
Kutatap datar layar di depanku. Kini ada berbagai macam folder dengan judul yang tidak asing dimataku. Ada note disana. Kubuka dan benar saja itu adalah catatan dari Dimas.
*Untuk satnight temen gue.
Dimanakah letak perembunyian para jomblo ketika malam minggu datang? :v
Terima kasih udah mengizinkan gue menemani malam minggu lu. Gue tau berat buat seorang lelaki berstatus jomblo menghabiskan malam minggu tanpa hujan sendirian. Jadi ucapin makasih buat gue yang mau susah payah ngirim koleksi novel terbaik gue ini*.
Wo-woh! Jangan ngamuk dulu karena yang gue kirim ini bener-bener koleksi emas gue. Yang udah gue filter sedemikian rupa secara eksklusif buat lu. Dan beberapa diantaranya ada genre favorit gue, hehehe... Tau kan? incest. :v
*Gue nggak tau lu suka apa nggak, yang jelas harusnya nggak masalah karena kita ini anak tunggal. So, ucapkan selamat tinggal pada norma-norma yang berlaku. And enjoy your time, buddy.
Salam incesters
Dimas*
"Hahahah, sialan." Aku tertawa kecut melihat pesan itu. Temanku ini memang tak ada matinya kalau masalah satu itu. Sialan, pake ngehina jomblo lagi. Y-yah aku tak mengelaknya. Tapi tak perlu sefrontal itu.
Kuharap kupingnya berdengung sekarang ini. Ah, sudahlah. Kulihat isi folder itu untuk memastikan. Benar saja, beberapa novel dengan judul dan genry yang berbeda-beda. Tidak munafik, aku sendiri memang mengoleksi beberapa hal seperti ini. novel tentang incest maksudku!
Ya, tolong jangan memandangku sebagai lelaki polos yang sok suci. Atau seorang kutu buku namun minim pengetahuan tentang itu. Tidak! Aku hanyalah pemuda biasa yang penuh dengan fantasy dan imaginasi!
Kau bahkan tahu jauh sebelum kalian mengenal kata 'intim'. Di usiaku yang masih terbilang kecil aku sudah melihat adegan asli orang bersenggama. Dan sialnya itu adalah ibu kandungku sendiri.
Untuk genre aku menyukai hampir semua genre. Pengecualian untuk scat dan hal menjijikkan itu ya. Aku masih normal. Untuk genre incest aku memang sengaja berusaha menghindarinya. Tapi Dimas mungkin berpikir aku menganggap itu suatu hal yang menjijikkan. Maka dari itu dia sengaja mengirimiku beberapa tentang incest. Jahil mungkin.
Itu pun karena dia menganggap aku anak tunggal sama sepertinya. Karena belum saatnya gue ngasih tahu lu, gue punya adik, Dim. Nggak.. Meskipun Diana tau. Terlepas lu itu sobat gue atau bukan, Euna tetap memandang lu sebagai cowok. Orang yang akan selalu dia hindari..
Karena traumanya.
__ADS_1
Tubuhku membeku, sementara kakiku yang menapakki lantai kini mengeras seperti terpaku ke bumi. Hawa dingin mulai merayapi sarafku dan akhirnya menjalar hingga sampai ke wajahku.
Layaknya roll film yang terus berputar, aku kembali mengingat ketika bulir keringat itu mengaliri kulit halusnya. Wajah terengah yang tersamarkan temaram lampu kamar. Sontak aku segera tersadar dan melakukan tindakan cepat.
Kupindahkan file itu ke folder penyimpananku dan meng-hiddennya. Kuhembuskan nafasku perlahan. Inilah yang ku khawatirkan.
Bukan apa-apa, jauh di dalam diriku hanya takut. Takut jika aku yang setengah manusia akan menjadi hewan seutuhnya dan menodai kesucian adikku. Takut jika seandainya aku benar-benar terobsesi dan menjadikan adikku sebagai media imaginasiku. Benar, aku punya adik. Satu-satunya adik perempuan yang harus kujaga dan kulindungi bahkan dengan nyawaku sendiri.
Kulepaskan headphone yang melekat di kepalaku. Seketika rasa pening menggoyahkan tubuhku. Apa-apaan yang barusan itu? Aku terlalu naif. Nyatanya itu akan selamanya menjadi suatu suara tanpa sahutan.
Sepenggal kata tanpa balasan, sebuah pertanyaan tanpa jawaban. Telingaku kembali menangkap kegaduhan yang terdengar dari samping kamarku.
"Uhh, ottae, Sa-ssi."
("Uhh, gimana nih, Sa.")
"Hihihi kenapa Euna?"
"Hahaha, emangnya kenapa? Masalah? Gimana kalo aku giniin?"
"Kyahh.. Anii, Hajima! Hihihi, meomchuo! M-meomchuo yoo, Sa-ssi!"
("Kyah.. Nggakk, Jangaaann! Hihihi, berhenti! B-Berhenti, Sa!")
Kumohon, jangan tanya apa yang kupikirkan mengenai ini. Keningku mengerut, kubenamkan wajahku perlahan. Berharap dapat tersembunyi dibalik kedua lenganku yang bersidekap diatas meja. Inilah alasan kenapa aku menenggelamkan diri dengan game. Aku pikir keseruan dapat menghanyutkanku agar tak mendengar ocehan mereka berdua.
Itu benar, ada iblis kecil yang masih singgah di sebelah kamarku. Kau tahu Sarah? Benar, siapa lagi? Anak itu… Yang entah kenapa dari sekedar main kini berusaha lebih lama disini dengan alibi belajar bersama. Ah, terserah! Menjalin tali silaturahmi atau apapun. Klise sudah jawaban itu. Cepat pulang lu, bocah kampret!
Gigiku bergemeretuk menahan rasa dongkol yang meledak-ledak. Baru saja dua kali kami berinteraksi dia sudah memperlihatkan wajah aslinya.
__ADS_1
Kita buang pemikiran awalku tentang sifat malu-malu saat meminta pin BBM-ku. Ternyata teman Euna tidak sepolos yang kuduga. Dan menyebalkannya, dia menggunakan tampang malu-malunya sebagai kartu truf untuk membuatku mati kutu. Kemarahan Euna. Kurasa dia.. Akan benar-benar mendiamkanku lagi. Argh, si*lan!
Tapi kalau dipikir-pikir si Sarah itu.. Gimana ya bilangnya? Dia itu agak bitchy-bitchy gitu deh. Aku bergidig membayangkannya. Aku tak habis pikir, hasratku dipermainkan oleh dua orang gadis. Kemarin Diana, sekarang bocah ini.
Tapi ada perbedaan dia dengan Diana. Kalau Diana, Ia tetap tahu tempat jika mau menggodaku. Dia akan menjaga sikapnya di depan orang-orang, namun ketika berdua ia lebih agresif dan cenderung membuatku salah tingkah. Nah, kalau si Sarah ini...
"Hahaha, enak kan?"
"Hee? Mwo? Tteus-iya?"
("Hee? Apa? Maksudnya?")
"Ininyaa!!"
"AAHHH! J-Jamkanman.. Hihihi… SA-SSI HAJIMA!"
("AAHHH! T-Tunggu dulu.. Hihihi... SA JANGAN!")
Hadoh, benar-benar. Lama kelamaan aku merasa sepertinya Sarah sengaja melakukan itu karena tahu aku ada di sebelahnya. Jenjang! (Si*lan!)
Baik! Baik! Kita sudahi dulu pemikiran bodoh ini. Aku harus menyingkirkan kemarahanku karena bagaimanapun ini pertama kalinya Euna membawa temannya ke rumah. Jelas aku senang karenanya. Tapi meski harus santai dan bersikap welcome, tidak mungkin sekarang aku tidur dan menurunkan kewaspadaanku.
Tidak akan! Ini soal adikku. Terlebih aku memang mencurigai anak ini sebagai biang keladi dibelakang kejadian itu. Kejadian dimana kepolosan adikku ternodai oleh 'hal nggak-nggak'.
Aku memang tahu itu kecerobohan Ayahku yang tidak menjaga laptopnya tetap safety. Tapi ini aneh, Euna yang aku tahu, bisa saja langsung menutupnya saat itu. Tapi ternyata? Brengsek! Kalau melihat dari gelagatnya pasti Sarah yang mengotori pikiran adikku! Ya, akan lebih baik kalau aku mengawasinya nanti.
Terus.. Gimana sekarang? Kugaruk kepalaku yang tidak gatal. Dari siang tadi aku memang tidak merasa terganggu dengan kehadiran Sarah. Karena mereka hanya berada di dalam kamar Euna. Entah apa yang mereka lakukan. Sekarang bagaimana aku harus mengawasinya?
Tidak, mengintip bukan jalan yang bagus. Berlagak meminjam sesuatu juga nggak mungkin. Euna akan curiga itu akal bulusku untuk memodusi temannya. Nyelonong masuk? Gila, mau disemprot Euna? Huh! Ini percuma. Aku tak terpikir ide apapun. Kamar Euna adalah garis keras yang tak boleh dimasuki olehku. Satu-satunya cara hanya menunggu mereka keluar.
__ADS_1
"TING-TUNG!"
~•°•~