
Sophia terbaring di kasur hotelnya seperti biasa dengan musik di telinga, selepas ia pulang beristirahat dari konser minggunya di kota kota yang berbeda. malam itu tak ada yang spesial sama seperti hari hari yang telah ia lewatkan setelah pulang dari konser dan menginap di hotel untuk acara esok yang akan datang. Ia menarik nafas panjangnya, sambil kembali mengingat-ingat kenangan sebelum ia menjadi seorang Super star, perjalanan perjalanan dan langkah-langkah yang ia ambil membawanya sampai ke puncak ini.
sebenarnya apa yang membuat ambisinya begitu kuat untuk menjadi seorang bintang, sejak kecil pun ia tidak punya keinginan untuk menjadi seorang penyanyi yang terkenal, dulu ketika ia masih kecil ia pernah berkata kepada pembantunya yang selalu berada di sisinya dulu sekali, "ketika Nona besar Nona ingin menjadi apa?" tanya pembantunya. dirinya yang sangat naif saat dia kecil menjawab "aku akan menjadi seseorang yang dicintai, dicintai oleh ayah, oleh kakak, dan oleh ibu" jawaban yang naif itu direspon dengan senyuman oleh pembantunya yang sudah agak tua.
__ADS_1
terkadang Sophia bertanya-tanya apa jadinya jika ibu tidak meninggal ketika melahirkan aku, "apakah kakakku akan mencintaiku, apakah ayah juga atau..." Sofia tidak pernah melanjutkan kata-katanya, lebih baik ya tidak memecahkannya lagi, karena saat ia memikirkan itu dia akan menangis tidak di mukanya, tapi di sisi hatinya yang masih lunak.
Sophia menarik nafas dalam dan panjang untuk menenangkan dirinya, tetapi itu tetap mengganggunya pada akhirnya lalu Ia memutuskan untuk memainkan handphonenya dan membuka sosial media yang ia miliki. sosial media dengan jumlah pengikut yang banyak itu, sering mendapat like atau bahkan gangguan dari pesan spam. untuk mengisi waktu luangnya Sophia mengecek berandanya mengecek komentar orang-orang dan banyak lagi yang ia lakukan, pada akhirnya ia melihat sebuah kata-kata yang terpajang cukup panjang di sosial medianya, kata-kata itu bukan berasal dari akun yang sudah memiliki followers yang banyak tapi baru sedikit entah kenapa akun itu menarik perhatiannya untuk membaca setiap kata-kata kalimatnya, bukan itu saja yang membuatnya tertarik tapi judul yang menggunakan namanya dan orang tersebut menandai dirinya, ini sangat jarang terjadi seorang sebuah kalimat puisi kepada idolanya dengan isi yang tidak mewujud penampilannya ataupun memuji bakatnya, puisi itu seakan memberikan kritik untuk dirinya yang terlihat tidak menjadi dirinya. saat membaca puisi itu dengan perlahan Sophia sangat merasa tertarik ia bahkan memberi like dan memberi komentar untuk puisi tersebut ia sangat menganggap positif tersebut seakan menusuk sangat dalam tapi juga menenangkan di saat yang bersamaan.
__ADS_1
ini aneh, entah kenapa di akhir tidurnya Sophia yang mulai terlelap saat itu, tersenyum di penghujung waktunya. iya teringat puisi yang sangat bagus yang mengkritik dirinya tapi juga memuji dirinya yang ada di dalam, seakan puisi itu ditulis oleh seseorang yang benar-benar dekat dengan dirinya seseorang yang benar-benar mengerti apa yang ada di isi kepalanya, disaat yang persamaan Sophia merasa sangat penasaran siapa penyair itu. iya betul yang sangat berpendidikan dan Sofia membayangkan Ia adalah orang yang sudah sangat tua, seperti orang-orang bijak yang ia lihat di banyak kisah. Sofia mulai memberi pesan kepada sang penyair, seakan-akan saat itu dirinya men spesial penyair itu tapi ia tak peduli, lalu di penghujung malam sebelumnya tak tidur dia mengirim pesan pesan yang akan mengubah hidupnya dan menemukan orang yang spesial.
Dhani bangun pagi itu dikejutkan dengan notifikasi yang yang tidak pernah ia duga sebelumnya, iya terkejut dengan ID dari sosial media yang sangat ia kenal, iya terkejut sangat terkejut.
__ADS_1
hal ini membuat nafasnya semakin berat, dan di kepalanya penuh dengan harapan-harapan, lalu ia buka sosial medianya dan ia lihat like dan komentar dari puisi yang telah Ia buat, yang bagus malam ia posting. "aku merasakannya" ucap komentar itu, tak cuma sampai di situ terus yang medianya langsung di banjiri oleh para fans dari Sophia, ada yang memuji puisinya dan ada pulau yang mengatakan bisa melakukan lebih baik daripada dirinya. tapi Dhani tak peduli dengan itu hatinya benar-benar gembira dikejutkan dengan pagi yang begitu megah, bahkan ia merasa notifikasi itu lebih hangat dari matahari pagi yang menerpa kamarnya. tak cuman sampai di situ sapa hangat dari pesan sosial medianya, Sophia menggunakan kata-kata yang sangat sopan "apa kabar tuan, puisi yang indah" tapi Dani tidak mempersalahkan itu, toh Sophia juga tidak tau siapa dirinya. Dhani sempat berpikir apa yang akan Ia balas, kalimat apa yang akan dia ucapkan, kalimat indah kah atau kalimat yang biasa saja, Dhani terus berpikir sangat lama sampai ibunya datang dan mengajaknya sarapan. di meja makan ibunya menyadari Dhani tidak seperti biasanya, ia memandang handphone begitu lama seakan-akan ada seseorang yang menunggunya. Dhani pun nggak usah menghabiskan makanannya walaupun lama ibunya tidak masalah, Dhani juga biasanya makan lama, seakan-akan menikmati setiap momen saat ia mengunyah nasinya. tapi kali ini berbeda, ia tidak menikmati setiap gigitan sarapannya, tangan dan pikirannya fokus dengan handphonenya, kalau dilihat-lihat sebenarnya ia sedang tidak melakukan apa-apa. Dhani mulai menyadari ibunya telah menyelesaikan sarapannya, saat melihat itu tadi memutuskan untuk berhenti fokus ke handphonenya dengan menaikkan nada dering handphone itu cukup tinggi. ternyata sampai ia kembali di kamarnya Dhani belum membalas pesan dari Sophia, ia tidak menunggu ia hanya bingung. sampai akhirnya Dhani memutuskan membalas "terimakasih aku juga merasakannya" Dhani membalas pesan itu setelah kembali mengingat komentar dari Sophia. sekarang ini harus kembali fokus kemejanya, dan menghilangkan pikiran soal handphonenya ataupun balasan dari Sophia. tapi tetap saja dia tidak bisa ia seperti anak sekolah menengah pertama yang sedang jatuh cinta, walaupun itu cuma kekaguman atau pencinta monyet yang seperti orang bilang terkadang ia tak peduli dan tetap menunggu sang terkasih.
untuk mengisi waktu luangnya Dhani mulai membalas pesan satu persatu dari komentar yang masuk, tidak cuma komentar puisi yang membahas Sophia, tapi beberapa puisi lain sepertinya juga ikut naik ke permukaan. Dani tidak pernah semangat ini dalam hidupnya ia tidak pernah mempunyai orang yang ia kagumi, ataupun dia tidak pernah merasakan jantungnya berdebar-debar disebabkan oleh seseorang, iya tahu betapa indahnya sebuah seni, dia sering sekali menemukan seni entah itu lewat suara atau melewati visual, tapi bawa kali ini ia menyadari seni yang diciptakan oleh Tuhan, seorang gadis yang terlihat begitu sempurna tetapi juga begitu rapuh yang terlihat begitu indah di luar tapi juga begitu menyimpan banyak makna di dalamnya.
__ADS_1