Perempuan Berhati Dingin

Perempuan Berhati Dingin
Tak Mudah Di Hadapi


__ADS_3

Meskipun Mendapatkan Nomor Hendra, Tapi Ia Sangat Kesal Berurusan Dengan Justin. Karena Ia Tak Menyukai Sikapnya yang Selalu Sok Dekat Denganya dan Tingkahnya yang Selalu Menjengkelkan. Mengingat Kejadian Saat itu, Membuatnya Menghela Nafas Panjang.


"Sial.." Gumam Keira.


Satu Persatu Aku Semakin Mendapatkan Potongan Kasus itu, Meskipun Masih Membutuhkan Waktu. Tapi, Setidaknya Aku Tau Apa yang Harus Aku Lakukan. Farhan, Sepertinya Jalan Untuk Menemuimu Masih Sedikit Panjang. Aku Menantikan Pertemuan itu.


Aku Membencimu yang Masih Hidup, Aku Membencimu yang Masih Bisa Tertawa, Aku Membencimu Karena Masih Hidup Tenang dan Aku Membencimu Karena Kau Ada Di Dunia ini. Duniaku Gelap Karenamu, Duniaku Hancur Karenamu, Duniaku Menyedihkan Juga Karenamu. Kau Membunuh Keluargaku Karena Kau Membenci Keluargaku yang Menghalangi Bisnis Ilegalmu itu, tapi Kau Merawatku Karena Kau Ingin Menjadikanku Alat Untuk Menutupi Kesalahnmu. Ternyata Kau Itu Benar-benar Manusia Sampah. Saat itu, Kalau Tak Ada Kejadian Itu Mungkin Aku Sudah Mati Di Tanganmu. Kalau Tidak Ada Joy, Mungkin Aku Juga Tidak Akan Bertahan Hidup. Dan yang Membuatku Merasa Menggelikkan, Bagiamana Bisa Kau Masih Hidup Dengan Tenang Setelah Menghancurkanku. Aku Benar-benar Membencimu yang Seperti itu.


Saat Aku Melihat Data Di Ruanganku. Data Yang Di Berikan Damar Soal Hendra, Aku Di Kejutkan Oleh Suara Dering Ponselku. Saat Aku Mengangkatnya, Suara Yang Aku Dengar Adalah Suara Yang Sama Sekali Tidak Ingin Aku Dengar. Membuatku Kesal Saja.


"Halo!" Jawabku.


"Apa Aku Mengganggumu?" Tanya Suara Penelphone itu yang Merupakan Suara Justin.


"Iya Kamu Sangat Menggangguku." Jawabku Jujur Tanpa Basa-basi.

__ADS_1


Justin Tertawa Kecil. "Aku Tau Kamu Pasti Akan Jawab Begitu. Tapi yang Lebih Hebatnya Ternyata Kamu Mengenali Aku Ya? Padahal Ini Pertama Kalinya Aku Menelphonemu?"


"Sebenarnya Kamu Ada Urusan Apa Menelphoneku?" Jawabku Tak Sabar.


"Entahlah, Sepertinya Aku Merindukanmu!" Ucap Justin Dengan Tenang. "Padahal Kita Baru Saja Berpisah."


Aku Berfikir Sepertinya Aku Sudah Salah Berurusan Dengan Pria ini. Dia Pria yang Tidak Mudah Di Hadapi. Pria yang Benar-benar Aneh. Aku Benar-benar Tidak Bisa Mengerti Jalan Pikiranya. Aku Hanya Bisa Menghela Nafas Panjang dan Merasa Sangat Kesal. Karena Laki-laki ini Selalu Mengucapkan Kata-kata yang Menjengkelkan.


Tut..Tut.. Suara Telephone yang Terputus. Keira Dengan Kesal Memutuskan Telphone Justin. Dan Beberapa Menit Kemudian Justin Menelphonenya Lagi dan Membuat Keira Kesal.


"Hei, Apa Maumu?" Teriaknya Kesal.


"Tidak Mau." Jawab Keira Cepat.


"Kamu Yakin? Aku Bisa Lho Mempertemukanmu Dengan Pak Hendra?"

__ADS_1


"Aku Sudah Tidak Butuh itu..."


"Dia Sekarang Ada Disini Bersamaku. Kamu Yakin Tidak Ingin Bertemu Dengannya? Bukanya Kalau Bertemu Begini Akan Lebih Nyaman Di Banding Kamu Bertemu Sendiri Denganya? Dan Jadwal Beliau Cu...."


"Dimana Tempatnya?" Keira Memotong Ucapan Justin.


"Di Restaurant Saat Kita Pertama Kali Bertemu." Jelas Justin. Keira Tak Menjawabnya dan Langsung Menutup Telphonenya dan Berjalan Keluar Untuk Menuju Restaurant itu.


Saat Akan Keluar Ia Berpapasan Dengan Alex.


"Kamu Mau Kemana? Kenapa Seperti Terburu-buru?" Tanya Alex Melihat Keira Yang Mau Keluar.


"Bukan Apa-apa. Aku Mau Pulang Duluan. Ini Kan Juga Mau Jam Pulang Kantor. Jadi Aku Pergi Dulu."


"Kamu Sudah Periksa Datanya?" Tanya Alex Memastikan.

__ADS_1


"Sudah, Aku Sudah Memperiksanya. Akan Aku Kabari Lagi Nanti. Bye..." Ujar Keira Dan Melangkah Pergi.


Meskipun Agak Sedikit Bingung Alex Tak Memikirkan Lebih Jauh Lagi. Ia Pun Melanjutkan Perjalannya Menuju Ruanganya.


__ADS_2