
"TING TUNG!"
"Eh?"
Sebuah suara muncul dari PC-ku sesaat setelah kulepas kabel jack headphoneku. Nada chat masuk di inbox facebook. Hmm, Diana? Dia online?
*18.45
•Tumben Online*?
Oh ya, dari tadi aku online ya? Aku tersenyum. Yah, mungkin tak masalah chat sebentar? kuketik balasan untuknya. Kalau dipikir-pikir ini adalah moment dimana aku chat dengan seorang gadis yang menyukaiku ya? Haha, tiba-tiba saja aku merasa gugup.
Ini pertama kalinya untukku. Maksudku bukan dengan Diana sebagai teman baikku. Tapi sebagai orang yang menyukaiku.
*Hmm.. Iseng aja. Hehe.. Biasalah, bukan anak kekinian. Jarang juga gue.
Kutekan tombol kirim pada jendela chat. Tak perlu menunggu lama, Diana langsung membalasnya.
•Hihi, anak kekinian.
Dasar... Jomblo sih, makanya
malam minggu gini dirumah aja.
"Errr, gue lupa kalo ini malam minggu!" Brengsek! Langit nggak ada pengertiannya sama gue. Hujan kek. Biar ada alasan jomblo macem gue sendirian di rumah, seperti itulah yang kupikirkan saat ini.
*Hahaha.. Sialan lu
Emng situ udah ada? :p
•Belum nih, pak
Masih nunggu jawaban
Heran yang dikodein nggak peka
*Cinta kok main kode-kodean sih mbak
Emang anak pramuka?
•Biarin, Wle..! :p
Cieee.. Syam ngomonginnya
Cinta-cintaan aja
Baru saja hendak membalas, kulihat ia kembali mengetik sesuatu
•Yang dikodeinnya lola sih,
Jadi ya gitu.
Kebanyakan..
Ditimbun ama buku sih kepalanya.
Melihat jawabannya aku tersenyum kecil. Sial, kenapa aku jadi ge-er gini ya? Lama jariku membeku. Diam terbawa perasaanku yang melayang di udara. Mencoba jaim, aku mencoba merespon dengan retorikal.
*Hahaha, ngomongin siapa sih?
__ADS_1
Kulihat kalimat 'Diana Candra Dewi is typing..' Pada layar chat. Tapi tulisan itu timbul dan menghilang begitu saja. Seperti ia ragu untuk menekan tombol kirim. Balasan yang kutunggu tak kunjung bersambut. Argh! Gemas sendiri kucoba mengetik sesuatu untuk memastikan dia membaca pesanku.
"TING-TUNG!"
Kuurungkan niatku cepat untuk mengetik. Balasan Diana jelas lebih menggugah perhatianku kini. Kutajamkan penglihatanku. Mataku bergulir seiring irama detak jantungku yang menguat.
•Suka gitu deh.
Emang kamu kira siapa?
Ya Kamu lah...
"Ya... Kamu.... Lah.... Ya kamu lah..." Kuulangi kata itu terus menerus seakan tak percaya tulisan yang tertera disana. Tiba-tiba tawa aneh terlepas begitu saja dari mulutku. Seperti sesuatu yang tak tertahankan menjalari dadaku. Apa ini? Aku..
"TING-TUNG!"
•Syam, aku off duluan ya?
Dipanggil mamah nih..
Besok jangan lupa, oke?
Ingat, laki-laki nggak boleh telat! :p
"Besok? Oh iya! Janji ke Pantai Kejawanan!" Aku malah baru sadar bahwa besok adalah harinya. Aku belum mempersiapkan apa-apa. Mungkin akan kupikirkan nanti.
Kubalas singkat pesan itu. Aku tersenyum saat melihat ia masih menyempatkan beberapa saat untuk mengetik sebelum off.
"HWOAAMMS! Sekarang ngapain ya? Masa tidur? Haha.."
Aku jengah sendiri menyadari bahwa aku tak punya kegiatan malam minggu ini. PR udah semua, main game udah, facebook udah, apa lagi dong sekarang?
"Makan?"
Kutarik kursi dan mulai beranjak dari kamar. saat melewati kamar Euna kudengar ada suara bisik-bisik. Tak terlalu jelas, tapi dapat kudengar. Kupandangi daun pintu itu penuh kecurigaan dan mulai mendekatinya. Lambat laun suara berbisik itu kian jelas saat kutempelkan telingaku pada permukaan pintu.
"S-Sa-ssi! Na mueos-eul wonhani?! kyaaa, babo! Meomchuo!"
("S-Sa! Kamu mau ngapain?! kyaaa, bodoh! Berhenti!")
Mataku terbelalak mendengarnya. Itu suara… Euna!
"Hihihi udah tenang dulu. Aku nggak bakal ngapa-ngapain, kok. W-Woh!"
"M-Mwo? Mwo mwo?"
("A-Apa? Apa apa?")
"Udah aku duga punya kamu bagus banget Euna! Aku iri!"
"Annniii!! Geogi issji anhayo! N-Na danghog seuleobo. Boji ma!"
("Nggaaakk!! Jangaan disitu! A-Aku malu tau. Jangan liat!")
Aku yakin benar itu suara Euna dan Sarah. Sedang apa mereka? Kok ada acara 'ngapa-ngapain', 'aku malu', dan 'jangan liat' segala?
Segala pemikiran absurd mulai bergelayut di otakku. Ini tak bisa di biarkan! Aku harus masuk! Tapi, aku harus benar-benar memastikan dulu apa yang mereka lakukan.
Kudempetkan tubuhku ke badan pintu seraya menekan lubang pendengaranku hingga menempel disana. Bola mataku berputar, menerka apa yang mereka perbuat.
__ADS_1
Tiba-tiba sayup suara mereka hilang, bahkan kegaduhan yang sebelumnya menggangguku tiba-tiba lenyap begitu saja.
Kok hilang? Aku berucap tanpa suara. Kucoba sekali lagi menempelkan kepalaku disana, tapi nihil. Hening. Mereka seperti tak berada dikamar ini. Akhirnya kucoba mengetuk pintunya
"TOK-TOK-TOK!"
"Euna? Kamu belum makan kan? Ayo ajak sekalian temanmu makan malam." Ujarku kemudian. Kujadikan alasanku kemari sebagai alibi.
"Euna? Hey, Kamu denger Kakak?" Panggilku kembali. Karena tak ada sahutan dari dalam sana. Tak lama daun pintu pun terbuka. Hanya memberikan sedikit celah untuk setengah wajahnya yang memandangku malas.
"Mwo il-iya?"
("Ada apa?") Gumamnya ketus. Sabar, itu kuncinya. Harusnya aku yang paling mengerti dengan sikapnya ini. Baik, mari mencoba bersikap ramah.
"No.."
("Kamu..")
"Na gwaenchanh."
("Aku baik-baik aja.") Potongnya kemudian sebelum aku sempat menanyakan apapun.
"Ahahaha, eung? Gamsah"
("Ahahaha, gitu ya? Syukur deh")
Aku menahan kekesalanku dalam senyuman hambar. Alisku mungkin sudah berkedut-kedut saking kesalnya. Rasanya gatal sekali ingin menyentil dahinya itu. Tapi pada akhirnya aku tetap menahannya dan kembali ke maksud awalku.
"Kakak cuma mau ngasih tau, kalau kamu laper ajak aja temanmu ke bawah. Kita makan malam sama-sama."
Euna hanya memandangku penuh selidik. Lalu ia membuka lebar-lebar kamarnya.
"Kami udah makan, kok. Tuh!"
Euna di depanku berbalut pakaian santainya yang sedikit acak-acakan. Rambutnya juga agak kusut seperti baru saja 'diapa-apai' oleh teman akrabnya. Gadis pubertas memang mengerikan!
Tapi yang membuatku ingin kembali ke kamar bukanlah hal itu. Melainkan tangan Euna yang menunjuk dua buah piring kosong lengkap dengan gelasnya. Ada bungkusan hitam yang berisi kertas nasi.
Kutebak mereka baru saja selesai makan nasi goreng bang somad yang dijual dekat rumahku. Aromanya masih terasa. Kulihat didalam sana Sarah melambaikan tangannya padaku. Seakan berkata 'maaf Oppa' dengan senyum kasihan yang ia tujukan padaku.
Geuraeseo..
(Begitu ya..)
Yesangdaelo, Ge sseulmoga eobsoyo.
(Sudah kuduga, ini percuma.)
Tanpa menghilangkan senyum dari wajahku. Aku berbalik mencoba beranjak dari sana. Adikku tak ingin makan masakanku. Itu faktanya. Kenapa denganku? Ada apa dengan rasa kecewa ini? Memang apa yang kuinginkan? Sudah jelas Ia masih marah padaku. Begitupun aku yang memang harus menghindarinya agar tak terjadi sesuatu antara kami. Sesuatu? Lucu sekali.
Memang apa yang akan terjadi? Yang kulakukan hanya bersikap sebagai kakak pada umumnya. Bukan. Bersikap sebagai lelaki muka tembok yang menghiraukan kegelisahannya sendiri akan adiknya.
Mencoba menghilangkan egonya untuk menghindari adiknya sendiri dengan bersikap ramah.
"Hei, Oppa."
("Hey, Kak.")
Aku mematung diantara langkahku untuk kembali ke kamar. Kulihat matanya tak berani menatapku saat ku menoleh.
__ADS_1
"Bisa tolong ajari kami sesuatu?"
~•°•~