Permata Dari Negeri Ginseng

Permata Dari Negeri Ginseng
episode 04


__ADS_3

From: 여동생


Received: 13.03


Oppa-ssi! jamkkanman gidalyeo?? (Kak! Tunggu sebentar ya??) Bentar lagi aku keluar. Ini pembimbing eskul ngomongnya lama banget.


.Note : 여동생 \= yeodongsaeng (adik perempuan)


Kutatap layar ponsel kit-katku dan memutuskan untuk tidak membalas pesannya. Terlihat banyak siswa-siswi berbaju bebas melangkah keluar dari gerbang sekolah. Setiap berangkat sekolah, aku menjalani rutinitasku mengantar Euna. Tapi.. biasanya ia akan pulang naik angkutan umum sampai ke rumah?


Entahlah, kali ini kenapa dia memintaku menjemputnya. Seharusnya setiap sabtu sekolah Euna libur. Hanya beberapa orang yang masuk di hari sabtu untuk ikut ekstrakurikuler. Termasuk dia yang kini sedang ekskul seni musik.


Aku memarkir motor maticku di sebelah tukang bakso yang sedang mangkal di dekat pagar SMA Khusus Perempuan itu. Ah, aku jadi lapar. Mungkin aku harus memesan satu porsi.


"Mas, satu ya? Bakso dagingnya aja, nggak pake cuka, mie kuning sama sayur, bikin pedes." Pesanku beruntun. Aku berkata begitu karena dia menjual bakso telur juga.


"Siap dek!"


Ia lantas membuka tutup panci dan mulai menyiapkan mangkuk bergambar ayam jago. Terlihat asap mengebul dari dalam panci. Menandakan suhu panas di didalamnya dibuat agar tetap selalu terjaga.


Tiba-tiba di dalam gerobak, terdengar sebuah lagu dari ponsel yang dihubungkan ke sound active mini sang Mas bakso. Melihatku melongo, Ia hanya mengangkat alisnya dan tersenyum. Lagu sorrow lantunan dari Kunto aji menemaniku makan bakso sendirian diantara langit mendung ini. Menyedihkan sekali.


Sudah terlalu lama sendiri..


Sudah terlalu lama aku asik sendiri


Lama tak ada yang menemani, rasanya..


Pagi ke malam hari tak pernah terlintas di hati..


Bahkan disaat sendiri aku tak pernah merasa sepi


Sampai akhirnya kusadari aku tak bisa terus begini!


Aku harus berusaha...


Tapi mulai darimana?



"Sudah terlalu lama sendiri.. Sudah terlalu lama aku asik sendiri.." Aku bergumam datar bersama irama chours yang mengalun lembut.


"Suaranya bagus, dek." Ucap si Mas bakso sambil mengangkat jempol.

__ADS_1


"Hahaha.. Makasih, Mas."


"Kenapa nggak ikut audisi aja? Siapa tau dapat cewek."


Kami berjibaku dalam keheningan. Waktu seakan berhenti diantara lagu kunto aji serta semilir angin lembut yang menerpa tubuh kami.


"Nih Mas, makasih ya." Aku memberikan selembar uang sepuluh ribuan dan beranjak dari gerobak itu. Diujung sana, berjalan beberapa gadis SMA keluar dari gerbang. Mungkin itu Euna.


"Euna!!" Seruku. Ia dan kedua gadis yang lain menengok. Benar saja itu Euna dan teman-temannya.


"Oppa-ssi, orae gidalyeoseo mianhae. Ah, i nyeoseog-eun nae Oppa-iya!"


("Maaf kak menunggu lama. Ah, lelaki ini adalah kakakku!") Ucapnya memperkenalkanku kepada teman-temannya. Mereka hanya terbengong, yang tak tahu artinya hihi.. hmm, ternyata mereka manis-manis juga.


"Aduh, non. Kan udah gue bilang berapa kali jangan keseringan ngomong Korea. Gue nggak ngerti." Keluh salah satu gadis berkuncir kuda, sedikit tomboy dengan gaya sporty.


Terlihat penampilannya yang cuek dengan celana training dipadu dengan jaket basket putihnya. Ia mengibas-ngibaskan kerah jaket yang terbuka. Sedangkan yang satunya gadis yang menurutku agak... Nakal? dandanannya sopan sih. Tapi matanya menatapku lekat semenjak tadi dan sesekali menggigit bibirnya.


"Hahaha, maaf-maaf. Tadi aku bilang, ini kakakku." Euna tertawa dengan wajah cerianya. Kedua gadis itu saling berpandangan. Mungkin heran karena aku bukan orang Korea.


"Saya kakaknya Euna. Syam Hendra Purnama. Kalian bisa panggil saya Syam" Ucapku berusaha menjaga sikap dan bersalaman kepada mereka berdua. Mereka pun mengangguk dengan mulut berbentuk ‘o’.


"Linda.." Ucap gadis berkuncir kuda.


Melihatku yang memandangi mereka, Euna menggamit lenganku. Cukup erat, hingga aku bisa merasakan kelembutan bantalan dibalik kaos yang ia kenakan. Eh? Kenapa nih anak tiba-tiba meluk? Tiba-tiba kudengar seloroh Mas Bakso yang tadi kubeli.


"Woohh, Dek! Itu ceweknya toh? Hebat ya! Seleranya tinggi!" Selorohnya menunjuk aku dan Euna. Untuk kedua kalinya, aku diam tak bergeming mendengar seruan Mas bakso itu. Kepar*t.


"Dia ngomong sama Oppa-ssi?" Tanya Euna. Aku memilih mengganti topik.


"Hey, kamu nggak pernah bilang punya temen-temen cantik gini? Kenapa nggak pernah diajak ke rumah?" Bisikku. Euna menatapku geram. Ia kemudian berbisik padaku.


"Oppa-ssi yeoggyeoun! (Kakak menjijikkan!) Jangan liatin temen-temenku begitu lah!"


Sementara tangan kirinya menggamitku, tangan kanannya yang melancarkan cubitan ke arah pinggangku dari belakang. Teman-temannya tidak sadar, maka dari itu aku hanya menutupinya dengan tersenyum cerah. Padahal pinggangku sakitnya bukan main.


"Oke, kalo gitu kami pulang duluan ya?" Ucapku yang berlalu menuju motorku dan mengenakan helm. Saat aku hendak naik, Sarah menghampiriku. Kulihat Linda yang tak bisa menghentikan temannya itu hanya menghela nafas.


"Kak! Boleh minta pin BBM?" Ujarnya dengan mata penuh harap. Aku hanya melihat Euna yang memalingkan wajahnya dariku. Huh, ini anak kenapa sih?


"Ah, maaf ya. HP saya lowbat. Jadi..." Ucapku pada Sarah. Euna masih membuang mukanya tapi kulihat ekor matanya melihatku. Aku tersenyum.


"Oh gitu ya. Oke." Ia menunduk kecewa dan kembali. Setelah berpamitan aku dan Euna pun melaju pulang ke rumah.

__ADS_1


Selama perjalanan kami lebih banyak diam. Kudengar gumaman kecil diantara deru kendaraan yang berlalu lalang di jalanan raya.


"Oppa-ssi tadi barusan mau ngapain? Sok keren gitu. Babocheoleom . (Kayak orang ****)" Ucapnya bersungut-sungut mengundang tawaku dalam hati.


~•~


Cirebon, 23 Februari 2016


12.40 WIB


"TING-TUNG!" Kutekan suara bel itu. Hari ini kuputuskan untuk datang memenuhi undangan Diana.


Saat berangkat, Euna sudah tidak ada di rumah. Mau pergi belajar kelompok, katanya. Aku sih fine-fine aja, asal dia bisa jaga diri dan tidak pulang terlalu malam. Hanya sebuah catatan kecil yang menandakan kepergiannya.


Oppa-ssi, naneun daryoyo! ^_^ (Kakak, aku berangkat!)


mian mian, (maaf, maaf) aku nggak pamit. Hehee :p Aku lihat Oppa-ssi tidurnya pulas banget. Jadi aku nggak tega banguninnya. Umm, kayaknya aku pulang jam 2. Inget pesenku kemarin kan? Inget ya! Taruh di pot. Oke?


Pada akhirnya pesan misterius itu berakhir dengan aku berangkat tanpa tahu apa yang harus aku taruh di pot. Ya sudahlah, toh makan siangku juga tidak akan selama itu.


Tapi... Nampaknya benar kalau kedua orang tua Diana sedang tidak ada di rumah. Hufh, meski sudah seringkali mengantarnya pulang. Bahkan pernah mampir. Aku masih terkagum-kagum dengan rumah besarnya ini. Memang luas. Ada sebuah pohon besar di samping, meski begitu daunnya tidak mengotori pekarangan. Juga rumput yang mengitari rumah nampaknya sering di potong.


Terlihat pemiliknya sangat menjaga kebersihan. Ada kolam air mancur dengan patung kuda hitam di tengahnya. Aku disambut seorang pembantu, umurnya kutaksir 40 tahunan yang membukakan pintu gerbang. Setelah itu dipersilakannya masuk.


Sebuah ruangan dengan tatanan mewah menyambutku ketika masuk, Dindingnya terlihat begitu bersih dengan didominasi warna putih. Rumah ini benar-benar terawat.


Kusapukan pandangan ke seluruh ruangan. Rasanya orang yang memiliki rumah ini memiliki selera seni yang tinggi. Terlihat dari tata letak dan ornamen elegan di sudut sudut rumah ini.


Terlihat ada berbagai lukisan berjajar di dinding. Mulai dari lukisan alam, abstrak, seorang wanita, hingga lukisan keluarga yang menampilkan Diana dan kedua orang tuanya.


Oh ya, aku belum bilang bahwa Diana merupakan puteri tunggal dari kedua orang tua angkatnya, karena kedua orang tua Diana telah meninggal.


Ditengahnya seperti ruang tamu kebanyakan, sofa nyaman berbentuk L berwarna hitam dengan karpet beludru ketika kaki menyentuhnya. Guci besar dan beberapa meubel kayu dengan ukiran menghiasi sudut rumah. Ada patung kepala kijang dan singa yang menambah kesan elegan ruang tamu.


"Silakan, Mas. Non Diana sudah menunggu di ruang makan."


"Oh, oke. Makasih bi.." Pembantu itu mengangguk dan meninggalkanku. Tanpa menunggu lama, aku segera menemui Diana di ruang makan.


Ruang makan ini terasa gelap. Tirai sengaja ditutup. Aku harus memfokuskan pandanganku hingga menangkap hadirnya seorang gadis cantik dengan kemeja putih panjang tengah duduk di kursi makan. Makanan di meja itu tersaji begitu banyaknya seperti hendak pesta saja. Ditengahnya berdiri tiga buah lilin yang membuat suasana disini semakin romantis.


"Hei? Kok nggak duduk?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2