
Tania???
Tania Firmansha Dirmawan, perempuan cantik, body seperti model, mata coklat indah terang, dan perempuan yang hidup sederhana. Tidak seperti saudaranya yang mengandalkan uang papa mereka, Tania harus banting tulang sendiri dia masih dikasih uang oleh orang tuanya tapi Tania ingin mandiri.
Tania memiliki toko pakaian biasa, dijual melalui Online dan offline. Walaupun tokonya biasa saja tapi cukup untuk membayar karyawan dan dirinya sendiri. Orang tua, saudara-saudaranya selalu hidup mewah makanya saat tau bahwa perusahaan keluarga mereka bangkrut orang tua dan saudara-saudaranya tidak terima dan memikirkan berbagai cara bagaimana solusi walau harus mengorbankan saudara atau anak mereka.
Tania hanya bisa pasrah saat tahu kalu dia harus menikah dengan orang yang tidak kenalnya, walau dia protes sekalipun papanya tidak akan merubah keputusannya apalagi demi kepentingan diri sendiri.
“Bu Tania, ini yang tadi ibu bilang!” Ujar Karyawannya yang bernama Dwi menyerahkan barang kepada Tania.
“Mana?” mengulurkan tangannya mengambil barang yang tadi dia minta.
“Bu... Bu... Bu Tania!” teriak karyawannya bernama Ria.
“Ada apa Ria? Kenapa kau teriak-teriak!” tanya Tania melihat karyawannya lari menghampirinya.
“it-itu bu di- huh” ujar Ria terengah-engah.
“Tenang dulu tarik nafas baru bilang” tutur Tania nasihati Ria.
“Itu bu didepan ada cowok ganteng cari ibu!” ucap Ria setelah tenang.
“Benaran Ri?” Tanya Dwi.
“Ih beneran tahu, ibu lihat kalu tak percaya!”
“Baiklah” Tania jalan menuju tempat yang bilang Ria dan melihat ada seorang cowok tampan, mukanya datar dan ada orang di samping kanan seperti pengawalnya.
“Ada apa anda mencari saya?” tanya Tania yang berdiri di hadapan orang tersebut.
“Anda Tania?” tanya pria yang berdiri.
“Iya saya ada apa yah?” tanya Tania sekali lagi.
“Silakan duduk nona” tutur orang tadi. Tania hanya menurut dengan hati kesal karena pertanyaannya tidak dijawab.
“Ini, silakan nona baca!” ucapnya menyerahkan amplop coklat.
‘Ini apa kok aku curiga’ batin Tania melihat ke orang di hadapannya terus ke amplop.
“Buka nona!” ucap pria itu dingin yang bernama Ben.
“Baiklah” Tania tersenyum dan mengambil amplop itu.
“Apa ini! Surat perjanjian?”
“Benar, baca, dan tanda tangan” ucap Ben menyerahkan pena ke Tania.
“Tunggu tapi ini surat untuk apa? Dan kalian siapa!” tanya Tania yang tidak tahu situasi saat ini
__ADS_1
“Apa kau tak bisa membaca hah!” ucap pria yang duduk di depan Tania.
“Baca dan turuti saja apa yang ditulis apa kau mengerti! Tidak usah banyak tanya kau tinggal tanda tangan” lanjut pria dingin.
Tania hanya menunduk dan tidak berani menatap mereka “Tapi jelasin dulu ini apa? Aku sama sekali tidak tau!” tanya Tania melihat ke bawah.
“Baiklah nona, ini tuan muda saya adalah calon suami anda. Papa anda yang datang untuk menikahkan nona dengan tuan muda” jelas Ben.
“Oh baiklah” Tania yang sudah tahu siapa orang didepanya segera menandatangani surat perjanjian tersebut.
“Baik, yang ini untuk nona” Ucap Ben menyerahkan salah satu surat.
Tanpa bicara lagi atau berpamitan pria itu jalan keluar begitu saja.
“Jangan melupakan surat perjanjian itu nona kalu bisa anda harus apa di luar kepala, kalau anda lupa anda akan tahu akibatnya!” ucap Ben memperingati Tania, namun seperti mengancam. Ben jalan menyusul pria tadi setelah mengancam Tania.
‘Huh, apa itu benar! Itu calon suamiku’ batin Tania.
“Malam nanti aku tanya sama Papa saja” ucap pelan Tania jalan menuju belakang.
Malam hari, di meja makan.
“Pa, apa papa tahu pria seperti apa yang papa minta untuk melunasi utang perusahaan?” tanya Tania tiba-tiba membuat semua orang kaget termasuk kakak tertua.
“Maksud kamu apa dek?” tanya kakak tertua yang bernama Yusdha, saudara yang sama seperti hidup sederhana dan selalu peduli akan keluarga.
“Begini Kak, Papa memintaku untuk menikah dengan seorang pria untuk melunasi utang dan supaya perusahaan tak bangkrut, begitu!” ujar Tania tanpa beban tapi sebenarnya tidak ikhlas juga.
Heri hanya diam saat ditanya oleh anak pertamanya “Benar” ujar Heri pelan.
“Kenapa pa? Kita masih bisa mengusahakannya supaya tak bangkrut, apa itu jalan satu-satunya hah!” tanya Yusdha yang tidak percaya dengan keputusan Heri.
“Ini jalan satu-satunya, kau tahu! Mama tidak ingin jatuh miskin” Tutur Mama, Kiara yang hanya memikirkan supaya tidak jatuh miskin.
“Adik-adikmu tidak bisa yang satu kuliah satu lagi belum lulus SMA, jadi Tania yang dinikahkan!” lanjut Kiara.
“Tapi Ma!”
“Sudah tidak ada tapi tapi, prianya juga setuju” ucap Kiara menghentikan perdebatan.
“Pa, papa belum jawab. Apa papa tahu siapa pria itu?”
“Papa kurang tahu Nak, saat papa ke perusahaannya orangnya tidak ingin menemui papa malah asistennya yang papa tau” jawab Heri.
“Lalu bagaimana papa setuju begitu saja kalu papa saja tidak tahu calon menantu kalian” ujar Yusdha yang masih tidak mengerti dengan jalan pikiran orang tuanya.
“Kau tenang saja!”
“Apa ak...
__ADS_1
“Sudah ayo cepat habiskan makanan kalian papa tidak ingin ada yang bicara lagi!” ucap Heri menghentikan perdebatan itu, dan semua yang di meja makan terdiam melanjutkan makan mereka tanpa kecuali Yusdha.
Selesai makan, Tania masuk ke kamar tidak berkumpul dulu dengan keluarganya di ruang tamu.
“Biasanya tuh anak kesini dulu!” ucap Kiara.
“Sudahlah ma, barang kali Tania capek” ucap Heri.
“Bagaimana tak capek memikirkan akan menikah dengan laki-laki yang tidak tau siapa” celetuk Yusdha membuat Heri dan Kiara terdiam.
Di dalam kamar Tania melihat lagi isi di dalam surat.
‘Katanya aku tak boleh lupa, baiklah aku hafal-in lagi’ batin Tania.
“Surat perjanjian seperti apa ini, hanya menguntungkan dia saja! Huh” ucap Tania kesal.
Tania tidak habis pikir dengan orang kaya itu, kenapa mereka menikah harus buat perjanjian.
- Pihak pertama Suami.
- Pihak kedua Istri.
- Pihak kedua harus menyiapkan keperluan pihak pertama tanpa protes sama sekali.
- Pihak kedua tidak perlu mencampuri semua urusan pihak pertama apapun itu.
- Pihak kedua jangan banyak membantah semua perintah pihak perintah.
Sebelum terbaca semua Tania sudah terlelap tidur.
*****
Pagi harinya jam 6 pagi, Tania bangun karena di kejutkan dengan suara deringan telepon dari orang yang tidak dikenal.
“Siapa sih?” gerutu Tania.
“Mengganggu saja”
“Halo siapa ini!” tanya Tania.
“Nona, tuan muda akan datang, nona harus mengosongkan jadwal anda siang nanti jam 11 siang” suara pria di seberang telepon.
“Tapi...
“Apa anda lupa yang saya ucapkan kemarin nona?” ucap pria itu dingin.
“Kalu anda lupa akan saya ingatkan, ‘jangan membantah perintah tuan muda’ dan nona harus mengingat itu” lanjut pria itu dingin.
“Baiklah datang saja semau tuan mudamu itu saja” ucap Tania kesal.
__ADS_1
Tanpa mengucap sepatah kata lagi telepon itu di tutup dari seberang. “Aneh banget nih orang” ujar Tania.