Permata Dari Negeri Ginseng

Permata Dari Negeri Ginseng
episode 02


__ADS_3

Baik, Inilah rumahku. Rumah 2 tingkat berukuran cukup besar. Pagar rumah itu kugeser dan kuparkirkan motorku. Begitulah, keluarga kami memang tidak punya pembantu.


Di mulai dari saat itu. Yah, sudah kubilang ada beberapa alasan yang membuatku harus mandiri saat ini. Setidaknya mengurusi hidupku sendiri. Meskipun aku tidak benar-benar sendiri.


Heh? Kayaknya Ayah belum pulang? Serta merta aku disambut dengan keadaan gelap gulita. Eh ini....


"Mati listrik? Tumben banget."


Aku menekan saklar lampu berkali-kali, tapi tetap tidak menyala. Sepertinya ada kerusakan. Mungkin nanti akan coba kuperbaiki. Aku mengeluarkan senter kecil dari dalam tas dan mulai berjalan masuk. Sialan, perasaanku jadi tidak tenang.


"Aku pulang! Ada orang di rumah?" Seruku namun tak ada jawaban. Benar ayah belum pulang. Aku masuk ke dapur, mengambil sebotol minuman isotonik dari kulkas, dan menaiki tangga.


Aku menyorot kamar mandi dan dua kamar diatas. Sudah kuduga, rumah ini sangat sepi. Terlebih saat Ayahku pergi mengurus perusahaannya. Dan perusahaan ayahku cukup jauh, di Jakarta. Hanya sedikit waktu yang Ia habiskan di rumah. Itu pun jika ia sempat untuk pulang. Ini sungguh keterlaluan, jika mengingat Ibu sudah....


Meninggal.


Itu belum cukup lama, mungkin sekitar setahun yang lalu. Dan kehilangan ibu benar-benar memiliki dampak yang cukup besar untuk kami.


Meski Ia hanya ibu tiri, tapi ia sangat menyayangi kami, keluarganya. Maka dari itu, saat kepergian ibu menguak luka yang begitu dalam di hati kami. Untukku, Ayahku, dan untuk..


Puteri kandungnya.


"TAK!!" Ada sebuah suara di dalam kamar yang aku sorot. Aku membuka pintu, rupanya tak dikunci.


Siapapun itu aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena gelap. Yang aku lihat tubuhnya yang berbalut gaun tidur itu bergetar. Rambut panjangnya menutupi seluruh wajahnya. Aku berjalan mendekatinya, namun ia tak bergeming dan hanya meringkuk memeluk kedua kakinya.


"Oppa, Eoseo-oseyo."


("Selamat datang, Kak.") Suara getir bercampur dengan isakan membuatku terhenyak dan menjatuhkan senterku.


"E-euna.." Gumamku. Tubuhnya melompat menubrukku dan mulai memukuli wajahku. Nggak sakit sih, tapi tetap saja.


"Oppa nan niga miwoyo! Miwo-miwo-miwo!!! Oppa motdwaeyo!"


("Aku benci banget sama Kakak! Benci-benci-benciii!!! Kakak itu jahat banget!") Teriak gadis ini di depanku sambil menangis.


Benar juga. Ayah mengajariku untuk hidup mandiri semenjak kepergian Ibu. Ia sengaja untuk memberhentikan pembantu di rumah ini agar aku tidak menjadi anak pemalas dan hanya merepotkan orang lain.


Sebab, mulai saat ini dan seterusnya aku yang akan direpotkan orang lain. Ada seseorang yang harus kulindungi saat ayah tak ada di rumah. Gadis ini. Euna Myung Hae, malaikat terakhirku dan salah satu permata di rumah ini. Dialah puteri kandung ibuku, aku masih ingat Ia terus menangis dan mengurung diri di kamar setelah ibu dimakamkan.


Haha dasar t*lol aku ini! bisa-bisanya aku nggak nyadar ada Euna di dalam rumah! Jelas saja, dia kan takut gelap. Belum lagi dia sendirian! T*lol! T*lol! To*ol! Aku merutuki diriku sendiri. Aku tidak mau kejadian yang sama terulang lagi.


"Ahahaha, kakak kira kamu lagi ada di luar jadi kakak kira..... Ahahahaha.."


Aku tertawa mencoba untuk meredakan rasa takutnya. Tapi sepertinya.....


Garing ya?


Aku memeluk tubuhnya yang menindihku. Posisi kami sangat rapat sekarang. Wangi parfumnya menyeruak masuk ke dalam hidungku. Hmm, rupanya dia baru selesai mandi.


"Hahhh, Mian, Oppa jalmosheyo."


("Hahhh, Maaf ya. Ini salah Kakak.") Ucapku dengan bahasa Koreaku yang pas-pasan. Astaghfirullah kenapa aku sulit sekali menghafalnya.


"Kenapa kakak nggak ucapin salam?" Gumamnya di pelukanku. Sejak Ibu tiriku dan ayahku menikah, Euna mempelajari bahasa Indonesia. Karena kami bertemu dari kecil, Ia jadi cukup fasih dalam berbahasa.


Namun ada beberapa situasi yang membuat Ia tak tahan untuk mengeluarkan bahasa aslinya. Seperti saat takut atau marah.


"Udah kok. Kamu nggak nyadar tuh. Padahal Kakak teriak tadi."


Karena pegal aku membenarkan posisiku dan duduk bersandar pada dinding. Seakan tak mau aku kabur, Ia segera merangkak dan membenamkan kepalanya di dadaku.


"Kamu benar-benar benci gelap ya, Euna?" Euna hanya terdiam. Keheningan melanda kami.

__ADS_1


Tapi ini membuktikan bahwa aku masih terlalu bodoh untuk menjadi kakak yang baik untuknya. Dia yang berusia 2 tahun lebih muda dariku. Jelas aku harus menjaganya!


"Bzzzztttt!!" Lampu tiba-tiba menyala. Mataku berkedip menyesuaikan cahaya terang yang memasuki retina ku. Satu hal yang aku lihat pertama kali adalah kepala gadis dengan rambut hitam panjangnya. Dress hitam tanpa lengan itu tak mampu menutupi kulit lengannya yang putih dan tampak bersinar tertimpa cahaya lampu.


Aku membelai helai rambut yang masih basah itu. terlihat ia sempat menaruh pita kecil di rambutnya. Aku tersenyum, dari dulu ia memang menyukai hal-hal yang imut.


"Hei, udah nggak apa-apa sekarang. Yuk berdiri?"


Perlahan ia mengendurkan pelukannya. Aku membimbingnya berdiri. Wajahnya mulai mendongak menatapku. Mata itu sembab seperti menangis berjam-jam. Namun tak mengurangi wajahnya yang manis dan lugu. Poninya menutupi kening dengan bibir tipis dan hidungnya yang kecil dan mancung.


Aku terkesima dengan hal yang terpampang di depanku. Sekarang jemari lentik nya mulai mengusap air matanya.


"Oppa neo babo gat-eun!"


("Dasar kakak bodoh!") Ia berkata dengan suara serak. Ia mengenggam erat-erat bajuku. Aku hanya terdiam takjub untuk beberapa saat.


Teman-teman, inilah kenapa aku tak mau mengundang kalian main ke rumah. Inilah kenapa aku bertahan dengan status jombloku hingga akhir masa SMA. Aku hanya tidak ingin kalian tahu.


*Aku Syam Hendra Purnama. Di umurku yang kini menginjak 18 tahun. Untuk beberapa alasan, aku memiliki seorang adik perempuan. Untuk beberapa alasan, Adikku adalah keturunan asli Korea. Dan untuk beberapa alasan, Aku merasa permata menjadi lebih indah dan aku menyukainya, sebagai......


Adik perempuanku*.


 


~•~


 


Aku membuka mataku perlahan. Berkas sinar mentari yang masih redup bahkan terlalu terang untuk penglihatanku.


"Mimpi itu lagi, ya?" Aku menutup mataku dengan satu lengan. Hawa dingin yang menusuk datang melalui lubang ventilasi jendela. Padahal AC sudah kumatikan. Bau tanah basah ini mengingatkanku bahwa ini masih musim penghujan.


Aku beranjak melangkah gontai dari pembaringan menuju kamar mandi. Aku biarkan air dingin menyapu tubuhku dari sisa belaian mimpi. Setelah memakai seragam sekolahku, aku segera menutup pintu kamarku.


Mi Kwan Yeun. Wanita Korea yang membuatku mengenal apa arti dicintai seorang ibu. Aku bukanlah janin yang ia kandung, aku tak pernah ia lahirkan ke dunia ini. tapi ia mencintaiku tanpa menuntut kondisi itu.


Mi Kwan Yeun, nama belakang keluarganya adalah Taci Yeun. Namun Ia dan putrinya Euna masih menggunakan nama belakang dari mendiang suaminya, Daihan Hae. Dan ayahku tak pernah mempermasalahkan itu. Bagi ayahku justru itu adalah merupakan penghormatan terbesarnya bila hanya membiarkannya seperti itu. Banyak perubahan semenjak Ibu sudah tak lagi disisi kami.


Dia adalah Ibu terbaik untuk kami. Meski Ia hanya Ibu tiri, tapi dia sungguh lebih baik. Jauh lebih baik dibanding Ibu yang membuatku terlahir ke dunia hanya untuk meratapi duka di usiaku yang masih kecil.


Saat itu aku yang masih kecil tidak tahu arti bersetubuh, bercinta, atau sejenisnya. Aku hanya bocah kecil yang polos dan harus menyaksikan kehinaan ibuku melepas birahi dengan orang yang bukan suaminya.


Saat ayah tahu, Ia sangat marah dan menceraikan ibuku secepatnya. Lalu mengusir ibuku dari rumah ini. tentu saja ayahku bukanlah seorang maniak netorare atau seorang masochist mesum yang senang dipecundangi.


Mi Kwan Yeun, keberadaannya mampu mengangkat ayahku dari keterpurukannya saat itu. mereka bertemu ketika ayahku dipindah tugaskan oleh perusahaannya ke Seoul selama beberapa bulan.


Ayahku berkata, saat itu Ayahku di sebuah coffee bersama teman-teman kerjanya. Tanpa sengaja Ayahku melihat wanita duduk seorang diri. Ya, tak bersama siapapun. Hanya ia dan novel yang ia baca. Ayahku berniat mendekatinya namun nampaknya ibu kami saat itu menjadi wanita yang dingin terhadap lelaki. Setelah kematian suaminya, begitu menurutnya.


Tapi meski begitu ayahku tak patah semangat. Dengan usaha keras yang Ia lakukan mampu membuat ibuku akhirnya luluh juga. Setelah menikah, ayahku pun memboyong ibu dan anaknya untuk menemuiku di indonesia.


Orang bilang pernikahan berbeda negara itu merepotkan dan banyak hal yang bertentangan. Ya, benar! Meski rintangannya cukup besar namun mereka mampu melewati itu.


"Jangan pernah menganggap kesakitan adalah halangan dalam langkahmu, karena kesakitan itu sendiri adalah pecahan yang melengkapi hidupmu."


Aku tersenyum mengingat yang ayah dan ibuku katakan dulu. Benar, tanpa luka, kedua orang ini tak mungkin bertemu.


Sebuah foto pernikahan raksasa menjadi bukti suci. Menggantung indahnya di dinding kamar itu. Mataku sedikit berbinar melihat foto pernikahan mereka berdua. Ibu... Aku rindu sekali. Dan itulah yang membawa pertemuanku dengan gadis itu. Euna Myung Hae, gadis mungil bermata sendu yang menatapku malu dibalik kaki ibunya.


Awalnya dia sangat takut padaku, ibu pernah bilang kalau aku seperti anak bandel jadi Euna takut. Aku juga sering menjahilinya. Tapi untuk alasan yang tidak aku mengerti, dia perlahan mulai menghilangkan jaraknya dan bersikap baik. Meski tidak deket-deket banget.


Aku tidak tahu pasti kenapa sikapnya berubah, tapi aku bersyukur karenanya. Kepindahan Euna dan Ibunya membuat Euna harus menghentikan sekolahnya di Seoul. Dan mau tak mau, Euna tidak mungkin bisa berinteraksi dengan teman sebayanya disini karena ia tidak mengerti bahasa indonesia.


Maka dari itu, Ia secara rutin menjalani homeschooling selama 5 tahun sampai Ia siap masuk SMA khusus perempuan di samping Sekolahku. Kini Ia menjalani tahun pertama di SMA. Sama sepertiku yang sebentar lagi akan lulus SMA.

__ADS_1


Aku bergegas memakai apron dan menyiapkan sarapan. Aku tidak boleh mempermalukan Ayah dan Ibu. Aku harus mengawali pagi ini dengan semangat! Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Sial aku kesiangan. Aku terdiam sebentar dan membuka kulkas.


"Yah, mati gue!!"


Hanya tersedia beberapa sosis, telur, tahu, dan keju. Paling banyak wortel. Dan Euna tak suka wortel. Tapi ayahku memberi pesan untuk menghabiskan bahan makanan sebelum membeli lagi.


Bikin apa dong? Rolade Tahu? Kutuang minyak diatas penggorengan, mengiris bawang, dan bahan-bahan yang diperlukan. Tak lupa juga kutambahkan irisan wortel sekecil mungkin dan tahu yang sudah dihaluskan lalu menumisnya.


Ayam di resep diganti sosis aja kali ya? pikirku sambil mengocok telur untuk membuat kulit roladenya. Aku memasak secepat mungkin karena waktuku cuma sedikit. Setelah mengangkat dan meniriskannya aku menyajikannya di piring.


​"Selesai!!" Kupercantik dengan daun slada dan semangkuk kecil sambal tomat. Moga aja dia nggak nyadar, pikirku. Aku segera menaiki tangga menuju kamar Euna.


"Eunaaa!! Sarapan sudah siap! Turun dulu!"


Kuketuk pintu kamar adikku. Tidak ada sahutan dari dalam.


"Eunaaa?? Udah siang loh! Kamu ke sekolah kan hari ini?"


"Eunaaa??"


Aku mendekatkan telingaku ke muka pintu. Hening sekali. Dia masih tidur?


"Ceklik!!" Aku terkejut melihat gagang pintu yang tak terkunci. Aku membukanya dan seketika kamar bernuansa girlish menyambutku.


Dinding bercat biru muda dan merah jambu. Dan hiasan-hiasan lucu yang menggantung disekitar dinding itu. boneka-boneka teddy dan hal-hal semacamnya berjejer rapi di atas tempat tidurnya.


Kalau dipikir-pikir, selain semalam, sudah lama aku tidak ke kamar Euna. Mungkin terakhir kali waktu aku kelas satu SMP.


Egh, kenapa ya? apa penampilanku seperti penjahat kelamin sekarang? Yang jelas kalau aku mencoba memasuki kamarnya selangkah saja, aku akan langsung dilempari bantal dan guling. Kurang ajar sekali!!


Aku menemukan seseorang berkerubung selimut hello kitty terbaring di atas ranjang. Aku membuka tirai hingga sinar mentari dapat menembus jendela kamar ini.


"Euna? Ayo bangun. Nanti terlambat ke sekolah." Dengan ekspresi datar Aku mendekati Euna dan menarik selimut itu kuat-kuat. Kudapati dirinya masih saja tertidur.


Wajahnya terlihat tenang saat sedang tertidur. Ia masih memakai dress hitamnya yang semalam. Namun yang berbeda kini aku dapat melihat dengan jelas lekuk tubuhnya tertimpa sinar mentari pagi. Posisi tidurnya berantakan sekali. Aku dapat melihat lehernya yang jenjang.


Dan yang lebih parah lagi bagian bawah dress itu tersingkap sampai perut. Perut rata dengan lubang pusarnya.


Sial, kenapa aku jadi ingat kejadian semalam? wajahnya sangat manis semalam. dan sekarang ia bagai menunjukkan pose mesum di depan kakaknya.


Dadanya naik turun teratur menandakan ia tengah tertidur lelap. Nafasku memberat. Astaghfirullah, Aku ini kakaknya! Sejak kapan aku melihatnya dengan tatapan bej*t begini!


"Sekarang dia adalah Adikmu, namanya adalah Euna Myung Hae. Kamu bisa panggil dia Euna." Suara ayahku membuat pikiranku kembali jernih. Serta merta aku langsung menarik tanganku dan menutup tubuh adikku dengan selimut.


"Hei, Euna. ppalli il-eonaja.!"


("Hei, Euna. Ayo cepat bangun!") Ujarku sambil menepuk pipi adikku perlahan. Matanya mulai berkedip. Ia mengucek-ngucek matanya. Sepertinya dia sudah bangun.


"Aeh? O-Oppa?"


("Aeh? Ka-Kakak?") Ia melihatku dengan tatapan bingung. Dia mungkin belum sadar aku masuk ke kamarnya.


"Sarapan udah siap. Maaf udah masuk ke kamar kamu. Kakak tunggu diluar." Gumamku tanpa menatap matanya dan berjalan keluar. Aku tak percaya, adikku tidur dan aku mencoba mencabuli dia?


Hei, Euna...


Na neun jongmal..


(Aku benar-benar..)


Choeag-ui?


(Yang terburuk, ya?)

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2