Permata Dari Negeri Ginseng

Permata Dari Negeri Ginseng
episode 06


__ADS_3

"Euna!"


Aku sampai di pagar rumahku dan melihat keadaan sekitar benar-benar sepi. aku benar-benar b*doh! Ini sudah hampir jam 4! Gila, ini berarti aku sudah 3 jam di rumah Cacan.


Euna berkata bahwa Ia sudah pulang jam 2. Harusnya ia sudah di rumah sekarang. Dan semua akan baik-baik saja, iya kan? Tapi kenapa perasaanku tidak enak sekali ya? Uh, apa mati listrik lagi? Tidak mungkin ah. Aku sudah memeriksanya kok kemarin. Terus apa? Aku merasa ada sesuatu yang janggal, namun sulit sekali untuk mengingatnya.


Ugh, sekarang aku harus segera bertemu Euna untuk menghilangkan kekhawatiranku. Saat tiba dipintu hawa tidak enak berkobar di belakangku. Kulihat Euna menunduk lesu, tangannya mengepal.


"Udah aku bilang, letakkin kuncinya diluar. Kunciku rusak!!"


Pernyataannya membuatku terhenyak. Ini mimpi buruk! Jadi dia selama 3 jam menungguku pulang dan terkunci diluar? Astaghfirullah, rupanya aku benar-benar kakak yang buruk.


"Oppaaa!!" Geramnya. Aku meneguk ludah. Siap menerima pukulannya. Namun ternyata ia hanya melewatiku. Pandangan tajamnya begitu menusukku.


"Simhan"


("Parah")


 


~•°•~


 


Cirebon, 27 April 2016


14.40 WIB


"Hah? Beneran nggak bisa pulang bentar aja apa Yah?"


"Nggak bisa Syam. Ayah minggu ini nggak bisa pulang. Pekerjaan ayah yang nuntut ayah buat stay disini sampai minggu depan." Aku hanya bisa menekuk wajahku.


Benar, kepulangan Ayahku kembali ditunda minggu ini. Katanya ayah memiliki target di perusahaan miliknya yang harus dicapai dalam beberapa minggu. Ini sudah minggu kedua ia tidak pulang. Kami hanya dikirimi uang tiap minggunya demi kebutuhan kami sehari-hari.


"Aduh, soalnya... Situasinya lagi parah banget nih Yah." Ucapku lewat sambungan telepon dengan suara yang sengaja dipelankan.


Kulihat Euna yang menuruni tangga hanya berjalan santai seperti tak melihatku. Bukan tidak melihatku, dia sengaja mengacuhkan keberadaanku! Padahal posisi tangga dan telepon rumah hanya berjarak dua meter.


"Hahaha.. Emang ada apa?"


"I-itu...."


Euna menarik kursi makan dan mengambil sepiring nasi. Ia hanya makan mie instant pagi ini. Kelihatan sekali dia benar-benar menjauhiku.


Bahkan empat hari ini dia tak berangkat sekolah denganku, atau memakan masakanku. Ia menyisihkan jatah uang sakunya untuk membeli makan sendiri.


Benar. Sudah empat hari berselang semenjak kejadian itu. Kejadian dimana aku tanpa sengaja membiarkan Euna terkunci diluar rumah hampir dua jam lamanya.

__ADS_1


Disaat yang sama, ciuman pertamaku juga hampir hilang di tangan tetanggaku, Diana Candra Dewi.


Seandainya terjadi pun kami melakukannya atas dasar saling suka. Tunggu, apa benar aku juga menyukainya? Bukankah aku b*rengsek jika aku melakukan itu hanya berdasar pada hasrat semata?


Hingga saat ini aku bahkan tak memiliki perasaan yang orang sebutkan tentang datangnya cinta. Dimas Saputra, sang maestro bercinta pernah mengemukakan padaku tentang 'apa yang kau rasakan saat cinta datang padamu.'


~•°•~


Cirebon, 24 April 2016


16.40 WIB


"Hohoho, lu butuh saran asmara Syam? Ga nyangka gue orang yang tahan ngejomblo sekarang bermain-main dengan AS-MA-RA!"


Ia yang sebelumnya membaca novel kesayangannya kini mulai merentangkan tangan bak seorang pujangga.


Beberapa saat sebelumnya aku menyatakan pertanyaan 'mengapa orang gampang banget pacaran.' Aku hanya melihatnya tanpa ekspresi. Tentu, makan sukro jauh lebih asoy daripada mendengarkan orang yang tiap hari kerjaannya nge-bokep. Dia berdehem pelan lalu melanjutkan.


"Kalau lu ngira seseorang yang nyaman sama lu kemudian dia perhatian sama lu adalah tanda dia cinta sama lu maka lu salah! Salah besar Syam!"


"Masa sih? Tapi kan...."


Aku mengerenyitkan dahi karena menurutku pernyataannya tidak masuk akal.


"Ini teori gue, rasa nyaman dan perhatian adalah perwujudan lain dari lamanya waktu yang lu habiskan bersama dia. Itu nyaman! Dan nyaman, datang setelah lu merasakan cinta. Nggak percaya? Pernah lu denger benci jadi cinta? Nah, nyaman tercipta dari hasil datangnya cinta. Tapi nyaman tanpa cinta? Itulah kenapa seiring berjalannya waktu orang pacaran akan putus dan bosan karena sebenarnya tak ada rasa cinta dalam diri mereka. Dan inilah kenapa banyak orang yang selingkuh, karena orang saat ini lebih mencari perhatian dan rasa nyaman dibandingkan orang yang benar-benar mencintainya. Karena cinta tak lekang oleh usia. Dan inget Syam Hendra Purnama! saat seseorang tersakiti itu bukan cinta namanya. Karena cinta tak pernah menyakiti." Pungkasnya sambil tersenyum. Aku tertegun beberapa saat sebelum tertawa masam.


"Dan gue bakal ngomong sekali aja, jadi dengerin baik-baik. Satu, saat lu jatuh cinta mata lu akan terhipnotis saat dia bicara sama lu."


Aku mengangguk paham. Tanganku sibuk merogoh butiran sukro dalam kemasan kuning bermerk terkenal itu.


"Kedua. Lu nggak akan pernah bisa bicara bohong sama dia. Seandainya lu coba bohong, dia akan langsung sadar. Kenapa? Karena lu nggak akan kuat adu pandang sama dia."


Aku sedikit tidak percaya. Masa cuma menatap aja nggak kuat?


"Lanjut. Yang ketiga?"


"Yang ketiga. Ini kategori umum, saat dia tersenyum dan menyentuh lu meski sekecil ujung kuku. Badan lu akan menunjukkan reaksi istimewa yang belum pernah lu rasain sepanjang hidup lu."


"Hah? Reaksi istimewa gimana?" Tanyaku kurang mengerti. Dia tersenyum melihatku mulai tertarik. Kemudian ia mengambil posisi duduk berhadapan denganku.


"Badan lu, tiba-tiba akan ser-seran. Jantung lu berdebar-debar, pikiran lu blank, keringet dingin nggak karuan! Tapi..."


"Tapi....?" Kejarku.


"Kalo lu udah nggak disentuh lagi, lu kayak orang yang abis kehilangan ion. Lunglai! Hopeless! Serasa dada lu kosong melompong nggak ada isinya."


"Kok yang terakhir malah kayak orang.... Terangsang?" Ucapku dengan wajah polos. Ia tampak berpikir.

__ADS_1


"Yah, mirip-mirip lah. Anggap aja begitu."


Ia berdiri dan kembali duduk dimeja belajarnya, kemudian lanjut membaca novelnya.


"Pokoknya, kalo lu ngerasain itu. Nggak salah lagi. Lu pasti jatuh cinta!"


Aku hanya membaringkan tubuhku diatas karpet dan menatap langit kamar, lalu terpikir sesuatu.


"Oh iya Dim. Kan lu belom punya cewek. Kok lu bisa ngasih saran begitu?" Tanyaku. Tiba-tiba ia yang terfokus pada bukunya kini terganggu konsentrasinya.


Tertohok mungkin, karena meski tengah memulai debutnya di dunia perlendiran namun tak sekalipun gadis yang serius ingin merajut cinta dengannya. Dimas yang mulai kesal mulai melempariku dengan buku-buku disamping laptop nya.


"Berisik banget si! Gangguin gue baca aja!


~•°•~


Aku tersenyum miris beberapa saat mengingat kejadian memalukan itu. Seorang pecinta novel dadaka tiba-tiba menjadi pujangga mendadak yang mengajariku soal cinta.


Seberapa dungunya aku ini? Tapi, aku tidak tahu apa memang perlu waktu, atau memang aku tak memiliki perasaan itu. Setelah adegan kami di kamar Diana aku belum merasakan apa yang Dimas katakan soal cinta.


"Syam?"


"Syam, Kamu denger Ayah?"


"Oh Iya, Yah! Maaf." Aku yang tak sadar melamun segera menjawab pertanyaan ayahku.


"Huh, masih muda kok ngelamun mulu."


"Hehe, maaf. Jadi sebenarnya.. Euna lagi baper, Yah."


"Hmm? Baper? Hahaha baper gimana maksudmu?"


"Yaaa, dia ngediemin aku, ngacuhin aku, terus sikapnya jutek banget. Udah kayak Ibu-ibu ngidam."


"Hahahaha.. Kok bisa gitu?"


"Iya, jadi ceritanya kunci duplikat Euna rusak, dan dia lagi pergi ke rumah temennya. Nah, kebetulan. Pas hari minggu itu aku juga lagi main ke rumah Diana.. "


"Diana? yang tetangga belakang rumah itu?" Tanyanya memutus penjelasanku.


"Iya yang itu! Terus aku lupa dan malah bawa kuncinya pergi kayak biasanya. Ya, Euna tadi nggak bisa masuk rumah deh, nu-nungguin aku pulang s-satu jam setengah.."


"HAHAHAHAHA!"


Tiba-tiba terdengar sesuatu..


"BRAKKKKKKKKK!!"

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2