PERAWAN TUA MENIKAHI BERONDONG

PERAWAN TUA MENIKAHI BERONDONG
Berpasangan


__ADS_3

"Berapa nomor rekening Anda, Ed? Saya akan transferkan uang 2 juta itu sekarang juga," pinta Airin, mengeluarkan ponsel canggih miliknya dari dalam saku dress kasual bermotif bunga-bunga yang dia kenakan.


"Nomor rekening? Hahahaha! Kamu pikir saya mau menagih hutang kamu itu?" Edward seketika tertawa nyaring.


"Lalu?"


"Urusan pribadi yang ingin saya bicarakan itu bukan soal hutang-piutang, uang 2 juta tidak ada harganya bagi saya. Saya ikhlaskan uang itu untuk kamu, Airin."


"Tidak bisa dong. Hutang tetaplah hutang, aku akan tetap bayar hutang itu. Uang 2 juta juga tidak ada apa-apanya untuk aku, jadi berikan nomor rekening kamu sekarang juga. Aku gak suka berhutang budi sama orang lain. Aku juga memiliki banyak uang ko, jadi tidak ada yang namanya ikhlas mengikhlaskan, oke?"


Rosa yang masih berada di sana menatap wajah Airin dan juga laki-laki bernama Edward secara bergantian. Jika di pikir-pikir mereka berdua akan menjadi pasangan yang cocok jika di persatukan. Rosa tersenyum cengengesan lalu berdiri berpamitan.


"Maaf, bu. Pak Edward, silahkan lanjutkan obrolan pribadi kalian. Saya permisi dulu," pamit Rosa.


"Tunggu, Rosa."


"Apa lagi, bu? Saya masih banyak perkejaan yang belum saya selesaikan."


"Hmm! Baiklah kalau begitu."


Rosa menganggukkan kepalanya lalu benar-benar keluar dari dalam ruangan meeting. Sepeninggal Rosa, tinggallah mereka berdua di sana. Jujur, Airin seketika merasa gugup. Baru kali ini dirinya berhadapan dengan seorang laki-laki setelah sekian lama. Telapak tangannya bahkan terasa berkeringat dingin.


"Bagaimana kabar suami kamu?" tanya Edward membuat Airin seketika tersenyum kecil.


"Kami sudah berpisah, aku juga tidak tahu seperti apa kabar dia karena kami tidak pernah bertemu lagi," jawab Airin menatap ke arah lain.


"Syukurlah kalau begitu. Keputusan kamu sudah tepat, Rin. Laki-laki seperti itu memang tidak cocok untuk wanita sempurna seperti kamu."


Airin hanya tersenyum kecil.


"O iya, apa kamu sudah menikah lagi?"


"Hah? Hahahaha! Aku tidak berpikir untuk menikah lagi."


"Lho! Kenapa?"


"Entahlah, sepertinya aku lebih suka sendiri. Memiliki suami membuatku merasa terbebani. Apa kamu pernah mendengar satu pepatah yang mengatakan, 'apabila laki-laki memiliki banyak uang, maka yang di cari adalah perempuan, tapi jika wanita memiliki banyak harta, maka dia tidak lagi membutuhkan laki-laki', seperti itulah aku. Aku gak butuh laki-laki," jelas Airin panjang lebar.

__ADS_1


"Kamu salah, Airin. Tuhan itu menciptakan semua hal di dunia ini saling berpasangan. Ada siang, ada malam. Ada kiri, ada kanan. Ada gembira ada sedih, ada laki-laki dan perempuan. Semua itu diciptakan untuk saling melengkapi, termasuk suami-istri."


Airin lagi-lagi hanya tersenyum kecil, kali ini dengan wajah datar.


"Yang kamu katakan memang benar, tapi setiap orang memiliki prinsip masing-masing dan seperti itulah prinsip yang aku pegang saat ini."


"Hmm! Baiklah, tapi apa kamu gak takut di katai perawan tua?"


Airin seketika membulatkan bola matanya. Sudah lama sekali dirinya tidak mendengar seseorang mengucapkan kata perawan tua. Dia pun tertawa nyaring, terlihat begitu cantik di mata Edward.


"Hah? Hahahaha! Aku janda, bukan perawan lagi, gimana sih?" Airin tertawa nyaring.


"O iya, saya sampai lupa. Wajah kamu cantik, Rin. Malahan masih kelihatan seperti seorang perawan ting-ting."


"Akh, kamu bisa aja, Ed."


"O iya, gimana kalau uang 2 juta itu kamu pakai untuk mentraktir saya? Kebetulan saya belum makan siang, lapar juga ternyata," ucap Edward.


"Hmm! Boleh juga, kebetulan sekali di depan kantor ini ada Restoran enak, kita makan di sana."


"Oke!"


* * *


Selesai makan siang bersama Edward, Airin kembali ke kantornya. Perutnya benar-benar kenyang sekarang, rasa kantuk itu pun tiba-tiba saja mendera kedua matanya. Dia berniat untuk tidur sejenak di ruangannya sebelum melanjutkan pekerjaan.


Ceklek!


Pintu pun di buka lebar, Airin masuk ke dalamnya kemudian. Kedua matanya membulat sempurna juga seketika mendengus kesal. Sang kakek sudah berada di ruangannya kini.


"Kakek," sapa Airin berjalan menghampiri.


"Malam minggu nanti kamu kakek tunggu di rumah," ucap sang kakek to the point.


"Ada apa memangnya? Tumben kakek menyuruh aku datang ke rumah?"


"Kenapa? Apa kamu tahu kakek kesepian di rumah? Sudah lama sekali kamu tidak pernah mengunjungi kakek. Mentang-mentang sibuk, kakek sendiri di lupain."

__ADS_1


"Hehehehe! Kakek ko jadi baperan gini. Iya-iya, nanti aku ke sana, tapi kakek gak akan ngenalin aku sama seorang laki-laki 'kan?"


"Apa? Kalau itu gimana nanti saja, pokoknya kalau kamu sampai tidak datang, kakek bakalan marah besar sama kamu, paham?"


"Iya-iya, kakek apaan sih. Makin tua ko makin toxic."


"Toxic? Apaan itu?"


"Nggak ko, bukan apa-apa. Kakek tunggu aja, aku pasti datang ko," jawab Airin tersenyum cengengesan.


* * *


3 hari kemudian.


Airin benar-benar mendatangi kediaman sang kakek. Memang sudah lama sekali dirinya tidak berkunjung ke sana. Dengan memakai dress santai berwarna merah, dia pun mulai masuk ke dalam rumah besar milik sang kakek.


"Aku datang, kek. Kakek di mana?" teriak Airin, berjalan semakin memasuki rumah tersebut. Dia mengedarkan pandangan matanya menatap sekeliling.


"Kakek di sini, Rin. Kakek di belakang," jawab sang kakek juga dengan nada suara tinggi.


Airin berjalan menuju belakang di mana suara sang kakek berasal. Sesampainya di sana, Airin menatap sang kakek dengan perasaan heran karena beliau nampak sedang duduk dengan seseorang membelakangi dirinya. Sepertinya dugaanya benar, kakeknya itu akan mengenalkan dia dengan seorang laki-laki. Airin hanya bisa menghela napas berat merasa kesal. Dia pun kembali memanggil sang kakek.


"Aku di sini, Kek," ujarnya dengan nada suara lemah.


"Akhirnya kamu datang juga, Airin. Kakek sudah menunggu kamu dari tadi."


Airin tersenyum menanggapi.


"O iya. Kenalkan, dia calon suami kamu."


Airin seketika membulatkan bola matanya saat laki-laki tersebut menoleh ke arahnya dan tatapan mata mereka seketika bertemu, menatap satu sama lain.


"Kamu?" Keduanya secara bersamaan.


'Kenapa dia bisa ada si sini? Apa, calon suami? Astaga, kakek,' batin Airin mengusap wajahnya kasar.


BERSAMBUNG

__ADS_1


...****************...


__ADS_2