Permata Dari Negeri Ginseng

Permata Dari Negeri Ginseng
Episode 01


__ADS_3

6 Tahun Kemudian


Cirebon, 19 Februari 2016


07.20 WIB


Selamat datang di masa SMA-ku.


Saat ini aku, Syam Hendra Purnama telah menginjak kelas 12 di salah satu SMA Negeri di kota Cirebon.


"Dok Dok Dok..!"


Suara papan tulis yang dipukul-pukul dengan penghapus kayu.


"Anak-anak, tolong diam sebentar!" Ucap guruku dengan nada kerasnya. Seketika, suasana yang tadi begitu berisik menjadi hening.


Semua murid menghadap kedepan, menghadap seseorang yang berdiri tepat di samping guruku. Kulihat tatapan mereka begitu tajam. Ada juga yang menganga, mungkin lalat bisa masuk dengan tenangnya.


"Hari ini kita kedatangan murid baru."


"Ayo.. Perkenalkan dirimu, nak"


"Ehmm.. Hay, selamat pagi.. Perkenalkan Namaku Cantika Putri Geofani. Kalian bisa memanggilku, Fani."


"Oke Fani, silahkan duduk." Perintah guruku kepadanya. Eh..! Kursi kosong kan hanya ada disampingku?


Benar saja. Dia mendekat kearahku dan langsung terduduk.


"Namaku Fani, salam kenal ya?" Ucapnya seraya menyodorkan tangan kanannya kearahku.


"Panggil aja aku Syam." Balasku menyalaminya. Mungkin aku adalah teman pertama ditempat sekolahnya yang baru.


~•~


"Oke anak-anak. Sebelum kita pulang. Syam, tolong kerjakan soal essay terakhir bab peluang." Pria berkacamata itu menunjukku dan menyodorkan spidol hitam.


"Baik, Pak.." Aku menarik bangku dan melangkah ke depan. Menulis barisan angka-angka dengan rumus yang baru saja diajarkan beberapa saat lalu.


"Selesai, Pak.." Tak sampai sepuluh menit aku telah selesai, disambut dengan bunyi suara bel pulang. Seluruh murid di kelasku telah merapikan alat tulisnya.


"Bagus, Syam. Silakan kembali. Terima kasih anak-anak, sampai bertemu minggu depan dengan bab baru. Jangan lupa kerjakan PR kalian."


"Yaaa, Paaaakk!!" Seru anak-anak.


Aku yang hendak menuju gerbang sekolah, tiba-tiba dikejutkan oleh suara melengking seorang gadis yang muncul dari belakangku.


"Syam!!! Mau kemana kamu, ninggalin aku gitu! Ayo pulang bareng!" Sebuah pelukan lembut membuatku terkejut. Sial, pelukannya!! pelukannya membuatku nemanas seketika.


"Heh, Can. Le-Lepasin! Lu nggak malu apa diliatin temen sekolah?" Ujarku sedikit gagap. Ya dia Diana Candra Dewi aka Cacan adalah tetanggaku yang pindah sejak aku masuk SMA ini.


Tak perlu kujelaskan bagaimana penampilannya. Semua kriteria ideal untuk seorang gadis telah ia penuhi. Hidung mancung? Bulu mata lentik? Bibir tipis merah muda? Rambut hitam panjang? Tinggi? Putih mulus? Dan aset mewahnya yang kini bertengger di punggungku. Itu cukup besar!


Pokoknya siapa pun tak mungkin tak menyukainya. Begitu pula aku. Yah, kami memang dekat. Tapi kurasa dia sangat berlebihan. Maksudku.. Sangat terlihat kalau dia naksir padaku. Buset, ge-er banget ya? Hahaha. Author Say

__ADS_1


"Eheemm, pacaran terooss!" Ujar Dimas mengagetkan.


Dimas Saputra, dia sahabat karibku dari kelas 2 SMP. Pertemuan kami sebenarnya cukup eneg banget. Dia kupergoki saat lagi on*ni di toilet sekolah. Kau tahu kan kamar toilet cowok? Kalau nggak bau pesing pastilah pintunya agak rusak.


Dan saat itu aku benar-benar kebelet buang air. Aku buru-buru ke kamar mandi dan semua pintu kekunci. Hanya sisa satu yang agak rusak, dan aku langsung membukanya. Aku mendapati pemandangan laknat. Dia lagi co*i. Asem bener emang!


Yah, tapi sisi positifnya kami jadi berteman sejak hari itu. Untung saja kami tak dianggap maho.


"Tapi pulang bareng ya?" Diana melepaskanku dan tersenyum manis. Hadoh, aku gak kuat kalau dia udah senyum gitu. Pengen nyium rasanya. Tahan, Syam! Inget jangan macem-macem! Tapi kok... Raut muka Fani gitu ya? Aneh!


"Oke." Ujarku singkat.


Dimas langsung mencibir kami. "Yaelah, kalo udah ama cewek aja, lupa ama temen."


"Hahaha, makanya punya cewek sono! Lagian kita gak pacaran kok! Kayak nggak tau kita aja lu ah, haha iya nggak, Can?" Gelakku, seketika aku melihat diana dengan untaian seberkas senyuman yang.. kecut? dan dia hanya menjawab dengan mengangkat bahu lalu mengalihkan pandangannya. Heh? Cewek emang aneh..


"Ywis oh, isun balik dipitan.


("Ya sudah lah, saya pulang duluan.) Nanti kalo mau nyalin PR sms aja." Ucapku berlalu, Diana hanya terkikik mendengarku.


"Hihihi si Dimas kapan pinternya, kerjaannya nyontek mulu." Celetuk Diana.


"Hahaha, cemera sira loroane."


(Hahaha, sialan lu berdua.") Dimas melempar penghapusnya ke arah kami. Kami menghindarinya dan langsung berlari.


~•°•~​


Motor matic-ku membelah jalanan raya. Di belakangku duduk seorang gadis tetangga yang sangat cantik. Duduknya menyamping. Tapi pelukannya cukup erat. Uhh, punggungku benar-benar terasa hangat!


Jalanan kota Cirebon tidak terlalu padat sore ini. ahh, aku ingin secepatnya sampai rumah. Rasanya ingin segera merebahkan badanku dan tertidur lelap.


.


.


.


"Syam.." Suara Diana memecah kesunyian.


"Ya?"


"Tadi... Dibelakang Dimas, siapa?"


"Oh, dia murid baru di kelasku."


"Oh.." Hening kembali.


.


.


.

__ADS_1


"Syam..! Awas! Hati-hati..!"


Menggeleng barisan semut betina menyeberang bukanlah dosa, tapi....


"Ciiitttttt!!!"


Sigap! Aku akhirnya benar-benar menarik rem belakang dan rem depan secara bersamaan. Ternyata benar, bukan semut betina yang menyeberang. Jantungku seakan berhenti berdetak ketika melihatnya. Fiuhh..!


"Nyaris..!" Gumamku dengan nafas sedikit tersengal.


"A-aku kan sudah bilang!" Kesal Diana. Ganjalan bantalannya turun-naik pertanda nafasnya tersengal. Kuusap dadaku seraya berseru kepada tukang sate yang sedang mematung.


"Maaf mang, jangan marah ya... Kita kan sama-sama di bawah naungan P*SI yang sama. Meski klub yang kita dukung berbeda." Ujarku. Terlihat mamang sate memandangku dengan tatapan kosong.


"Teeee... Sateeeee..!" Jawab si mamang tukang sate seraya berlalu. Seperkian detik, aku dan Diana terbengong melihatnya. Kulaju kembali perjalanan yang sempat tertunda. Sial!


"Syam?"


"Ya, Can?"


"Aku boleh ke rumah kamu nggak nanti malem?"


"Heh? Mau ngapain?" Aku sedikit terkejut. Tumben sekali, pikirku. Meski kami bertetangga cukup lama. Dia tak pernah mau main ke rumahku. Malu katanya.


"Yaaa, aku...." Ia terdiam cukup lama. Hanya suara lalu lalang kendaraan yang terdengar. Aku sabar menunggu.


"Aku.. Mau nyalin PR MTK." Ucapnya pelan yang membuatku jengah. Tiba-tiba pelukannya dipererat. Posisi atasnya benar-benar menekan punggungku! Sial, jika digoda begini terus aku bisa-bisa tidak tahan. Aku mencoba bersikap normal.


"Hahaha nyalin? Beneran nih? Jadwal MTK dikelasmu kemarin lusa kan? Masa belum dikerjain? Lagian situ kan bunga SMA kita mbak? Udah cantik, juara umum, ramah, ga sombong. Masa mau nyontek? Nggak salah tuh, tadi nyeramahin Dimas kan?" Sindirku sambil tertawa. Kulihat wajahnya bersemu.


"Ee-ehhh.. Aku rubah deh. Maksudku aku mau belajar bareng." Kini giliran aku yang terdiam. Sebenarnya otakku dipenuhi ribuan alasan untuk menolak setiap temanku yang ingin ke rumah. Kenapa? Aku punya alasan tersendiri. Setidaknya itu alasan yang cukup untuk menolak temanku untuk datang. Hanya saja aku tak mungkin bisa mengatakan alasan sebenarnya.


"Maaf deh, Can. Malam ini aku ada janji mau ke rumah Dimas. Tadi waktu di parkiran Dimas beneran sms aku minta salinan PR." Jawabku berbohong.


Sebenarnya Dimas tadi hanya sms kalau dia mau ke rumah gebetannya sekarang sampai malam. Jadi dia mau nyalin PR nya besok. Aku merasa bersalah, berbohong seperti ini kepada gadis yang dekat denganku. Tapi aku benar-benar....


"Ehhh.. Nggak apa-apa kok Syam, aku ngerti. Biar gimana, kamu udah janji duluan mau ke rumah Dimas Aku bisa kapan-kapan kok." Kulihat lewat pantulan kaca spion ia masih tersenyum. Tapi dapat kurasakan nada kekecewaannya.


"Thanks, Can!" Ucapku. Ia mengangguk pelan. Maaf Can. Kamu tak akan pernah menduga apa yang terjadi dalam hidupku. Aku harap kamu sabar hingga tiba saatnya kuberi tahu.


Setelah itu suasana cukup canggung hingga kami sampai di pelataran rumah Diana. Rumah Diana cukup besar dengan tiga tingkat. Aku menghentikan motorku, Ia turun dan menyerahkan helm-nya.


"Makasih ya Syam. Aku seneng kamu mau nganterin aku pulang." Ucapnya.


"Santai, Can. Kita kan udah temenan lama. Kayak gini mah sepele." Ia tersenyum mendengarnya.


"Cuph!" Tiba-tiba Ia mencium pipiku.


"E-eh?!? Ehhh????" Aku melongo sambil memegang bekas ciumannya.


"Hihihi, lain kali anterin aku pulang lagi ya?" Ia mengedipkan matanya. Kemudian ia masuk dengan melambaikan tangannya. Manis sekali.


Untuk sepersekian detik aku masih terpaku. Aku tak menyangka ia akan menciumku. Ah, sudahlah! Lebih baik aku pulang! Ku-starter motorku dan segera melaju pulang.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2