
Airin benar-benar membelikan suaminya mobil baru seperti yang dia janjikan. Mobil jenis BMW X1 dengan harga sekitar 800.000.000,00 pun menjadi pilihan. Mobil mewah berkapasitas lebih 4 orang, kendaraan yang di impi-impikan oleh Arjuna selama ini.
Arjuna tentu saja merasa senang bukan kepalang. Selain karena dia tidak mengeluarkan uang sepeserpun karena pembayaran seluruhnya di bayarkan oleh istrinya secara cash, dia akhirnya bisa memiliki kendaraan beroda 4, sesuatu yang sangat membanggakan bagi seorang Arjuna Syailendra. Bukan tanpa alasan Airin membelikan mobil tersebut, semua ini dia lakukan agar suaminya itu semangat dalam mencari pekerjaan.
Airin dan Arjuna terlihat baru saja keluar daru dealer mobil. Keduanya telah siap untuk mengendarai mobil baru tersebut. Dengan tersenyum begitu lebarnya, Arjuna memasuki mobil itu dengan perasaan riang gembira.
"Mobilnya bagus sekali, makasih sayang, muach!" ujar Arjuna, mengecup kecil bibir istrinya mesra.
"Sama-sama, sayang. Sekarang kita jalan-jalan pakai mobil ini ya. Aku gak sabar ingin berkeliling kota menggunakan mobil baru ini," jawab Airin duduk manis di kursi penumpang.
"Hmm ... Gimana kalau kita jemput Karmila di sekolah? Kebetulan sekarang sudah waktunya jam pulang sekolah, dia pasti senang kita ajak jalan-jalan."
"Boleh juga."
Mesin mobil pun mulai di nyalakan. Mobil baru itu perlahan mulai melaju meninggalkan area dealer lalu melesat di jalanan. Sepasang suami istri itu benar-benar menikmati perjalanan mereka. Wajah Arjuna terlihat sumringah, bibirnya bahkan tidak berhenti tersenyum lebar. Sampai akhirnya, mereka pun tiba di Sekolah Menengah Pertama di mana adik mereka bersekolah saat ini.
Ckiiit!
Mobil pun berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Siswa-siswi kebetulan baru saja keluar dari dalam gerbang. Karmila berjalan di antara mereka, dia seketika terkejut ketika melihat sang kaka dan juga kakak iparnya keluar dari mobil mewah, seraya memanggil namanya.
"Karmila!" Panggil Arjuna melambaikan tangannya.
"Abang, Mbak Airin?" sapa Karmila berjalan menghampiri.
__ADS_1
"Untung kita datang tepat waktu," ujar Arjuna tersenyum lebar.
"Ini mobil siapa?"
"Mobil Abang dong."
"Mobil Abang?" Karmila seketika mengerutkan kening.
"Mbak yang membelikan mobil ini untuk Abang kamu. Motornya dia biar gak usah di pakai lagi," imbuh Airin.
"Hmm! Mbak baik banget sih. Awas aja ya Abang, kalau sampai mobil di pakai buat selingkuh," celetuk Karmila mendelik ke arah sang kaka.
"Apa? Hahahaha! Mana mungkin Abang berani selingkuh dari kakak ipar kamu yang cantik ini, ada-ada saja kamu."
"Kalau Abang kamu berani selingkuh, maka dia harus mengembalikan semua yang Mbak berikan untuk dia," celetuk Airin setengah bercanda, membuat Arjuna seketika merasa tertegun tentu saja.
'Mengembalikan semuanya? Apa itu berarti, apa yang dia berikan untuk saya tidak ikhlas sama sekali? Melainkan hanya sebuah pinjaman, atau hanya sebuah jaminan agar saya tidak berani macam-macam di luar sana? Kamu cerdas juga ternyata, saya pikir kamu bodoh, Airin,' batin Arjuna seraya tersenyum di paksakan.
"Hahahaha! Kamu bisa saja, sayang," ujar Arjuna tertawa ringan.
"Ya udah sekarang kita berangkat. Tujuan kami menjemput kamu kemari karena kami ingin mengajak kamu jalan-jalan dengan menaiki mobil baru ini," ujar Airin.
"Waaaah! Kalau itu aku mau banget, Mbak. Sudah lama sekali aku ingin jalan-jalan keliling kota. Apalagi dengan menumpangi mobil baru kayak gini." Karmila tersenyum lebar merasa senang.
__ADS_1
Ceklek!
Blug!
Pintu mobil pun di buka dan kembali di tutup setelah ketiganya masuk ke dalam mobil tersebut. Mesin mobil pun dinyalakan, mobil mewah seharga Rp. 800.000.000,00 itu pun melesat meninggalkan area sekolah.
* * *
Di tempat yang berbeda.
Nanda menggenggam sebuah alat tes kehamilan. Kedua matanya nampak memerah setelah menahan rasa mual seharian. Dadanya pun terasa sesak, tubuhnya seketika gemetar saat 2 garis merah terpampang nyata di permukaan alat tes kehamilan tersebut.
"Aku hamil?" lirihnya kemudian.
Buliran air mata seketika membasahi wajah cantik seorang Nanda, wanita yang berprofesi sebagai Perawat itu seketika ambruk dan duduk di atas lantai kamar mandi yang lembab juga terasa dingin sebenarnya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana caranya agar Arjuna mau bertanggung-jawab dan menikahi aku? Sementara dia sudah memiliki seorang istri, hiks hiks hiks," gumam Nanda mengusap wajahnya kasar juga menangis sesenggukan.
BERSAMBUNG
...****************...
PROMOSI NOVEL
__ADS_1