Permata Dari Negeri Ginseng

Permata Dari Negeri Ginseng
episode 14


__ADS_3

Aku menghembuskan nafasku dengan berat. Kurasa menghindari Euna di rumah bukan pilihan yang tepat. Tapi berbohong dengan menutupinya juga bukan hal bagus. Aku harus bagaimana sekarang?


Kurogoh ponsel di sakuku, lalu kubuka bbm-ku. Ada nama Euna Myung Hae di list chat, aku berniat menanyakan dia ingin titip apa sebelum aku pulang. Tapi nampaknya jari jemariku bahkan tak memiliki seujung kuku pun keberanian.


"Zzztt-zzzttt" Getaran ponsel membuatku terhenyak. Ada sebuah pesan masuk ternyata.


*From : Diana


Received : 07.50


Syam? U there*?


Tercetak nama Diana disana. Sosok yang menunggu kepastian dari bedebah sepertiku. Bertopeng tanpa dosa yang menari-nari diatas pentas drama yang memuakkan.


Aku hanya mencari alasan untuk menemukan 'cinta' tapi tak sedikitpun aku berniat tuk menemukannya. Kuputuskan untuk membalas pesannya. Meski aku tahu bahwa aku tak layak membalas apapun dengan keadaanku yang seperti ini.


*To : Diana


Hey Can*


From : Diana


Received : 07.51


Iya syam? Kenapa? Kamu baik-baik aja kan?


*To : Diana


Gue ini... Kenapa*?


Sebuah senyuman hambar tersungging di bibirku. kutatap langkah kaki manusia yang berjalan melewatiku. Mereka yang tersamar dengan ekspresi, pasti punya masalah tersendiri kan? apakah lari adalah hal yang benar? apakah itu tindakan pengecut? rasanya aku terlalu kejam saat itu berteriak bahwa 'dia pengecut' kepada orang yang senantiasa kabur dalam masalahnya. menghindari konflik, dan menyendiri sebagai orang tak berguna.


Mungkin keputusanku nanti terhadap gadis ini akan membawa dampak besar pada hidupku. mungkin aku yang bukan manusia akan diangkatnya hangat dalam pelukan. meski keputusan itu kubuat, saat lubang di kepalaku kian membesar.


​***


*Cirebon, 27 Februari 2016


09.40 WIB


Racuunnn...

__ADS_1


Racuuunnn...


Racuuunnnn...​*


"Syam? Hei, ayo bangun! Temenin aku makan yuk di kantin?"


Mati laju darahkuuhhh..


Memang kau racuuunnn.... Gruaaahh​


"Syam?"


"Syaaammm?!"


"Ah.. Aku nyerah! Susah deh kalo dia udah tidur begini. Dimas! Bantuin aku dong!"


"Bantuin? Bentar lagi juga dia bangun kok."


"Eh? Kok gitu?"


"Beneran. Liat aja ntar."


Ampuuuunn...


Ampuuuuunnnn..​


"Geh.. Berisik"


Aku masih setengah sadar dari tidurku di jam istirahat makan siang. Sial! Cirebon tiba-tiba saja panas. padahal ini masih pagi, tapi aku bahkan tidak ingin beranjak keluar kelas.


"Hahaha, tuh kan bener!" Gurau garing seorang pemuda. Ya siapa lagi kalau bukan Dimas Saputra Sang Maestro Cinta.


Rasa pening menyerang kala kutajamkan pendengaranku perlahan. Menyadari riuh sekian murid tak mampu menghalau satu suara yang meruncing menembus telingaku.


Bukan! Aku tak mempermasalahkan lagu itu. Bahkan strumming kacau yang dimainkannya sekarang. Meski lagu 'changcuters' itu identik dengan suara keras, kenapa harus diteriakan dengan nada seperti itu? Sungguh, seperti biola sumbang di tengah malam kelabu. Horror sekali..


Bukan menghina. Tapi kenapa tidak ada yang sadar kalau dia memang tak bagus dalam bernyanyi? Maksudku, siapa pun tolong! Urus suaranya meski sedikit.


Takluk sudah hebatku...


Takluk sudah hebatkuuuhhh...

__ADS_1


Memang kau racuunnnn..​


Pantulan irisku berpendar menyorot seisi penjuru kelas ini. Kini aku dapat melihat kumpulan siswa di ujung kelas. Salah satu orang memainkan gitar, dan satu yang lain bernyanyi dengan suara emas nya.


Kau pernah dengar bocah sok gaul yang sukanya nonton acara musik indie? mereka disebut dengan nama 'anak acara'. Nah, begitulah stelan anak-anak ini. Wajah kusut, seragamnya dibalut sweater kedodoran, topi yang dipasang setengah kepala, berjoget-joget mengikuti irama lagu.


Penampilan mereka saat pergi ke acara berbeda lagi. mereka akan memakai kemeja rapi yang terkesan dipaksakan, tak lupa juga dengan topinya.


Oh, pantas. Jadi itu asal suara tadi. Tatapan jengkel ku kini beralih, seorang gadis yang duduk di sebelahku dan seorang pemuda kribo yang berasyik masyuk dengan ponselnya. Novel online, pikirku.


"Kamu kok ngeliatinnya begitu banget syam? Nggak ikhlas ya mau nemenin aku?" Rajuk gadis disebelahku. Ia mendongak menatapku, jemarinya menarik-narik kecil kain seragamku. Entah kenapa meski Diana terbilang memiliki sikap dewasa dalam menanggapi banyak hal, Tapi sikapnya sangatlah berbeda saat kami berdua.


Ia manja dan semakin lengket saja! Pengaruh hormon mungkin, pikirku. Ah tidak-tidak-tidak! Alasan logisnya adalah karena apa yang kami lakukan. Benar! Apa yang kami lakukan beberapa hari lalu. Mengobarkan hasrat dalam ciuman hebat.Tapi... Nikmat juga, batinku.


Lah, kok malah mikir kesitu! Fokus Syam. Bagaimana pun aku harus bisa menentukan hatiku sendiri. Aku harus mengerti, kesalahan besar jika aku bermain-main dengan nafsu semata. Dia adalah teman sekaligus sahabat yang kusayangi. Aku tak boleh sampai mengecewakannya. Apalagi sampai menghancurkan ikatan kami.


Tapi seandainya aku memilihnya, apa benar itu bagus untuk kami? Apa yang akan terjadi selanjutnya jika nanti kami putus? Apakah kami akan saling meninggalkan seperti seorang 'mantan' pada umumnya? Aku rasa tidak seperti itu. Ikatan kami lebih kuat, dia pasti sudah memikirkan segala konsekwensi saat mengutarakan perasaannya saat itu.


"Hei! Kok malah bengong? Ayo ih!"


Telapak Diana mengusap lembut pipiku. Aku yang diperlakukan seperti itu, jelas salah tingkah. Hadoh, kita belum resmi Non!


"Heh? A-ahaha nggak kok! gue nggak bengong. Cuma...." Aku tak sanggup menatap wajahnya. Gugup sekali!


"Cuma?" Desaknya semakin mendekat. Sisi depan seragamnya tertarik bahu seiring badannya yang condong, membuat sembulan bukit itu kian menjadi.


Aku takjub dengan keberanian Diana bertindak agresif di tempat seperti ini. Beruntung kami tak jadi sorot perhatian oleh anak-anak dalam kelas. Tapi kulihat Dimas hanya mesem-mesem melihat kami. Sialan nih anak, rutukku dalam hati.


"Y-yah.. Gue kurang tidur beberapa hari ini. Jadi kurang fokus. Ngantuk banget." Jawabku jujur.


"Huh, Kamu tuh ya. Bandel banget sih. Bentar lagi kan mau ujian. Harusnya kamu jaga kondisi badan kamu." Ujarnya mulai bersungut-sungut.


Dimas yang mendengar hanya tergelak dengan bibir di monyong-monyongkan.


"Uuuuhhh... Syam! kalu amu cakit gimana? bandel anget ciiih! Nanti yang nyakitin aku capa??" Cengengesnya Dimas yang membuatku nyengir dan melempar pulpenku ke arahnya.


Memang benar adanya. Seharusnya aku lebih menjaga kondisi badanku. Tapi apa dayaku? Insiden 'adik ter-gap kakaknya sedang berbuat' membuat kepalaku ingin terbelah rasanya. Sulit sekali bahkan untuk tidur dimalam hari.


Bayangan Euna malam itu sudah benar-benar merasuki otakku sepenuhnya. Bahkan saking bingung untuk bersikap, aku lebih cenderung diam dan menghindar saat di rumah. Sehingga seakan tak jelas siapa yang lagi ngambek, dia atau aku.


Aku harus melupakannya. Itu keputusanku. Dan kurasa adanya Diana bisa membantuku untuk kembali normal.

__ADS_1


Parasit yang memanfaatkan? Tidak! Ini lebih seperti ia membantuku selagi aku memutuskan perasaanku.


~•°•~


__ADS_2