
Malam setelah perselisihan band itu Dani terbangun di kisaran jam 1 malam, tubuhnya entah kenapa pegal di bagian pinggang mungkin ini karena posisinya saat tidur, pegal itu membuatnya tak nyaman untuk ke dapur dan mengambil segelas air, tetapi ia tetap mengambilnya dan membasuh tenggorokannya yang sering kering di tengah malam. mungkin karena ia tidur terlalu cepat dari biasanya, hingga membuat ia terbangun seperti ini dan tak tau apa yang harus ia lakukan, matanya juga sudah tak mengantuk lagi, walaupun ia membalik balik posisi tidur tetap mati itu tak mau tertidur, Dhani pun memainkan handphonenya sejenak dan membaca web komik, tapi ia kehabisan komik yang sering untuk di baca hingga ia mencari game online untuk di mainkan. Game itu juga tak membuatnya ngantuk malahan jadi kesal Karena kekalahannya, akhirnya ia keluar dari game men scroll beberapa apps di handphonenya, hingga berakhir di media sosial yang ia jarang buka.
Dhani membuat lagi akun sosialnya dan saat ia melihat beberapa kata motivasi di beranda ia memutuskan untuk membuat media sosialnya menjadi tempat ia meletakkan karyanya, Dhani mulai menyalin beberapa puisi lama dan memposting, ia juga memfollow beberapa akun yang berakhir dengan follow back kembali. posting itu tak mendapati banyak like, tapi perlahan lahan aku itu akan tumbuh. Dhani sekarang menghabiskan seminggunya dengan mempostingnya di sosial medianya dan menumbuhkan aku nya menjadi 25 pengikut, dengan 150 akun yang di ikuti. latihan band yang biasanya terjadi di akhir pekan tidak bisa di laksanakan karena kurangnya personil, dan sekarang Dhani menghabiskan harinya dengan mempostingnya puisinya. Puisi puisi itu adalah puisi lama yang ia tulis, bagaimana dengan baru? ia tak pernah sedikitpun mempostingnya, sebab Puisi puisi barunya banyak di tunjukan untuk Sophia yang beberapa bahkan secara terang terangan menyebut nama Sophia. sekarang di malam itu ia merenung ia kehabisan sesuatu untuk di posting dan ia bahkan tak menemukan inspirasi untuk menulis, Dhani hanya duduk di kursinya dan terpaku pada sosial media. "ada peristiwa apa hari ini?" ia mencari berita yang mungkin akan memunculkan inspirasi untuk di tulis, tapi tak ada inspirasi yang datang, seakan ada sesuatu yang terasa mengganjal. Dhani berputar putar di kamarnya mencari dan mencatat inspirasi, menangkapnya dengan pikiran tapi lama lama itu benar benar membuat menjadi lelah, dan merebahkan dirinya di kasurnya. "hari ini hari Minggu seharusnya ada latihan" ucap batinnya. Dhani tak banyak menunjuk perasaannya, tapi ia sebenarnya kecewa dengan para personilnya, disisi lain ia juga merasa bersalah tak dapat banyak membantu
hari itu saat dirinya memasuki ekskul band di sekolah SMA nya, di sanalah mereka bertemu beberapa personil dan terkadang ia juga menceritakan mimpinya kepada teman ekskulnya yang terlihat juga memiliki hobi yang sama, mereka memulai band mereka, menciptakan lagu dan main di acara yang ada. Dhani saat itu tampil dengan gugup dan semangat, perasaan mendebarkan yang jarang ia rasakan, di saat ia di panggung dengan di tatap penonton saat itulah perasaan menjadi sangat bebas dengan irama musik yang ia mainkan, Dhani juga bersyukur memilih instrumen gitar bass, saat ia dengan bass-nya di atas panggung ia merasa memiliki dunianya sendiri dengan warna indah di setiap suara instrumennya. Dhani bukan pemain bass yang pandai, tapi sebenarnya ia yang terkadang paling menarik perhatian di atas panggung, hanya saja ia tak sadar.
__ADS_1
"sebenarnya apa alasan aku memulai nge-band? apa hanya untuk kesenangan sesaat itu?"
Dhani mulai merenung, memikirkan apa sebenarnya tujuannya?, apa ambisinya?, apa yang ingin ia capai? ia tenggelam begitu lama, ia mulai merasa akhir dari semua orang adalah kematian yang menunggunya, perasaan itu membuatnya makin tidak bersemangat, ia juga terpikir dengan beberapa orang yang mati sebelum mencapai tujuannya. dan pikiran pikiran itu membawa Dhani kembali kepada sang gadis yang tak sengaja membunuh semut di mimpinya. ya ia terlalu berpikir berlebihan, tapi seperti ini lah ia. otaknya penuh dengan ide tapi juga bisa membunuhnya di saat yang bersamaan.
Dhani sekarang benar benar teringat kepada Sophia, puisi puisi yang ia tulis rasa kekaguman kepadanya dan pesonanya. puisi pertama yang Dhani tulis soal Sophia ak terlalu menunjukkan kekagumannya, puisi itu di tulis setelah ia bermimpi soal gadis yang sangat mirip dengan Sophia, puisi itu bukan menjadi puisi kekaguman tetapi lebih ke pengertiannya kenapa sang gadis itu bertanya tanya soal semut dan kenapa ia bahagia soal itu, puisi itu tak memuji muji pesona Sophia tapi lebih ke Sophia yang tak bisa menjadi dirinya seperti semut yang di paksa berbaris mengikuti yang lain.
__ADS_1
Dhani kembali ke meja kerjanya, dan membuka sosial media. saat itu muncul foto Sophia yang sedang ber selfi dengan pakaian panggungnya hari itu di kota yang jauh, Dhani yang melihat itu memindahkan bola matanya tanpa sengaja menuju puisi pertamanya soal Gadis Sophia. Dhani berpikir sejenak dengan ide yang muncul di kepalanya untuk mengirim puisi ini ke sosial media, dan mungkin ia akan me-tag Sophia yang Instagramnya ia follow saat pertama kali membuat sosial media. Dhani benar benar mengirim puisi itu dengan cepat dan menandai Sophia di akhir puisinya, Dhani tak berharap banyak dengan balasan atau pun like, ia hanya merasa harus melakukannya, ia mungkin merasa dunia harus mengetahui perasaannya.
Dhani kembali ke kasurnya dan melemparkan muka ya ke bantal, ia bertanya apa yang akan orang pikirkan? ia tak masalah dengan ejekan orang orang, tetap apakah aneh untuk mengirim puisi ke seorang yang kita idolakan. ia benar benar tak bisa tidur, ia juga tak mau membuka handphonenya. sampai akhirnya ia memutuskan untuk membuka jendela kamarnya dan melihat langit malam, yang saat itu udaranya sangat dingin. Dhani melihat ke langit ibu kota yang tak ada bintang, ia terus menatap ke dalam, sampai langit itu terlihat bergerak bergelombang, seperti sebuah air laut yang menyentuh tepi pantai, Dhani tenggelam begitu lama tanpa menyadari sang bulan dan ibunya yang masuk ke kamarnya
"Dhan?"
__ADS_1
"ma..."