PERAWAN TUA MENIKAHI BERONDONG

PERAWAN TUA MENIKAHI BERONDONG
Dijodohkan


__ADS_3

"Kamu?" Airin dan juga Edward secara bersamaan. Kedua mata mereka pun seketika saling bertemu. Edward nampak tersenyum lebar, tapi tidak dengan Airin. Wanita itu seketika mengerutkan kening.


Dari mana kakeknya itu bisa mengenal laki-laki bernama Edward ini? Hal lain yang dia pikirkan lagi adalah, apa mungkin sang kakek akan menjodohkan dirinya dengan Edward? Airin mengusap wajahnya kasar. Lagi-lagi dia menekankan ke dalam hatinya bahwa, dirinya masih belum siap membuka hati untuk seorang laki-laki, apalagi sampai menikah dengannya.


"Kalian saling kenal?" tanya kakek menatap wajah cucu juga laki-laki itu secara bergantian.


"Iya, Kek. Kebetulan sekali saya memang mengenal cucu kakek ini, tapi saya benar-benar tidak menyangka kalau dia ternyata adalah cucu yang kakek maksud," jawab Edward selagi Airin masih berkutat dengan pikirannya.


"Benar apa yang di katakan sama Edward?" tanya kakek, tapi cucunya itu sama sekali tidak menanggapi pertanyaan. Sepertinya Airin benar-benar larut di dalam lamunan panjangnya kini.


"Airin?!" Kakek terpaksa menaikan suaranya membuat Airin seketika merasa tersentak tentu saja.


"Hah? Iya, kek. Kakek bilang apa tadi?"


"Astaga, malah melamun lagi. Kamu kenapa? Kakek nanya, apa yang di katakan sama Edward itu benar?"


"Memangnya dia bilang apa tadi?" Airin balik bertanya, dia benar-benar tidak mendengar apa yang dikatakan oleh laki-laki bernama Edward.


"Ya Tuhan, Airin. Ada apa dengan kamu? Ya udah gak usah di bahas. Kalian ngobrol saja dulu. Hari ini ada jadwal sinetron kesukaan kakek, panggil kakek kalau makan malam sudah siap, oke?" Pamit sang kakek.


"Kakek mau ke mana? Kakek 'kan yang nyuruh aku datang ke sini? Ko aku di tinggal?" protes Airin, tapi diabaikan oleh sang kakek tentu saja.


Keheningan pun seketika tercipta. Baik Airin maupun Edward merasa gugup tiba-tiba.


"Apa kamu merasa terganggu dengan kedatangan saya?" tanya Edward.


"Hah? Eu ... Tidak sama sekali. Aku hanya penasaran saja, dari mana kamu kenal sama kakek?"

__ADS_1


"Apa kamu tidak tahu, saya sudah kenal sama kakek sejak lama? Sebenarnya, saya pernah di tawarkan untuk di jodohkan sama cucunya dan saya menolak waktu itu. Kalau saya tahu bahwa wanita yang di jodohkan dengan saya itu ternyata adalah kamu, mungkin saya akan menerima perjodohan waktu itu. Sekarang beliau menawarkannya lagi."


"Menawarkan apa?"


"Duduk saja dulu, masa ngobrol sambil berdiri kayak gitu? Memangnya kamu gak pegel apa?"


Airin tersenyum kecil. Dia pun duduk di kursi yang berbeda dengan laki-laki ini.


"Katakan sejujurnya, apa kakek meminta kamu untuk menjadi suami aku?" tanya Airin merasa penasaran.


"Betul."


"Terus?"


"Terus apa?"


"Apa kamu menerima tawaran kakek?"


Airin mendengus kesal.


"Kenapa? Kamu tidak mau menikah dengan saya?" tanya Edward lagi, menatap lekat wajah Airin kini.


"Apa kamu mau menikah dengan wanita yang tidak kamu cintai?"


"Kata siapa saya tidak mencintai kamu?"


"Hah?"

__ADS_1


"Jujur, saya sudah jatuh hati kepada kamu dari semenjak kita bertemu di Bali waktu itu. Saya berdoa kepada Tuhan, kalau kamu memang jodoh saya, maka Tuhan pasti akan mempertemukan kita lagi. Sepertinya kita memang berjodoh, terbukti kamu ada di hadapan saya saat ini."


"Sayangnya aku sudah tidak percaya dengan mulut manis laki-laki," jawab Airin memalingkan wajahnya.


"Saya paham. Kamu pernah tersakiti oleh mantan suami kamu. Saya tahu betul seperti apa rasanya dikhianati, tapi Rin, tidak semua laki-laki itu sama. Jangan samakan saya dengan mantan suami kamu itu karena kami memang berbeda di lihat dari segi manapun. Kamu tahu, kenapa kakek meminta saya untuk menikah dengan kamu?"


Airin menggelengkan kepalanya samar.


"Karena beliau percaya dengan saya. Karena kami sudah lama saling mengenal dan kakek tahu siapa saya. Kamu tidak tahu kedekatan kami karena kalian tinggal terpisah."


Airin diam membisu. Dia tidak tahu harus mengatakan apa kepada laki-laki pilihan kakeknya ini. Dirinya pun bingung, bagaimana caranya agar dia bisa menolak perjodohan ini. Jujur, Airin Saraswati masih merasa trauma atas gagalnya pernikahan yang pernah dia jalani dengan laki-laki bernama Arjuna.


"Rin? Kenapa kamu diam saja?" tanya Edward berpindah tempat duduk ke kursi yang sama dengan Airin kini.


"Aku tidak tahu harus berkata apa? Aku--" Airin menunduk sedih, dia pun tidak mampu untuk sekedar meneruskan ucapannya.


Lagi dan lagi, dirinya sulit untuk mempercayai ucapan manis yang keluar dari bibir seorang laki-laki. Perceraiannya dengan Arjuna menyisakan rasa trauma. Menorehkan luka yang begitu dalam yang rasa sakitnya saja masih dia rasakan sampai sekarang.


"Airin, saya tidak akan memaksa kamu untuk menikah dengan saya, tapi saya akan tetap menunggu dan membantu kamu untuk mengobati luka di hati kamu itu. Saya akan menunggu dengan sabar, dan saya tidak akan menyerah sampai kamu benar-benar bisa membuka hati kamu untuk saya."


Airin masih diam menunduk. Apa yang baru saja diucapkan oleh Edward tetap saja hanya terdengar seperti sebuah rayuan gombal baginya. Laki-laki memang seperti ini, selalu bersikap manis ketika dia sedang mengambil hati seorang wanita. Namun, sikapnya akan berubah ketika laki-laki tersebut sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.


Apakah Edward juga laki-laki seperti itu? Sulit menebak karena dirinya memang tidak terlalu dekat dengan laki-laki ini. Namun, dia mengingat kalimat yang pernah di ucapkan oleh Edward yaitu, 'manusia di ciptakan saling berpasangan'. Apakah Edward adalah jodoh sesungguhnya yang dikirimkan oleh Tuhan?


Entahlah, tidak ada yang tahu pasti tentang rahasia ilahi. Yang jelas, Airin masih menyimpan rasa traumanya. Ucapan manis yang keluar dari bibir Edward pun belum bisa dia percayai seluruhnya.


"Aku butuh waktu untuk berpikir, Ed. Aku juga tidak tahu berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk mengobati rasa trauma ini. Jujur, aku masih belum siap. Namun, bukan berarti tidak siap untuk menjalani sebuah pernikahan dan membuka hati untuk laki-laki. Seperti yang pernah kamu katakan kepada ku waktu itu bahwa, manusia diciptakan paling berpasangan, aku akan mencoba untuk mempercayai hal itu."

__ADS_1


BERSAMBUNG


...****************...


__ADS_2