
Arjuna benar-benar kembali ke Jakarta hari itu juga. Dirinya membawa serta pakaian istrinya yang dia tinggalkan di Vila. Dengan tidak tahu malunya Arjuna pulang ke rumah Airin. Wajahnya terlihat biasa saja setelah dia menghabiskan sejumlah uang milik istrinya itu.
Sore hari laki-laki itu baru saja tiba rumah itu. Dia masuk ke dalam rumah tersebut seraya menarik koper berukuran besar. Arjuna memanggil nama istrinya dengan nada suara lantang.
"Airin, sayang!" teriak Arjuna.
Yang di panggil pun akhirnya datang. Airin turun dari lantai 2 berjalan menghampiri suaminya. Kedua mata wanita itu menatap tajam wajah Arjuna kini.
"Sayang, ada apa sebenarnya? Kenapa kamu tiba-tiba saja ninggalin saya di Bali? Semua kartu juga kamu blokir. Untung saya masih memegang uang cash," tanya Arjuna tersenyum ramah.
"Emang aku sengaja memblokir seluruh kartu itu."
"Lho, kenapa? Katamu, uang yang kamu punya uang saya juga. Kita suami-istri, sayang. Jadi, wajar dong kalau saya memakai uang kamu?"
"Wajar? Suami-istri? Heuh! Sebagai seorang suami, apa pernah kamu menafkahi aku? Tidak! Sebagai seorang suami apa kamu pernah menjalankan tugas dan kewajiban kamu? Tidak!"
"Sayang? Ko jadi mempermasalahkan hal itu? Bukankah selama ini kamu baik-baik saja meskipun saya tidak memberikan uang belanja? Uang kamu sudah banyak, Rin. Untuk apa kamu mengharapkan uang receh dari saya?"
"Sebenarnya aku gak ingin mempermasalah hal ini, jika saja kamu jadi laki-laki yang tahu diri."
__ADS_1
"Apa maksud kamu, sayang?" Arjuna seketika mengerutkan kening. Apa mungkin dugaannya itu benar, bahwa istrinya mendengar pembicaraan dirinya dengan Nanda di telpon? Batin Arjuna seketika merasa gelisah.
"Ceraikan aku dan segera nikahi Nanda."
Bola mata Arjuna seketika memerah merasa terkejut tentu saja. Ternyata dugaannya benar. Airin mendengar semuanya, dia tahu bahwa dirinya telah menghamili wanita itu.
Apa yang akan dia lakukan sekarang? Yang jelas, dirinya tidak ingin berpisah dari wanita ini. Selain karena Airin adalah wanita kaya raya yang begitu royal kepadanya, jujur Arjuna Syailendra telah benar-benar mencintai wanita bernama lengkap Airin Saraswati dengan sepenuh hati.
"Sayang ... Bagaimana bisa kamu meminta suami kamu ini untuk menikahi wanita lain? Saya memang pernah melakukan hal itu bersama Nanda, tapi itu pun saya lakukan jauh sebelum kita menikah." Arjuna melakukan pembelaan, tentu saja hal itu sama sekali tidak ada gunanya. Airin telah hilang rasa kepada laki-laki ini.
"Lalu sekarang dia hamil darah daging kamu. Tentu saja kamu harus bertanggung jawab."
"Brengsek kamu Arjuna. Ceraikan aku sekarang juga!" teriak Airin, bola matanya seketika memerah.
Bukti sudah di depan mata, Nanda jelas-jelas hamil darah dagingnya, suaminya itu masih saja melakukan pembelaan. Jelas sekali terlihat bahwa dia hanyalah laki-laki pengecut. Airin seketika menyesal. Kenapa dirinya sampai di buatkan oleh cinta, hingga kebusukan suaminya dia tidak mengetahuinya sama sekali.
"Saya tidak akan pernah menceraikan kamu, Rin. Saya cinta sama kamu sungguh," lirih Arjuna memelas.
"Cinta? Bukannya kamu menikahi aku hanya karena aku wanita kaya raya?"
__ADS_1
" Awalnya memang begitu, tapi seiring dengan berjalannya waktu rasa cinta itu benar-benar hadir di hati saya. Saya tulus mencintai kamu, sayang! Jadi, saya mohon jangan meminta saya untuk menceraikan kamu, apalagi menyuruh saya untuk menikahi Nanda."
"Lalu, mau kamu apakan bayi yang saat ini berada di dalam kandungan wanita itu? Si Nanda mau kamu suruh buat mengugurkan kandungannya, begitu?"
Arjuna seketika terdiam. Kenapa rasanya sakit sekali ketika ketulusan cinta di sepelekan oleh istrinya sendiri. Dia memang sering menyakiti hati wanita selama ini. Dirinya bahkan tidak ingat sudah berapa wanita yang di buat menangis olehnya, tapi di saat dia sendiri dicampakkan oleh wanita yang dia cintai, Arjuna tidak menyangka bahwa rasanya akan sesakit ini.
Bruk!
Laki-laki itu seketika ambruk, dia duduk di atas lantai mencoba untuk memohon agar dirinya tidak ditinggalkan. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan seumur hidupnya. Selama ini selalu mereka para wanita yang memohon untuk tidak di tinggalkan, yang terjadi kini adalah hal sebaliknya. Apakah ini karma? Entahlah, hanya Tuhan Yang Maha Esa yang tahu pasti akan hal itu.
"Saya mohon jangan tinggalkan saya, Airin. Saya benar-benar menyesal dengan apa yang telah saya lakukan selama ini. Saya cinta sama kamu, Rin. Sungguh, saya tidak pernah secinta ini kepada seorang wanita."
Airin seketika memalingkan wajahnya. Apapun yang diucapkan oleh suaminya ini, tidak akan membuatnya merubah keputusan yang akan dia ambil. Tekadnya untuk bercerai dengan laki-laki ini sudah bulat tidak dapat lagi di ganggu gugat.
"Lebih baik kamu pergi dari sini, aku muak melihat wajah kamu."
BERSAMBUNG
...****************...
__ADS_1