Permata Dari Negeri Ginseng

Permata Dari Negeri Ginseng
episode 10


__ADS_3

**lanjutan flashback Euna


Saat itu ia masih di tempat tidur menutup kepalanya dengan bantal. Kuintip dari belakang, eksperesinya sekarang masih sama, wajah bosan dengan bibir yang mengerucut kecil.


Kakinya mengayuh sepeda ini menyusuri jalanan kota Cirebon. Hihi, tentu saja kakak nggak bisa menolak perintah Ayah dan Ibu untuk menemaniku pergi ke taman kota.


Sebenarnya saat berangkat tadi Ayah dan Ibu sempat khawatir karena kami masih kecil untuk pergi berdua, dan lokasi taman ini juga terbilang agak jauh juga dari rumah kami.


Ayah lah yang berjanji minggu lalu untuk menemaniku, apalagi mengingat ini baru setahun semenjak aku datang ke Indonesia.


Kota Wali ini, hal yang menurut ayah ingin ayah perkenalkan kepadaku sebanyak-banyaknya. Karena mulai saat ini dan seterusnya inilah rumahku bersama Ibu.


Tapi siapa sangka janji itu harus batal, karena mereka menghadiri undangan pernikahan saudara Ayah. Huh, Nyebelin. Jadi maaf saja, aku yang masih sebelas tahun ini tak bisa menahan rasa kecewaku dan melakukan aksi ngambek.


Akhirnya, ayah pun memaksa kakak yang tengah terhanyut dalam tidur siangnya. Sebenernya aku juga nggak mau-mau banget ditemenin dia sih, dia kan selalu menjauhiku, pikirku.


"Oppa, Ppalliga!"


("Kakak, Ayo cepetan!") Desakku yang duduk menyamping di belakangnya. Tanganku menggoyang bahunya agar dia lebih mempercepat kayuhan pedalnya.


"......" Ia hanya terdiam. Suara kendaraan bermotor, angin yang menerpa wajahku, itulah hal yang kudengar saat ini.


Aku hanya menggembungkan pipiku menyadari tak ada respon darinya. Jengkel dengan kelakuannya yang sama sekali tak mencerminkan sikap seorang kakak.


Ah, benar. Ini sudah setahun. Tapi komunikasi diantara kami tidak berjalan begitu baik. Dia lebih memilih menyendiri di rumah, daripada bermain bersamaku. Dia juga menghindari percakapan langsung dengan alasan ingin mengerjakan hal lain.


Apakah aku seburuk itu di matanya? Sempat terpikir kalau dia adalah anti sosial yang tidak punya banyak teman. Tapi tidak! Nyatanya ia punya cukup banyak teman kok di SD dulu. Atau..


Dia nggak suka aku dekat dengannya?


Ah, nggak-nggak! apa yang kupikirkan sih? Dia ini kakakku sekarang! Apapun kekurangannya aku harus mulai menerimanya.


Tapi meski sikapnya begitu aku cukup takjub dengan hafalan bahasa Koreanya. Terhitung baru setahun sejak ia mengenal kami, dan tanpa kami ketahui ia langsung mempelajari banyak kosa kata Korea.


Tidak hanya itu, ia bahkan mulai mengerti apa yang kami ucapkan, dan bahkan membalas perkataan kami sesekali. Berbeda denganku, yang sudah mengerti ucapan orang lain tapi masih bingung dalam mengucapkannya.


Sudah kuduga untuk hal seperti itu otak kakak lebih hebat dariku. Menurut ayah, kakak adalah orang yang terus mempertahankan gelar peringkat pertama di kelasnya, bahkan saat tahun terakhirnya di sekolah dasar.


"Ummh.., nanti terlalu sore. Jadi Euna tidak puas mainnya.." Ucapku dengan bahasa indonesia yang kurasa masih terlalu baku.


Ini baru beberapa bulan aku mempelajarinya saat homeschooling. Tentunya sambil dibantu Ayah juga. Kulihat ia tersenyum kecil mendengar perkataanku barusan. Entah kenapa kurasa ia meledekku.


"Kenapa Oppa tersenyum begitu?" Aku cemberut sambil mencubit punggungnya. Ia langsung merubah ekspresinya kembali datar.


"Nggak apa-apa kok." Ujarnya kemudian sambil mempercepat kayuhan sepedanya.


Kami pun sampai dan memarkirkan sepeda. Sebelum akhirnya memasuki kawasan taman ini. Suasana asri dan rindang lantas langsung menyambut kami ketika datang. Kulihat sebuah plang bertuliskan 'Taman Sumber'.


Hoo, jadi ini ya taman yang ayah maksudkan. Bagus juga tempatnya. Hamparan rumput hijau dan pohon yang menjulang berderet disekitar jalan berlantai nan bersih. Kepalaku bergoyang ke kanan dan ke kiri mengikuti lompatan kecil langkahku.


"Kok, sepi sekali?" Tanyaku dengan kalimat formal. Lagi, dapat kulihat kakakku malah melihat ke arah lain. Namun tak urung menjawab pertanyaanku. Huh, dasar.

__ADS_1


Setelah berjalan beberapa saat kami pun memilih duduk dan beristirahat sejenak di salah satu bangku. Bangkunya cukup tinggi sehingga kakiku tak bisa menyentuh tanah. Sambil mengayunkan kedua kakiku, kuhirup udara segar ini sedalam-dalamnya.


Sayang, kulihat langit sudah cukup mendung. Ah, gawat, padahal kami baru saja datang. Apa kami akan kehujanan nanti?


"Hei, Oppa! Bwayo-bwayo! Haneul.."


("Hei, kakak! Lihat-lihat! Langitnya..") Ucapku sambil menunjuk gumpalan awan yang mulai menghitam diatas langit.


"Oh, mau hujan ya." Ia menatap langit sebentar. Lalu kembali terdiam. Keheningan melanda kami. Dapat kurasakan rasa canggung yang kian menguat setiap detiknya.


"Oppa? Oppa sudah sering ke sini?"


Gemas sendiri, aku memutuskan membuka mulutku lebih dulu.


"Hmm, kadang-kadang."


Hening lagi. Itu saja? Apa-apaan jawaban itu!


"Mau pulang saja? Ntar kehujanan loh.." Sarannya tanpa melihatku. Entah kenapa kulihat wajah dia semenjak tadi selalu menghadap ke bawah. Sudah kuduga. Apa aku ini benar-benar parasit yang mengganggunya?


"Tapi kita kan baru saja datang!" Gerutuku. Jelas lah aku memprotesnya! Aku sudah menunggu-nunggu untuk datang kesini, bahkan kurasa dia tahu bagaimana sulitnya aku membujuk ayah. Tapi belum setengah jam kami sampai, kakakku sudah mengajak pulang.


"Ohh, oke." Ujarnya singkat. Lihat sikapnya yang barusan itu, benar-benar. Kalau begini aku lebih baik tidak usah kesini! Tiba-tiba kakak beranjak dari duduknya.


"Hei, Euna." Aku mendongak. Menunggu apa yang akan orang ini katakan selanjutnya.


"Kamu.. Nggak apa-apa kakak tinggal bentar?" Kata-kata itu akhirnya meluncur juga dari bibirnya. Kali ini dia menatapku. Langsung ke wajahku. Memberiku keyakinan bahwa dia benar-benar ingin pergi.


"Ah, hampir lupa. Mungkin kakak cuma sebentar. Tapi.... Jangan gampang percaya sama orang asing."


Yang kulakukan hanya tersenyum manis. Memerankan peran adik baik yang tak ingin menyusahkan kakaknya. Hihi, geugeoya? (Hihi, benar juga ya?) Lagipula aku sudah tahu, kok.


Neoneun...


(Kamu...)


Jeongmal nal silh-eohae?


(Benar-benar membenciku, ya?)


"TAP-TAP-TAP" Suara langkah kaki membuatku tersadar, aku segera menghapus air mataku yang tiba-tiba menetes.


Aku bodoh sekali. Tentu saja, apa yang aku harapkan dari seorang saudara tiri? Wajahku masih menunduk sementara seseorang tampak duduk di sebelahku. Menggantikan tempat kosong yang ditinggalkan kakakku.


"Eh, nona kecil? Kamu kenapa menangis?" Suaranya terdengar khas. Kuperkirakan ini lelaki dewasa. Dari usianya mungkin sekitar tiga puluh tahunan.


Aku belum berani menatap wajah pria itu. Malu, karena mataku akan terlihat sipit saat sedang menangis. Aku hanya menggeleng pelan.


"Dimana orang tuamu? Kamu nyasar ya?"


Dapat kurasakan ia sedikit panik. Tapi melihatku yang menggeleng, ia kembali tenang.

__ADS_1


Aku mencoba mengintipnya dari helai rambut yang menutupi sebagian wajahku. Pria tampan berkacamata, tak berambut. Tersenyum ramah. cara berpakaiannya sangat rapih dan sedikit formal. Dengan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku. Sejak kapan orang ini datang? Aku tak menyadarinya saat tadi bersama kakak. Yang lebih penting lagi, kurasa hanya tinggal kami berdua yang berada di taman ini.


"Siapa nama kamu? Om boleh tahu?"


Aku masih mengunci mulutku, tak tertarik.


"Oke, kalo gitu biar om kasih tahu nama Om... Nama Om itu.. Faidy Junaedy. Kamu bisa panggil om, umm... Om Faidy? Ya! Om Faidy."


"Om... Paidi" Ucapku pelan. Ia nampaknya senang mendengarku mulai tertarik.


"Bukan Paidi. Tapi Faidy!" Koreksinya.


"Paidi..?" Ucapku lagi seraya memiringkan kepalaku.


"Errrgg, kamu bisa panggil Om Fai aja."


"O-oppae?"


Alisnya berkedut mendengar kesalahan mengejaku. Aku tidak tahu dia mengerti atau tidak. Tapi kenapa ya nama panggilannya mirip dengan kata.... Burung Hantu??


"Ya udah, deh. Terserah adek aja mau manggil Om gimana. Oh iya, kamu belum kasih tahu nama kamu siapa?" Ia tampak antusias. Seperti kakakku saat mendapat buku baru. Kakakku? Kenapa sekarang aku tiba-tiba mengingat orang itu?


"E-euna." Aku berusaha menjaga nada suaraku tetap pelan. Kini ia benar-benar menghadap ke arahku sepenuhnya. Kakinya ia naikkan ke atas, dan duduk bersila.


"Hmm, wajah dan nama yang nggak umum. Kamu.. Orang Korea ya?" Aku mengangguk ringan.


"Wah, hebat ya. Terus? kenapa kamu sendirian? Tadi juga nangis? mau cerita?" Tanpa sungkan pria ini terus saja menanyaiku. Seperti tidak membiarkan ada jarak diantara kami. Nada bicaranya teratur, tak terlihat ia menyembunyikan sesuatu. Mungkin dia memang orang baik?


"Mungkin kakak cuma sebentar. Tapi.... Jangan mudah percaya pada orang asing."


Aku menatap kosong pria ini. Sebuah kalimat kecil tergaung di daun telingaku. Pria itu tersenyum. Bukan. Perasaan ini. Aku tahu senyum yang ia goreskan disana bukan untuk menenangkanku. Senyum itu adalah senyum lain. Yang memiliki arti lebih dalam. Aku yang menyadarinya lantas menyapukan seluruh pandanganku ke seluruh penjuru taman. Mengharapkan sosok bocah lelaki yang kukenal tertangkap oleh kedua mataku. Tapi aku tak menemukannya! Oppa-ssi, orang ini..


Dahi pria ini berkerut saat tahu aku mulai menjaga jarak.


"Hei, kenapa? Kok panik gitu?" Ucapnya lembut. Tidak. Aku tahu pria ini. Sejak awal Ia hanya menutupi hawa keberadaannya yang asli. Caranya berpenampilan dan berkomunikasi hanyalah wujud lain untuk beradaptasi. Ia mengambil sesuatu di kantongnya.


"Mau ini?" Ia menyerahkan sebuah lolipop penuh warna. Gerik mataku bergantian menatap permen dan wajahnya.


"Ani."


("Tidak.")


"Ani? Om itu Om Faizy" Ia sepertinya salah mengerti ucapanku. Tangannya meraih telapak kecilku dan membukanya perlahan. Lalu menaruh lolipop itu ditanganku. Serta merta aku langsung menepisnya.


"Eh?" Tersirat wajah terkejutnya saat lolipop itu terjatuh.. Ia masih menatapku. Aku melangkah mundur. Kulihat pantulan iris yang mulai berubah. Itu dia. Akhirnya serigala ini menunjukkannya!


Oppa aku takuuttt...


Hiks hiks...


~•°*•~

__ADS_1


__ADS_2