
"Haaaa!! Masissoyo!"
("Haaaa!! Enak!")
Aku hanya minum secangkir teh hangat sambil melihatnya makan rolade-ku dengan lahap. Ia tersenyum senang, nampaknya dia menikmatinya.
Berbanding terbalik denganku. Nafsu makanku tiba-tiba saja hilang. Bayangan kejadian tadi tak bisa lepas dari pikiranku. S*alan! Kalau teringat kelakuanku tadi, setan apa yang merasuki tubuhku?
"Oppa, Meogji Anhayo?"
("Kak, nggak makan?")
Mataku menatap kosong rintik hujan yang mulai mereda. Aku terus berpikir, bagaimana kalau Euna tahu? Dia pasti akan membenciku dan menganggap kalau aku maniac siscon.
"Hei hei, Oppa? Deul-eoss-eo?"
("Hey hey, Kak? Kamu denger?")
Bagaimana jika ayah tahu? Aku akan diusir dari rumah, dan di cap bukan lagi anak kebanggaannya. Seketika sarafku melemas. Rasanya aku tak kuat berdiri.
"Oppa?"
"OPPA!!" Seru Euna keras.
"Eh? Kenapa?" Aku terkejut. Kulihat pantulan sinar kekhawatiran dari matanya. Mungkin dia bisa melihat keringat dinginku yang menetes sekarang ini. Bahkan aku bisa mendengar suara nafasku yang memburu.
"Oppa nggak makan?"
"Oh, kakak belum laper. Kamu duluan aja. Nanti kakak makan di sekolah paling." Ucapku.
Tapi tiba-tiba Euna menghentikan aksi makannya. Aku mengernyitkan dahi, heran.
"Kenapa?" Tanyaku. Wajahnya memerah. Aku langsung saja menyadari sesuatu.
"I-Ini.." Pipihnya menggembung, lidahnya seperti memisahkan sesuatu didalam mulutnya. Gawat, dia sadar! Padahal aku sudah mencincangnya sehalus mungkin!
"Woohh-woohh, mau apa kamu? Jangan dibuang! Kalo kamu buang, kakak nggak akan masakkin kamu lagi. Biarin kamu makan mie aja tiap hari!" Ancamku. Euna dengan ekspresi lucu hanya melotot tak terima.
"Hmpppwwhh?!? Wwssoggyyeo!! Oppwa newomwu jwan-in whae!"
("Hah?!? Curang!! Kakak kejam banget jadi orang!")
Hardik Euna sambil tetap membiarkan makanan di dalam mulutnya. Ia merengek menginjakkan kakinya ke lantai.
"Huh? Ngomong apa ya? Nggak jelas tuh!" Aku pura-pura tidak paham. Ia nampak kesal. Kemudian ia terburu-buru ke toilet. Aku tak kuasa menahan tawaku.
"Uwwweekkh!! Hiii jeongmal meseu!"
("Uwwweekkh!! Hiii eneg banget!") Ujarnya geli setelah kembali duduk.
Wajahnya menunjukkan raut 'nggak mau kenal lagi yang namanya wortel'. Bibirnya manyun dengan mata yang menatapku sinis. Aku mengambil sendok plastik dan mengetukannya ke kepala Euna.
"Aaahh... Oppa!! Apayo apayo!!"
("Aaahh... Sakit-sakit!! Kak")
Aku hanya menghela nafas.
"Kamu itu ya. Bentar lagi kan mau naik kelas 2. Jangan pilih-pilih makanan. Kasian ayah kan kerja buat kita." Tegurku.
"Hmph! Aku nggak mau denger dari orang yang bahkan gamau makan masakannya sendiri!" Cibirnya.
"Heh, Kakak tuh cuma lagi males makan."
"Oppa-ssi Geojismal jaeng-i!! (Kakak pembohong!!) cuma menghindar karena takut makanannya nggak enak."
"Apa kamu bilang?! Kalo aku takut aku nggak bakal ngehidangin itu buat kamu!"
"Geojismal jaeng-i"
("Pembohong.")
"Adek kurang aj*r!"
__ADS_1
"Geojismal jaeng-i"
("Pembohong.")
"Hei, kam-"
"GEO-JISMAL-JAENG-I!"
("PEM-BO-HONG!") Ucapnya dengan penekanan ejaan.
"Grrr... Berhenti ngomong pake bahasa Korea! Kamu kan udah belajar dan tinggal di Indonesia!!" Ucapku yang langsung membuatnya terdiam.
Seketika aku ingin menarik ucapanku saat itu juga. Muka protesnya sudah benar-benar menghilang dan kini ia tertunduk. Lama kami terdiam dari suasana benar-benar canggung.
"Ne, Oppa. Mian. Na neun... Babocheorom?"
("Ya, Kak. Maaf. Aku... Kayak orang bodoh ya?") Gumamnya. Suaranya kecil sekali.
"Aku rela Oppa-ssi minta apapun, tapi aku nggak mau berhenti ngomong bahasa Korea... Karena....."
Dia menatap tepat ke mataku. Sebuah senyum membungkamku dalam kebekuan tanpa kata.
"Ini hadiah terakhir ibu yang ingin terus aku jaga. Aku ingin terus mengingatnya."
Setelah berkata begitu Ia segera membereskan piring kotor kami dan memakai tas ranselnya. Aku menyadari setiap saat aku melukainya karena kebodohan dan ketidak sensitifanku. Dan kini aku mengulangnya kembali dengan cara yang sama.
"Ayo, Oppa! Kita berangkat!"
Euna, dengan almameter biru mudanya berdiri di daun pintu. Menunjukkan senyum seperti tak ada yang terjadi.
Aku tak bisa menariknya kembali. Perkataanku. Aku benar-benar muak dengan ketololanku sendiri. Aku berjanji, akan selalu melindungi dan membahagiakannya. Getar nada sms mengalihkan pandanganku. Sebuah nomor tak dikenal?
From: +62878297*****
Received: 6.30 Am
***Makasih udah dianterin kemarin ^_^ gimana untuk ucapan terimakasih, aku undang kamu makan di rumahku minggu siang? kalo kamu punya waktu luang, datang aja kerumah ya
~•~
Cirebon, 21 Februari 2016
09.30 WIB
"Hei, Oppa Kayaknya aku mau belajar kelompok di rumah temanku! Hari minggu, kan libur tuh!"
"Oppa? Kunci duplikatku rusak! Kalo mau pergi kuncinya taruh di pot aja ya?"
"Hei hei, Oppa! Bantu aku ngerjain PR dong!"
"OPPA! Bikinin rolade lagi! Errr, Tapi aku liatin biar ga dimasukin wortel!"
"Hei, Oppa! Oppa sembunyiin dimana pakaian dalem aku! Oppa yang jemur kan tadi? Ayo ngaku!"
"Huaaaaahh.. " Aku menguap, menghembuskan rasa lelahku ke udara. Beberapa hari ini di rumah membuatku sakit kepala.
Terlebih Euna sedang benar-benar cerewet. Oppa ini, Oppa itu. Apalagi omongannya yang kemarin sore. Bayangkan saja, masa iya aku dituduh menyembunyikan bra dan celana dalamnya? Apa dia kira aku benar-benar mesum?
Yahhh, untuk beberapa alasan... Yang kemarin pagi sih, sebuah pertentangan bergejolak di batinku. Aku terdiam.
Aku harus lebih berhati-hati. Jangan sampai aku menjadi hilang kontrol seperti kemarin. Yang pada akhirnya akan menghancurkan nama keluargaku. Aku masih beruntung Euna tidak menyadarinya. Dan yang lebih penting, hari ini adalah hari sabtu, seharusnya hari ini sekolah libur karena rapat guru.
Tadinya hari ini akan aku gunakan untuk olahraga di rumah atau berjalan-jalan di sekitar komplek. Kemudian disambung dengan istirahat sepanjang hari atau menonton film hasil download semalam. Impian weekend ku itu tentunya akan terjadi, jika saja aku tidak mengikuti acara mengecat kelas yang dilakukan serempak hanya untuk kelas 12. Berengs*k!
"Syam! Sebelah sono, noh! Yang rapi kenapa ngecat nya!" Omel cewek berkacamata yang memperhatikanku dengan raut menyebalkannya! Dia adalah ketua kelas kami.
Groaaah! Aku masih memaafkanmu karena kamu cewek!
"Yaaa-iyaaa.." Ujarku malas dan mulai membelai permukaan dinding dengan bulu-bulu kuas yang kasar.
__ADS_1
"Bisa nggak sih ngecatnya, Syam?! Cowok kok bisanya baca buku doang."
F*ck! Ini cewek gue bakar lama-lama, pikirku. Gigiku sudah bergemeretuk menahan emosi. Emang bener gue suka baca, tapi nggak kayak gitu juga!
"Pssstt-pssstt!!" Suara bisikan terdengar dari sampingku. Siapa lagi kalau bukan pria berambut kribo yang bernama Dimas Saputra. Tak populer, berkacamata, penampilan sedikit ruwet, dengan brewok yang sudah mulai tumbuh. Itu mungkin pendekskripsianku tentang Dimas. Tersungging cengiran khasnya saat melihat wajahku yang dilanda kesuraman.
"Apa!"
"Ckck, masih muda emosian mulu. Kayaknya lu lagi dapet ya?"
"Sotoy lu. Asem bener, kejebak acara beginian."
"Tenang Lur (Bro), gue punya solusi untuk masalah lu. Daripada lu terfokus sama ketua yang hobinya marah-marah doang. Mending lu liat tuh Diana, beeuuh... Kan maaeeenn!!" Aku mengikuti arah matanya yang menunjuk seorang gadis berpakaian olahraga. Oh shit!
Jelmaan seorang dewi berparas menawan duduk diantara para gadis pribumi. Kecantikan naturalnya begitu terpancar, menggugah mata hina para hamba sahaya yang bekerja penuh keputusasaan di tempat ini.
Bulu mata lentik mewarnai pandangan ceria di mata teduh itu. Senyumnya yang begitu berseri menampakan keanggunan yang tak terkira. Aku tau, meski tak begitu terlihat. Ekor mata para lelaki di kelas ini pasti menengok sekali dua kali kepadanya.
Pakaian olahraga yang dia kenakan begitu ketat, hingga menunjukkan keindahan lekuk tubuh bak permaisuri kerajaan.
Bantalan besar nan erotis yang memegang aset penting bagi setiap wanita, kini terpajang jelas memberontak diantara kaos yang ia kenakan.
Inilah keindahan yang sebenarnya! Bulir-bulir keringat letih disekitar leher jenjangnya bercampur dengan noda-noda cat basah. Membuat kerongkonganku mengering.
"Heh! B*go! Si Diana ngeliatin lu dari tadi!"
"Heh?" Perkataan Dimas menyadarkanku. Terlihat wajah Diana memerah menemukanku yang melihatnya. Oh sial*n! Tapi tak lama ia menunduk malu dan kembali mengobrol dengan teman-temannya.
"Gue ngasih tau elu bukan berarti elu harus gimana gitu ngeliatnya! Biasa aja!" Dimas kemudian tersenyum dan mengangguk ke Diana seakan meminta maaf karena perbuatan teman bejatnya. kok aku merasa berdosa ya?
"Tch, amatir." Ia berdecih merendahkanku. Sial*n ni anak, pikirku.
"Maaf" Ujarku pelan kembali fokus ke pekerjaanku. Tiba-tiba aku teringat undangan makan siangnya esok hari. Mudah-mudahan tidak jadi canggung karena masalah ini. Aku berjanji akan datang dan menebus kebodohanku hari ini!
Kami mengecat kelas hingga serapi mungkin. Butuh waktu lama hingga bisa memenuhi standar ketua kelas. Tapi syukurlah pekerjaan ini selesai juga. Setelah membereskan banyak peralatan kami pun berkemas pulang. Diana tiba-tiba menghampiriku yang sedang mengobrol dengan Dimas.
"Hei, Syam!" Ucapnya yang membuat jantungku seakan berhenti. Jangan-jangan mau nampar gue lagi gara-gara ngeliatin dada dia, aku benar-benar panik. Tetap saja meski kami sudah berteman lama, yang aku lakukan barusan itu tindakan kurang ajar.
Wajahku pucat, hingga aku merasa suara jantungku akan di dengar olehnya. Terlihat dia tersenyum seperti biasanya. Eh? Dia nggak marah?
"Aku hari ini dianter papahku. Jadi aku duluan ya?"
"Oh, oke." Jawabku singkat seraya mengangguk.
"Kamu... Tidak apa-apa kan pulang sendirian?" Dia sedikit berhati-hati dengan omongannya. Ya, akhir-akhir ini ia semakin melekat padaku. Kalau tak ada yang menjemputnya aku selalu dijadikan pilihan untuk mengantarnya pulang. Bahkan papah mamahnya pun mengenal keluargaku dengan baik.
Tentu, kami tetangga! Bahkan mereka ikut melayat ke pemakaman ibu. Meski begitu, mereka sebenarnya hanya bertemu beberapa kali dengan orang tuaku, dan karena aku tak pernah mengajaknya ke rumah, jadi Ia belum mengenal Euna, adik menggemaskanku.
Diana hanya tau dari mendiang ibuku kalau aku punya adik perempuan, begitu pula dengan papah dan mamahnya. Sepintas mataku kembali melihat ke dada supernya yang menyembul dibalik pakaian olahraga. Tapi segera kualihkan pandanganku.
"Hmm? Kok nanya gitu? Gue biasa kok pulang sendirian." Ujarku enteng sambil mengenakan ransel di punggungku.
"Uuuuu, kacian. Ditinggal tuan puterinya pergi." Pemuda kribo disampingku mulai melancarkan aksi meledeknya.
"Berisik..!!" Cibir kami berbarengan. Kami yang menyadari itu lantas langsung tertawa.
"Yaudah aku pulang ya?" Ia menunduk menatapku, senyuman tak lepas dari bibirnya.
"Oke. Gih, sana pulang."
Namun tiba-tiba Diana menarik seragamku dan mendekatkan telingaku ke bibirnya yang mungil. Sempat kulihat Dimas terkejut dengan mulut terbuka.
"Papah mamahku besok nggak ada dirumah lho.." Bisikan Diana membuatku terbelalak. Ia hanya tersenyum saja dan berlalu sambil memeletkan lidahnya. Dimas termangu menatapku.
"Heh, bro. Lu bener-bener nggak punya rasa sama Diana?" Mulutku terkatup. Enggan untuk menjawab. Bukan karena aku pengecut hingga tidak bisa berkata 'ya' dan 'tidak' atau semacamnya. Kami kenal sudah cukup lama, dan bukan hal yang aneh kalo tiba-tiba kami pacaran. Hanya saja.. Entah kenapa aku ragu.
Dimas menepuk pundakku.
"Gue cuma pesen. Mungkin nggak melukai itu mustahil, tapi jangan kecewakan apa yang dia percayai tentang lu. Ambil keputusan, buang ego dan keinginan alamiah cowok lu buat 'bermain-main'. Karena gue bisa liat ketulusan dia buat lu. Meski lu punya sobat ancur macam gue. Tapi gue mohon..... Jangan jadi orang berengs*k kayak gue..!"
Seorang PK (penjahat kelamin) yang kukenal bertahun-tahun, berganti-ganti gadis dan wanita, sekian ranjang yang telah ia tiduri bersama partnernya merengkuh kenikmatan dunia. Kini menatapku dengan sorot mata tajam. Pantulan wajahku pada iris itu menyatakan bahwa ia tak main-main!!
Bersambung..
__ADS_1