Permata Dari Negeri Ginseng

Permata Dari Negeri Ginseng
episode 05


__ADS_3

"Hei? Kok nggak duduk?" Bayangan tubuhnya menghampiriku yang terlihat masih bingung.


"I-ini.. Katanya mau lunch?" Tanyaku. Tetapi mendengarnya, Ia tersenyum.


"Ya emang lunch kan? Emang salah ya kalau aku mau lunch kita kayak gini?"


"Yaa.. Nggak sih. Tapi ini kayak..."


"Kayak?" Ia menaikkan sebelah alisnya.


"O-orang pacaran." Ujarku tergagap. Sungguh, aku masih belum mengerti tingkah polah gadis ini. Aku lupa kapan kami mulai begitu dekat, tapi Ia tak pernah bersikap seaneh ini. Maksudku, mungkin aku ge-er ngira dia naksir padaku. Tapi ini terlalu blak-blakan!


"Kalau gitu.." Ia mengalungkan kedua lengannya ke leherku. Harum tubuhnya benar-benar lembut. Kemeja panjangnya ini entah kenapa terasa halus di kulit leherku. Tubuhku panas dingin.


"Kenapa.. Kamu anggap aja kita lagi pacaran sekarang?" Gumaman pelannya barusan membuatku terkejut.


Ia tersenyum menatapku dalam. Seakan menelanjangi kejujuranku. Bibirnya membuka seakan merangsang titik lemah seseorang untuk segera memeluknya dalam ciuman hebat. Saat aku terbuai dalam buaiannya, ia mengedipkan matanya.


"Hehehe. Aku bercanda. Makan yuk?"


Aku terbengong-bengong sementara ia melepaskan dirinya dariku dan mulai duduk kembali.


"Hei, kok diem? Mau makan nggak?"


Aku mengangguk dan duduk di seberang meja. Kami saling berhadapan. Ia menatap mataku dan tersenyum sebelum mulai melahap makanannya. Ugh, menu makanannya benar-benar menggugah nafsu makanku.


Ayah belum pulang minggu ini, jadi uang sakuku menipis. Apalagi bahan makanan di kulkas sudah mulai habis. Aku jadi teringat Euna, dia pasti senang sekali jika aku bawakan makanan seenak ini. Bahkan ada menu kesukaannya, kepiting saus tiram!


"Syam? Ayo dimakan dulu. Kalau nggak habis kamu bisa bawa pulang."


"Eh? Boleh?" Aku menutup mulut, menyadari bahwa sangat tidak sopannya aku ini. Melihat tingkah bodohku Ia hanya tertawa.


"Hahahaha, dari dulu kamu mudah ditebak banget Syam!" Ia tertawa renyah. Si*lan, nggak pernah aku semalu ini.


"Lagian kamu punya adik perempuan kan di rumah? Aku minta kamu bawa semua makanan ini setelah kita makan, oke?" Ia bertopang dagu sambil menawariku.


Setelah perbincangan itu, kami melanjutkan makan tanpa berbicara. Suatu saat ketika makanan telah dirapikan pembantunya ia menatapku malu.


"Hei, Syam? Mau lihat kamarku?"


Aku ditariknya masuk kedalam sebuah kamar di ujung lantai dua. Kamar yang menurutku cukup luas. Seumur-umur aku berteman dengannya, baru kali ini ia membawaku ke kamar ini.


Sepintas aroma kamar perempuan berhembus jelas di penciumanku. Kamarnya hampir sama seperti Euna, penuh dengan aksesoris berbau perempuan. Yang membedakan hanya lebih luas, dan memiliki kamar mandi transparan! Kau tahu kan kamar mandi yang hanya berdinding kaca, dan paling maksimal ditutupi oleh geraian tirai? Astaghfirullah, dia tiap hari mandi disitu kan?


"Hayo! Ngelamunin apa!"

__ADS_1


Telapak tangannya mengusap wajahku. Menyadarkanku dari lamunan.


"Eh? Nggak kok can hehehe."


Diana menyuruhku duduk di kasur. Bak kerbau di cocok hidungnya aku menurut saja. Berkas sinar matahari menembus jendela kamar ini, memperlihatkan tubuh semampainya yang kini duduk disebelahku sambil menyilangkan kakinya.


"Hihihi, kok kamu jadi gugup gitu sih?" Ucapnya menunduk menatapku.


"Hei, Syam. Kamu inget nggak waktu pertama kali aku pindah ke rumah ini?"


Aku menengoknya. Wajahnya masih sama. Kecantikan natural sejak berapa tahun aku mengenalnya. Aku selalu terbius oleh pesona gadis ini. Parasnya yang anggun begitu memabukkan.


"Kalo nggak salah, waktu itu gue lagi muter-muter komplek naik sepeda gue. Terus tiba-tiba gue nemuin kucing anggora di jalan raya. Kakinya berdarah banyak. Kayaknya habis kelindes apaan gitu. Ya udah deh gue bawa aja ke dokter. Sekalian amal. Hahaha."


"Ya, itu waktu pertama kali aku pindah. Tiba-tiba aja kucingku hilang. Aku yang panik nyari tiba-tiba ketemu kamu yang lagi gendong kucing aku. Mana diperban gitu lagi. Hihihi, makasih ya?"


"Iyaaa. Tapi waktu itu lu nggak tau kan? Lu ngira gue yang ngelindes kaki kucing lu. Terus lu ngerengek mukul-mukul gue minta tanggung jawab." Gerutuku yang masih ingat kejadian dimana saat ia melapor ke papa mamanya soal aku yang melindas kaki kucingnya. Saat itu urusan jadi tambah runyam.


"Huahahaha.. Iya kamu bener! Maaf ya, waktu itu aku panik banget sih." Ia terbahak melihatku yang terlihat kesal.


"Udahlah, lagian udah lama juga. Tapi semenjak lu tau kebenarannya kita jadi mulai temenan." Aku tersenyum tipis.


"Yah, tapi aku berterima kasih sama kamu. Kalau nggak ada kamu mungkin kucing aku udah mati. Dan nggak semua orang ingin menolong kucing yang tergeletak di jalan."


"Kebetulan aja gue yang pertama ngeliat kok, kalo ada orang sebelum gue pasti dia yang akan.." Namun ia hanya menggelengkan kepalanya.


"Yaa, mungkin aja mereka malu untuk mulai, lu tau kan gengsi anak muda zaman sekarang? Tapi sebenernya mereka pengen banget bantu lu." Aku mencoba kembali protes. Tiba-tiba pundaknya bergetar.


"AKU NGGAK BUTUH NIAT! YANG AKU PERLU BUKTI! BAHKAN ORANG TUAKU JUGA NGGAK ADA BUAT AKU! Dan kamu membuktikan kamu ada untukku, Syam. Gengsi? Kamu nggak punya hal itu, Syam. Dan karena apa yang ada di hati kamu..... Yang bikin aku suka sama kamu."


Pernyataannya sendiri tak membuatku terkejut. Karena sebelumnya aku tahu, kedekatan kami ini tak mungkin tanpa bumbu perasaan.


Pikiranku berkecamuk saat kami dilanda keheningan. Kami terdiam tanpa kata membuat tak satupun dari kami berani untuk sekedar melepaskan gumaman. Sekarang apa yang Dimas katakan terjadi juga. Pikiranku kacau, karena aku baru sadar ini pertama kalinya aku masuk kamar perempuan.


"Hei, Syam?" Suaranya yang parau adalah suara pertama diantara keheningan ini.


"Ya?"


Tiba-tiba Ia merangkak memojokkanku hingga ke tepian tempat tidurnya. Wajahnya begitu memerah.


"Aku... Sayang kamu syam."


Telapak tangannya tiba-tiba memegang pipihku, kurasakan permukaan kulitnya yang begitu lembut. Sedikit licin karena berkeringat, namun seperti alkohol yang membuatku mabuk kepayang.


"Hei, igeon nappoyo."

__ADS_1


("Hei, ini gawat lho.") Ucapku yang tanpa sengaja berbicara bahasa Korea.


"Eh? Kamu ngomong apa?" Ia menatapku heran. Aku hanya tersenyum.


.


.


.


Hening.


Tanpa kusadari, aku menddekatkan wajahku di depan wajahnya. Diana tak merespon. Maka aku kembali memajukan bibirku yang hendak menciumnya. Sedikit lagi!


Tiba-tiba terlintas di pikiranku bayangan Euna dengan senyum manis, eh? apaan barusan? pikirku. Tapi segera saja aku mengabaikannya.


Untuk pertama kalinya aku merasakan sensasi hangat dan lembut bibirnya. Ia sedikit kaget ketika lidahku terjulur masuk dan menyapu deretan gigi putihnya.


Sejenak aku teringat ucapan Dimas di pikiranku.


"***Gue cuma pesen. Mungkin nggak melukai itu mustahil, tapi jangan kecewakan apa yang dia percayai tentang lu."


"Karena gue bisa liat ketulusan dia buat lu. Meski lu punya sobat ancur macam gue. Tapi gue mohon.."


"Jangan jadi orang berengsek kayak gue***."


Aku melepaskan ciuman ini. Wajahku seketika memucat. Perkataan Dimas tempo hari terpatri di benakku. Inikah yang aku putuskan? Mencium Diana tanpa sebuah kepastian? Bukankah aku jahat?


Melihatku berhenti ia hanya memandangiku seakan berkata "kenapa?" aku tersenyum getir dan melepaskannya. Ia terlihat sedikit tersanjung dengan perlakuanku.


"Syam, kamu kok....."


"Maaf, gue bodoh dan kalut. Seharusnya gue memberikan jawaban pasti buat lu. Bukan hal seperti ini."


"Nggak apa-apa kok, aku seneng. Makasih ya?" Ia tersenyum penuh arti. Terlihat matanya berbinar terang. Sebelum meninggalkan pintu kamar kusempatkan untuk berujar.


"Percayalah, gue bakal ngasih lu jawaban. Tapi bukan untuk sekarang. Oke?"


Benar. Ada sesuatu yang menggangguku. Dan aku ragu akan perasaanku. Sial, bukankah aku berengs*k?


"Pasti. Aku akan tunggu kamu."


Senyuman terakhirnya menjadi penyemangat langkahku pulang dan bertahan dari amukan Euna.


Sekarang hampir jam 4. Dan entah kenapa aku merasa sesuatu yang mengerikan akan dilakukan Euna jika aku tidak pulang.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2