pun kembali dia tutup juga di kunci olehnya.
"Ternyata kamu adalah laki-laki yang brengsek, Juna. Aku telah salah dalam menilai kamu selama ini. Benar kata Rosa, tidak sepatutnya aku percaya dengan kamu," gumamnya lagi menyandarkan punggungnya di belakang pintu.
Wanita itu seketika menatap sekeliling. Dia harus pergi dari tempat itu sekarang juga. Takut, jujur saja dirinya benar-benar merasa ketakutan. Suaminya itu seperti seorang monster yang bisa menyakitinya kapan pun.
Airin berjalan menuju koper, dia pun membuka dan meraih satu stel pakaian. Airin bertekad akan keluar dari sana melalui jendela kamar vila. Dia tidak ingin bertemu barang sedetik pun dengan suaminya, hati seorang Airin benar-benar merasa kecewa.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar seketika di ketuk. Airin yang saat ini sedang memakai pakaian pun sontak terkejut. Dia menatap pintu kamar dengan bola mata memerah lengkap dengan buliran air mata yang memenuhi kelopaknya kini.
"Sayang? Ko pintunya di kunci?" tanya Arjuna kembali mengetuk pintu secara berkali-kali.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Airin berjalan mondar-mandir dengan perasaan yang berkecamuk. Apa yang akan dia lakukan sekarang? Wanita itu menggigit bibir bawahnya keras mencoba untuk berpikir.
"Sayang?"
Suara Arjuna kembali terdengar memanggil namanya. Dia pun bergegas berjalan ke arah jendela dan keluar dari dalam vila dengan tergesa-gesa, tidak lupa wanita itu meraih ponsel canggih miliknya, tapi dia melupakan sesuatu. Airin Saraswati lupa membawa dompet berisi uang juga Kartu Identitas miliknya.
Airin berlari di area Vila sekuat yang dia bisa menuju jalan raya. Meskipun tubuhnya masih terasa lemas, tapi dia sama sekali tidak menyerah. Kepalanya sesekali menoleh memastikan bahwa suaminya tidak mengikutinya dari arah belakang.
Bruk!
Ckiiit!
Tubuhnya hampir saja menabrak mobil yang melintas di jalan raya. Dia yang ambruk seketika berdiri tegak lalu masuk ke dalam mobil tersebut tanpa berpikir panjang. Tubuhnya terlihat gemetar, wajahnya pun pucat pasi dengan napas yang tersengal-sengal.
Sang supir segera menginjak pedal gas. Seorang laki-laki bertubuh kekar sebaya dengan dirinya. Dia hanya melirik sekilas wajah Airin lalu kembali menatap jalanan. Laki-laki itu bisa menebak apa yang terjadi dengan wanita cantik itu. Dia sedang dalam situasi bahaya juga terlihat ketakutan.
Airin menaikan kedua kaki ke atas jok mobil lalu memeluk lututnya erat. Air mata seorang Airin berjatuhan tanpa bersuara sedikit pun. Dirinya benar-benar merasa syok setelah mengetahui siapa Arjuna sebenarnya. Dia yang baru saja di bawa terbang melayang ke angkasa lepas seperti disungkurkan ke dalam genangan lumpur.
"Are you okey?" tanya laki-laki tersebut dalam bahasa asing.
"Yes, I am fine. Sorry that I have troubled you. Can you take me to the airport?" (Ya saya baik-baik saja. Maaf karena saya telah merepotkan anda. Bisa antarkan saya ke Bandara?)
__ADS_1
"I'll take you to the airport, but shouldn't you go to the hospital first? It seems you are not well." (Tidak masalah. Saya akan mengantarkan Anda ke Bandara, tapi apa tidak sebaiknya Anda ke Rumah Sakit dulu? Sepertinya Anda tidak sedang baik-baik saja).
Airin seketika menoleh menatap wajah laki-laki tersebut. Dia lupa bahwa dirinya sedang berada di Pulau Dewata Bali. Di sana ada banyak sekali turis internasional, dan sepertinya laki-laki yang saat ini sedang menyetir mobil itu adalah salah satu turis yang sedang berlibur di Pulau tersebut.
"No need. I'm fine, thanks for your help." (Tidak usah. Saya baik-baik saja, terima kasih atas bantuan Anda.)
Dret! Dret! Dret!
Ponsel yang saat ini di genggam oleh Airin tiba-tiba saja bergetar. Dia pun seketika menatap layar ponsel lalu mengangkat telpon. Wanita itu mengigit bibir bawahnya keras. Walau bagaimana pun dia harus menyelesaikan masalah rumah tangga mereka secepat mungkin.
📞 "Halo," imbuh Airin, mengangkat telpon.
📞 "Kamu dimana, sayang?"
📞 "Jangan panggil aku dengan sebutan sayang. Kita berpisah secepatnya. Kamu urus saja Nanda dan segera nikahi dia?"
📞 "Apa? Kamu bilang apa barusan? Tidak, sampai kapan pun saya tidak akan pernah melepaskan kamu, Airin. Saya tidak akan pernah menceraikan kamu, paham?"
BERSAMBUNG
...****************...
__ADS_1
PROMOSI NOVEL