Permata Dari Negeri Ginseng

Permata Dari Negeri Ginseng
episode 16


__ADS_3

Kusadari getaran ponselku, menandakan ada sms masuk.


*From : Diana


Received : 10.00


Syam, eumm.. Kamu mau nggak ke Pantai Kejawanan minggu nanti?


Aku ingin refreshing


sebelum pembekalan UN*


Diana? Eh? bukannya ini ajakan kencan? Apa lebih baik aku memberikan jawaban disana ya? kemelut pertanyaan mulai bergelayut dalam otakku. kutatap Diana di seberang sana yang hanya memandangku teduh. Kuputuskan untuk membalasnya.


*To : Diana


Boleh.. Gue free kok minggu nanti*.


Beberapa saat balasan cepat langsung kudapatkan.


*From : Diana


Received : 10.02


Oke deh. Minggu jam 10 ya?


Nanti kamu jemput kerumahku ok*


TTRRRRIIINNNIINGGGG!!


Suara bel pertanda istirahat telah usai, sebentar lagi pelajaran matematika pasti segera di mulai. Beberapa menit lamanya guru matematika nggak kunjung muncul juga. Mungkin ada rapat, pikirku.


"Syam, ini kok gurunya nggak ada ya?" Tanya teman sebengkuku, Fani


"Mungkin dia suruh kita menununggu, menunggu indah pada waktunya haha..." Gurauku tetapi terdengar garing ya? Beberapa saat kemudian guru matematika itu datang, ia tidak sendiri. Dia ditemani dengan cewek cantik! Mungkin usianya lebih tua dariku?


Dimas yang pada dasarnya mata keranjang terlepas dari titlenya Sang Mestro Cinta, langsung menoleh kebelakang. Kearahku.


"Buset bro! Seksi banget tuh cewek." Ucapnya pelan. Eh! Iya sih. Wanita itu terlihat sangat seksi dengan setelan kemeja warna putih dan rok span warna senada.


"Hadooh obrolan cowok..!" Ucap Fani seraya menundukkan kepalanya di meja, mendengarkan obrolanku dengan Dimas. Mungkin malu punya teman lelaki sepertiku dan juga Dimas hehe.


"Anak-anak..! Mulai sekarang sampai dengan menjelang UN, pelajaran matematika akan diajar oleh kakak cantik ini ya." Ujar guruku. Seketika ruangan kelas menjadi gaduh.


"Horeeee...."

__ADS_1


"Yaaaaaayyyy.."


Semua tampak kegirangan, terutama para murid lelaki.


"Kakak ini adalah mahasiswi dari universitas kota sebelah. Dia dan beberapa mahasiswa lain akan menjalani program PPL di sekolahan ini." Lanjutnya seraya langsung keluar kelas.


"Selamat pagi menjelang siang adik-adik.. Masih semangat..??" Ucap kakak mahasiswi itu.


"Masihhhh...!!" Jawab seluruh siswa sangat antusias.


"Wow..! Luar biasa semangat kalian." Kedua tangannya kedepan yang membetuk dua ancungan jempol.


"Perkenalkan, namaku Naredta. Biasanya aku dipanggil Neta, kalian boleh memanggilku Ibu Neta atau Kak Neta. Bebas kok." Lanjutnya.


"Kalau panggil sayang boleh nggak ya?" Ucap Dimas ceplas-ceplos. Ucapannya langsung disambut tawa seluruh kelas ini. Membuat kak Neta kebingungan mencari asal suara yang tadi tidak sopan kepadanya.


"Siapa tadi yang bilang?" Ujarnya dengan tegas. Suasana kelas menjadi hening seketika. ****** kau Dimas! Tapi tiba-tiba Dimas berdiri.


"Dia kak..." Ucap Dimas seraya berdiri dan menunjuk kearahku. Whattt?!! Sialan Dimas, pikirku. Rupanya dia mengkambing hitamkan perbuatannya kepadaku. Kak Neta langsung berjalan mendekati mejaku.


TAP TAP TAP..


Suara hak tingginya itu terdengar begitu menyaring di keheningan kelas. Membuat jantungku berdebar. Huh! Kira-kira diapakan aku sama dia, melaporkanku ke BP? Atau paling gampang sih menamparku! Sial!


"Jadi kamu yang mau memanggilku sayang?"


Deg Deg Deg...


"Biasanya yang memanggilku seperti itu akan berakhir ditempat yang sangat romantis." Bisiknya pelan kepadaku. Glek!! Bahkan aku bisa mendengar suaraku menelan ludah. Tch!


Kemudian dia kembali kedepan kelas. Sedangkan aku?? Aku shock mendengar ucapannya! Aku terbengong dengan mulut terbuka, mencoba mencerna kata demi katanya.


*BERAKHIR DI TEMPAT YANG SANGAT ROMANTIS..


TEMPAT YANG SANGAT ROMANTIS..


ROMANTIS*..


~•°•~


Cirebon, 27 Februari 2016


14.00 WIB


"Aku pulaannnggg.."

__ADS_1


Ku geser gerbang dan mulai memarkirkan motorku di garasi. Huah, lelah sekali. Minum cola siang-siang gini enak kali ya? Rasanya kerongkonganku kering sekali. Padahal sebelum pulang sudah sempat minum es. Aku termangu mendapati ada sebuah motor yang terparkir di garasi selain motorku.


"Heh, kok ada motor? Motor siapa nih?" Kalau dilihat dari motornya sih, kayaknya motor perempuan. ada motif-motif lucu gitu. Apa Euna bawa temannya ke rumah ya? Jarang banget. Dan nggak mungkin cowok sih kayaknya. Tapi nggak mungkin! Aku hafal banget Euna kok. Ada beberapa hal yang mendasari pemikiranku mengenai itu.


Pertama, dia adalah tipe orang yang nggak mau ribet untuk berteman sama 'makhluk' yang bernama cowok. 'Rese' katanya.


Kedua, dia juga jarang berinteraksi dengan cowok sebayanya karena sekolah Euna khusus perempuan. Dan ketiga, ia masih trauma akan suatu hal yang membuatnya menghindari laki-laki.


Fairuz Junaedy. Tardakwa terkait kasus pedofilia enam tahun lalu, yang akhirnya mendekam di balik sel. Naas baginya, karena target terakhirnya justru menjadi petaka yang membuatnya menjadi tahanan.


Entah, dia sudah bebas atau belum. Aku lupa masa tahanannya. Yang jelas saat itu Ia hampir membahayakan nyawa kami berdua. Dan membahayakan kegadisannya di usia sepuluh tahun.


Itu cukup memberi trauma hebat untuk Euna hingga menjauh dan memilih menjaga jarak dari lelaki di luar sana. Itulah sebabnya, aku tak pernah membawa Dimas ke rumah meski dia adalah sahabat baikku. Aku tak ingin ambil resiko, itu saja. Aku menatap datar kunci motor yang masih tergantung disana. Ceroboh banget, pikirku.


"Na Jib-e ganayo! Euna? Neo oedini?"


("Aku pulaaang! Euna? Kamu dimana?") Teriakku. Tak ada jawaban. Kemana dia?


"Hei? Deuleosseo?"


("Hey? Kamu denger?") Teriakku lagi. Tch, Sial. kalau begini sih gimana mau menghindar. Pasti aku bertemu dengannya setelah ini. Aku membuka kulkas, menuangkan cola dalam gelas dan mulai meminumnya. Ah, segarnya.


"Klik!"


Aku melihat pintu toilet terbuka. Oh ya, aku lupa bilang bahwa ada toilet lain di dekat dapur. Untuk memudahkan saja sih, jika ada yang ingin buang air kecil di lantai bawah. Kulihat seorang gadis berbalut handuk melangkah keluar dengan kakinya.


Aku ternganga menatap gadis berambut sebahu itu berlenggak lenggok di depanku. Ia belum nyadar, Syam! Saatnya kabur! Itulah yang kupikirkan. Tapi pikiran dan kaki bertolak belakang, sial! Karena yang kulakukan adalah mematung seperti orang bodoh.


Ia memakai handuk keroro milik Euna. Tubuhnya yang ramping terlihat erotis saat lekuk tubuhnya tercetak jelas dibalik helaian handuk yang tipis. Rambutnya basah, bulir-bulir air mengalir diantara kulit jenjang nya.


"Eh?" Aku baru tersadar kala melihat wajah gadis itu. Pandangan kami bertemu. Sepertinya karena shock ia tak berteriak ataupun mengeluarkan ekspresi terkejut. Dia hanya diam, sepertiku. Menatapku.


"Neo maj-ji..?"


("Kamu kan..?") Aku bahkan tak sadar aku masih membawa percakapan Koreaku. Dia... Siapa ya namanya? Eh, kok malah mikirin nama!


"W-WOGH! NANEUN GIDAEHAESSOEO, ONEUL-EUN DEOWONEEEE! HAHAHAHA.."


("W-WOGH! UDAH AKU DUGA. HARI INI PANAS YAAAA! HAHAHAHA..") Aku gelagapan dan langsung berbalik membelakanginya. Aku mulai tertawa tidak jelas sambil menggaruk kepalaku. Astaghfirullah, kacau sekali hari ini. Kenapa dia mandi disini?


"Hihihi, Oppa lucu banget deh mukanya." Heh? Dia nggak marah? Terus kok manggil Oppa?


"O-oppa? A-apa-apaan tuh panggilan? Emang saya orang Korea? T-terus kok kamu bisa ada disini? Euna mana?" Aku mencoba menghilangkan kegugupanku, dan mulai menjaga sikap sopanku.


Eh! Dia mukanya kok memerah. Kenapa??

__ADS_1


~•°•~


__ADS_2