Permata Dari Negeri Ginseng

Permata Dari Negeri Ginseng
episode 11


__ADS_3

*Sebelumnya.......


Tersirat wajah terkejutnya saat lolipop itu terjatuh.. Ia masih menatapku. Aku melangkah mundur. Kulihat pantulan iris yang mulai berubah. Itu dia. Akhirnya serigala ini menunjukkannya*!


"Hahaha. Hei, adek kecil! Mau kemana?"


Aku menarik langkah mundur meninggalkannya. Dapat kurasakan hawa kemarahan kian menguat saat titik air langit membasahi bangun dari duduknya.


"Hahaha, Ketauan ya? Sial."


Ia melirikku dan berdecih kecil. Ia mulai mengikutiku. Bagai sebuah alarm peringatan, kakiku yang bergetar membimbingku berlari, sangat cepat. Hingga aku tak tahu lariku bisa secepat ini. Tapi sangat kontras, dia hanya mengejar dengan langkah yang terburu. Mungkin dia takut terbongkar kedoknya. Atau, karena dia berpikir langkahnya saja dapat mengejarku?


"ZRAAASSHH!!"


Kaki kecilku menginjak kubangan air yang menggenang. Hujan mulai menampakkan dirinya dalam kederasan tanpa henti. Gerbang taman kulewati begitu saja. Kemana para penjaga? Ini terlalu sepi untuk sebuah taman!


Mataku terus berputar ke seluruh tempat, seperti menanyakan kemana aku harus berlari sekarang? Pertanyaan bodoh. Tapi alhasil, kaki lah yang menentukan jawabanku.


Jantungku berdegup kencang, membuat aliran darahku terpompa semakin cepat. Aku hanya percaya sepenuhnya kepada instingku untuk kabur.


Sempat ku berhenti beberapa saat. Mencoba berkomunikasi dengan beberapa orang yang kutemui. Namun aku masih belum mengerti sepenuhnya, bagaimana mengucapkan kata ‘tolong’ dalam bahasa indonesia. Tak ada harapan!


"HEI ADEK KECIL! KENAPA KAMU LARI GITU? HAHAHA" Suara bariton itu seperti sebuah pahat yang mengikis segala bentuk keberanianku.


"OPPAI!! OPPA DOWAJUSEYO!!HUUU...."


("KAKAK!! KAKAK!! TOLONG AKU!! HUU....") Aku berteriak sambil terus berlari. Kakiku sudah mati rasa. Tak ada yang mendengarku. Desiran air yang terbawa angin menampar keras kulitku. Seakan dunia diciptakan untuk menulikan pendengarannya terhadap semua orang.


Tidak, mungkin hanya untuk orang-orang sepertiku. Yang ditimpa kemalangan seperti ini. Yang bisa dilakukan oleh ‘gadis yang ketakutan’ hanya berlari dan berlari.


Sudah tak kupedulikan badanku yang basah kuyup karena air hujan. Yang kuharapkan hanya menemukan seseorang yang bisa menolongku, atau setidaknya..


Bertemu dengan Kakakku.


"HEEEIII! DEK EUNA?? OM BISA LIAT KAMU LOH! NGGAK USAH LARI GITU! YUK IKUT KE RUMAH OM! OM PUNYA BANYAK PERMEN DAN BONEKA LUCU LHOO!" Ujar si pria itu melembut namun begitu mengintimidasi. Ia menyamarkan dirinya dengan langkah yang terburu.


Penampilannya itu mungkin akan membuat kamuflase yang cukup baik. Tak ada yang mengira lelaki necis akan memiliki niat jahat untuk menculik seorang bocah tak berdaya.


Diantara langkahku yang kian pelan. Aku menyadari suatu hal. Sesuatu yang sangat getir untuk disadari anak sepuluh tahun sepertiku. Kakiku nyatanya berkhianat.


Dapat kulihat tanah lapang yang kosong terhampar didepan mataku. Disisi-sisinya terpagar tembok tinggi, sangat tinggi untuk tubuh seukuranku.


Nafasku tersengal, kini kabur bukan lagi pilihan. Disinilah aku, orang bodoh yang tak sadar bahwa ia memang mengarahkan ke tempat ini.


Bibir itu tergurat seringai seperti menandakan kemenangannya. Derap kakinya yang kian mendekat membuat bahuku gemetar.

__ADS_1


"Tuhkan, apa om bilang? Capek kan main lari-larian?"


Ia melepas kacamatanya. aku tersudut hingga ke pojok dinding. Aku meringkuk dalam ketakutanku. Badanku lemas, tak bisa digerakkan.


"Nugudeunji, Dowajuseyo... Nugudeunji.."


(“Siapa saja, tolong aku.. Siapa saja..”) Ucapku lirih dengan sisa kekuatan yang kupunya.


Kucoba melempar batu-batu kecil di sekitarku, namun rasanya tak terlalu berpengaruh. Air mataku layaknya hanya menjadi hiburan bagi orang ini.


"Hahaha.. Belum nyerah juga ya?"


"O-Oppa...."


"Haha kamu boleh teriak lebih keras lagi loh." Tantangnya seakan tak takut. Jari kotornya mulai menyentuhku. Ia terkekeh. Aku menutupi kepalaku dengan kedua lengan.


"OPPA..!!"


"HAAA?? APAAA??!!!!"


"OPPAAAAAA..!!!!!"


"HAHAHAHAHA NGOMONG APA KAMU DEK?!!!"


"OPPPAAAAAAAAAA....!!!!!" Aku menjerit sekeras-kerasnya. Memejamkan mataku. Tak berani bahkan sekedar untuk memandang pria di depanku. Haaa, ternyata begini akhirnya. Hihi, igeon jeongmal jan-inhangeoya? (Hihi, Ini kejam banget kan?) Dia bahkan....


"TRAAAAKKK!!!"


"Hei, Ahjushi! neo jeongmal nappeungeoya!"


("Hey, om! Kamu ini bener-bener parah ya!")


Semilir lembut angin menerpa wajahku, diantara wangi debu yang menyeruak menusuk hidung, kudengar suara itu. Kelopak mataku mencoba membuka.


Siluet tubuh diantara hujan berdiri membelakangiku. Irisku melebar, menajamkan apa yang kulihat.


Butir air kini terlihat begitu lambat saat mataku menangkap punggungnya. Sosok itu, tak akan pernah memudar dari ingatanku. Rambutnya yang tebal kini acak-acakan karena basah.


Bau lumpur yang melekati bajunya. Wajah oval yang tak dapat kulihat, karena tatapannya hanya fokus pada apa yang Ia hadapi saat ini.


"O-oppa..." Bibirku yang memucat kini bergetar, lidahku bahkan tak sanggup memenggal lima huruf keluar dari mulutku. Kenapa dia?


"Oppa wae yeogi issni?"


("Kenapa Kakak kesini?")

__ADS_1


Ia tak bergeming. Sebenarnya aku hanya menutupi gengsiku. Malu kalau dia tahu, aku mengharapkan bantuan dari orang yang tak peduli padaku.


"WAE? OPPA DAESIN JAMAENEUN EUNALEUL SILH-EOHANI?"


("KENAPA? BUKANNYA KAKAK BENCI SAMA EUNA?")


"Nongdamhaji mala!"


("Jangan bercanda!") Jawaban tegasnya menutup mulutku. Ia menghampiriku. Kemudian dengan tangannya ia mengeluarkan bungkusan plastik dari balik bajunya.


"SRUUKK!"


Sebuah kain lembut menyelimutiku. Harum toko masih melekat, menandakan ini baru saja di beli. Eh? Ini? Sweater ini? Sweater parka dengan maxi dress yang aku minta beli dari Ayah? cuma ayah belum sempat membelikannya.


"Pakai itu. Nanti kalo kamu sakit, Aku yang kena marah Ibu." Ujarnya kemudian kembali ke posisi semula.


"Aku nggak tahu apa yang kamu pikirin soal aku. Tapi biar gimanapun Ayah udah memilih kalian menjadi bagian dari keluarga ini. Dan aku sudah berjanji sama ayah, mau berapakalipun, aku akan melindungi keluargaku yang sekarang. Aku sih yakin ayah nggak akan salah memilih orang, karena aku percaya sama ayah. Kalo aku bisa ngutip apa kata ibu sih mungkin karena......" Kedua tangannya terangkat keatas. Mengusir rasa pegal, mungkin.


"Ulineun gajog-imnida"


("Kita adalah keluarga")


Aku masih membisu. Kenyataan di hadapanku membuatku rapuh. Dia orang yang sama yang meninggalkanku sendirian di taman kan? Sekarang ia berbalik untuk menolongku?


"HEY, OM!" Serunya kemudian membungkamku dalam kesunyian. Aku baru sadar kalau posisi pria itu kini tersungkur, memegangi dahinya yang memar. Sebuah payung hitam tergeletak tak jauh darinya. Apa yang kukira adalah, entah bagaimana kakakku menaiki dinding tinggi ini dari belakang.


Lalu saat keadaan memburuk ia melempar ujung payung besar itu hingga telak menghantam dahi pria ini. Kini pria itu kembali berdiri dan tersenyum kecut.


"Pengen apo siro cung?!"


("Mau apa kamu bocah?!") Ucapnya dalam bahasa yang tak aku mengerti. Tetapi sepertinya bernada merendahkan.


"Mungkin....." Jawab kakakku.


"MUNGKIN SAYA NGGAK SEKUAT TEMAN SAYA, DIMAS SAPUTRA!! MUNGKIN SAYA CUMA SEORANG PENGECUT YANG BAHKAN TAKUT UNTUK DIAJAK CABUT ATAU TAWURAN!"


"Mungkin.... Saya cuma orang t*lol... Yang gugup di depan adiknya sendiri."


Ia tampak gusar saat mengatakannya. Mataku nanar menatapnya. Gugup? Apa maksudnya?


"MUNGKIN KARENA SAYA PENGECUT SAYA JUGA AKAN DIEM AJA SEANDAINYA ITU TERJADI PADA ORANG LAIN! TAPI......"


Ia melirikku saat memberi jeda pada kalimatnya.


"SAYANGNYA ITU TERJADI SAMA ADIK SAYA! KELUARGA SAYA! MAKA BIARIN SAYA, OM! BIARIN SAYA YANG PENGECUT INI JADI ORANG YANG PERTAMA BERDIRI UNTUK NGELAWAN OM!"

__ADS_1


~•°•~


__ADS_2