Permata Dari Negeri Ginseng

Permata Dari Negeri Ginseng
episode 09


__ADS_3

Euna Pov


"Bruaaakk!!" Ku banting pintu kamar itu cukup keras. Suaranya cukup untuk membuat siapapun terlonjak kaget.


Eits, Jangan salahkan aku loh ya. Lelaki itu yang memulai semuanya. Siapa yang tidak marah jika seorang gadis sepertiku disuruh menunggu diluar selama itu? Ani-ani! (Nggak-nggak!) aku tidak mau membahas perihal kesopananku sekarang ini! Dianya saja yang keterlaluan!


"Uuuuuhhh!!!!! Padahal kan udah kubilang dari kemarin-kemarin!" Kukeraskan rahangku saking gemasnya. Kulempar tas itu sembarangan, bersama sweater abu-abu yang kukenakan.


Dengan wajah gondok kuhempaskan tubuh semampaiku diatas empuknya kasur. Huaa, capek banget! Udah gitu sampai rumah harus kekuncian begitu.


Astaghfirullah, meski aku tak menyukai kepribadian laki-laki tapi diantara semua lelaki kurasa hanya dia yang paling menyebalkan.


Eh? Emang aku ketemu laki-laki ya? Kan sekolahku khusus perempuan? Yah pak guru dan kepsek? Mereka masuk list kan? Ah, pokoknya dia paling parah!


"Hmph! Eoliseog-eun."


("Hmph! Bodoh.") Desisku dengan pipi yang menggembung.


Karena ruangan dirasa cukup gelap, ku beranjak membuka jendela. Karena kamarku di lantai dua, dan kebanyakan rumah penduduk tidak tingkat, maka pemandangan menyegarkan sedikit terlihat di ujung mataku. Langit jingga berhiaskan kepakan burung-burung yang melayang diatas udara.


"Suasana mau sunset, ya." Bibir tipisku berucap pelan.


Kubiarkan angin meniup pelan helai rambutku. Sensasi nyaman langsung terasa saat kulit wajahku diterpa belaiannya.


Tak mau berlama-lama, kulangkahkan kakiku menuju meja rias. Tanganku bertumpu diatas permukaan, ketika pandanganku sibuk menatap wajah kusut yang terpantul dibalik cermin. Kacau sekali.


"Umm.. Tapi.. Oppa kok nggak ada usaha minta maaf?"


Aku menggigit ujung jariku, pikiranku kembali menepis hal-hal negatif yang mungkin akan terjadi nanti.


Kini tanganku mulai menyisir rambutku yang menjuntai tak beraturan. Hmm, apa harus aku potong sedikit? Sepertinya agak panjang.


Teman-temanku bilang rambut orang Korea bagus-bagus. Umm, Tapi kurasa mereka bohong deh. Soalnya habis bangun tidur rambutku selalu kusu. Eh, apa semua orang gitu ya? Hihi, Padahal kan aku tidurnya kalem kok!


Nggak kayak kedua temanku itu. Ih, apalagi kudengar dari Sarah, Linda yang kalo tidur kakinya ke mana-mana!


Saat ku mulai menata rambutku. Pantulan mataku menangkap sebuah bingkai kecil disamping tempat tidurku. Melihatnya aku terdiam, lalu senyum tipis teruntas di bibirku.


Aku menghampirinya, dan dapat kulihat jelas gambar bayi yang tengah digendong oleh seorang wanita cantik berkulit putih. Dapat kulihat raut bahagia terpancar pada wajahnya.


"Abeoji.."

__ADS_1


("Ayah..")


Bibirku bergetar kala menyebut kata itu. Jemari ku menyentuh permukaan kaca yang melapisi foto. Bukan, lebih tepatnya menyentuh gambar pria tampan yang tampak berwibawa dengan jas yang membalut tubuhnya.


Wajahnya berkharisma dengan senyuman yang menawan. Daihan Hae, Ayahku. Meninggal di usianya yang ketiga puluh tiga tahun.


Aku tak mengingat jelas kejadiannya, karena saat itu aku masih sangat kecil untuk mengetahuinya. Tapi yang kutahu abu kremasi ayah adalah hal yang terakhir kali kulihat.


Meski ingatanku masih samar, tapi tak pernah kulihat ibu sedepresi itu dalam hidupnya. Setelah itu Ibu berusaha keras menghidupi kebutuhan kami, tapi aku tidak ingat pernah dibawa olehnya ke tempat kerja. Mungkin aku lupa? uhh, geugeos-eul mandeul su issni? (Uuh, apa boleh buat kan?) Aku benar-benar tak ingat apa yang terjadi selanjutnya.


Yahh, meski begitu, dilihat dari manapun mereka adalah pasangan Korea yang serasi, bukan? Ibuku dengan kecantikannya yang natural, dan ayahku dengan kegagahan yang tak terlukiskan. Dan itu terwaris padaku, puteri semata wayangnya.


Bukan sombong, tapi meski aku lahir di Seoul, aku adalah keturunan asli dari Mi Kwan Hae, sang bidadari Hangug.


Hihihi apa aku berlebihan? Tapi sungguh, bahkan diantara para gadis cantik lain para warga sekitar masih memuji keindahannya.


Senyumanku beralih ketika melihat foto lain yang terbingkai indah di sebelah foto tadi.


Haa, aku ingat betul kapan dan dimana lokasi ini di ambil. Ini saat pertama kali ibu membawaku ke indonesia setelah ia menikah lagi. Dan angle ini diambil di halaman rumah baru yang ayah tiriku beli setelah ia menjual rumah lamanya.


Jangan tanya kenapa ia menjual rumah lamanya. Suasana baru mungkin? Aku tidak terlalu mengerti.


("Ibu cantik ya")


Inilah keluargaku saat ini. Tampak Ibuku, Mi Kwan Hae yang saat itu masih bersama kami. Tengah tertawa renyah berada dalam pelukan ayahku.


Dialah ayah tiriku, Satria Purnama. Pria berkebangsaan Indonesia yang berhasil melamar ibuku setelah perjuangan kerasnya. Bukan dengan bujuk rayu semu, melainkan dengan sikap pantang menyerah setelah beberapa kali ditolak Ibuku.


Tentu saja, itu baru beberapa lama sejak kematian ayah, begitu menurut ibuku. Makanya dia sulit untuk menerima kehadiran lelaki untuk masuk ke dalam hatinya.


Kini, saat kami sudah menjadi keluarga utuh, ibuku justru menyusul ayah kandungku ke surga.


Tahun lalu, Ia meninggal karena kecelakaan. Tak perlu kukatakan bagaimana kehancuranku saat itu. Aku bahkan tak ingin mengingat kejadian itu lagi.


Dibawah kaki pasangan bahagia itu, terlihat dua orang anak yang sibuk sendiri dengan urusannya. Seorang bocah lelaki nakal dan anak perempuan yang terzholimi.


Lihat saja bagaimana ekspresi nya saat berlari mengejarku! Mengerikan sekali!


Ia dengan stelan penuh lumpur membawa sekantung penuh berisi cacing tanah. Jangan samakan usaha kerasnya dan pantang menyerahnya (mencari cacing) dengan usaha ayah saat melamar ibu. Itu berbeda. Jauh berbeda.


Dan aku yang seorang adik belianya hanya bisa menangis berkata ‘Abeoji! Abeoji’ karena ‘orang itu’ berniat melemparkan cacingnya padaku. Itu yang membuatku menjauhinya.

__ADS_1


Dia sangat nakal untuk anak seusianya, dan b*doh. B*doh yang kumaksud bukan berarti dia bodoh dalam sisi akademik. Maksudku kelakuannya sangat konyol, dan parah dalam membaca situasi. Aku tak ingat apa yang membuatku dekat kembali dengannya.


Huahh, Oppa ya? Kapan ya aku terakhir kali nganggep dia keren?


Kutatap wajah dalam foto itu lekat-lekat. Itu sudah sangat lama sekali sepertinya.


Fikiranku berputar, menarik lintasan kejadian yang bersemayam dalam kepalaku.


"Yah, kalau mengingat saat itu....."


Seuntas senyum terukir di bibirku saat akhirnya aku bisa mengingat saat itu.


Kejadian itu sekitar satu tahun semenjak kami bertemu pertama kali. Saat itu aku masih menjalani home schooling ku. Umm, mungkin saat Oppa menjalani tahun pertamanya di SMP.


*flash back 5 tahun yang lalu


"*Hei, Agi. igeo gwaenchanh ni?"


("Hey, Sayang. Ini beneran nggak apa-apa?") Tanya ibuku kepada Ayahku.


"Iya, sayang. Nggak perlu khawatir. Inget ya Syam. Karena sekarang kamu udah SMP kamu harus jagain adik kamu. Kalo udah selesai main, jangan mampir kemana-mana dulu. Langsung pulang. Udah sore. Kamu ngerti, Nak?"


"Hm-emm.." Jawab kakakku sambil mengangguk.


"Ini uang jajannya ayah taruh di meja ya."


"Hm-emm.."


"Syam, jal deul-eola! eomoniwa abeojineun jeongmallo geogjeonghago iss-eoyo."


("Syam, dengerin! Ayah dan ibu bener-bener khawatir.")


"Nee-Neee, Eomoniga. Ihaehayo-ihaehayo!"


("Iyaa-Iyaaa, Ibu. Aku ngerti-aku ngerti!")


Aku terkikik geli mengingat orang yang tengah memboncengiku saat ini, beberapa saat yang lalu sempat menolak dengan wajah ngantuknya.


Saat itu ia masih di tempat tidur menutup kepalanya dengan bantal. Kuintip dari belakang, eksperesinya sekarang masih sama, wajah bosan dengan bibir yang mengerucut kecil*.


bersamsung...

__ADS_1


__ADS_2