
Tak lama kemudian Bella pun keluar dari ruang ganti dengan memakai dres selutut berwarna navi dan baju itu sangat cocok di badan serta kulitnya yang putih.
"Bun ...," panggil bella.
"Iya sayang?"
"Gimana?" ucapnya sambil melihat ke bawah.
"Perfeck," ucap Viana sambil merapatkan jari telunjuk dan jari jempolnya.
"Stella mana Bun?"
"Hei aku ada di sini sayang," ucap Stella setelah keluar dari kamar ganti dengan memakai gaun yang berwarna pink yang panjangnya hanya selutut.
"Wih keren banget sih baju lo," puji bella.
"Siapa dulu dong yang milihin," ucap Viana.
"Hehe iya, makasih yah Bun," kompak mereka berdua.
"Yaudah sekarang kita ke toko high hels."
"Tapi kalau milihin jangan yang tinggi - tinggi yah Bun."
"Iya, yaudah ayok masuk mobil."
***
Kini ketiga wanita itu sekarang sedang berada di dalam sepatu dan memilih - milih high hels.
"bella ...."
"Iya Bun?"
"Coba deh kamu coba yang ini," ucap Viana sambil memberikan high hels yang tak terlalu tinggi yang berwarna navy dan di penuhi tali - tali di bagian atas sendalnya.
"Nggak ada yang lain bun?"
"Udah yang ini aja."
"Tapi bun aku kan nggak tau cara make nya."
"Udah nanti bunda bantuin."
"Oke deh," ucap bella sambil menerima high hels yang di berikan Viana.
"Stella pake yang ini yah," ucap Viana sambil memberikan high hels yang bermodel seperti yang di pilihkannya untuk Bella, tapi untuk Stella yang berwarna hitam.
"Iya Bun," kata Stella menerima high hels tersebut.
***
Kini waktu menunjukan pukul 18:05
"Stel lo udah selesai belom gantinya?"
"Sabar bel," ucap Stella sambil keluar dari ruang ganti yang berada di kamar bella dengan dres selutut berwarna pink dan rambut yang masih di dalam handuk yang ia lilit di kepalanya karena rambutnya basah.
"Yaudah kata Bunda lo langsung ke depan cermin aja soalnya katanya lo dulu yang di beresin, karena gue mau ganti baju dulu."
"Enak aja di beresin, emang gue barang apa?"
__ADS_1
"Hehe sorry," ucap bella cengengesan dan langsung masuk ke ruang ganti.
***
Kini Bella sudah menunggu selama 20 menit tapi Stella belum juga selesai di hias oleh Viana.
"bel giliran lo lagi noh," ucap Shella menepukbpundak Bella yang sedang asik memainkan handphone nya.
"Iy ...," ucapnya terpotong karena terpana atas perubahan Shella yang benar - benar perfeckt.
"kenapa lo?"
"Ini beneran lo Stel?"
"Ya iyalah."
"Lo canti banget Stel, pasti si riki bakalan terpanah liat perubahan lo yang berubah 180 derajat dari biasanya."
"Aelah B aja kalli, yaudah gue tunggu lo di ruang tamu yah, sekalian nunggu sinta juga."
"Eh iya deh."
***
Kini 20 menit telah berlalu dan bella belum juga keluar dari kamarnya, sedangkan Stella sedang asik memainkan handphone nya sambil menunggu Sinta datang.
"Woy ...," teriak sinta.
"Apaan oy, brisik tau."
"Wih lo canti banget Stel."
"Makasih, lo juga kok."
"Wish sahabat gue cantik banget sih," kompak Stella dan Sinta.
"Elah lo berdua bisa aja sih, lo udah lama sin?"
"Belum kok."
"Yaudah kita naik apa nih?"
"Naik mobil gue aja," ucap Sinta.
"Yaudah ayuk, nanti kita telat."
"Bunda kita berangkat dulu yah," ucap Bella sambil mencium punggung tangan Viana dan di ikuti oleh kedua sahabatnya.
"Iya, kalian hati - hati yah di jalan."
"Oke," ucap mereka bertiga kompak sambil memberi hormat kepada Viana.
***
Terlihat tiga orang gadis yang berada di dalam mobil yang akan bersiap untuk ke acara lomba yang di adakan sekolah.
"Eh bel tadi itu gue sampe gak ngenalin lo tau nggak sih."
"Iya bel, gue juga sampe kagum bat lihat penampilang lo," ucap Stella yang ikut memuji sedangkan yang di puji hanya bisa membalas dengan senyuman tipis.
"Kek nya gue punya rencana bagus nih."
__ADS_1
"Rencana apa sin?" tanya Stella.
"Udah, lo berdua ikut aja yang gue bilang, tapi yang intinya sebentar akan ada pertunjukan keren."
"Yaudah iya deh, walaupun gue gak tau apa rencana lo sih."
"stel, tolong ambilin tas itu dong."
"Buat apaan sin?" tanyanya sambil mengambil tas tersebut "ini tas lo?" tanya Stella bingung.
"Nggak itu tas nyokap gue, ya kalle gue make tas kek gitu."
"Yaudah nih," sambil menyodorkan tas.
"Lo ambil masker di dalamnya aja, soalnya gue nyetir nih."
"Yaudah nih maskernya," ucap Stella memberikan masker.
"Kasih ke bella aja."
"Nih," sambil menyondorkan masker yang masih di bungkus.
"Ini di apain?"
"Di pake lah, masa iya di makan kan nggak mungkin."
"Yaudah iya deh."
"Tapi gue minta sama lo berdua entar harus dukung gue, oh iya untuk lo bel, lo harus diam aja sebelum lo gue suruh ngomong, ok."
"Iya oke."
***
Saat ini mereka sudah sampai di halaman parkiran yang berada di sekolah.
"Eh pake dulu tuh masker baru lo turun," ucap Sinta mengingatkan.
"Iya bawel," ucapnya dan langsung memakai masker tersebut lalu keluar dan menyusul Sinta dan Stella.
"Hay Key," sapa seorang cowo yang terkenal playboy.
"Apaan?" ketus sinta.
"Eh itu yang make baju pink Stella yah?"
"Iya, kenapa lo lihat dia sampe gak ngedip kek gitu?"
"Cantik."
"Giliran cewek cantik aja lu cepat, kemana aja lo dulu yang sesuka hati bully dia?" tanya sinta yang sudah tak bisa lagi menahan amarah.
"Tapi kan itu dulu sin, sekarang udah beda."
"Dulu apaan? orang tadi siang aja lo masih nge bully dia," ketus sinta.
"Gue kan nggak tau kalau dia bakalan cantik kek gini!"
"Eh lihat orang itu jangan dari penampilan, emang lo pernah di jahatin sama Stella? Perlahan - lahan gue pastiin lo sama segerombolan orang yang udah pernah nyakitin kedua teman gue bakalan nyesal dengan perbuatan kalian," ancam Sinta dengan muka merah menahan amarah lalu pergi dan di susuli Stella dan Bella.
"Eh sin gue belum selesai ngomong, itu yang make masker itu siapa kok mukanya di tu-" ucapnya terpotong.
__ADS_1
"Woy brisik tau nggak?" Ucap seseorang dengan nada dingin.
~