
Keira Memang Terguncang Sejak Kejadian itu. Ia Menjadi Anak yang Tak Banyak Bicara, Bahkan Ia Tak Memiliki Kesempatan Untuk Menangis atau Menceritakan Kejadian Pada Orang Tuanya, Karena Keduanya Tak Bisa Ia Percayai Lagi.
Dalam Hatinya ia Berfikir Kenapa Kedua Orang Tuanya Begitu Membencinya. Ia Juga Memikirkan Ucapan Ayahnya yang Menganggapnya Sebagai Pion. Ia Di Paksa Pindah Apakah Karena ini, padahal ia Tak Suka Tinggal Disini. Ia Menyukai Tinggal Bersama Neneknya Di Desa.
Saat itu Ia Tak Sengaja Mendengar Percakapan Kedua Orang Tuanya. Mereka Terlibat Pertengkaran Hebat. Dan Saat itulah ia Mendengar Kalau Ternyata Ia Bukan Anak Dari Keduanya. Dengan itu ia Menyadari Kenapa Mereka Bersikap Demikian. Tapi, yang Membuatnya Lebih Kaget Adalah Ternyata Ayahnya itu Ternyata Seorang Mafia. Ia Rela Mengorbankanya Untuk Mencapai Tujuanya. Ia Membutuhkan Keira Karena Keira Adalah Pion Untuknya.
"Kenapa Kau Lakukan ini?" Ibu Keira Kesal Terhadap Ayah Keira.
__ADS_1
"Kau Sudah Membuangnya, Untuk Apa Kau Mencemaskanya??" Jawabnya Dengan Tenang Tanpa Rasa Bersalah.
"Dia Masih Anak-anak. Bagaimana Bisa Kamu Melakukannya? Kamu Gila? Dia Itu Manusia Bukan Barang."
"Kalau Kau Peduli Harusnya Kau Tidak Meninggalkanya, Untuk Apa Kau Marah Padaku,."
"Masih Untung Dia Tidak Mati."
__ADS_1
"Aku Akan Membawanya, Kondisinya Benar-benar Menghawatirkan Semenjak Tinggal Denganmu."
"Kau Berlagak Sok Peduli Padanya Padahal Kau Bukan Ibunya.."
"Aku Lebih Baik Di Banding Denganmu."
"Aku yang Memberinya Makan Semenjak Kau Meninggalkanya! Kau Lupa?"
__ADS_1
Keira Menyadari Ternyata Keduanya Tak Begitu Tulus Merawatnya. Ia Hanya Berfikir Kenapa ia Di Paksa Tinggal Disini? Kenapa Mereka Merawatnya Kalau ia Tidak Menyukainya dan Kenapa ia Di Pisahkan Dari Neneknya. Ia Mengetahui Bahwa ia Hanya Alat Baginya Untuk Menghancurkannya dan Juga Keluarga Kandungnya.