PERAWAN TUA MENIKAHI BERONDONG

PERAWAN TUA MENIKAHI BERONDONG
Tidak Ada Dendam


__ADS_3

Arjuna berjalan menuju panggung pelaminan bersama Karmila sang adik. Keduanya nampak tersenyum menatap wajah Airin yang kini berbalut gaun pengantin berwarna putih bersih. Wajah wanita itu pun terlihat sangat cantik dengan make-up khas pengantin, meskipun usianya sudah menginjak hampir 36 tahun.


"Mbak Airin," sapa Karmila memeluk wanita itu sesaat setelah dirinya dan sang kaka sampai di atas panggung.


"Mila? Astaga, kamu manglingi sekali, makin dewasa makin cantik kamu," ujar Airin memeluk erat gadis yang sudah dia anggap seperti adik sendiri.


"Mbak yang makin cantik, Mbak seperti ratu. Selamat ya, akhirnya Mbak menikah lagi."


Airin hanya tersenyum kecil. Mereka pun mulai mengurai pelukan, giliran Arjuna yang kini mengulurkan tangannya untuk mengucapkan selamat kepada mantan istrinya. Walau pun merasa canggung, Airin menerima uluran tangan laki-laki itu seraya tersenyum dipaksakan.


"Selamat, Rin. Semoga kamu selalu bahagia. Maaf karena kedatangan kami berdua mengejutkan kamu," ujar Arjuna ramah.


"Terima kasih, aku doakan semoga kalian berdua juga selalu bahagia. O iya, kenalkan dia Edward. Ed ... Ini Arjuna mantan suamiku, dan ini Karmila adiknya." Airin mengenalkan suaminya.


Arjuna dan Edward mengulurkan tangan seraya menyebutkan nama masing-masing. Tidak ada rasa canggung di antara mereka. Tidak ada rasa dendam baik di hati Airin maupun Arjuna, keduanya benar-benar telah melupakan masa lalu.


"O iya, salam dari Nanda. Dia minta maaf karena tidak bisa datang kemari. Istri saya itu baru melahirkan beberapa bulan yang lalu," ujar Arjuna kemudian.


"O ya? Waaah! Selamat ya, salam balik buat Nanda. Aku doakan semoga rumah tangga kalian bahagia. Ingat, belajarlah untuk setia, cintai istri dan putra kamu. Doa terbaik untuk kamu, istri dan anakmu, Juna."


Arjuna tersenyum ramah. Dia dan Karmila pun akhirnya berpamitan setelah puas berbincang. Edward nampak menatap wajah Arjuna yang kini mulai meninggalkan ruangan gedung.


"Jadi itu mantan suami kamu?" tanya Ed kemudian.


"Iya, aku gak nyangka kalau dia akan datang kemari," jawab Airin tersenyum kecil.


"Dia tampan juga. Tampan banget malah, pantas saja kamu tergila-gila sama dia dulu."


"Udah gak usah di bahas, mendengan kita ke kamar deh. Udah gerah banget ini, badan lengket lagi."


"Ehem! Udah gak sabar ya."

__ADS_1


"Gak sabar apa?"


"Malam pertama kita."


Bulu kuduk Airin seketika berdiri tegang. Sudah lama sekali dirinya tidak merasakan di sentuh oleh seorang laki-laki. Membayangkannya membuat perasaanya campur aduk tidak karuan.


"Kenapa diam saja? Katanya mau ke kamar?" ujar Edward yang juga merasa tidak sabar.


"Iya-iya, kita ke kamar."


Keduanya pun berjalan secara beriringan menuju kamar hotel yang memang sudah spesial di pesan untuk sepasang pengantin baru melakukan malam pertama mereka.


* * *


Di kamar hotel.


Airin berdiri di belakang pintu kamar mandi yang masih tertutup bahkan dia kunci. Dirinya benar-benar merasa gugup sekali. Sudah lebih dari 30 menit wanita itu dalam sana.


"Iya, aku keluar sekarang," jawab Airin.


Dia menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan sebelum akhirnya membuka pintu kamar mandi.


Ceklek!


Pintu kamar mandi pun di buka. Airin yang saat ini hanya mengenakan kimono handak berwarna putih berjalan keluar dengan tubuh yang sedikit gemetar. Tatapan matanya menatap lekat wajah Edward, laki-laki yang telah sah menjadi suaminya kini.


"Apa kamu gugup?" tanya Edward tersenyum cengengesan.


"Gugup? Hahahaha! Nggak ko biasa aja," jawab Airin tertawa hanya untuk menutupi rasa gugupnya.


"Bohong!"

__ADS_1


"Hehehehe! Iya, aku gugup, Ed."


"Mas, jangan panggil saya dengan sebutan Ed lagi. Saya 'kan sudah jadi suami kamu."


"Mas?"


Edward menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis. Menatap wajah Airin yang saat ini duduk tepat di sampingnya.


"Mas Edward, begitu?"


"Betul, biasakan memanggil saya dengan panggilan Mas mulai sekarang."


Edward perlahan meraih telapak tangan istrinya lalu mengusap punggung tangannya lembut dan penuh kasih sayang. Kedua matanya pun menatap wajah Airin dengan tatapan sayu menyiratkan sesuatu yang menggelora di dalam sana.


"Kamu jangan kecewa karena aku udah gak perawan lagi," celetuk Airin, entah apa yang merasuki jiwa wanita itu. Apa yang baru saja diucapkan olehnya sukses membuat Edwards tertawa nyaring.


"Apa? Hahahaha! Kenapa kamu tiba-tiba mengatakan hal seperti itu? Kamu itu janda, sudah pasti tidak perawan. Kenapa harus diucapkan segala? Astaga, Airin. Apa kamu segitu gugupnya sampai-sampai mengatakan hal yang selucu ini?" Edward seketika tertawa nyaring.


"Hehehehe! Lucu ya? Entahlah, aku gugup sekali, Ed. Dulu waktu aku masih punya suami, aku hanya sempat melakukan hubungan suami-istri cuma beberapa kali saja, karena pernikahan kami hanya berjalan kurang dari 2 bulan. Makannya aku bingung harus memulainya dari mana," jawab Airin jujur apa adanya.


"O ya? Santai saja, sayang. Gak usah di bikin pusing. Gak usah terlalu di pikirkan juga. Kita mulai secara alami, oke?"


Airin menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil. Perlahan, Edward mengecup kening istrinya seraya menatap wajah sang istri lekat. Tubuh ramping Airin pun dia baringkan pelan dan sangat hati-hati sampainya istrinya itu berbaring dengan nyaman di atas ranjang.


"I love you," bisik Ed seraya mengecup mesra telinga istrinya.


"I love you too," jawab Airin memejamkan kedua matanya, gairah itu mulai merangkak naik hampir menguasai jiwanya kini.


BERSAMBUNG


...****************...

__ADS_1


__ADS_2