
"Dok bagaimana kondisi anak saya saat ini"tanya Bu Lastri
"Kondisinya sudah semakin membaik, tapi ia masih harus dirawat untuk beberapa waktu"sambil menempelkan stetoskop di sekitar dada Ayu.
"Obat yang sebelumnya saya resep kan ke anaknya masih ada?"
"Sudah habis dok"
"Baik nanti saya resep kan kembali"
Hp Ica berdering, saat ia memeriksa ternyata telpon dari Setya, Setya selalu menanyakan kabar Ayu setiap harinya, hari ini Setya tidak menjenguk Ayu di rumah sakit karena ia ditugaskan untuk membuat soal ujian untuk anak-anak muridnya.
Ayu menangis entah apa yang membuat dia merasa begitu sedih harapannya seketika sirna melihat kondisinya saat ini. Kondisi psikologis Ayu memang belum bagus karena peristiwa perjodohan yang tidak ia inginkan, berkat kecerobohannya juga ia harus menelan pil pahit harus melewati masa-masa kritis dan kakinya lumpuh.
Menyesal pun sudah tidak lagi berguna ia harus menerima kenyataan hidupnya yang pahit demi mempertahankan cintanya kepada seorang laki-laki sederhana yang mampu mengambil alih di ruang hatinya, Setya bukanlah pemicu yang membuat Ayu mengalami kecelakaan hari itu, tapi cinta Ayu seperti bola yang jika yang jika terbelah dua akan kehilangan fungsi. Walaupun begitu harapan dihatinya masih sangat besar untuk bisa segera sembuh dan bisa mendapat restu untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama Setya.
Menangis bukanlah solusi hanya menambah rasa hampa ia harus bangkit karena seseorang yang sudah jatuh di jurang harus bisa mendaki naik kembali itulah yang ada dipikiran Ayu saat ini ia sedang berada dalam masa-masa yang sulit, lahir di keluarga yang kaya raya dengan hidup mewah serba berkecukupan tidak membuat Ayu merasa bahagia hal kecil seperti perhatian dari Setya lah yang mampu membuatnya bahagia.
"Bu,,, kenapa ibu melamun ibu lagi memikirkan apa? ibu lagi sedih yah?"tanya Ica wanita yang lebih dari sebatas asistennya itu
"Tidak apa-apa Ca, aku hanya merasa menyesal dengan tindakan ceroboh ku beberapa waktu lalu"
__ADS_1
"Sudah Bu tidak apa-apa segala sesuatu memang tidak bisa dipaksakan begitu pula dengan perasaan"
"Iyaaa,,, Ca"
Hari demi hari Ayu masih dirawat di rumah sakit sudah sekita sebulan ia di rawat setelah peristiwa kecelakaan itu walaupun lumpuh tapi kondisi sudah semakin membaik ia sudah bisa duduk dengan bantuan orang-orang disekitarnya dan sudah bisa makan kembali walaupun dia baru bisa makan bubur tapi hal itu patut untuk disykuri, Ayu kemudian duduk dan disuapi bubur oleh Bu Lastri itu pertama kalinya ia makan setelah sadar dari komanya.
Tidak tau bagaimana kabar Roy ia tidak pernah berkabar lagi kepada keluarga Bu Lastri begitu juga dengan Bu Dewi terakhir ia datang ke rumah sakit saat ingin menyampaikan pembatalan pertunangannya dengan Ayu, mungkin ia sadar jika seseorang hatinya bukan miliknya maka ia tidak bisa memaksakannya.
Ayu sudah merasa bosan berada di rumah sakit selama berminggu-minggu ia ingin pulang ke rumahnya
"Bu,,, Ayu bosan di sini Ayu mau pulang"
"Nanti kita tanya dokter dulu yah Yu kalau dokter izinkan pulang kita pulang kalau belum yah kamu sabar dulu nak"
Beberapa saat kemudian Bu Lastri menemui dokter untuk menanyakan apakah Ayu sudah bisa dibawa pulang ke rumah atau belum.
"Dok apakah anak saya sudah bisa pulang ke rumah dan di rawat di rumah dok? tanya Bu Lastri
"Untuk saat ini pasien belum boleh pulang Bu, ia masih harus dipantau oleh tim dokter mungkin beberapa hari lagi anak ibu sudah diperbolehkan pulang"ujar Dokter
"Baik dok"Bu Lastri kemudian kembali menemui Ayu dan menyampaikan pesan dari dokter, mendengar bahwa ia belum diperbolehkan pulang ia hanya bisa pasrah dan bersabar menunggu beberapa waktu lagi.
__ADS_1
Bu Lastri merasa sedih saat melihat kondisi Ayu yang murung, ia merasa menyesal karena memaksakan Ayu untuk berjodoh dengan Roy, ia dibutakan oleh status karena keegoisannya memicu terjadinya peristiwa yang hampir merenggut nyawa anak semata wayangnya itu, tapi sifat gengsi yang melekat pada diri Bu Lastri membuat dia enggan untuk mengakui kesalahannya hingga hari ini dengan dalih semua orang tua mau yang terbaik untuk masa depan anaknya, padahal Ayulah sendiri yang pantas menentukan masa depannya.
Di sisi lain seorang pria biasa yang hanya bermodal tekad dan kerja keras itu terlihat sedang menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh, selama ujian berlangsung ia tidak terlihat duduk ia hanya berdiri mondar mandir di dalam kelas, ia sangat menanamkan nilai-nilai kejujuran dalam masa baktinya sebagai seorang guru. Walaupun bisa dikatakan upah yang diterima oleh Setya tidak sebanding dengan kerja kerasnya selama menjadi seorang guru.
"Baik anak-anak silahkan mengumpulkan lembar jawabannya, waktu ujian sudah selesai"ujar Setya
Kemudian satu per satu muridnya maju untuk mengumpulkan jawaban dari soal-soal ujiannya
"Terimakasih atas waktunya hari ini saya pamit, assalamualaikum"kemudian Setya berjalan menuju ruang guru untuk memeriksa jawaban dari anak-anak muridnya itu.
Ayu termenung ia memikirkan Setya ia kembali memikirkan kalimat-kalimat yang pernah di ucapkan Setya Kalimat itu membekas di hatinya setiap kali ia patah semangat ia kembali mengingat pesan-pesan dari Setya.
"Pak guru itu meresahkan"Ayu menggumam sambil senyum-senyum sendiri
"Cieee,,,, ibu lagi mikirin apa ni pasti lagi mikirin pak guru itu kan?"ujar Ica dengan nada yang sedikit menggoda
"Apaan sih Yu tidaklah aku tidak memikirkan dia, aku males banget sama dia beberapa hari ini dia tidak datang untuk jenguk aku"dengan wajah yang kesal
"Sabar yah Bu,,, makanya ibu cepat-cepat sembuh supaya bisa ketemu dengan pak guru itu lagi, ekhem ekhem hahaha"candaan Ica itu bisa sedikit menghibur Ayu yang selama ini selalu murung.
Sementara perusahaannya yang dipimpin Ayu saat ini sedang diambil alih kembali oleh ayahnya terlihat ada penurunan dari perusahaan tersebut setelah Ayu mengalami kecelakaan hari itu, Ayu memang seorang pebisnis yang hebat ia sangat lihai dalam menjalankan urusan bisnis usaha milik ayahnya itu namun kondisinya saat ini membuat ayahnya kewalahan mengurus semua perusahaannya sekaligus, karena perusahaan ayah Ayu sudah banyak bahkan sudah sampai ke luar negeri,
__ADS_1
Ayu adalah anak semata wayang hanya dia yang bisa diandalkan oleh ayahnya bukan tanpa alasan ia merupakan lulusan terbaik di universitas ternama di US, dan memiliki banyak prestasi andai saja ibu Lastri tidak egois memaksa Ayu untuk berdojoh tentu saja musibah seperti itu bisa dihindari namun seperti itulah kenyataannya saat ini.