
Lanjutan...
Seluruh tubuhku menegang. Tidak! bukan karena ketakutan. Tapi aku merasa terlindungi oleh sesuatu yang amat besar. Seakan seseorang menangkapku dalam pelukannya.
Hei, malhaejwoyo (Hey, katakan padaku). Yang akan dia lawan adalah orang dewasa.
Meski tubuhnya kini sedikit tinggi, tapi orang itu memiliki postur tubuh jauh diatasnya. Apa alasan Ia melakukan hal yang mustahil? Apa alasan dia melindungi orang yang bahkan baru setahun bersamanya? Persaudaraan? Tenggang rasa? Tanggung jawab? Nyawanya jauh lebih berarti dari pada itu!
Tapi kenapa tak ada sedikitpun kegentaran dari setiap kata-katanya? Dari hal ini, aku menyadari bahwa tak sedikitpun aku mengetahui tentangnya.
"Hahahaha, beneran nih? Gue ditantangin bocah SMP! Bisa apa lu bocah?" Pria itu tergelak menggaruk kepala plontosnya. Dari bahasanya sepertinya ia tak lagi menutupi tabiat aslinya. Seperti mendengar lawakan model lama, kakak hanya diam saja.
"Kasih unjuk ke gue!" Ujarnya bengis.
Sementara itu ekor mataku melihat secarik kertas yang terselip diantara lipatan sweater yang menutupi tubuhku. Kertas apa ini? Pikiranku bertanya-tanya. Agak lecak seperti terus menerus di genggam. Aku membuka kertas itu.
"Aeh? Igeo.."
(“Aeh? Ini..”)
Berikut adalah beberapa Rencana ke Taman Kencana dengan Adikku!!
Tulisannya seperti terburu-buru, tapi ini tulisan kakak, kan?
Setelah si pria berkata begitu, Kakak berlari menerjang pria itu. Kakak melancarkan pukulan kuat-kuat, seluruh kekuatan ia arahkan pada tinjunya. Tinjunya mengarah ke perut sang pria, Namun pria itu menahan serangannya dengan mudah.
Kakak kembali meninjunya berkali-kali. Tapi dengan satu hentakan kaki ke arah dada, pria itu membuat kakak terjungkal. Tak puas sampai disana, kakak kembali berdiri.
ini adalah pertama kalinya kami pergi berdua. Usahakan yang sebaik-baiknya untuk hari ini! Harus bisa hilangin rasa tegangku! Kalau aku sampai abaikan dia karena tegang, habislah sudah!
Tidak, sejak awal aku salah.
"AAAARRGHH!!"
Ia menyerang lagi, kali ini kakak mengarah ke kaki si pria. Kakinya menendang betis si pria sedangkan kedua lengannya tetap menjaga agar tak mendapat pukulan. Tiba-tiba kakak melayangkan pukulan samping yang langsung di tepis dan dibalas dengan pukulan keras yang telak menusuk rahangnya. Kakak kembali terjatuh.
taman sumber pas nggak weekend begini biasanya sepi. Aku harus coba jelasin itu sama Euna
"Oppa.."
Ia kembali berdiri, bertumpu pada kaki-kakinya yang mulai goyah. Sejak awal aku melihatnya aku tahu dia tak pernah berkelahi. Apa lagi bertarung dengan seseorang yang lebih berpengalaman darinya. Tanganku bergetar memegang surat ditanganku.
Lelaki ini....
"Belum" Ucap kakakku. Ia menyeka tetesan darah yang mengalir di mulutnya. Kembali Ia berlari lagi menuju pria itu. Tangannya kembali mengepal dan dikerahkannya segenap kekuatan pada pukulan kiri itu. Kembali sang pria menangkap dengan mudahnya.
"KRAAKK!!"
"OPPA!!" Tiba-tiba aku dikejutkan dengan sebuah adegan keji yang memaku pandanganku. Di ujung mataku kulihat raut kosong kakakku saat melihat lengannya dalam cengkeraman pria itu.
__ADS_1
kuncinya adalah jangan biarin obrolannya garing! apalagi diem-dieman! dia akan mikir aku benci dia karena selama ini aku ngehindari dia di rumah. Bikin topik ringan kayak.. Disana biasanya banyak yang olahraga, sepedaan, skateboard, jogging. hmm, kalo perlu kasih tau juga komunitas bela diri copoeira yang ada disana. intinya bikin dia terkesan deh punya kakak kayak aku!
Dia tak pernah menjauhiku..
"AAAAARRGGGGHHHHHH!!!!!" Kakakku meraung saat lengannya dipelintir begitu kuatnya. Tangan kanannya yang kosong ia pakai untuk memukul pria itu agar melepaskan cengkeraman pada pada lengan kirinya. Ia mengerang menahan rasa sakit yang menderanya.
Sang pria tak menggubris dan hanya tersenyum kecil. Kemudian dengan tenaganya yang besar ia hantamkan tinjunya pada wajah kakak. Bertubi-tubi. Hingga rasanya aku yakin Ia tak bisa bangun lagi.
"BRUGHH!"
Ia melempar kakakku ke tanah. Kakakku tersungkur dengan posisi tangannya yang menekuk lemas. Ia terbaring terlungkup dengan wajah lebamnya. Air mataku mengalir. *Tapi kenapa tubuhku rasanya sulit di gerakkan? Kenapa tubuhku selemah ini untuk menolong kakakku!
Hanya saja dia Bodoh*!
coba ajak dia makan makaroni panggang atau apple pie di taman, dia pasti akan seneng banget. Dijamin deh pasti bakal nagih!
"Sekarang tinggal kita." Pria itu tersenyum padaku. Senyuman seperti di awal kali. Saat pertama bertemu denganku.
"GREBHH!!"
Kakakku meraih kaki pria itu. Pria itu terbelalak, tak menyangka kakakku masih belum menyerah juga.
"Belum selesai Euna. Maaf ya tunggu sebentar." Ucap kakakku dengan wajah bengkak. Aku menutup mulutku, menahan isakanku yang membuncah. Ia bahkan tak bisa melihat lagi karena kelopaknya yang membiru.
"Lepas!" Namun kakakku masih memegang kuat kakinya.
"LEPAS GUE BILANG B*NGSAT!"
Dia mengangkat badan Kakak yang melemah dan mencengkeram lehernya. Tangannya yang kuat mengangkat leher kakak dalam posisi tergantung.
Aku tak pernah percaya adanya tokoh pahlawan fiksi seperti di novel.
6.kalo semua itu masih gagal karena aku gugup dan ga berani, kasih dia minimal sesuatu sebelum pulang. uang di si jago kayaknya cukup buat beli satu baju. Atau jaket? Sekarang hujan kan?
"ANNNIIIII!!! OPPPAAA!!"
("TIDAAAAAKK!!! KAKAAAAKKKK!!")
"URRGHH!!! GRUUOOHH!!"
Kakakku menggelepar diatas gantungan tangannya. Seperti seekor ikan yang kehilangan sumber kehidupannya. Ia menggeliat merasakan kesakitan membelenggu tenggorokannya.
Tangan kanannya ia gunakan untuk memukul tangan pria itu sementara kakinya menghentak berusaha menendang lelaki itu. Berharap rasa sakit bisa melepaskannya. Namun nihil. Karena kurasa orang ini bukan cuma mengincarku, tapi sejak awal..
Orang ini memang benar-benar sudah sakit, pikirku.
Kakakku mencoba mempersempit jarak diantara mereka saat pria itu tertawa. Matanya melotot saat wajah mereka hanya tersisa beberapa inci, karena mungkin pria ini ingin melihat wajah sekarat kakakku yang meringis seperti ditikam sembilu.
Pria itu mungkin tak menyadarinya, tapi selama ia tergantung, tangan kiri kakak yang patah berusaha meraih sesuatu dibelakang bajunya. Apa itu? Ah itu kan!
__ADS_1
Kakakku.
"AARRGGGHHHH!"
Dengan satu gerakan cepat tangannya yang patah berhasil meraih batu yang selama ini dia sembunyikan. Ukurannya cukup besar. Sepertinya ia menyembunyikannya saat jatuh tadi.
"BRAAAKKK!! BRAAAKKK!! BRAAAKK!!"
Batu besar itu Ia ayun dengan tangannya. Menghantam keras. Tak hanya sekali, namun berkali-kali ia hantamkan ke wajah pria itu.
Hingga kusadari wajah itu memerah karena darah. Kemudian pria itu oleng dan terjerembab. Tampaknya pria itu tak lagi fokus karena terlalu bernafsu untuk membunuh kakak. Kakak kembali merangkak ke arahnya saat Ia terlepas, sekedar memastikan Ia tak bangun lagi.
Mungkin mulai saat ini pandanganku akan berubah tentangnya.
"Selesai Euna." Ia tersenyum menghampiriku, aku menangis. Lega mungkin? Aku tak tahu. Tapi....
Disanalah Ia. Seorang bocah lelaki b*doh yang meninggalkanku seorang diri. Syam Endra Purnama, seorang lelaki keturunan indonesia yang pada akhirnya berakhir dengan statusnya sebagai kakak tiriku.
Ps. Semoga usahaku berhasil
"Yuk, kita pulang.." Paraunya lalu ia terjatuh di pangkuanku. Aku tersenyum membelai rambutnya yang basah. Benar, Ayo kita pulang. Oppa.
Jeongmal nae yeong-ung
(Benar-benar Pahlawanku)
flashback selesai.
***
"TUK-TUK-TUK!"
Suara ketukan kamar, membuat kilas balikku memudar. Terlihat suara helaan nafas dibalik pintu. Aku mengerenyitkan dahi.
"Jeogeot, umm, MIAN! OPPA JEONGMAL MIANHAE! IGE NAS OPPA JALMOSIYA!"
("Itu, umm, MAAF! KAKAK BENER-BENER MINTA MAAF! INI SALAH KAKAK!")
Aku melangkah ke balik pintu.
"Kakak nggak ngeliat jam tadi, jadi kakak nggak tau udah sesore ini!" Dalihnya. Aku hanya tersenyum kecil. Minta maaf juga ya? Hihi, yah. Pada akhirnya, dia orang yang seperti itu sih.
"Hago sipji anh"
("Nggak mau") Ujarku dengan nada jutek. Mencoba mengerjainya. Mungkin wajahnya sudah pucat sekarang.
"Hwagin."
("B-baik.") Ucapnya terbata. mungkin ia tak ingin membuatku semakin marah.
Aku menahan tawaku. terdengar suara langkah kakinya pelan menjauhi kamarku. Mungkin akan lebih baik kalo aku pura-pura ngambek dulu, aku tersenyum penuh arti, mengetukan jari telunjukku di depan dagu.
"Mmado igeos-eun heungmiloul geosisoyo."
__ADS_1
("Mungkin ini akan menarik.")
~•°•~