
"I seonmul-eun nae kkeoya! Sou sou! daddy will never give this to someone let he's sister locked outdoors."
("Hadiah ini adalah milikku! Bener banget! Ayah nggak akan mungkin kasih ini sama orang yang ngebiarin adiknya terkunci di luar.") Ucapnya bergumam sendiri tanpa menatapku.
Ia mendekap kado itu erat-erat. Ni anak udah pinter ngomong inggris rupanya. Bukan rasa bersalah, justru rasa kesal yang memenuhi dadaku.
"Ayo, Pak! Bawa masuk ke dalam!" Ujarnya meninggalkanku begitu saja. Aku hanya menatap tubuh itu berlalu dari pandanganku.
"Ini mas. Mohon di tanda tangani dulu." Ucapnya memberikan tanda terima yang langsung kutandatangani. Sementara dua orang yang lain mengangkat kado yang sepertinya cukup berat itu.
Setelah para kurir itu pergi kucoba bicara dengan Euna. Aku menajamkan indra pendengarku di muka pintu. Terdengar suara gaduh diiringi dengan senandung senangnya dari dalam kamar.
"Mwolagu? Mwolagu??"
("Apa yaa? Apa yaa??")
"Euna.."
Aku yang tidak tahan langsung memanggilnya dari luar. Suara gaduhnya tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi. Aku bagai seorang pecundang yang bicara sendiri dibalik pintu kayu ini. Huah, harusnya aku tahu dia masih marah.
"Mwo?"
("Apa?")
Baru aku hendak meninggalkan kamarnya, terdengar suara lirih yang membuatku kembali bersemangat dan kembali lagi.
"Oppa sang-eul bwayo. Haela.."
("Biarin kakak lihat hadiahnya, dong. Pleasee..") Pintaku memelas. Euna tak bersuara. Namun dapat kudengar helaan nafasnya dari balik pintu ini. Sejujurnya Euna itu meski marah begini cukup manis.
Kau kira dia orang yang judes dan berkata kotor kepada kakaknya? Haha.. itu salah! Sama seperti ibu, dia lebih memilih mendiamkanku dalam waktu lama hingga kami berdamai lagi.
"Sirho-yo!!"
("Nggak mau!!")
Oke. Aku tarik perkataanku. Gue bener-bener kesel sekarang. Adek gue nggak ada manis-manisnya. Rasanya seperti dipoles ketek. Kecut sekali.
"Hoo, gitu ya! Oke! Kakak juga nggak terlalu minat kok. Paling boneka beruang nggak jelas. Tadinya Kakak sih mau nge-check aja barangnya, kalo kira-kira ngeganggu sekolah kamu kakak akan sita sementara. Kamu kan mau ujian. Jadi.." Bohongku. Namun Euna langsung memotong ucapanku.
"Euna gwaenchanh-ayo. Oppa, geogjeong mala."
("Euna baik-baik aja. Nggak usah khawatir Kak.") Ujarnya dengan nada riang, yang membuatku semakin jengkel saja. Astaghfirullah...!
"Euuhh... Kakak tuker ama cokelat deh. Yang merk kesukaan kamu!" Tawarku mulai berakal bulus.
__ADS_1
"Sirho-yo."
("Nggak mau.")
"Cokelatnya dua!"
"SIRHO-YO!"
("NGGAK MAU!")
"COKELAT TIGA, TIKET NONTON FILM SAMA TEMEN-TEMENMU!" Teriakku bersikukuh.
"SI-RHO-YO."
("ENG-GAK-MA-U.")
"Urgh, jadi adek nggak ada sayang-sayangnya banget sih sama kakaknya!" aku mulai kehabisan cara mengakali adikku ini. Padahal penawaranku terakhir cukup menggiurkan.
"Nggak salah tuh? Adanya juga Oppa-ssi hargai privasi Euna! Privasi cewek! Nggak pernah denger ya, cowok harus ngalah sama cewek!" Protes Euna yang tampaknya tak mau kalah beradu mulut denganku.
"Nggak! Aku tuh pemegang teguh prinsip kesederajatan manusia, paham kesetaraan gender!" Ujarku penuh wibawa seraya melipat kedua tanganku.
"Yeoggyeoun."
("Menjijikkan.") Ujarnya yang tak mau kalah.
~•°•~
("Sial*nnnnnn!!!!")
Aku berteriak kesal menggeretakan gigiku. Pada akhirnya aku tidak berhasil mengalahkannya dalam perdebatan mulut.
Dan disinilah aku, malam ini. Seorang jomblo yang terbaring di atas kasurnya, diantara hembusan lembut AC yang menyejukkan tubuhku.
Udara malam ini panas sekali, hari ini cuaca tiba-tiba terik dan belum ada hujan sejak kemarin. Saat ke sekolah bahkan begitu banyak debu mengepul di jalanan raya.
Aku menghembuskan nafasku menikmati setiap detail kedamaian yang mengalir disetiap detiknya. Tapi pikiranku benar-benar terusik. Apa aku harus menyelinap ke kamar Euna?
Aku sendiri tak tahu kenapa bisa sepenasaran ini dengan kado itu. Ukurannya cukup besar. Dan perlu diangkat dua orang. Apa seberat itu?
"Argh, kurang ajar Euna!" Gerutuku memeluk guling erat-erat. Aku harus mengetahuinya. Harus!
Jarum waktu menunjukkan angka dua belas malam. Sedangkan rasa kantuk silih berganti dengan rasa keingintahuan yang memuncak.
Dengan semangat membara kuputuskan mengendap-endap menuju sebuah pintu di sebelah kamarku. Ya ampun, aku seperti maling saja.
__ADS_1
Mungkin jika Euna tahu, aku akan dijuluki maniac siscon. Ya, begadang hingga tengah malam dan menunggu untuk masuk ke kamar adiknya.
Hahaha, tentu saja itu takkan terjadi! Ini harus berhasil! Euna! tunggu saja! Kadomu, akan segera kuketahui!
Dengan jalan jingkat aku berhasil mencapai pintu kamar Euna, kujaga irama langkahku sepelan mungkin.
Anugerah sang kuasa mendukung niatku, tampak pintu di depannya tak terkunci. Malah sedikit terbuka. Tapi yang aku heran, kenapa lampu utama kamar ini masih menyala? Meski takut gelap, Euna tidak suka tidur dengan lampu terang. Ia lebih memilih menyalakan lampu tidur yang temaram. Hanya sekedar membuatnya nyaman.
Tanpa menunggu lama, aku coba mengintip. Mengamati keadaan didalam. Serta merta sebuah pemandangan yang tak pernah kubayangkan. Tidak. Bahkan tak sedikitpun terlintas di otakku kini menunjukkan dirinya didepan kedua mataku.
Kenapa laptop ayahku bisa dikamar Euna? Pertanyaanku ini mungkin hanya Euna yang tahu.
Rambut panjangnya terurai ke belakang, berkilau hitam disorot cahaya lampu yang temaram.
Euna Myung Hae
Lututku gemetar, dibarengi dengan aku yang mulai jatuh berlutut karena tak kuat melihat apa yang kuintip.
Rencana membuka kado itu hancur berantakan karena aku yang entah kenapa terpukau.
Ku kesampingkan soal dia adalah adik tiriku, maka dia adalah seorang gadis Korea murni.
Tidak! Anehnya aku tidak bisa marah dengan yang dia lakukan. Kau mungkin tak mempercayainya, tapi apa yang kurasakan adalah....
Perasaan.... Entahlah!!!
Shit... Pikirku.
Nggak! Ini nggak bener! Gila ya! gue nih mikir apa sih! dia adik gue! yang harusnya gue jaga! Aku menjambaki rambutku sendiri.
Perdebatan sengit antara akal dan baper mulai melucutiku dari norma keberadaban.
Keberadaban ku yang kini patut dipertanyakan sebagai seorang manusia. Siapa yang akan menang? insting hewaniku yang bergejolak atau logika kesopanan yang kian memburam?
Dia adikku, sosok adik yang selalu aku damba-dambakan semenjak dulu. Aku mencoba menutupinya dengan ketidak sedarahan kami? Meski adik tiri lantas apa bedanya? itu hanya perspektif yang kugunakan untuk menutupi kebejatanku!
Lagipula, aku yang salah karena hendak memasuki kamarnya. Benar kata Euna, privasi seorang gadis adalah hal terlarang untuk dilewati pria sepertiku.
Aku sedikit tersenyum mendengarnya meminta maaf pada laptop ayah. Polos sekali. Dugaanku adalah ia tidak sengaja menemukan video itu di laptop ayah. Dasar ayah, orangnya tidak safety.
Untuk beberapa alasan, aku mungkin akan menatapnya bak serigala lapar yang mengaum tak terbendung.
Tapi mulai saat ini, kurasa kehidupanku bersama Euna perlahan akan berubah.
__ADS_1
~•°•~