
Keira Mengamati Dari Jauh Kegiatan Sosial itu, Ia Tidak Sendiri Karena ada Alex, San dan Damar yang Ikut Mengamati. Mereka Mengamati Orang yang Bernama Hendra itu.
"Lalu Apa yang Akan Kita Lakukan Sekarang?" Tanya Damar.
"Apa Kita Hajar Saja Dia!?" San Menimpalinya.
"Jangan Gegabah, Kita Lagi Ada Di Rumah Ibadah dan Banyak Anak Kecil dan Orang Tua Juga. Terlalu Ramai Untuk Menghajarnya..." Kata Alex Tak Setuju Ucapan San.
"Lalu Apa Sekarang?" Tanya Balik San.
"Aku Tau Apa yang Harus Dilakukan." Keira Tiba-tiba Berbicara Dengan Ekspresi Serius.
Damar, San Dan Alex Menoleh Ke Arah Keira.
"Bagaimana Caranya?" Tanya San Penasaran.
"Kalian Pulanglah, Biar ini Menjadi Urusanku. Karena Aku Mau Mengubah Rencana Awal Kita.."
"Kamu Yakin?" Alex Memastikan.
"Iya, Percayakan Padaku." Yakin Keira.
Alex Tak Memperpanjang Lagi dan Memilih Pergi Bersama Damar dan San. Karena Ia Percaya Pada Keira. Sedangkan Keira Tengah Menunggu Seseorang Hingga Acaranya Selesai. Ia Mengamatinya Dari Jarak yang Lebih Dekat Dari Sebelumnya.
__ADS_1
"Hendra Kau Akan Menjadi Penghubungku Denganya." Gumam Keira Dingin.
Acara Amal ini Selesai Lebih Lama Dari Perkiraan Keira. Ia Sedikit Bosan Menunggu Orang Itu. Tapi, Ia Senang Orang yang Ingin Ia Temui Terlihat Olehnya. Ia Melihat Orang Yang Ia Tunggu Sedari Tadi Tengah Berjalan Pulang, Ia Justin.
"Hei..." Teriak Keira Pada Justin yang Tengah Berjalan Bersama 2 Temanya. Justin Menoleh Ke Asal Suara itu Begitupun Temanya yang Juga Ikut Menoleh Mencari Sumber Suara itu. Justin Sedikit Kaget Setelah Tau Siapa yang Berteriak itu. Tapi Juga Merasa Senang Melihatnya.
Keira Menghampiri Justin dan Menatap Tajam Padanya. "Aku Mau Bicara Denganmu?"
Justin Terlihat Sedikit Kaget Keira Mengajaknya Berbicara Duluan dan Menghampirinya.
"Kalian Pulanglah Duluan, Aku Mau Bicara Dulu Sama Dia!" Kata Justin Pada Ke 2 Temanya."
"Kamu Kenal Denganya?" Tanya Salah Satu Temanya.
"Iya, Jadi Kalian Pulanglah Dulu."
Justin Mendekat Ke Arah Keira. "Jadi, Kamu Mau Bicara Apa?"
"Ikut Aku..." Ajak Keira Dan Berjalan Ke Tempat yang ia Maksud. Justin Hanya Bisa Tersenyum Melihatnya Dan Mengikutinya Dari Belakang. Keira Menghentikan Langkahnya dan Berdiri Di Depan Mobilnya yang Terparkir Tidak Jauh Dari Lokasi itu. "Aku Ingin Bertransaksi Denganmu." Ucap Keira Tanpa Basi-basi.
"Bertransaksi? Maksud Kamu?"
"Pertemukan Aku Dengan Ketua itu.?"
__ADS_1
"Ketua? Maksudmu Pak Hendra! Kenapa Kamu Ingin Bertemu Denganya?"
"Itu Bukan Urusanmu. Kamu Hanya Cukup Pertemukanku Dengannya." Keira yang Mulai Terlihat Kesal.
"Jadi Begini Caramu Bertransaksi? Kamu Sangat Buruk Dalam Bersosialisasi ya? Kalau Orang Lain Pasti Tidak Akan Mau. Tapi Karena itu Kamu, Aku Jadi Tidak Bisa Marah."
"Jadi, Kamu Mau Menerima Tawaranku Apa Tidak?"
"Lalu Apa Aku Boleh Memberikan Penawaran Padamu?"
"Iya, Karena Aku Tidak Mau Hutang Budi Padamu.?"
"Awalnya Aku Senang Kamu Menghampiriku, tapi Aku Sedikit Kecewa Kamu Malah Melakukan Penawaran Denganku, tapi itu Juga Bukan Hal yang Buruk Sih..."
Keira Sudah Tidak Tahan Lagi. "Jadi, Apa Penawaranmu Padaku?"
"Sederhana. Tapi Aku Mau itu Sekarang." Ucap Justin Dengan Tersenyum.
"Baiklah, Lakukan" Ucap Keira Langsung Menyetujuinya. Justin Tersenyum Mendengarnya. Justin Mendekatkan Wajahnya Ke Wajah Keira. "Kamu Yakin?" Tanyanya Meyakinkan.
"Jadi, itu Tawaranmu Aku Tarik Kembali. Aku Tidak Mau Bertransaksi Denganmu." Keira Melangkah Masuk Ke Mobilnlya, tapi Justin Menarik Tanganya dan Memeluknya.
"Sepertinya Sudah Terlambat. Karena Aku Menginginkanya." Bisik Justin, Lalu Mencium Keira. Justin Memeluk Erat Keira Hingga Membuat Keira Tak Bisa Melepaskan Ciumanya. Ciuman Keduanya Sangat Penuh Gairah dan Berlangsung Cukup Lama. Hingga Membuat Keduanya Terengah Karena Kehabisan Nafas Saking Nafsunya.
__ADS_1
"Aku Menyukaimu. Setiap Melihatmu Aku Selalu Merasa Ingin Menciummu dan Memelukmu." Justin Berkata Sambil Memeluk Keira. Sedangkan Keira Tak Bisa Berkata Lagi. Ia Juga Merasa Aneh Karena Ia Tak Bisa Memukulnya, Padahal ia Sangat Marah.
"Aku Sudah Memasukan Nomormu, Nanti Aku Hubungi Kamu Kalau Aku Bertemu Denganya." Senyum Justin dan Menyentuh Wajah Keira Lagi Dengan Hangat. Keira Menepisnya dan Berjalan Masuk Ke Mobilnya Tanpa Menanggapi Justin Membuat Justin Hanya Bisa Menghela Nafas dan Melihat Kepergianya.