Permata Dari Negeri Ginseng

Permata Dari Negeri Ginseng
episode 13


__ADS_3

*Cirebon, 26 Februari 2016


19.20 WIB


Pov Syam*


Aku berjalan santai diantara lalu lalang manusia di dalam mall ini. GRAGE Mall, salah satu pusat perbelanjaan yang akhirnya kudatangi malam ini.


Sebelumnya aku pergi ke Gramedia yang ada di lantai dua mall ini. Aku hendak mencari beberapa bahan referensi pembelajaran untuk menghadapi ujian nasional.


Kau bahkan bisa lihat aku menenteng tas plastik berisi dua buah buku besar. Tentunya berisi kumpulan soal dan pembahasan ujian nasional tahun lalu. Satu untukku, dan karena aku kakak yang baik aku mencarikan satu untuk Euna.


Langkahku terhenti.


"Euna.." Suara parauku membawa pikiranku kembali teringat akan adikku. Suara yang mengusikku di toko buku tadi. Bayangan tengah malam yang bergejolak, hanyut tersapu gelombang nestapa. Tunduk dalam amuk sesuatu yang menguasai tubuhnya. Membuat bulir keringat membasahi dahiku, tak ingin mengingatnya lagi.


Siapa yang salah? Aku dengan ke’tidak mau tahu’anku karena membiarkannya? Atau dia yang berlarut-larut hingga tak sadar kakaknya ini mengintipnya dibalik sela pintu?


Langkah menggiringku untuk duduk disebuah bangku panjang di depan sebuah kios toko. Aku termenung, mengingat kejadian tadi pagi.


***


Aku melihatnya. Gadis Korea itu berdiri di depan sebuah kompor gas. Wajahnya menunjukkan ekspresi lucu setiap kali menyentuh bibir tipisnya, bingung apa yang harus dilakukan.


Terkadang ia berjongkok memerhatikan tabung gas, berlagak seperti mengerti namun ternyata hanya menyentuh saja permukaan tabung. Takut salah mungkin.


Beberapa kali tangannya memutar tuas kompor yang tak kunjung menyala. Aku hanya memerhatikan polahnya saja di lantai atas. Belum berniat untuk turun dan membantu.


"Usshh.. Igeon eottae?"


("Usshh.. Gimana nih?") Lirihnya mulai putus asa. Ia berjongkok sambil memegang kepalanya. Berharap wajah bingung itu tersembunyi dibalik helai dress tidur yang tak mampu menutupi kaki belalangnya.


Kelihatannya dia ingin memasak sesuatu dulu sebelum mandi. Iya, aku dan Euna adalah tipe orang yang agak risih jika makan sebelum mandi.


Kuperhatikan seksama, Ia mengenakan dress warna biru. Bukankah semalam ia masih memakai piyama? Kotor kah? Basah? Leher jenjangnya yang putih mulus itu membuat darah kelelelakianku berdesir.


Irisku melebar, teringat akan kejadian semalam yang membutakan hati dan pikiranku. Membutakan perasaanku. Mengungkap bahwa sejatinya aku tak ubahnya seekor binatang yang ditunggangi bersalahku sendiri.


Sial, pikirku. Sejak awal aku bisa saja pergi dari pintu itu dan kembali ke kamar.


Baik, Syam Hendra Purnama. Sekarang aku harus gimana? Pura-pura tak terjadi apapun dan bersikap seperti biasanya? Menutupi semuanya dengan berlagak seperti kakak yang baik?


Tidak! aku bahkan tak sedikitpun bisa melupakan itu. Meski Ia tak menyadari pun, kuyakin akan canggung rasanya setiap aku berpapasan dengannya. Terlebih kami tinggal seatap. Belum lagi, hubungan kami juga belum baik sekarang. Ayolah.. ini salahnya kan? Benar! Dia yang salah! Karena tidak menutup pintu!


Tidak. Itu hanya pembenaranku saja. Sebenarnya bukan salah Euna. Ini salahku yang berniat menyelinap ke kamarnya demi hadiah bodoh itu. Bagaimanapun dia adalah gadis remaja yang sedang memasuki masa pubertas. Wajar anak seusianya mengetahui hal seperti itu. Dan aku juga tak boleh menghakiminya dengan bersikap terlalu kolot.


Ya, Aku cuma kakaknya. Bukan ibu atau ayahnya. Dan kau bisa tambahkan kata 'tiri' untuk memperjelas jarak kami.

__ADS_1


Perihal laptop ayah, aku tak terpikir hal lain selain kebetulan. Kebetulan Ia meminjamnya, kebetulan dia iseng dan membuka penyimpanan file, kebetulan ia melihat ‘sesuatu’ dan kemudian secara ‘naluriah’ tertarik, kebetulan ia terkejut.


Ah, mikir apa aku ini. Tidak, selama ini kulihat Ia adalah gadis polos yang bahkan menutup mata saat adegan french kiss terputar di film.


Aku yang terlalu bodoh untuk menyadari kedewasaan adikku, atau memang dia teracuni oleh pihak-pihak tertentu? Hmm, tersangka pertama yang kupikirkan sih, temannya itu. Siapa ya namanya waktu itu, umm.. Sarah? ah, tidak sebaiknya jangan menyalahkan orang lain dulu. Tapi mungkin aku bisa mencaritahunya nanti.


"Ahaaaa...!"


Tiba-tiba wajah Euna terangkat. Bibir kecilnya terbuka seperti tercetus sebuah ide. Yang sebenarnya membuat perasaanku tidak enak. Ia dengan langkah cepat pergi ke ruang belakang. Dan kembali dengan membawa sesuatu di tangannya.


Apa itu? Dia dari gudang penyimpanan alat kan tadi? Pikiran dipenuhi pertanyaan tentang apa yang akan dilakukan anak ini. Oke! Mari abaikan keresahanku dulu, ‘ide brilian’ adikku beberapa saat lalu membuatku diliputi kecemasan.


Gadis itu mengeluarkan sesuatu dan hendak mencoloknya ke lubang tabung. Itu kan…..


Obeng?! pikirku. Mataku membulat. Seketika aku langsung turun dan merebut benda itu dari tangannya. Agaknya kehadiranku yang tiba-tiba sedikit mengejutkannya.


"O-oppa.." Ia terhenyak beberapa saat. Ia menatap obeng ditanganku dan beralih menatap wajahku. Rautnya tiba-tiba merengut. Kurang ajar.


"Mwo il-iya?"


("Ada apa?") Gumamnya tak melihatku. Masih marah ya?


"Bodoh! Kalau gitu kamu bisa-bisa ngeledakin seisi rumah ini." Ucapku mencoba untuk tidak menggubrisnya.


Aku berjongkok dan melepas selang gas. Kuangkat tabung lain di sisi rak piring dan mulai memasangnya. Sial! gimana mau ngehindar coba? Rutukku dalam hati.


"J-jeug... Neo tto mwol wonhaneungeoya? Eunaneun moleunoyo."


"Biar kakak aja yang masak. Kakak nggak tahu kamu masih semarah itu. Kakak bener-bener minta maaf."


Ia terdiam dan menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Kutuangkan minyak sayur ke wajan, dan mulai memanaskannya.


"Euna bisa masak sendiri, kok." Ucapnya bersikukuh. Aku yang memunggunginya dan mulai memasak hanya mendesah kecil.


"Masak mie kan? Ayah bakal marah kalau tahu kamu makan mie tiap hari. Nggak sehat katanya."


"Euna bisa! Masak... Umm... Telur.. Iya telur!" Ia nampak berpikir. Heh? Telur mata sapi? Dadar? Itu kemajuan, pikirku.


"Rebus." Lanjutnya. Aku menatapnya datar dan kembali memasak.


"Kamu udah besar, dan kakak nggak bakal maksa kamu. Itu terserah kamu kalau mau makan atau nggak. Yang penting kakak udah nyoba masakkin buat kamu. Walaupun nggak kamu makan." Ucapku pelan.


Memang, dari kemarin makanan yang kubuat untuk Euna masih utuh. Malah justru aku yang memakannya saat pulang sekolah.


Ia tak bergeming, tapi kurasa dia masih mematung di belakangku. Kemudian ia menarik meja makan dan mulai menunggu masakanku. Tak mau ribet aku hanya memasak telur dadar saja. Kumasukkan irisan bawang dan cabai kedalam kocokan telur dalam mangkuk, tak lupa kutambahkan garam serta penyedap rasa. Aku pun mulai menggorengnya.


"Nih.."

__ADS_1


Aku menaruh sepiring telur dadar di atas meja. Bibirnya mengerucut kecil seakan tidak suka jika kami harus berbaikan begitu saja. Ia mengambil satu dan memakannya.


"Gimana?"


"Biasa aja!" Ketusnya. Aku hanya tersenyum tipis melihat polahnya. Dia memang mirip seperti Ibu. Jelas aku harus menjaganya. Dan bagaimana kau bisa memiliki suatu rasa dengan gadis ini?


Tubuhku menegang. Romaku meremang diantara kulit lenganku. Kutatap Euna, namun bukan ia yang kulihat, melainkan pantulan dirinya yang mendesah nikmat tanpa busana, menggelinjang dalam desah nafas yang memburu.


Mataku terbelalak seakan ingin meloncat dari kelopakku. Dahiku mengerenyit tak mampu menafsirkan apa yang kulihat. Benar. Apa yang membuatku kalap hingga terlahap.


Tanpa kusadari....


"Hey Euna..."


Aku bukan lagi manusia.


"Hmm?" Ia hanya berdehem pelan sambil mengunyah makanannya.


Yang ‘mengeras’ oleh hasrat terhadap adik perempuanku.


"Eumm..." Aku gusar, permukaan meja kini adalah objek yang tertangkap ujung mataku.


Seorang.... Bajin*an..!


"Kenapa ada laptop ayah di kamarmu?" Tanyaku tiba-tiba. Dapat kulihat air mukanya berubah.


Idiot!


"Aeh??"


Sendok yang ia pegang terjatuh diatas piring. Menimbulkan suara dentingan yang cukup berisik. Suasana berubah menjadi tidak menyenangkan.


Hening, seakan dunia memisahkan kami dengan pembatasnya. Ah, iya. Aku ingat ini. Ini sama seperti saat aku gugup menghadapi Euna dulu.


"Euhh, maksudku tadi kakak sempet lihat. S-soalnya kamar kamu agak terbuka." Panikku berusaha meralat kata-kataku. Mendengarnya ia agak tenang.


"Ohh Gitu.. Kemarin aku pinjam buat ngerjain tugas." Ujarnya singkat. Kembali menyuapi nasi ke dalam mulutnya. Dia berbohong? Pikirku..


Tidak! mungkin dia benar. Tujuan awalnya adalah mengerjakan tugas mungkin. Aku seorang yang terlambat sadar.


"Kenapa Oppa tegang gitu?" Selidiknya. Kurasa dia menangkap kecurigaanku.


"Ah? Ahahahaha. Mana tegang? Nggak kok!" Aku terkekeh sambil menggaruk kepalaku. Tiba-tiba dia menyela.


"Euh, uhmm.. Itu... Oppa, a-aku mau ngakuin sesuatu. Sebenarnya, soal kita itu... Aku cuma......" Ia mengetuk-ngetukkan kedua telunjuknya. Wajahnya sedikir memerah, seperti menahan urat malunya. heh? Gawat! Dia mau ngaku soal kejadian semalem nih? Depan gue langsung?


"A-aahhhh!!! A-anu, kamu berangkat sendirian lagi kan? kakak berangkat duluan ya?" Aku yang tidak siap, langsung menarik bangku dan segera beranjak. Sebelum Euna dapat menghentikanku, aku sudah keluar dari pintu rumah.

__ADS_1


Bahwa aku sendirilah yang menghancurkan semuanya


~•°•~


__ADS_2