Permata Dari Negeri Ginseng

Permata Dari Negeri Ginseng
episode 17


__ADS_3

"Euna mana?" Aku mencoba tenang dan mengulang pertanyaanku.


"Jangan ngomongin Euna dulu Oppa. Dia lagi belanja sesuatu di warung. Hey Oppa. Mau tau sesuatu? Aku udah tertarik sama Oppa dari pertama kita ketemu."


Heh?


"Maksud kamu?" Aku meneguk ludahku.


"Jangan sok nggak ngerti gitu deh. Hihi, udah aku duga Oppa tuh polos banget ya. Lagian...."


Ia memberikan jeda pada kalimatnya. Ia tiba-tiba memelukku dari belakang. Aku merasakan sebuah benda padat, sekal, dan kenyal yang menempel di punggungku. Seakan sengaja, ia semakin menghimpit badannya hingga asetnya itu benar-benar menekan punggungku sekarang..


"Bukannya pakai kata Oppa itu lebih asik?" Bisiknya lembut. What the heck! Inikah kepribadian gadis-gadis yang jarang bertemu lawan jenis di sekolahnya?


"T-Tolong berhenti. Saya nggak mau kalo Euna sampai salah paham." Ucapku jujur. Namun tetap saja dengan kondisi keringat.


"Salah paham? Emangnya apa yang harus di salah pahami Oppa? Hihihi, Atau jangan-jangan dugaanku benar lagi."


"Dugaan?"


Aku tak mengerti ucapannya. Ia tiba-tiba beralih ke sampingku, tapi memeluk lenganku erat. Sekarang aku bisa melihat lenganku terhimpit di sela bantalannya. Shit, mikir apa gue!


"Ya, dugaanku benar kalo selama ini ada hubungan yang nggak wajar antara kalian berdua... Maksudku, Oppa dan Euna." Ia tersenyum simpul sambil menggigit bibir bawahnya.


"Ng-ngaco kamu! Ng-nggak ada!" Sergahku tajam. Terlepas dari kejadian malam itu, hubungan kami masih tetap kakak beradik yang normal. Tapi aku takjub dengan kemampuan analisanya. Dapat kutebak dia mungkin lebih pintar dari Euna.


"Beneran? Hmm, seorang pemuda dan adik tirinya yang mulai beranjak dewasa. Nggak memiliki hubungan darah, tapi harus tinggal berdua di rumah tanpa pengawasan orang tua? What's the world? Meski kalian memiliki hubungan sehat tapi aku nggak yakin kalian nggak punya perasaan khusus. Terlebih Euna."


"Euna? Kenapa dengan Euna?"


Aku terjebak, senyumnya tambah melebar di wajah manisnya itu.


"Cieee, kepo. Hahaha"


Kampret, aku dikerjai anak ini, rutukku dalam hati. Ia mengambil tangaku dan membuka telapakku lebar-lebar.


"Yaaah, yang aku liat kayaknya Euna bener-bener nggak mau kehilangan Oppa. Entah itu berita bagus atau buruk. Yang jelas... Dibanding melakukan hubungan incest. Bukannya akan lebih baik jika Oppa melakukannya dengan hal lain?"

__ADS_1


Ia menaruh tanganku di tepian handuk basah yang meliliti dadanya. Jantungku berdegup kencang. Aku tak bisa berpikir jernih kala ia menuntun tanganku untuk menarik lepas handuk yang membalut tubuhnya. Astaghfirullah, anak ini!


"Ahahahahaha! Liat wajah Oppa barusan! Lucu banget! Hahahaha"


Aku tak tahu rautku sekarang, yang jelas wajahku tiba-tiba kaku karena ditipu habis-habisan seperti ini.


"CKLEK!"


Seketika wajahku pucat melihat ke suatu titik.


Tepatnya ke pintu depan yang tampak terbuka. Gawat, Euna! Kalo dia lihat kita lagi kayak gini bisa mati aku!


Kupandang gadis yang baru kuingat bernama Sarah ini tengah memperbaiki lilitan handuknya dengan santai. Manghal jasigg! (Bocah si*laaan!)


"Na jib-e ganayo!! Aeh?"


("Aku pulaaanngg!! Eh?")


Barang belanjaan Euna terjatuh begitu saja melihatku, dan tanganku yang hendak menjamah gadis polos yang merupakan temannya itu.


Irisnya bergantian menatap Sarah dan posisi kampret-ku.


("A-A-Apa yang lagi kalian berdua lakukan?")


Jarinya mengepal dengan sorot tajam menatap kami. Wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.


"N-Nggak! Bukan gitu! Ilangin dulu pikiran negatif kamu! Kakak tadi pulang, terus dia mandi, terus Kakak..."


Aku mulai kalut menjelaskan hal-hal sia*an yang terjadi tadi. Namun sikapku sepertinya malah menunjukkan aku pelaku yang patut disalahkan.


"Oh, Euna. Aku baru selesai mandi, tapi kakak kamu tiba-tiba ada disini. Itu aja." Jelasnya. Aku terbengong karena dia tidak menambahkan hal-hal aneh yang lebih menyudutkanku. Ternyata dia orang baik.


"Oh, geugeoya."


("Oh, gitu.")


Kulihat Euna sedikit lebih tenang, syukurlah.

__ADS_1


Sarah tak mau berlama-lama dan langsung beranjak menaiki tangga untuk menuju kamar Euna. Tapi tiba-tiba ia berbalik dan berkata sesuatu.


"Oh iya. Kakak kamu itu... Agak nakal ya. Handuk aku hampir ditarik jatuh tadi."


Euna menunduk menatap lantai dengan wajah yang memerah. Manghal jasigg! (Bocah si*lan.) Aku sudah bersiap menyambut kemarahan Euna beserta pukulannya. Tapi ternyata dia hanya terdiam dan membereskan belanjaannya. Heh? Dia nggak marah? Kemudian ia melengos begitu saja melewatiku dan Sarah lalu masuk ke kamarnya.


"Ups. Kayaknya ada masalah besar." Ucap Sarah membuat bulatan kecil di mulutnya. Aku tarik kembali ucapaku. Dia cewek tidak baik. benar-benar tidak baik. Seperti tong kosong yanv nyaring bunyinya. Dia cewek yang sangat menyebalkan sekali!


\*\*\*


Cirebon, 27 Februari 2016


18.40 WIB


"Ergh, ****, Tess! Why are you doing this!"


Aku mengusap wajahku kesal. Terang saja, rekan terbaikku si wanita tangguh kini mati karena berlagak menjadi pahlawan. Mengorbankan dirinya demi mengulur waktu kami untuk kabur. Aku dan Ellie, bocah perempuan misterius yang harus kujaga saat ini. Aku? Ya, maksudku diriku sebagai Joel, main hero dalam game zombie yang kumainkan.


The Last of Us, game Action-adventure yang mengemas nuansa horror dengan unsur hide and seek nya. Dirilis untuk platform PS3 dan PS4. Keluaran 2013 sih, tapi baru kudownload beberapa hari ini. Haha, terlambatnya aku.


Yah, aku jarang ada waktu main game. Kegiatan belajar dan sekolah banyak menyita waktuku. Meski begitu syukurlah. Kini aku sudah mendownloadnya secara free di website via PC-nya.


Hoho, jangan salahkan aku yang suka gratisan. Aku berani bertaruh banyak orang melakukannya. Yah, dibanding beli bajakannya, pikirku.


Tapi tiba-tiba saja mood-ku memburuk karena kematian Tess. Aku tahu dia hanya tokoh numpang lewat yang akan mati di awal-awal permainan. Tapi tetap saja. Si*lan, pikirku. Padahal Tess adalah salah satu karakter yang kusukai dari game ini.


"Mulai bosen, ngapain ya enaknya?" Bersamaan dengan itu kudengar notifikasi masuk di ponselku.


"Email... Dari Dimas? Tumben amat. Ngirim apaan dia?"


Kulihat ada sebuah file rar yang harus kuunduh. Ia mengetik 'hiburan malam' sebagai subjek kirimannya.


Aku mengerutkan dahi dan memutuskan untuk mendownloadnya lewat PC-ku karena kurasa filenya cukup besar. Ku-close gameku dan kumasukkan modem ke port USB. Menekan tombol connect, dan mulai mengunduh file tersebut. Tak lupa kutekan tab baru untuk membuka facebook. Sekedar berjaga-jaga ada pemberitahuan atau pesan masuk. Sudah lama juga, pikirku.


Selesai menunggu, kubuka explorer untuk mencari file hasil download tadi kemudian mengekstraknya.


"Engghh... Ini kan..??"

__ADS_1


~•°•~


__ADS_2