Permata Dari Negeri Ginseng

Permata Dari Negeri Ginseng
episode 15


__ADS_3

"Tuh kan! Bengong lagi."


Aku terhenyak beberapa saat. Diana mulai menatapku kesal.


"Biasa. Orang lagi kena musibah ya gitu. Stress mulu bawaannya!" Celetuk Dimas spontan. Aku terdiam. Apa Dimas mulai curiga tentang sesuatu yang menggangguku?


"Eh? Musibah?" Tanya Diana tak mengerti.


"Iyalah, tuh liat! Godaannya aja bikin keras gitu. Makanya Syam. Meski jomblo tuh tongkat sering-sering di asah. Biar plong pikiran lu! Bahahahaha." Ia tertawa keras. Wajah Diana mulai merona menyadari kata-kata Dimas.


"Asem, kayak lu nggak aja!" Umpatku tersenyum masam.


"Yee, nggak lah! Gue single gini sih anti maen sendiri. Yaah, punya pelampiasan eksklusif lah!" Selorohnya yang membuatku menahan tawa.


"Ih apa sih, kalian berdua. Omongannya!" Diana mulai memarahi Dimas dengan wajah memerah. Mungkin ia merasa kami tak menghiraukan keberadaannya dengan obrolan cowok kami.


"Yaudah deh, aku makan sendiri aja."


Dia benar-benar kesal sekarang, terlihat dia yang mulai beranjak dari bangkunya. Merasa sia-sia mungkin mengajakku.


"Ngambek dah ngambek!" Ejek Dimas yang hanya dibalas Diana dengan memeletkan lidah.


"Marahnya cuma sama Dimas. Sama Syam, nggak kok!"


Ia mengedipkan matanya sebelum berlalu. Astaghfirullah, manis sekali. Kami berdua hanya geleng-geleng melihatnya. Sepeninggal Diana, Dimas mendekat dan duduk di sebelahku.


"Heh, Syam!" Aku hanya mengangkat sebelah alisku.


"Gimana perkembangan lu sama Cacan? Kalian udah..." Ia memotong pertanyaannya sendiri. Lalu membuat jarinya berbentuk sebuah kutip. Aku hanya menggeleng pelan.


"Ah! Payah lu! Kurang apa si Cacan ngodain lu coba! Kalo gue sih langsung sikat! Hahaha."


Aku hanya tersenyum hambar saja. Tidak semudah itu Kawan. Tidak semudah itu.


"Tapi dia udah nembak gue Dim." Ucapku jujur. Dimas terperangah seperti mendengar berita besar.


"Eh, serius? Kapan? Dimana?" tanyanya mulai antusias.


"Di kamar.... Cacan."


Hening sesaat. Aduhh Syam! Keceplosan! **** banget jadi orang!!


Ia menepuk bahuku pelan. Kemudian mengacungkan jempol.


"Itu baru temen gue! Tch, Nggak sia-sia selama ini lu temenan sama gue. Meski ternyata ada oncom dibalik ******! Yah, Gue nggak nyangka aja diem-diem lu mempelajari ilmu gue."


Alisku berkedut menyadari responnya.


"Maksud lu?" Tanyaku tak mengerti. Ia hanya tersenyum penuh maksud.


"Hahaha, kalian berdua.... Begini kan?" Jari kirinya membuat bulatan, sementara telunjuk kanannya di keluar-masukkan seperti menyodok sesuatu.


"Anjrit, ya nggak lah!"


Aku tertawa jengah, sementara dia kecewa karena jawabanku yang tak sesuai harapan. Meski kami tidak benar-benar melakukannya, tak mungkin juga aku memberitahu secara detail mengenai apa yang terjadi kepada Dimas.


"Oh ya. Terus gimana? Nggak ada masalah, dong? Kalian pacaran dong sekarang?" Cecarnya kemudian. Aku berusaha menghindari wajah keponya itu dengan menatap jendela kelas.


"G-gue..... Suruh dia nunggu jawaban gue." Gumamku lirih. Dimas menepuk jidatnya.


"Ah, ****. Lama lagi dong ini!"

__ADS_1


Ia menggaruk rambut kribonya kasar, gemas sendiri tampaknya.


"Mau gimana lagi kan! Gue masih baru! Awam buat hal-hal beginian! Lu kan tau gue dari SMP, gue orangnya kayak gimana!" Aku mau tidak mau protes.


"Huah, Syam-syam.... Lu pinter pelajaran doang sih. Hal kayak beginian aja bingung lu ngadepinnya."


"Berisik..!" Ketusku. Dimas naik ke atas mejaku dan bersandar di tembok. Tangannya ia jadikan bantalan untuk kepalanya yang menengadah menatap langit-langit.


"Hey Syam?!"


"Hmm?"


"Kayaknya, udah saatnya gue berhenti." Aku menatap gurat sendu di wajahnya. Tapi tak lama, karena kami dengar kumpulan siswa yang bernyanyi tadi memanggil kami.


"Dimas! Syam! Nyanyi lah nyanyi. Homoan mulu lu berdua!" Celoteh satu orang yang disambut gelak tawa yang lain.


"Hahaha, Anjirrr." Umpat Dimas namun masih bernada gurauan. Baguslah, pikirku. Akan lebih baik Dimas yang menyanyi.


Jujur saja, memang di sekolah ini belum ada yang tahu kalau Dimas adalah seorang yang berlatih keras dalam permainan gitarnya. Sehingga sekarang bisa dikatakan dia sangat mahir.


Suaranya saat bernyanyi juga terhitung bagus. Kiblatnya bermusik adalah genre hardrock dan metal. Namun dia tak pernah ingin melebarkan sayapnya tuk berkarir menjadi seorang musisi atau personil band.


"Nggak bisa gue." Tolak Dimas dengan mudahnya. Aku terkejut. Ada dua hal yang dapat kunilai dari caranya terbohong, ia malas bermain, atau dia memang tak mau terlalu menunjukkannya.


Nekat, mereka datang dan berkumpul di dekat kami. Anak-anak tadi menyerahkan gitar padaku dan menyuruhku bernyanyi.


"A-Apalagi gue. Jelek suara gue. Hahaha." Aku tertawa garing.


"Alah, bohong banget. Biasanya yang nolak justru yang pro." Buset teori dari mana tuh? batinku bertanya-tanya.


"Dimas aja Dimas." Aku menjual nama Dimas untuk menyelamatkanku dari situasi ini. Dimas menatapku dengan pandangan 'sialan lu! kenapa jadi ke gue lagi?'


"Errrrr... Yaudah lah! Sekali aja ya." Ia akhirnya mengambil gitar klasik itu dari tangan mereka.


"Heh, Bro. Lu yakin?" Bisikku mencoba memastikan. Dimas hanya mengangkat bahunya.


"Hey, gue terpikir sesuatu. Cewek-cewek yang lu gaet emang pada suka rock ya?" Tanyaku kembali, masih dengan nada berbisik. Iya, aku baru teringat kalau dia adalah penggila wanita, lantas tidak mungkin mereka akan luluh jika hanya dengan pendekatan biasa. Pasti ada rahasianya nih.


"Hahaha, lu mau berguru cara SSI cewek ya?"


"SSI?" Aku mengerenyitkan dahi.


"Speak Speak Iblis. Hahaha" Aku tertawa kecut mendengarnya. Ada-ada saja, pikirku.


"Yah, pertama sih... Gue akan coba cari tahu genre yang paling dia minati. Karena sebelum lu mau dekatin siapapun, jelas lu harus tau apa yang dia gemari. Kebanyakan yang udah-udah sih.. Pop. Tapi nggak jarang gue juga nemuin yang jazz dan rock." Aku masih diam mendengarkan.


"Terus kalau emang bener-bener tuh cewek seleranya random, gue akan hantam dengan satu serangan terakhir."


"Serangan terakhir??"


Ia mengangguk mantap. Lalu terucap dari bibirnya sebuah kata yang hampir tak terdengar.


"Melayu."


Aku melihat cahaya mentari yang mulai meredup. Angin lembut menyapu wajahnya karena jendela yang terbuka. Mataku masih tak berpaling dari orang ini. Aku tak menyangka keseriusan benar-benar merubahnya.


Sulit untuk mempelajari hal yang tidak kita sukai. Tapi keberadaan Dimas sekarang membukakan mataku bahwa segala hal mungkin untuk kita lakukan. Untuk mendapatkan hal yang kita inginkan. Terlepas dari tujuan apakah yang kita pikirkan.


Jika saja... Jika aku mengesampingkan kelakuannya, dan melihat warna asli dari lelaki ini, maka...


Dibanding denganku, orang ini....

__ADS_1


Lebih layak untuk mendapatkan cintanya.


Suara bass yang dipetik membuatku terhenyak ke permukaan kesadaran. Kulihat ia memejamkan matanya, seperti ingin menghilangkan realitas dunia untuk sementara waktu dalam pikirannya.


Nafasnya melembut kala jemarinya mulai memetik dawai itu. Aku melihat kegetiran yang amat sangat dari mimiknya, seperti raut beberapa saat lalu. Hanya saja saat ini semakin menguat.


Suara daun yang diterpa angin membuat atmosfer keributan kelas ini kian menyurut. Menyisakan kami dalam keheningan tanpa sebab bersama suara Dimas.


Dinginnya angin..


malam ini, menyapa tubuhku..​


Mataku terbelalak kala lirik awal Ia nyanyikan. Membuat sekujur tubuhku meremang. Kelu dalam kebisuan. Pelan, namun mampu menyita setiap pasang mata di kelas ini. Aku bahkan tak pernah merasakan ini saat mendengarnya bernyanyi rock. Dia memang hebat, hanya saja... Ini berbeda. Lagu melayu ini..


Namun tidak dapat dinginkan hatiku..


Yang engkau hangatkan..​


Dalam sebuah strumming keras, ia hentakkan dawai gitar itu. Menyanyikan bait selanjutnya dengan suara yang menggelegar. Menusuk jiwa dan pikiran setiap sorot yang memperhatikannya. Seperti dilambungkan setinggi-tingginya dengan luka sayat yang terbuka, kemudian menghantamnya keras ke bumi hingga luluh lantak, tak bersisa.


Siapalah aku ini!


Untuk memintal buih yang memutih..


Menjadi permadani..


Seperti mana, yang tertulis dalam novel cinta..


Juga mustahil bagiku..


Menggapai bintang di langit!


Menjadikan hantaran, syarat tuk milikimu..


Semua itu, sungguh aku tak termampu!​


Bak seorang pujangga diatas panggung sandiwara. Ia lantunkan bait-bait meratap akan kasih yang tak tergapai dalam jangkauannya. Merengek kepada takdir kejam yang merampas garis hidup mereka tuk bersama.


Kini aku tahu rasanya seorang yang menderita karena perasaan ini. Ya, sekarang aku tahu bagaimana perasaan ini.


Silap aku juga, kerna jatuh cinta..


Insan sepertimu seanggun bidadari..​


Chorus menghempaskan setiap titik harapan. Seperti seorang yang mengutuk benang merah takdir karena mempertemukan mereka untuk sebuah kebersamaan yang tak mungkin akan terwujud.


Perbedaan kasta, derajat, moralitas, etika bermasyarakat menjadi tabir yang membentang, dan akhirnya menenggelamkannya dalam lautan kesedihan tak berdasar.


Aku terlena, kesunyian ini menghanyutkanku hingga tidak sadar beberapa anak kelas lain satu persatu mendatangi kelas ini. Untuk melihat Dimas bernyanyi. Untuk melihat orang yang sepertinya sedang sakit cinta. Tunggu, apa jangan-jangan dia benar-benar....


Semestinya aku, cerminkan diriku. Sebelum tirai kamar aku buka. Untuk mengintaimu.


Cinta ya? Derita tiada ujung. Perasaan dalam yang belum kuketahui adanya begitu hangat menyelimuti sukmaku. Hangat, namun juga dingin disaat yang bersamaan.


Karenanya orang bahagia dilahirkan ke dunia. Karenanya pula orang ingin menghancurkan dunia. Seberapa besar lagi kau meremehkan perasaan ini, Syam Hendra Purnama? Seberapa banyak lagi penghinaanmu terhadapnya? Tak sadarkah kalau yang kau lakukan hanya menyiksanya sedemikian sakit?


Dinginnya angin..


malam ini, menyapa tubuhku..​


Kulihat dari ujung mataku Diana berdiri diantara keriuhan siswa yang bertepuk tangan kala lagu ini selesai dinyanyikan. Disaat bersamaan dengan tawa Dimas yang mulai kebingungan saat mulai membuka matanya. Kulihat Dimas berkata sesuatu saat aku ikut-ikutan memuji penampilannya.

__ADS_1


"Jangan pura-pura. Lu cuma belum nunjukkin aja." Ucapnya sambil nyengir. Aku hanya menghindari saja percakapan ini. Karena aku masih belum berniat untuk menunjukkan hal luar biasa sepertinya. Belum mampu. Banyak hal yang sulit untuk dilakukan seseorang meski secara umum sangat mudah.


~•°•~


__ADS_2