Permata Dari Negeri Ginseng

Permata Dari Negeri Ginseng
episode 07


__ADS_3

"HAHAHAHAHA"


"BRAKKKKKKKKK!!"


Bersamaan dengan tawa ayah yang meledak-ledak, suara mangkuk plastik terjatuh menggema di ruangan ini.


Mie didalamnya berhamburan, bersama dengan kuah mie yang tumpah menggenangi lantai. Aku bergidik karena yang menjatuhkannya adalah Euna.


"Eerrrrr... Sseuleojio"


("Eerrrrr... Jatuh") Gumamnya seraya memunguti mie yang berserakan. Gawat! Lama-lama aku bisa dibunuh!


"Ayah! Kok malah ketawa sih! Ini bahaya banget! Dia mogok makan masakan aku coba!" Protesku karena tawa ayah yang tak berhenti terdengar.


Euna meletakkan mangkuknya di cucian piring dan memasak mie yang baru. Ia menyalakan gas dan mulai merebus mie dalam panci kecil.


"Hahahaha, lagian kamu sih oon banget! Masa adik sendiri dibiarin kekuncian di luar? hahaha"


Aku hanya menatap telepon itu datar. Rasanya agak gimana gitu dibilang oon sama ayah sendiri.


"Ini kesalahan kamu. Jadi kamu harus bertanggung jawab! Biar gimana dia itu anak dari Mi Kwan Hae, Ibu kamu. Jelas kelakuannya mirip. Kalo ayah ada di posisi kamu pun ayah akan dicuekin begitu sama Ibu kalian. Seminggu malah."


Aku cukup kaget mendengarnya. Berarti ayah juga sering mengalami hal seperti ini bersama Ibu.


"Iya ya. Dia mirip banget sama Ibu." Ucapku lirih. Kulihat Euna telah selesai memasak dan kembali ke meja makan untuk menyantap mie rebus nya.


"Hei, Syam." Suara telepon ayah mengalihkan perhatianku.


"Apa kalian kangen sama Ibu?"


Mulutku bahkan tak terbuka untuk menjawabnya. Hanya suara gemerusuk suara telepon yang menghubungkan kami.


Aku tahu, ayah pun tahu. Kami berdua.. Ralat, maksudku kami bertiga benar-benar merindukan ibu. Saat bahagia kami, waktu-waktu menyenangkan itu. Terasa baru kemarin berlalu.


Dan satu-satunya alasan ayah membenamkan dirinya dalam kesibukan adalah rasa dukanya yang belum juga menghilang karena kepergian Ibu.


"Ayah kangeeenn banget sama Ibu. Kalau dia masih ada sekarang mungkin nggak.. ya Ayah dimarahin karena ninggalin kalian gini?" Suaranya memberat. Aku yakin mengatakan itu semua menguak goresan itu kembali terbuka lebar. Aku lebih memilih diam mendengarkan.

__ADS_1


"Ayah rasanya udah jadi ayah yang jahat buat kalian. Ninggalin semuanya cuma demi kerjaan, ngabisin waktu dan pikiran cuma demi uang yang bahkan nggak bisa menyelamatkan Ibu untuk tetap bersama kita.."


"Ayah......!"


"Padahal doa kita nggak macem-macem kan Syam, Euna? Kita cuma pengen terus bareng-bareng. Sekalipun harus berpisah karena kematian pun, Ayah nggak nyangka akan secepat ini."


Tubuhku meradang, membimbing jari-jariku mengepal. Urat-urat syarafku menekan segala emosi ku yang tak stabil.


"Seandainya Ibu berada di sisi kita la..,-"


"AYAH! CUKUP! IBU NGGAK BUTUH TANGISAN KITA!"


Untuk pertama kalinya aku berteriak keras pada orang tuaku. Nafasku tercekat menyadari Euna menatapku tajam, seperti tidak suka.


Tapi tiba-tiba dia mengalihkan pandangannya cepat dan kembali memakan mie nya.


"Karena.. Ibu bahkan lebih nggak senang melihat kondisi ayah yang seperti sekarang! Kita memang butuh ibu! Kita kangen sama ibu! Tapi bukan berarti hidup kita berakhir karena dia nggak disini lagi. Bukannya akan lebih baik kalau kita berusaha? Mendoakannya? Biarin ibu tenang melihat kita disana." Nafasku tersengal menyelesaikan kalimatku.


Aku bahkan tidak peduli Euna menatapku seperti apalagi. Mungkin baginya aku adalah b"debah sampah yang mengusik nama mendiang ibunya yang telah tiada.


Pikiranku hanya satu, aku harus menyelamatkan ayah. Dia adalah orang tua kami satu-satunya. Jika ayah pergi meninggalkan kami, bahkan disaat kami tidak mampu untuk melihatnya. Lantas kemana kami harus berlabuh?


Kata-kata ayah memukulku telak dalam kebekuan.


Kudengar isakan pria paruh baya itu, orang tua tercintaku menangis karena perkataanku padanya. Apa aku menjadi orang yang hina sekarang?


"Nggak, Yah. Ayah nggak salah. Kita hanya perlu memperbarui hidup kita. Pola pikir kita. Syam pengen mulai besok Ayah pertimbangkan untuk buka cabang di sini. Maaf, bukan Syam sok tau jadi anak. Ngebangkang sama orang tua. Nggak patuh. Syam cuma pengen ayah denger permintaan seorang anak yang bahkan belum pernah menuntut apapun dari orang tuanya."


Ia membisu, menunggu bibirku kembali berucap.


"Akan lebih baik kalo Ayah disini. Ada Euna yang masih membutuhkan ayah. Dan ayah harus tau...." Aku mengecilkan suaraku dan tersenyum.


"Dia sangat cantik seperti Ibu." Aku tak kuasa menahan air mataku. Tak ada balasan dari seberang sana. Memaksaku memaku kakiku dan termenung di sudut tangga rumah ini.


"Kalau Ibu tau anak ayah sudah sebesar ini, pasti Ibu akan senang. Ayah bangga sama kamu, Nak. Maafin ayah karena salah selama ini. Ayah benar-benar hilang akal, karena Ayah begitu mencintai Ibumu. Baik, akan ayah pertimbangkan untuk buka cabang di Cirebon. Dan untuk kamu, Syam. Jaga adikmu baik-baik. Ayah punya trik agar membuat dia kembali ceria lagi sementara."


"Trik?"

__ADS_1


"Hadiahnya harusnya sudah sampai sekarang. Dia dari kemarin minta ayah beliin. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf pada adikmu."


"Heh? Hadiah apa? Dikirim kesini sekarang?" Aku menengok ke arah Euna. Tampak ia hanya mencuri-curi pandang padaku, kulihat senyuman samar ia sembunyikan dari balik bibirnya.


Tapi sepertinya senyumannya tidak ditujukan ke arahku. Menyebalkan.


"TING-TUNGGG!!!" Bel rumah itu berbunyi beberapa kali hingga membuat kami sadar. Ada tamu? Tumben banget, pikirku.


"Yah, udah dulu ya Yah. Kayaknya ada tamu nih." Ucapku. Sementara Euna sudah meninggalkan meja makan dan lekas-lekas pergi keluar untuk memeriksanya.


"Oke. Bilangin permintaan maaf ayah ke Euna ya."


Setelah menutup telepon aku segera menyusul Euna ke depan. Kulihat beberapa orang dari layanan jasa pengantar barang datang membawa sebuah kotak besar dibungkus seperti kado. Aku tercengang melihat Euna terpingkal-pingkal kegirangan.


"Huaaaaa!!! Hei Hei, ige... Nae seonmul maj-ji?"


("Huaaaaa!!! Hey hey, Ini... hadiahku, kan?") Tanyanya bersemangat yang membuat kurir barang itu menggaruk kepalanya tak mengerti.


Sudah jarang kulihat tawanya serenyah itu. Grrrr, di rumah aja hawanya kayak pengen bunuh gue, batinku kesal.


"Dari siapa, Pak?" Ujarku mendekati mereka.


Euna kembali memalingkan wajahnya didepanku. Enggan untuk melihatku. Aku hanya menggelengkan kepalaku.


"Oh, Ini Mas." Kurir itu melepas sebuah kertas yang menempel pada kado dan memberikannya.


Belum sampai ditanganku, Euna merebut kertas itu dan membacanya. Iris kecoklatan itu bergulir cepat membaca kata demi kata yang tertuang di kertas itu.


Ia tersenyum sumringah dan melempar kertas itu sembarangan. Aku memungut kertas itu dan membacanya.


**Hadiah ini adalah permohonan maaf untuk....


Anak perempuanku :p**


Alisku berkedut menyadari sebuah kalimat 'Anak perempuan' dan 'kode emoticon lidah melet'.


Ayahku, beberapa saat lalu, terhanyut dalam lautan air mata. Dan sekarang, seperti tak terjadi apapun, dia memberikan kado pada satu anaknya saja. Yang lebih membuatku geram adalah, Apa-apaan emoticon itu? Aku tahu itu ditujukkannya padaku!

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2